Puluhan telepon di luar sekolah mulai berdering bersamaan.
Suara itu tidak benar-benar terdengar oleh Dilan, tetapi layar proyektor menampilkan lima puluh gambar berbeda. Apartemen, rumah, pos polisi, kamar tidur, dan warung yang sudah tutup muncul dalam kotak-kotak kecil. Pada setiap gambar terdapat sebuah telepon yang menyala.
'Jangan sampai mereka jawab,' kata Dilan panik.
'Kita mau memperingatkan bagaimana? Hape kita aja nggak punya jaringan,' balas Andrea.
Hitungan lima puluh berkedip. Satu kotak gambar membesar. Seorang perempuan paruh baya berjalan mendekati telepon di ruang tamunya. Dilan tidak mengenalnya, tetapi foto perempuan itu ada pada dinding penerima gelombang kedua.
Alfa mencoba mematikan mesin menggunakan sakelar utama. Laras langsung menahan tangannya.
'Jangan. Semua benang masuk ke sana.'
'Kalau dibiarkan, lima puluh orang akan terhubung!'
'Kalau dimatikan paksa, panggilan mungkin dianggap terputus oleh penerima. Kita belum tahu apakah gedung membedakan menolak dan sambungan yang terputus.'
Dilan memaksa dirinya berpikir. Pada hubungan pertama, pilihan orang bersangkutan lebih penting daripada tindakan paksa. Mungkin hal yang sama berlaku sekarang. Mereka harus membuat penerima menolak, bukan sekadar menghancurkan alat.
Perempuan di layar mengangkat telepon.
'Jangan jawab!' teriak Aini.
Suara mereka tidak sampai. Jari perempuan itu menyentuh layar, tetapi sebelum panggilan tersambung, seorang anak menarik tangannya. Kotak gambar langsung padam dan angka lima puluh berubah menjadi empat puluh sembilan.
'Dia selamat?' tanya Alex.
Mira mengamati undangan Dilan. 'Mungkin angka itu bukan jumlah korban. Itu jumlah pintu yang belum dijawab.'
Kotak kedua membesar. Seorang petugas polisi di depan sekolah memegang teleponnya. Nama penelepon yang terlihat pada layar adalah Andrea.
'Mereka memakai nama kita,' kata Andrea geram.
Dilan berlari ke kamera kecil yang tadi mereka tutup. Ia membuka kain dari lensanya dan bicara keras.
'Kalau ada yang melihat rekaman ini, jangan jawab telepon dari nama kami!'
Tidak ada perubahan. Kamera hanya mengirim gambar kepada pria di apartemen, bukan kepada penerima.
Alfa menunjuk mesin pemutar suara. Di sisinya terdapat mikrofon tua dan tombol siaran untuk seluruh kelas. Kabel mikrofon tersambung pada perangkat modern yang dipasang pelaku manusia.
'Kalau dia bisa mengirim suara keluar, kita mungkin juga bisa,' katanya.
'Atau justru membantu gedung memakai suara kita,' Laras mengingatkan.
Dilan memeriksa label tombol tanpa menyentuh. Ada pilihan putar, rekam, dan hubungkan. Tombol rekam memiliki bekas tinta merah, sedangkan tombol hubungkan masih bersih.
'Kita jangan pakai suara orang yang ada di daftar,' ujar Dilan. 'Mira nggak menerima undangan. Laras juga nggak.'
Mira menolak menjadi suara sebelum mengetahui akibatnya. Dilan menghargai keputusan itu. Mereka mencoba mencari rekaman peringatan tanpa suara manusia. Di bawah meja, Aini menemukan kaset berisi bunyi bel pendek dan panjang untuk latihan kode Morse.
Dilan pernah mempelajari dasarnya ketika membuat materi seni suara. Ia menyusun pesan sederhana: jangan jawab. Laras memasukkan kaset, Alfa mengatur jalur, dan Andrea berdiri dekat sakelar bila mesin bereaksi buruk.
Bel pendek serta panjang terdengar melalui pipa. Pada layar, petugas polisi berhenti sebelum menjawab. Ia memandang sekolah, lalu memperlihatkan telepon kepada rekannya. Kotak gambarnya padam. Angka berubah menjadi empat puluh delapan.
'Berhasil,' ujar Alfa lega.
Namun tidak semua orang memahami kode. Tiga layar menunjukkan panggilan telah diterima. Gambar mereka berubah merah. Hitungan turun menjadi empat puluh lima, kemudian muncul tiga garis baru di dinding.
Tiga penerima yang menjawab belum mati. Mereka berdiri diam dengan telepon di telinga, mendengarkan sesuatu. Dari pengeras mesin terdengar suara Dilan mengundang mereka datang ke sekolah.
