Raka berdiri di seberang pintu dengan belati di tangan. Di belakangnya tampak apartemen Dilan, tetapi jam dinding kini bergerak mundur. Setiap detik membuat ruangan itu terlihat semakin gelap.
'Tutup pintunya,' kata Alfa.
Raka menahan daun pintu dari sisi lain. 'Kalau ditutup, empat orang di jalan akan langsung tiba di sekolah.'
Dilan memeriksa layar. Empat penerima memang terus bergerak menuju mereka. Polisi baru berhasil menemukan dua kendaraan, sedangkan dua orang lain tidak diketahui posisinya.
'Apa yang kamu mau dari Dilan?' tanya Mira.
'Dia penerima pertama. Suaranya membuka jalan yang tidak dapat kubuka sendiri.'
'Kamu sudah memakai laptop dan datanya,' jawab Dilan. 'Kenapa masih perlu tubuhku?'
Raka tersenyum. Bekas luka pada wajahnya tertarik sampai tampak mengerikan. 'Karena data hanya membuat undangan. Tubuhmu dapat membawa sekolah keluar.'
Alfa berdiri tepat di depan Dilan. Andrea mengambil posisi di sisi pintu, menunggu kesempatan menyerang. Laras meminta keduanya tidak melewati ambang. Raka mungkin sengaja memancing pertarungan agar benang baru terbentuk.
'Siapa kamu sebenarnya?' tanya Dilan.
'Namaku pernah Alfani. Lalu Galang. Kemudian Raka. Sekolah selalu memberiku nama baru ketika nama lama rusak.'
'Kamu manusia atau salah satu suara?'
Raka menggores telapak tangannya dengan belati. Darah segar muncul. 'Aku lahir sebagai manusia. Itu cukup.'
Ia mengaku bekerja sebagai petugas sekolah dua puluh empat tahun lalu. Ketika Kiyan dan Kinan asli meninggal, ia menjadi orang pertama yang mendengar suara mereka melalui pipa. Ia menjawab dan memperoleh kemampuan memakai arsip identitas orang lain. Sebagai gantinya, ia harus menyediakan hubungan baru setiap beberapa tahun.
Mira menatapnya penuh kebencian. 'Gilang menemukan catatan tentang mu. Itu sebabnya kamu membunuhnya.'
'Aku tidak menyentuh adikmu.'
'Kamu mengirim dia ke ruangan bawah dan membiarkan suara mengambil tubuhnya.'
Raka mengangkat bahu. 'Dia memilih masuk.'
Dilan mengenali pola yang sama. Raka selalu menyisakan satu tindakan kecil dari korban, lalu memakai tindakan itu untuk membebaskan dirinya dari kesalahan. Alfa memilih membuka pintu. Dilan menjawab suara. Aini mengirim foto. Bagi Raka, penipuan sebelum pilihan seolah tidak pernah ada.
'Undangan itu tidak menjelaskan risiko,' kata Dilan. 'Panggilan memakai suara orang yang dipercaya. Kamu menyembunyikan informasi supaya kami melakukan yang kamu mau. Itu bukan pilihan bebas.'
Raka menatapnya dengan minat. 'Kamu bicara seperti pengajar.'
'Aku memang pengajar.'
'Dulu kamu jauh lebih mudah dibuat merasa bersalah.'
Kalimat itu sengaja memancing, tetapi Dilan tidak membalas. Ia meminta Raka menunjukkan telapak tangan. Selain luka baru dari belati, terdapat bekas lingkaran hitam yang sama seperti pergelangan Alfa. Raka pernah memakai gelang pengikat lain.
Laras mengenali simpul bekasnya. 'Gelang milik Kinan asli.'
'Benda itu sudah lama hancur,' jawab Raka.
'Kalau dihancurkan, hubunganmu seharusnya melukai orang lain. Siapa yang menerima lukanya?'
Raka tidak menjawab. Bekas luka panjang di wajahnya mendadak bergerak seperti mulut kedua. Dilan menyadari sayatan itu mungkin bukan akibat perkelahian. Itu jalur tempat benang keluar setiap kali nama lama Raka rusak.
Andrea mendekati sisi pintu sambil berpura-pura memeriksa layar. Arga dan Alex memahami gerakannya tanpa perlu dipanggil. Mereka berpencar pelan agar Raka tidak melihat tali yang disiapkan.
Aini menjaga mesin bersama Mira. Bila Raka mencoba mengirim perintah, ia akan menutup papan ketik menggunakan kotak, bukan merusak kabel. Alfa terus bertanya mengenai kartu Alfani untuk mempertahankan perhatian pelaku.
Dilan sendiri berdiri di tempat. Ia tidak dipakai sebagai umpan tanpa persetujuan. Andrea sudah menunjukkan tali kepadanya melalui pantulan logam dan Dilan mengangguk sebelum mereka bergerak.
