Suara Linda berasal dari alat perekam kecil di dasar tas Raka. Dilan ingin segera memutarnya, tetapi Laras meminta semua orang memastikan itu bukan panggilan baru. Alat tersebut tidak tersambung kabel atau jaringan dan memakai kaset lama.
Mira menekan tombol putar menggunakan pensil. Suara napas Linda terdengar lebih dulu, disusul langkah seseorang yang menyeret kaki kanan.
'Kalau ada yang menemukan rekaman ini, Raka membawa ku ke bawah aula,' suara Linda berbisik. 'Dia bilang aku bukan bagian lima orang, jadi aku bisa dipakai menyimpan daftar.'
Raka meronta. Andrea dan Arga menahannya tanpa mengenai luka di wajah.
'Rekaman itu dibuat gedung!' bentaknya.
'Kamu baru bilang dia masih hidup ketika ditinggalkan,' ujar Dilan. 'Berarti bagian awal sesuai pengakuanmu.'
Rekaman berlanjut. Linda menyebut dua kode buku, lalu suara benturan keras terdengar. Ia mengaku melihat Raka menempelkan daftar penerima pada punggungnya menggunakan darah. Bila Linda keluar hidup-hidup, hubungan kedua akan gagal karena daftar tidak lagi berada di sekolah.
'Kenapa jasad Linda ditemukan tergantung jauh dari sini?' tanya Alfa.
Raka menutup mulut.
Mira memeriksa dinding di belakang mesin. Salah satu panel memiliki bekas tangan dan noda darah lama. Saat panel dibuka, mereka menemukan ruang sempit yang cukup untuk satu tubuh. Di dalamnya terdapat sobekan pakaian Linda dan beberapa lembar daftar yang menempel pada dinding.
Dilan menahan napas. Ia tidak menemukan jasad, tetapi bau darah masih kuat. Enam nama korban tertulis berulang pada lembar tersebut. Lima nama dicetak mesin. Nama Linda ditulis tangan oleh dirinya sendiri.
'Dia menambahkan namanya agar kami tahu ada korban keenam,' kata Dilan.
Bu Maya membantu mencatat tanpa menyentuh barang. Ia menyarankan mereka tidak memindahkan bukti kecuali diperlukan untuk menyelamatkan orang. Bila berhasil keluar, polisi harus melihat lokasi sebagaimana ditemukan.
Dilan memotret panel dan rekaman menggunakan perangkat terpisah. Ia tidak mau kematian Linda hilang menjadi cerita gaib yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Raka melakukan tindakan nyata: menyayat, menyeret, dan mengurungnya.
Bu Maya mengusulkan membuat garis waktu. Mereka menggunakan lembar kosong dan hanya menulis fakta yang dilihat langsung. Irene serta Rian meninggal dengan bekas jeratan yang tidak tampak bagi semua orang. Alin ditemukan tertusuk payung setelah jatuh. Sari jatuh dari lantai atas dengan tubuh penuh luka. Petra ditemukan setelah disiksa sosok berjubah. Linda ditemukan tergantung seusai mengalami sayatan.
'Lima nama cetak mungkin nggak berarti lima kematian yang dilakukan dengan cara sama,' kata Bu Maya. 'Daftar itu bisa menunjukkan lima orang yang ditempatkan Raka, lalu sekolah memilih akibat berbeda.'
Andrea menambahkan bahwa ia dan Dilan melihat Petra sebelum serta setelah diserang. Pelakunya memiliki tubuh manusia dan memakai belati. Suara yang didengar Dilan mirip Alfa karena sosok benang meminjamnya. Namun pakaian koyak Andrea membuktikan ia sempat berkelahi dengan seseorang yang dapat disentuh.
Raka mengakui dirinya menyeret Petra ke kelas, tetapi bersikeras bukan ia yang membuat seluruh sayatan. Setelah luka pertama, Galang mengambil alih tangannya melalui radio.
'Radio nggak menggerakkan tanganmu,' kata Dilan. 'Kamu tetap membawa belati dan memulai.'
'Kalau aku menolak, dia mengambil nama ku.'
'Ketakutanmu menjelaskan tindakan, bukan menghapus tanggung jawab.'
Mira mencari luka pada lengan Raka yang sesuai perkelahian Andrea. Ada memar baru di siku dan goresan pada punggung tangan. Raka adalah sosok berjubah manusia yang mereka kejar, sedangkan tiruan Alfa muncul melalui jubah serta benang setelah ia pergi.
