Alfa hampir menjatuhkan kartu petugas itu. Darah kering pada bagian foto memudar sedikit demi sedikit, memperlihatkan wajah pria yang berada di apartemen Dilan. Wajahnya lebih muda dan belum memiliki bekas luka, tetapi sorot matanya sama.
Nama pada kartu tetap tertulis Alfani Putra Akmal.
'Dia memakai nama ku,' kata Alfa.
'Dua puluh empat tahun lalu,' tambah Dilan. 'Sebelum kamu lahir.'
Mira memeriksa stempel. Kartu tersebut asli milik sekolah, bukan benda yang baru dibuat malam ini. Nomor pegawainya sesuai urutan arsip lama. Namun tahun kelahiran pada bagian belakang sengaja digores sampai tidak terbaca.
'Kamu mengenalnya sebagai siapa?' tanya Laras.
Alfa memegangi kepala, berusaha mengingat. 'Pak Raka. Dia menemui ku beberapa hari sebelum kelulusan. Katanya petugas yayasan dan tahu aku sering membantu di perpustakaan.'
Dilan meminta Alfa menggambarkan pertemuan itu tanpa melihat layar. Raka memakai seragam abu-abu, membawa map cokelat, dan berjalan sambil menyeret kaki kanan. Bekas luka belum ada, tetapi satu sisi rahangnya tampak bengkak. Ciri tersebut cocok dengan keterangan Mira mengenai pelaku malam ini.
'Dia tahu nama Gilang dan bilang pintu bawah rusak,' lanjut Alfa. 'Dia juga tahu aku biasa menyimpan kunci cadangan perpustakaan.'
'Kenapa kamu punya kunci?' tanya Andrea.
'Guru bahasa sering menyuruhku mengembalikan buku setelah petugas pulang. Kuncinya ditaruh di ruang guru. Siapa pun sebenarnya bisa mengambil.'
Raka sengaja memilih orang yang tindakannya terlihat biasa. Bila Alfa tertangkap membuka pintu, semua orang akan mengira ia hanya membantu petugas terjebak. Dilan semakin yakin pelaku tersebut menyusun hubungan menggunakan kebiasaan korbannya, bukan kekuatan semata.
Mira menemukan sebuah surat tugas lama di balik tumpukan arsip. Nomor pegawainya sama dengan kartu Alfani, tetapi nama pada surat berubah-ubah ketika dilihat oleh orang berbeda. Dilan membaca Raka, Alfa membaca Alfani, sedangkan Laras melihat nama Galang.
'Jangan dibaca keras-keras,' kata Laras. 'Benda ini mencari nama yang paling mudah dipercaya oleh orang yang memegangnya.'
Mereka meletakkan surat di lantai dan memotretnya dari tiga sudut. Pada hasil foto, kolom nama kosong. Informasi yang berubah ternyata hanya muncul ketika seseorang menyentuh kertas.
'Berarti kartu ini juga jangan dipegang langsung,' ujar Dilan.
Alfa membungkus kartu menggunakan plastik arsip. Begitu kulitnya tidak lagi bersentuhan, nama Alfani memudar dan menyisakan huruf awal A. Bukti itu tidak menghapus hubungan, tetapi menunjukkan Raka memang menempelkan identitas kepada pemegang benda.
'Mungkin orang tua mu nggak pernah membeli nama apa pun,' kata Dilan. 'Jangan percaya pesan Raka sebelum kita tanya mereka sendiri.'
Alfa mengangguk, meski pandangannya masih terpaku pada foto bayi. Ia bercerita bahwa orang tuanya tidak pernah menyembunyikan foto kelahiran, akta, atau cerita masa kecil. Namun ia memang dilahirkan di rumah bersalin milik yayasan yang sama dengan sekolah.
Kebetulan itu cukup membuatnya takut, tetapi belum cukup menjadi bukti. Dilan menyuruhnya menyimpan ketakutan sebagai pertanyaan, bukan jawaban yang ditentukan Raka.
Alfa menyimpan foto bayi terpisah dari kartu. Ia berjanji tidak akan mengambil keputusan mengenai keluarganya sebelum memperoleh catatan rumah bersalin yang tidak berasal dari sekolah.
'Dia yang memberikan undangan pertama?'
'Bukan undangan reuni. Waktu itu dia kasih amplop hitam berisi pesan supaya aku membuka pintu bawah perpustakaan. Katanya Gilang terjebak di sana.'
Andrea memandangnya tajam. 'Dan lo menurut begitu saja?'