'Kalau aku ikut, bagaimana kamu menghentikan empat penerima?' tanyanya.
'Kamu akan menggantikan Galang sebagai tujuan. Mereka berhenti mengejar sekolah dan mulai mengejar mu.'
'Berarti kamu nggak menyelamatkan mereka. Kamu hanya memindahkan sasaran.'
'Dalam setiap hubungan harus ada satu pusat.'
'Itu aturan sekolah atau aturan yang kamu buat supaya tetap hidup?'
Raka ragu sesaat. Keraguan itulah yang ditunggu Andrea.
'Kamu membunuh mereka?' tanya Laras.
'Aku hanya membuka ruangan tempat mereka memilih permainan.'
'Jawaban pengecut,' desis Andrea.
Dilan tidak menerima pengakuan Raka sebagai kebenaran mutlak. Pelaku itu selalu mengubah tanggung jawab menjadi pilihan korban. Ia menyebut jebakan sebagai undangan dan pembunuhan sebagai permainan.
'Kenapa menunggu delapan tahun?' tanya Dilan.
'Karena Alfa pergi terlalu jauh dan kamu kehilangan ingatan. Hubungan pertama melemah. Aku menunggu sampai kalian kembali berbicara.'
Makan malam Dilan dan Alfa menjadi pemicu. Mereka menghubungi satu sama lain setelah delapan tahun, lalu Raka mengirim undangan saat hubungan kembali kuat.
'Jadi kamu mengikuti kami sejak Alfa pulang?' tanya Dilan.
'Jauh sebelum itu. Laptop, jadwal mengajar, alamat baru. Manusia sekarang menghubungkan hidupnya sendiri melalui layar. Aku hanya perlu masuk pada satu perangkat.'
Judul mengerikan itu akhirnya terasa nyata bagi Dilan. Mereka tidak lagi terhubung hanya melalui sekolah, tetapi juga telepon, akun, foto, dan data yang dibagikan tanpa pikir panjang.
Andrea diam-diam mengikat tali pada gagang meja dan melempar ujungnya melewati kaki Raka. Alfa mengalihkan perhatian dengan menunjukkan kartu lama.
'Kenapa memakai nama ku?'
'Karena keluargamu membelinya.'
Alfa menegang. Raka mengklaim orang tua asuh Alfa menerima seorang bayi tanpa nama dari yayasan sekolah. Nama Alfani diberikan agar identitas lama pada kartu dapat hidup kembali. Alfa dibesarkan bukan sebagai pelaku, melainkan calon tangan baru.
'Bohong,' kata Alfa, tetapi suaranya bergetar.
'Tanyakan kepada mereka kalau kamu berhasil pulang.'
Dilan menyentuh punggung Alfa. Ia tidak akan membiarkan satu pengakuan dari pelaku menghancurkan seluruh hidup sahabatnya. Mereka memerlukan bukti dari luar sekolah.
Pada saat Raka menatap Alfa, Andrea menarik tali. Kaki Raka terjerat dan tubuhnya jatuh melewati ambang. Laras langsung menutup pintu semu. Raka kini berada di bawah aula bersama mereka, sedangkan jalan menuju apartemen lenyap.
Andrea menendang belati dari tangannya. Arga dan Alex menahan kedua lengan Raka meski masih terluka. Mira mengikat pergelangannya menggunakan tali plastik milik pelaku sendiri.
'Sekarang hapus alamat sekolah,' kata Dilan.
Raka tertawa meski bibirnya berdarah. 'Kalian pikir aku pusat hubungan kedua?'
Layar proyektor menyala kembali. Apartemen Dilan kosong. Laptop di meja mengetik sendiri, mengirim undangan tanpa tangan manusia.
Raka mengangguk ke arah mesin. 'Aku hanya petugas yang memastikan kalian datang. Penerima ketiga yang menjaga mesinnya.'
Galang muncul di belakang layar, lalu merobek foto Raka dari daftar penerima. Tubuh pria berbekas luka itu mendadak kejang.
'Dia memutus hubungan ku,' kata Raka panik. 'Kalau aku mati, kalian kehilangan satu-satunya orang yang tahu cara menutup alamat!'
Dilan memeriksa napasnya. Raka masih hidup, tetapi bekas luka pada wajahnya mengeluarkan benang hitam.
Pada layar, empat penerima yang masih berjalan berhenti bersamaan. Mereka menoleh ke arah kamera terdekat dan berbicara memakai satu suara.
'Pintu keluar dibuka setelah penerima pertama menggantikan petugas.'
Di lantai bawah aula, kartu lama Alfani berubah. Foto Raka lenyap.
Wajah Dilan muncul menggantikannya. (*)