Arga mengenali bekas memar pada rahang Raka sebagai hasil pukulannya. Tidak ada alasan lagi menyebut semua serangan sebagai perbuatan sosok astral.
Mereka menyimpan pisau Raka, sarung tangan, dan rekaman Linda secara terpisah. Dilan menolak menggunakan benda tersebut untuk memancing penglihatan atau suara baru. Bukti fisik cukup untuk menghubungkan pelaku dengan tindakan manusia.
Aini bertanya apakah tanda silang pada foto Linda muncul sebelum atau sesudah ia mati. Kamera bawah aula menyimpan waktu otomatis. Bu Maya menemukan bahwa lima tanda cetak muncul sebelum reuni, sedangkan tanda Linda dibuat dua jam kemudian menggunakan tinta berbeda.
'Raka menambahkan tanda itu setelah membunuhnya,' kata Alfa. 'Supaya kita mengira Linda bagian aturan yang sama.'
Raka menunduk. Diamnya tidak dipakai sebagai pengakuan, tetapi bukti lain sudah mendukung kesimpulan mereka.
Dilan memberi nomor pada setiap barang dan mencatat siapa yang menemukannya. Bila mereka lolos, keluarga korban pantas mendapat penyelidikan nyata, bukan hanya cerita bahwa sekolah berhantu mengambil nyawa.
'Apa Linda mati di dalam panel?' tanya Aini.
Laras mengamati benang yang tersisa. 'Tubuhnya mungkin dipindahkan setelah mati. Tapi suara terakhirnya terhubung ke pipa, itu sebabnya dia mampu menulis kode melalui jasad yang kalian temukan.'
'Berarti Linda memang sudah meninggal saat menulis?' tanya Alfa.
'Iya. Yang bergerak adalah sisa pilihannya untuk meninggalkan petunjuk, bukan Linda hidup kembali.'
Penjelasan itu menyakitkan, tetapi memberi makna pada usaha terakhir Linda. Ia bukan korban pasif. Bahkan setelah Raka mencoba menjadikannya tempat menyimpan daftar, Linda mengubah fungsi itu menjadi pesan.
Raka akhirnya mengaku membawa tubuh Linda ke lorong dan menggantungnya agar kematiannya tampak sama dengan korban lain. Ia berharap teman-teman akan mengira sekolah membunuh semuanya.
'Lima orang itu siapa yang membunuh?' tanya Andrea.
'Galang memilih cara. Aku hanya memastikan mereka berkumpul sesuai hubungan.'
'Hanya?' Andrea hampir menyerangnya lagi.
Dilan menahan Andrea. Raka tetap bertanggung jawab karena membawa korban ke keadaan yang ia tahu akan membunuh. Mereka tidak perlu memukulnya untuk membuktikan hal tersebut.
Di layar, dua penerima dalam mobil akhirnya memutus panggilan setelah polisi menunjukkan pesan. Angka tersisa turun menjadi dua. Satu adalah orang yang menghilang dari kamera. Satu lagi Bu Maya, meski ia sudah menolak peran.
Dilan meminta Bu Maya mematikan laptopnya dari jarak jauh melalui akun kampus, tetapi perempuan itu menjelaskan perangkat Dilan tidak terhubung ke sistem kampus. Mereka hanya dapat mencabut akses data mahasiswa dengan menghubungi administrator luar.
Pesan dikirim melalui jalur polisi. Beberapa menit kemudian, daftar mahasiswa pada layar menghilang. Pengiriman undangan baru berhenti bertambah.
'Kita berhasil membatasi penyebaran,' kata Alfa.
'Belum menghentikan sumbernya,' jawab Mira.
Undangan kosong Galang masih menyimpan alamat sekolah. Satu penerima tak dikenal telah menghilang, mungkin sudah berada di salah satu pintu semu.
Alat perekam Linda berputar sampai akhir. Setelah suara Linda berhenti, terdengar percakapan dua laki-laki. Salah satunya Raka. Suara lainnya berat dan tidak dikenal.
'Kalau lima pembayaran selesai, siapa yang jadi petugas baru?' tanya Raka dalam rekaman.
Suara berat menjawab, 'Anak yang menjawab panggilan pertama.'
'Dilan?'
'Bukan. Anak pertama yang memakai nama Alfani.'
Alfa menatap kartu di dalam kotak. Huruf D menghilang.
Foto pada kartu berubah menjadi gambar bayi tanpa nama. (*)