Foto bayi tanpa nama memenuhi kartu petugas. Alfa menatapnya dengan wajah pucat. Raka justru terlihat semakin panik, seolah perubahan itu tidak sesuai rencananya.
'Siapa anak pertama yang memakai nama Alfani?' tanya Dilan.
'Aku nggak tahu,' jawab Raka.
'Kamu memakai nama itu dua puluh empat tahun lalu.'
'Aku menerimanya saat sudah dewasa. Aku bukan anak pertama.'
Mira membandingkan foto bayi pada kartu dengan foto yang diperlihatkan Raka sebelumnya. Selimut, gelang rumah sakit, dan posisi tangan sama, tetapi wajah bayi tidak dapat dikenali. Tanggal lahirnya terus berubah.
Alfa menarik napas. 'Aku nggak akan menyentuh atau mengakui foto itu sebagai diriku sebelum ada bukti.'
Foto bayi berhenti bergerak. Pernyataan Alfa mencegah kartu langsung memilihnya.
Bu Maya mengingat nama yayasan pada gelang rumah sakit. Kampus pernah menerima arsip dari yayasan tersebut ketika rumah bersalinnya ditutup. Salinan dokumen mungkin berada pada penyimpanan luar sekolah dan tidak dapat diubah dinding.
Ia menjelaskan bahwa arsip dipindai sebagai bagian penelitian kesehatan masyarakat. Dokumen aslinya diserahkan kepada dinas, sedangkan salinan kampus memiliki tanda verifikasi dari beberapa lembaga. Sekolah tidak dapat mengubah semua sumber sekaligus tanpa menyentuh jaringan di luar.
'Jangan minta satu orang membacakan hasilnya lewat telepon,' kata Laras. 'Suara dapat dipinjam.'
Bu Maya menyusun permintaan agar petugas mengirim foto dokumen, cap kaki, dan nomor registrasi melalui jalur polisi. Tiga orang berbeda harus melihat sumber asli dan menulis hasil masing-masing. Bila jawaban mereka sama, barulah kelompok memakai informasi tersebut.
Dilan menghargai cara itu. Selama malam ini, mereka berkali-kali mempercayai satu benda atau satu suara, lalu terseret pada kesimpulan salah. Pemeriksaan silang mungkin lambat, tetapi tidak membiarkan sekolah menentukan satu-satunya kebenaran.
Raka berusaha menertawakan usaha tersebut. 'Arsip luar juga dibuat manusia. Semua dapat dipalsukan.'
'Benar,' jawab Bu Maya. 'Karena itu kami membandingkan sumber, bukan menyembah satu kertas.'
Raka tidak menjawab lagi.
'Kita minta polisi menghubungi kampus,' katanya.
Dilan mengirim pesan tanpa mencantumkan nama bayi. Ia meminta daftar kelahiran pada tanggal Alfa lahir dan riwayat perpindahan kartu pegawai sekolah. Polisi meneruskan permintaan kepada petugas yang berada di luar hubungan.
Sambil menunggu, mereka menjaga Raka tetap sadar. Benang dari bekas luka telah berhenti tumbuh setelah kartu kehilangan wajah Dilan. Mira membersihkan darah di sekitar luka tanpa menarik benang. Raka masih menjadi saksi hidup sekaligus pelaku yang harus diserahkan kepada hukum.
'Siapa suara kedua dalam rekaman Linda?' tanya Laras.
'Galang.'
'Dia nggak memiliki tubuh saat itu.'
'Dia memakai pengeras suara kepala sekolah.'
Raka mengaku Galang telah mengendalikan kepala sekolah lama selama bertahun-tahun melalui alat bantu dengar. Banyak arsip dan kecelakaan ditutup menggunakan kewenangan manusia, bukan sihir. Setelah kepala sekolah meninggal, Galang membutuhkan petugas baru yang dapat bergerak di luar gedung. Raka menerima peran tersebut agar namanya sendiri tidak diambil.
'Kamu mengorbankan orang lain supaya tetap punya identitas,' kata Dilan.
'Kalian nggak tahu rasanya dilupakan semua orang.'
'Linda tahu rasanya kehilangan hidup karena pilihanmu.'
Raka tidak mampu membalas.
Layar mesin menerima balasan dari polisi. Arsip rumah bersalin mencatat dua bayi laki-laki pada tanggal yang sama. Satu bernama Alfani Putra Akmal dan pulang bersama orang tua Alfa. Satu lagi tidak bernama, diserahkan kepada yayasan tiga hari kemudian.
Balasan pertama berasal dari dinas. Lima menit kemudian, petugas kampus mengirim salinan yang sama dengan nomor pindai berbeda. Saksi ketiga adalah mantan bidan yang masih hidup. Ia tidak mengingat nama bayi, tetapi mengenali dua cap kaki karena salah satu bayi memiliki jari kelingking kiri yang menekuk ke dalam.
Alfa melepas sepatu kirinya. Jari kelingkingnya normal. Foto bayi bernama Alfani juga menunjukkan bentuk normal. Bayi tanpa nama memiliki ciri yang disebut mantan bidan.
