Kartu bernama Alfani Putra Akmal membuat Dilan merasakan dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Alfa berdiri di sampingnya dalam keadaan hidup, terluka, dan bernapas. Namun sekolah baru saja menunjukkan seragam berdarah dengan nama lengkapnya.
'Itu bukan milikku,' kata Alfa.
'Kami tahu,' jawab Dilan, meski suaranya tidak terdengar yakin.
Laras mengambil kartu memakai kain. Tanggal penerbitannya dua puluh empat tahun lalu, jauh sebelum Alfa lahir. Foto kecil pada kartu sudah rusak terkena darah.
'Nama Alfa pernah dipakai orang lain,' katanya. 'Sama seperti Kiyan dan Kinan.'
Andrea menatap Alfa. 'Atau nama lo bukan punya lo sejak awal.'
'Jangan mulai lagi,' potong Dilan. 'Kita simpan sebagai petunjuk. Kita nggak akan mendapatkan jawaban dari lemari.'
Mereka bergerak menuju ruang kesehatan. Lorong sekolah terasa berubah. Pintu yang dahulu berjarak beberapa meter kini berjajar rapat, sedangkan tangga terus membawa mereka kembali ke lantai yang sama. Laras memandu dengan melihat tanda yang tidak tampak oleh Dilan: simpul benang pada sudut dinding.
Setiap kali suara memanggil, mereka tidak menjawab. Alfa menggenggam kotak berisi gelang menggunakan kain agar benda itu tidak menyentuh kulitnya. Dilan membawa cakram rekaman, sementara Andrea tetap mengawasi belakang.
Di dekat tangga lantai satu, mereka menemukan Alex berjalan sempoyongan. Pria itu membawa pesan Dilan dan pisau praktikum.
'Gue dengar suara kalian pergi,' katanya. 'Laboratorium mulai mengecil. Dindingnya maju terus, jadi gue keluar.'
Dilan lega melihatnya masih hidup. Alex bersikeras ikut meski langkahnya lemah. Kini mereka berlima mengetahui sebagian rahasia. Benang pada dinding semakin banyak, tetapi tidak ada yang menyentuh tubuh mereka selama potongan halaman tetap terpisah.
Ruang kesehatan ditemukan setelah Laras membuka pintu yang bertuliskan gudang olahraga. Di dalam, ranjang-ranjang kosong berjajar. Lemari obat telah dibongkar dan meninggalkan lubang persegi pada lantai.
Dari bawah terdengar ketukan Mira.
'Kami di sini,' kata Dilan, lalu langsung menyesal karena telah menjawab.
Benang hitam melesat dari lubang dan melilit lehernya. Alfa menarik tubuh Dilan, tetapi benang itu tidak dapat disentuh. Dilan tercekik, sama seperti Irene dan Rian. Pada saat yang sama, suara dari bawah bertanya memakai suaranya sendiri.
'Apakah kamu masih mau terhubung?'
Laras berteriak, 'Jangan jawab sesuai kalimat yang diberikan! Tolak dengan pilihanmu sendiri!'
Dilan memegangi leher. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Ia teringat jawaban yang keluar dari mulutnya delapan tahun lalu, jawaban yang mungkin bukan kehendaknya.
'Aku...' Dilan menarik napas dengan susah payah. 'Aku nggak memilih hubungan ini.'
Benang semakin erat.
'Lebih jelas!' teriak Andrea.
'Aku menolak suara yang memakai ingatanku. Aku menolak tetap terhubung!'
Benang di leher Dilan mengendur. Ia terjatuh dan terbatuk-batuk. Bekas merah muncul pada kulitnya, kali ini dapat dilihat oleh semua orang.
Alfa membantu Dilan duduk. 'Kamu berhasil.'
'Belum,' kata Laras. 'Gelang harus dikembalikan dan aku harus menyebut kematian yang benar.'
Mereka menuruni lubang menggunakan tangga besi. Lorong bawah tanah berbau lembap. Di sisi kiri terdengar suara Mira, sedangkan sisi kanan mengarah ke bawah perpustakaan. Dilan ingin menuju Mira lebih dulu, tetapi suara perempuan itu melarang.
'Selesaikan hubungan pertama. Aku masih bisa bertahan.'
'Bagaimana kami tahu kamu benar Mira?' tanya Andrea.
'Kalian tidak tahu. Jangan buka pintu ruangan ku sebelum Laras memeriksa.'
Jawaban itu justru terdengar lebih meyakinkan karena Mira tidak memaksa mereka mempercayainya.
Mereka menuju bawah perpustakaan. Pintu besi lama terbuka. Di tengah ruangan terdapat lingkaran kapur yang sama seperti rekaman. Alfa meletakkan kotak berisi gelang di dalam lingkaran tanpa menyentuhnya.
