Setiap langkah lelaki yang mengaku Alfani membuat satu pipa berubah menjadi daging.
Dilan berdiri di belakang penghalang meja logam. Andrea dan Laras membentangkan jaring tirai panggung tanpa menyentuh tubuh lelaki tersebut. Alfa menjaga jarak sambil membawa kotak kartu petugas. Foto pada kartu mengikuti wajah di lorong, tetapi namanya belum tertulis lengkap.
'Berhenti di sana,' kata Dilan.
Lelaki itu berhenti. Berbeda dengan salinan Alfa atau Kinan, gerakannya tidak patah-patah. Dadanya naik turun dan keringat terlihat pada dahinya. Tubuh itu hidup.
'Namaku Alfani,' katanya lagi.
'Itu nama yang diberikan orang lain. Apa kamu punya nama yang kamu pilih sendiri?'
Lelaki tersebut tampak bingung. 'Petugas tidak memilih nama.'
Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang diajarkan berulang kali. Dilan tidak memanggilnya Galang atau Alfani. Ia meminta izin menyebutnya lelaki di lorong sampai identitasnya jelas. Tidak ada penolakan.
Raka meronta dari lantai. 'Jangan ajak dia bicara! Galang memakai jawabannya untuk masuk.'
'Kamu juga terus bicara kepada kami,' balas Andrea. 'Tutup mulut kalau nggak mau membantu.'
Bu Maya mengamati lelaki itu dari belakang mesin. Ia memperhatikan kulit pucat, gerak mata, dan cara tangan kanan terus menekan perut. Ada bercak darah pada bajunya.
'Dia terluka,' katanya.
Dilan bertanya apakah dirinya membutuhkan pertolongan. Lelaki tersebut menatap luka di perut seolah baru menyadarinya. Satu pipa daging tersambung dari dinding ke punggungnya, berdenyut dan mengalirkan cairan merah.
'Kalau pipa dilepas, tubuh ini berhenti,' ujarnya.
'Kata siapa?'
'Ayah.'
'Siapa ayahmu?'
Mulut lelaki itu membuka, tetapi suara Galang keluar dari pengeras mesin.
'Pertanyaan itu tidak perlu dijawab.'
Lelaki tersebut memegangi tenggorokannya. Dilan melihat perlawanan pada wajahnya. Ia bukan tubuh kosong. Galang memakai pipa dan suara untuk menekan jawaban, sama seperti yang dilakukan kepada Alex.
Mira menyarankan pemeriksaan dari jarak aman. Ia melempar termometer tanpa kaca dan meminta lelaki itu menggunakannya sendiri. Suhu tubuhnya rendah, tetapi masih dalam batas manusia hidup. Denyut pada lehernya tidak sama dengan irama pipa.
'Tubuhmu punya jantung sendiri,' kata Mira. 'Pipa itu bukan satu-satunya yang membuatmu hidup.'
Lelaki di lorong menempelkan tangan ke dada. Untuk pertama kali, ekspresi lain muncul selain kepatuhan. Harapan.
Alex mengarahkan kamera telepon pada dada lelaki itu dan memperbesar rekamannya. Ia meminta lelaki tersebut berdiri menyamping, kemudian menahan napas selama tiga hitungan. Denyut di leher tetap berjalan ketika pipa berhenti sesaat. Saat lelaki itu batuk, irama pipa justru terlambat mengikuti.
'Yang satu organ tubuh, yang satu alat pengatur,' kata Alex. 'Kalau benar Galang menciptakan jantungnya, keduanya pasti bergerak bersamaan.'
Raka segera membantah. Ia mengatakan mesin sengaja memberi jeda agar tubuh tampak mandiri. Namun ucapannya terlalu cepat, seperti pembelaan yang sudah dipersiapkan. Dilan meminta Arga memotret sambungan pipa pada dinding. Di antara lapisan daging palsu terlihat cincin logam, nomor produksi, dan bekas baut. Bagian itu pernah menjadi peralatan biasa sebelum hubungan gaib mengubah permukaannya.
Lelaki di lorong mengikuti arah pandangan mereka. 'Ayah bilang mesin ini tumbuh bersamaku.'
'Mungkin mesinnya diganti setiap kamu bertambah besar,' kata Bu Maya lembut. 'Bekas baut itu menunjukkan ada orang yang merawat dan memasangnya. Kebohongan bisa dipelihara selama puluhan tahun sampai terasa seperti ingatan.'
Lelaki itu meraba bekas luka lama pada lengan. Ada beberapa titik kecil yang tersusun rapi. Mira mengenalinya sebagai bekas jarum berulang, bukan tanda tubuh yang dibentuk mesin. Ia meminta izin untuk memotret. Setelah lelaki itu mengangguk, foto dikirim bersama data suhu dan napas kepada petugas medis di luar.
'Kamu pernah sakit?' tanya Dilan.