Salah seorang penerima adalah rekan dosen Dilan. Perempuan itu pernah membantunya menyiapkan materi kelas komposisi menulis kreatif. Dilan melihatnya mengambil jaket dan kunci kendaraan tanpa memutus panggilan. Ia berteriak memanggil namanya, tetapi layar tidak membawa suara dari sekolah.
'Dia tahu alamat ini karena data di laptop ku,' kata Dilan. Rasa bersalah menekan dadanya meski ia tahu Raka yang mencuri data tersebut.
Penerima kedua adalah lelaki yang tinggal satu lantai dengan apartemen Dilan. Penerima ketiga seorang petugas toko percetakan. Ketiganya memiliki hubungan dengan tempat atau benda yang dipakai Raka menyiapkan undangan.
Mira mencatat hubungan mereka pada sisi denah yang kosong. 'Mungkin gelombang kedua tidak memilih orang secara acak. Mereka semua pernah menyentuh jalur pengiriman.'
'Kalau begitu polisi di luar terhubung karena menerima laporan sekolah,' kata Arga.
'Anak yang mencegah ibunya menjawab juga bisa ikut masuk kalau kita nggak hati-hati,' tambah Laras.
Dilan menatap kotak gambar yang sudah padam. Setelah panggilan ditolak, kamera tidak lagi mengikuti perempuan tersebut. Itu berarti penolakan memang menutup setidaknya satu akses. Mereka harus membuat tiga orang yang sudah menjawab memilih memutus panggilan sebelum berangkat.
Aini mengambil kapur dan menulis tiga kata pada lantai, bukan pada mesin: lihat pesan kami. Ia menyarankan mengirim gambar tulisan itu tanpa suara. Kamera kecil dapat diarahkan kepada tulisan dan sinyalnya diteruskan melalui sambungan Raka.
Andrea memindahkan kamera. Alfa menemukan tombol untuk mengubah sumber gambar, tetapi tidak menekannya sebelum seluruh kelompok menjauh dari pipa. Mereka memakai penggaris panjang. Layar ketiga penerima berkedip dan menampilkan tulisan Aini selama dua detik.
Rekan Dilan berhenti di depan pintu. Tangannya gemetar ketika memandang telepon, kemudian ia menekan tombol akhir. Satu garis merah di dinding menghilang. Lelaki di apartemen melakukan hal sama setelah membaca pesan.
Petugas toko percetakan tidak berhenti. Ia sudah keluar rumah dan masuk ke kendaraan. Pada layar teleponnya, tulisan Aini berubah menjadi perintah agar terus berjalan.
'Raka mengubah jalur yang satu itu,' kata Andrea.
Dilan mencatat bahwa sambungan ke petugas percetakan berbeda. Kabelnya tidak menuju laptop, melainkan langsung ke undangan kosong milik Galang. Raka mungkin sengaja menempatkan satu penerima sebagai cadangan bila kendali digitalnya direbut.
'Itu bukan suara ku,' kata Dilan.
'Bagi mereka tetap terdengar seperti kamu,' jawab Mira.
Mereka perlu menyampaikan peringatan yang dapat dimengerti tanpa memberi gedung suara baru. Aini menyarankan memakai tulisan pada layar panggilan. Perangkat modern di mesin memiliki papan ketik. Andrea memeriksa kabelnya dan menemukan sambungan jarak jauh menuju laptop Dilan.
Dilan mengetik menggunakan ujung pensil agar tidak menyentuh tombol secara langsung. Ia menulis satu kalimat tanpa nama: PANGGILAN PALSU, JANGAN DATANG KE SEKOLAH. Alfa menekan tombol kirim memakai penggaris.
Pesan muncul pada seluruh layar. Beberapa penerima menjauh dari telepon. Hitungan turun lagi sampai tiga puluh tujuh.
Pria berbekas luka di apartemen Dilan menyadari perubahan tersebut. Ia menatap kamera dan tersenyum. Tangannya mengetik sesuatu pada laptop.
Pesan peringatan Dilan berubah.
DATANG KE SEKOLAH JIKA INGIN MEREKA SELAMAT.
Alamat sekolah muncul di bawahnya.
'Dia mengendalikan sambungan dari komputer ku,' kata Dilan. 'Selama laptop itu aktif, semua yang kita kirim bisa dia ubah.'
Alfa menatap pintu semu yang sebelumnya membawa ke apartemen Dilan. 'Berarti seseorang harus menyeberang dan menghentikannya dari sana.'
Di layar, pria berbekas luka mengangkat wajah. Seolah mendengar rencana mereka, ia mengambil belati dan berdiri di depan pintu apartemen.
'Aku menunggu, Alfani,' katanya.
Kartu petugas lama di tangan Alfa mendadak terasa panas. Foto yang tertutup darah mulai menampilkan wajah pria tersebut. (*)