'Aku mengenal Gilang sebagai petugas perpustakaan. Aku pikir dia benar-benar butuh pertolongan.'
Dilan teringat rekaman ketika Alfa membuka pintu. Selama ini mereka menganggap Kiyan atau Laras yang membawa mereka ke sana, tetapi ternyata Alfa menerima perintah lebih dulu dari Raka. Ingatan mereka telah tercampur.
'Kenapa kamu mengenali Raka baru sekarang?' tanya Dilan.
'Wajahnya dulu nggak punya luka. Aku juga cuma bertemu sekali.'
Laras menyebut nama Raka dengan hati-hati. Tidak ada benang yang bergerak. Nama itu mungkin asli atau hanya nama pinjaman lain.
Mira membuka lemari kecil berisi arsip pegawai. Tidak ada Raka pada daftar, tetapi nomor kartu Alfani terdaftar atas nama seorang petugas bernama Galang Pradana. Perbedaannya hanya satu huruf dari nama Gilang Pradana, adik Mira.
'Gilang nggak punya saudara bernama Galang,' kata Mira. 'Data keluarga kami jelas.'
'Mungkin nama ini sengaja dibuat mirip supaya arsipnya terhubung,' ujar Dilan.
Mereka membandingkan tanda tangan. Tanda tangan pada kartu, nota pembelian kertas, dan buku alamat memiliki tarikan akhir yang sama. Raka menulis ketiganya. Ia telah berada di balik hubungan pertama dan kembali mengatur undangan kedua.
Alfa memukul meja. 'Semua ini dimulai karena aku percaya sama dia.'
'Dimulai karena dia menipu kamu,' kata Dilan. 'Kamu tetap bertanggung jawab menyembunyikannya, tapi jangan ambil kesalahan pelaku menjadi milikmu.'
Alfa menatap Dilan cukup lama, lalu mengangguk. Hubungan mereka belum kembali seperti sebelum reuni, tetapi setidaknya kini mereka mampu membedakan kesalahan dan manipulasi.
Di layar, Raka membuka laci meja Dilan dan mengeluarkan map berisi data mahasiswa. Ia memotret nama serta nomor telepon satu per satu.
Dilan mengepalkan tangan. 'Dia memperluas daftar ke mahasiswa ku.'
'Kita harus ke apartemen sekarang,' kata Andrea.
Mira menahan pintu semu dengan sebatang besi agar tidak menutup. Ia mengikatkan tali pada gagang dan melempar ujungnya ke ruang tamu apartemen. Tali itu mendarat, membuktikan jalan masih terbuka.
'Kita kirim benda dulu,' sarannya.
Andrea memasukkan kamera kecil yang ditemukan di bawah aula ke dalam kotak, kemudian mendorongnya melewati pintu. Gambar pada perangkat penerima menunjukkan kotak benar-benar berada di apartemen. Namun waktu di sana berjalan delapan menit lebih lambat daripada layar proyektor.
'Kalau menyeberang, kalian bisa keluar pada waktu yang berbeda,' kata Laras.
Dilan menolak mengirim siapa pun sebelum mengetahui cara kembali. Mereka mengikat botol air pada tali, mendorongnya masuk, lalu menarik lagi. Botol kembali, tetapi air di dalamnya berubah hitam dan berbau tanah.
'Jalan itu mengubah benda,' ujar Aini.
Raka di layar mendekati kotak kamera. Ia mengambilnya, memandang lensa, kemudian menulis pada selembar kertas.
KIRIM ALFA SENDIRIAN. AKU AKAN HENTIKAN PANGGILAN.
'Nggak mungkin,' kata Dilan.
Raka membalik kartu serupa milik Alfa ke arah kamera. Pada bagian belakang terdapat sebuah foto bayi dengan gelang nama rumah sakit.
Nama bayi itu Alfani Putra Akmal.
Tanggal lahirnya sama dengan ulang tahun Alfa.
Di bawah foto tertulis bahwa nama tersebut diberikan oleh Raka kepada keluarga pengasuh.
Alfa berpegangan pada meja agar tidak jatuh. 'Apa maksudnya keluarga pengasuh?'
Raka menulis pesan kedua.
TANYAKAN SIAPA ORANG TUA ASLIMU.
Layar padam sebelum Alfa dapat menjawab. Pada dinding, foto penerima nomor dua berubah. Wajah Alfa menghilang dan digantikan wajah Raka.
Goresan pada undangan Alfa berubah dari dua menjadi tiga. (*)