'Ini bukan bukti seluruh asal-usul ku,' kata Alfa, lebih tenang. 'Tapi cukup membuktikan foto di kartu bukan aku.'
Ia menulis pernyataan itu sendiri dan menaruhnya di samping kotak. Foto pada kartu mencoba berubah menjadi wajah Alfa, lalu kembali menjadi bayi kosong. Benda tersebut gagal membuat hubungan ketika pemilik nama memiliki catatan yang terpisah dari sekolah.
Dilan memperhatikan Raka. Pria itu tampak kecewa, bukan terkejut. Mungkin sejak awal ia mengetahui foto tersebut bukan Alfa dan hanya menggunakannya untuk merusak kepercayaan mereka.
'Kamu berharap Alfa panik lalu menyentuh kartunya,' kata Dilan.
'Aku berharap dia ingin mengetahui kebenaran.'
'Kamu menawarkan ketakutan, bukan kebenaran.'
Cap kaki keduanya berbeda. Foto pada kartu cocok dengan bayi tanpa nama, bukan Alfa.
Alfa hampir menangis karena lega. Asal-usulnya tidak ditentukan oleh kartu yang dipakai Raka. Dilan menepuk bahunya, namun tidak mengatakan semua selesai. Raka masih menggunakan nama Alfa untuk menjebaknya, dan keluarga Alfa tetap perlu memberikan penjelasan mereka sendiri nanti.
'Bayi tanpa nama itu dibawa ke mana?' tanya Andrea.
Jawaban polisi menyebut satu panti asuhan yang sudah tutup. Berkas terakhir mencatat bayi tersebut meninggal sebelum berumur satu bulan. Tidak ada akta kematian, hanya surat dari yayasan.
Laras memandangi kartu. 'Anak itu mungkin tidak pernah mati. Namanya dihapus agar dapat dibesarkan sebagai petugas berikutnya.'
Semua menatap Raka.
Pria tersebut menggeleng keras. 'Aku lahir jauh sebelum itu.'
'Bukan Raka,' kata Dilan. 'Galang mencari anak pertama yang memakai nama Alfani setelah kamu.'
Undangan terakhir pada mesin menyala. Foto penerima yang menghilang akhirnya muncul. Seorang lelaki berusia sekitar dua puluh tujuh tahun berdiri di lorong sekolah. Wajahnya tidak dikenal, tetapi ia memakai gelang rumah sakit yang sama dengan foto bayi.
Ia tidak masuk melalui gerbang atau pintu apartemen. Tubuhnya keluar dari panel sempit tempat Linda pernah dikurung.
Lelaki itu menatap kamera dan berkata, 'Namaku Alfani.'
Bu Maya membandingkan wajahnya dengan berkas bayi. Bentuk jari kelingking tidak terlihat dari layar, sehingga mereka belum dapat memastikan tubuh itu bayi yang sama. Usia dua puluh tujuh tahun juga tidak cocok dengan catatan kematian tanpa tanggal resmi.
'Jangan panggil dia memakai nama itu,' kata Alfa. 'Nama ku nggak otomatis menjadi miliknya hanya karena dia mengaku.'
Laras menyuruh mereka menutup semua benda yang dapat memantulkan wajah. Jika Galang membesarkan tubuh melalui arsip, ia mungkin masih membutuhkan pengakuan visual untuk menstabilkannya. Aini menutupi layar kecil dan hanya membiarkan satu kamera mengawasi lorong.
Andrea membagi tugas. Arga serta Alex menjaga Raka. Mira mengawasi mesin dan panggilan luar. Bu Maya menemani Aini menjauh dari pintu. Dilan, Alfa, Andrea, dan Laras bersiap menghadapi lelaki yang berjalan mendekat tanpa memanggil nama apa pun.
'Gue yang maju dulu,' kata Andrea.
'Kita nggak tahu apakah menyentuh tubuhnya membuat identitas berpindah,' jawab Dilan.
Mereka menyiapkan penghalang dari meja logam dan jaring tirai panggung. Tujuannya menahan gerak tanpa melukai atau membuat kontak kulit. Raka mengingatkan bahwa Galang dapat memakai suara siapa pun, tetapi tidak memberi tahu kelemahannya.
Dilan menatap kartu petugas. Selama foto lelaki itu belum sepenuhnya terbentuk, tubuh tersebut mungkin belum terhubung sempurna. Mereka masih memiliki waktu untuk mengetahui apakah ia korban yang dibesarkan sebagai wadah atau Galang sendiri.
Kartu petugas terbang keluar dari kotak tanpa disentuh. Foto bayi berubah menjadi wajah lelaki tersebut.
Raka menjerit. 'Jangan biarkan dia mendekati mesin!'
Alfani berjalan menuju ruang bawah aula. Setiap langkahnya membuat satu pipa berubah menjadi daging.
Galang tidak memperoleh tubuh dari penerima gelombang kedua.
Ia membesarkan tubuh untuk dirinya sendiri selama dua puluh tujuh tahun. (*)