Lantai bergetar. Gelang keluar sendiri dari kotak dan membentuk simpul menyerupai leher manusia.
'Sekarang mata,' kata Dilan kepada Laras.
Laras berdiri di ambang pintu. Ia menatap satu titik kosong di dalam ruangan dan air mata mengalir di wajahnya.
'Aku melihat Gilang Pradana mati di ruangan ini delapan tahun lalu,' katanya. 'Tubuh yang kulihat adalah tubuhnya. Suara yang keluar darinya bukan miliknya.'
Gelang terputus tanpa disentuh.
Jeritan memenuhi lorong. Dilan, Alfa, Laras, dan semua orang yang terhubung jatuh bersamaan. Rasa nyeri menembus kepala Dilan, tetapi tidak ada luka baru pada tubuhnya.
Setelah beberapa detik, benang hitam pada dinding berubah menjadi abu. Hubungan pertama telah putus tanpa membagikan kematian Gilang.
Dilan memeriksa dirinya sendiri. Lehernya masih sakit dan bekas merah belum menghilang, namun ia dapat bernapas. Alfa terbaring di dekat lingkaran sambil memegangi pergelangan tangannya yang berdarah. Bekas gelang membentuk garis gelap, tetapi tidak lagi bergerak.
Andrea membantu Alex berdiri. Laras bersandar pada dinding dengan mata terpejam. Ketika ia membukanya kembali, wajahnya berubah beberapa tahun lebih tua. Garis halus muncul di sudut matanya dan rambut putih terlihat di dekat pelipis.
'Wajah Kiyan mulai lepas,' katanya.
'Kamu sakit?' tanya Dilan.
'Nggak. Ini umurku yang sebenarnya mulai kembali.'
Dilan tidak menyebut perubahan itu buruk. Laras masih menjadi orang sama, hanya tidak lagi dibungkus wajah murid yang mati. Perempuan tersebut mengusap pipi seolah sedang mengenali dirinya melalui sentuhan.
Dari lorong terdengar benda-benda jatuh. Mereka bersiap menghadapi serangan, tetapi yang datang hanya udara dingin membawa abu benang. Abu tersebut berkumpul di dalam lingkaran dan membentuk tiga kata: tangan dilepas, suara ditolak, mata mengakui.
'Berarti berhasil,' kata Alfa.
'Untuk hubungan pertama,' Laras mengingatkan. 'Jangan anggap semua aturan selesai.'
Dilan mengambil potongan halaman mereka. Tulisan mengenai tiga peran memudar, sedangkan bagian mengenai undangan tetap ada. Kertas yang dipegang Andrea bahkan menampilkan baris baru: penerima pertama menghubungkan penerima berikutnya melalui panggilan.
'Siapa penerima pertama malam ini?' tanya Alex.
Mereka semua memandang Dilan. Ia menemukan undangan lebih dulu dan menelepon Alfa, tetapi belum tentu ia orang pertama yang menerima. Alfa mengatakan undangannya sudah ada ketika pulang makan bersama Dilan. Teman lain mungkin mendapatkannya jauh lebih awal.
'Kita harus tanyakan waktu kepada setiap orang yang masih hidup,' kata Dilan. 'Bukan cuma kapan datang, tapi kapan menemukan surat dan siapa yang pertama dihubungi.'
Andrea mengingatkan bahwa jam mereka menunjukkan waktu berbeda. Laras menyarankan menggunakan urutan hubungan, bukan angka pada jam. Setiap undangan memiliki goresan kecil di sudut yang mungkin menunjukkan posisi penerima.
Dilan memeriksa suratnya. Di balik lapisan hitam terdapat satu garis merah. Undangan Alfa memiliki dua, Andrea empat, dan Alex sembilan. Nomor tiga tidak berada pada mereka.
'Penerima ketiga mungkin orang yang menghubungkan kalian semua,' kata Laras.
'Atau orang yang belum kita temukan,' jawab Dilan.
Rasa lega karena memutus hubungan pertama hanya bertahan sesaat. Mereka belum mengetahui siapa penerima ketiga, dan lima teman telah mati sebelum aturan baru bahkan muncul dengan jelas.
Namun semua undangan di saku mereka mendadak terbakar. Tulisan merah pada kertas berubah menjadi satu kalimat baru.
HUBUNGAN KEDUA DIMULAI OLEH ORANG YANG MEMBAWA KALIAN KEMBALI.
Pada bagian bawah, muncul hitungan mundur.
LIMA ORANG HARUS MATI SEBELUM PINTU KELUAR DIBUKA. (*)