'Aku diajari bahwa sakit berarti tubuhku belum siap.'
'Pernah lapar? Mengantuk? Bermimpi?'
Ia mengangguk tiga kali.
'Berarti kamu mengalami hidupmu sendiri. Mesin cuma membuatmu takut kehilangan semua itu.'
Bayangan pada punggungnya bergetar. Dari pengeras terdengar dengusan yang menyerupai suara banyak anak mengulang pelajaran. Lelaki itu menutup telinga. Dilan tidak menanyakan apa pun sampai napasnya tenang kembali. Untuk pertama kalinya, pemeriksaan tersebut dilakukan mengikuti kesiapan dirinya, bukan kebutuhan mesin.
Galang membuat pipa berdenyut lebih cepat. Lelaki itu membungkuk kesakitan dan melangkah maju tanpa kehendaknya. Andrea menarik jaring. Kain menutup jalannya, tetapi tidak menempel pada kulit. Arga serta Alex mengaitkan ujung jaring pada kaki meja.
'Kami nggak akan melukai mu,' kata Dilan. 'Tapi kamu juga nggak boleh mendekati mesin sebelum kami tahu apa yang terjadi.'
'Aku harus menjadi petugas.'
'Kamu mau?'
Lelaki itu tidak dapat menjawab. Setiap kali bibirnya bergerak, pipa pada punggung menarik lebih dalam. Dilan meminta dirinya tidak bicara. Ia boleh menjawab dengan mengangkat atau menurunkan tangan.
'Kalau kamu ingin menjadi petugas, angkat tangan kanan. Kalau tidak, tangan kiri.'
Tangan kiri lelaki itu bergerak sedikit.
Kartu dalam kotak bergetar. Foto wajahnya menjadi buram.
Raka memandang dengan panik. 'Dia nggak boleh menolak. Tubuh itu dibuat untuk Galang.'
'Tubuh hidup bukan milik fungsi yang kamu buat,' kata Bu Maya.
'Berapa usianya saat kamu pertama kali melihatnya?' tanya Dilan.
Raka mengatupkan rahang. Benang pada pipinya menegang, tetapi kali ini bukan Galang yang memaksanya. Ia sendiri memilih diam.
Lelaki yang belum memiliki nama mengangkat lima jari, lalu mengepalkan tangan kecil seperti bayi. Bu Maya memahami gerakan itu. Ia pernah melihat Raka ketika masih sangat kecil. Setelah itu ia menunjuk dirinya, membuat garis bertambah tinggi di udara, dan kembali menunjuk Raka. Lelaki itu berada di sana pada setiap tahap hidupnya.
'Kamu mengajarinya membaca?' tanya Bu Maya.
'Aku mengajarkan perintah.'
'Kamu memberinya makan?'
'Sesuai jadwal.'
'Kalau dia menangis?'
Raka menatap lantai. 'Suara keras mengganggu mesin.'
Tidak ada yang perlu menafsirkan jawaban itu. Lelaki di balik jaring telah dibesarkan tanpa pelukan, tanpa nama tetap, dan tanpa pilihan yang dianggap sah. Kemarahannya bukan gangguan dari Galang. Kemarahan itu miliknya, dan justru membuktikan bahwa selama ini ada manusia utuh yang dipaksa hidup sebagai peralatan.
Mira meminta lelaki itu duduk. Setelah ia menurut, gerakan pipa melemah. Mereka menggeser penghalang perlahan dan memberinya kain bersih untuk menekan luka. Tidak ada seorang pun melewati garis jaring.
Dilan mengajukan pertanyaan yang tidak membutuhkan nama. Ia menanyakan makanan yang disukai, warna yang dibenci, serta tempat pertama yang diingat. Lelaki itu menjawab melalui gerakan tangan. Ia menyukai rasa manis, membenci warna merah, dan ingatan pertamanya adalah ruangan putih tanpa jendela.
'Ada siapa di ruangan itu?' tanya Alfa.
Lelaki tersebut menunjuk Raka.
Semua menoleh. Raka menutup mata.
'Kamu membesarkannya?' tanya Dilan.
'Aku cuma menjaga tubuh sampai siap.'
Lelaki di balik jaring mendengar kalimat tersebut. Wajahnya berubah marah. Pipa di punggung menegang, namun kali ini ia meraih pipa itu sendiri dan menahannya agar tidak menarik tubuhnya maju.
'Aku bukan tubuh,' katanya dengan suara sendiri.
Mesin bergetar keras. Foto pada kartu retak dari tengah.
Lalu dari lorong belakang lelaki itu terdengar langkah lain. Bayangan Galang muncul tanpa tubuh dan menempel pada punggungnya.
'Kalau dia bukan tubuhku,' suara Galang bergema, 'biarkan dia hidup tanpa jantung yang kuberikan.'
Pipa daging berhenti mengalir.
Denyut lelaki itu melemah dengan cepat. (*)