Nama Ningsih terdapat pada daftar penerima yang tidak lagi terlihat di kamera. Dilan memeriksa salinan dinding. Fotonya menunjukkan perempuan berumur sekitar lima puluh tahun, mengenakan seragam perawat yang sudah pudar.
'Dia merawat Ari sejak bayi,' kata Bu Maya. 'Raka dan Surya mengirim undangan karena ingin membungkamnya atau membawanya kembali.'
Raka menggeleng. 'Ningsih sudah mati.'
'Surat kematian bayi juga bilang Ari mati,' balas Dilan. 'Catatan dari yayasanmu nggak bisa dipercaya.'
Mira meminta polisi memeriksa alamat tanpa menelepon. Petugas mendatangi rumah tersebut dan menemukan pintu terbuka. Tidak ada Ningsih di dalam, tetapi makanan masih hangat serta obat tergeletak di meja. Ia pergi mendadak.
Kamera jalan tidak menangkapnya karena listrik di sekitar rumah padam tepat setelah gelombang kedua dikirim. Satu saksi melihat perempuan berseragam lama naik ke ambulans tanpa tanda rumah sakit.
Polisi memeriksa rumah tanpa memindahkan barang yang belum didokumentasikan. Di dapur ditemukan dua cangkir, tetapi hanya satu memiliki sidik jari Ningsih. Cangkir lain dibersihkan terburu-buru. Bekas lumpur di lantai cocok dengan sol sepatu keamanan yayasan, dan seutas serat abu-abu menempel pada gagang pintu.
Di bawah meja terdapat telepon dengan layar pecah. Pesan terakhir Ningsih belum sempat terkirim. Isinya bukan jawaban terhadap undangan, melainkan foto map bertanda proyek AP-3 dan kalimat bahwa ia akan menyerahkan bukti kepada polisi malam itu. Penculikan terjadi karena rencana tersebut, bukan karena Ningsih menerima panggilan Galang.
'Berarti hubungan gaib dipakai untuk menutup kejahatan biasa lagi,' kata Laras.
'Dan kejahatan biasa memberi Galang jalan baru,' sahut Dilan. 'Keduanya saling melindungi.'
Ari mengenali ambulans pada foto saksi. Kendaraan itu sering membawanya dari panti ke ruang bawah sekolah untuk pemeriksaan. Surya selalu duduk di depan, sementara Raka menjaga pintu belakang.
'Surya ada di luar malam ini,' kata Ari dengan suara lemah.
'Kamu melihatnya?' tanya Alfa.
'Dia membawa ku ke panel. Dia bilang setelah aku keluar, aku harus berjalan menuju mesin dan menerima kartu.'
Raka menatap Ari tajam agar berhenti bicara. Andrea menggeser tubuhnya supaya pandangan itu terhalang.
'Lanjut kalau kamu mau,' kata Dilan. 'Kalau belum siap, kita berhenti.'
Ari memilih melanjutkan. Surya menjanjikan kebebasan setelah Galang memperoleh tubuh. Ari akan diberi identitas, rumah, serta kesempatan melihat dunia luar. Ia tidak diberi tahu bahwa tubuhnya akan hilang.
'Aku pikir menjadi petugas cuma pekerjaan,' katanya. 'Aku nggak tahu Galang akan masuk.'
Dilan percaya bahwa persetujuan tanpa informasi bukan izin menyerahkan tubuh. Laras menambahkan pernyataan Ari pada catatan, tetapi tidak meminta tanda tangan saat kondisinya masih lemah.
Polisi menemukan nama Surya pada arsip yayasan: Surya Baskara, ketua pengawas yang mengambil alih setelah kepala sekolah lama meninggal. Ia memiliki akses ke rumah bersalin, panti asuhan, sekolah, serta bengkel tempat mobil Andrea dirawat.
Petugas mengirim bagan transaksi yang semakin memperjelas pola. Surya membayar klinik palsu melalui yayasan pendidikan. Klinik itu membeli obat, kantong darah, dan komponen mesin. Raka mengambil barang memakai tiga identitas, termasuk Alfani. Setiap beberapa tahun, sebuah laporan kematian palsu dibuat untuk menutup jejak pegawai yang mulai bertanya.
Ada pula pembayaran kepada perusahaan telekomunikasi lama. Nomor sekolah seharusnya sudah diputus dua puluh tahun sebelumnya, tetapi Surya mempertahankan satu jalur analog atas nama sistem kebakaran. Jalur itulah yang memungkinkan panggilan Galang merambat tanpa muncul sebagai nomor aktif.
'Dia bukan cuma tahu Galang ada,' kata Alex. 'Dia memelihara infrastrukturnya.'
Dilan menatap Raka. 'Berapa banyak orang yang hilang karena mereka melihat Ari?'
Raka menyebut tiga nama. Seorang petugas kebersihan, seorang apoteker, dan sopir ambulans. Ia mengaku tidak membunuh mereka, hanya menyerahkan kepada Surya. Bagi Dilan, kata hanya terdengar keji. Menyerahkan korban kepada orang yang akan menghapus mereka tetap sebuah pilihan.
Nama-nama tersebut segera dikirim kepada polisi. Dua cocok dengan laporan orang hilang yang tidak pernah terpecahkan. Bukti malam itu kini tidak hanya menyangkut teman-teman Dilan, melainkan rangkaian korban selama puluhan tahun.
'Dia pengendali Raka melalui radio,' kata Mira.
Alat komunikasi Raka mendadak berbunyi. Suara laki-laki meminta laporan. Mereka tidak menjawab. Bu Maya merekam pesan tersebut dan mengirim sampel ke polisi untuk dibandingkan dengan arsip wawancara Surya.
Kecocokan suara bukan satu-satunya bukti. Nota pembelian obat, surat kematian palsu, akses kendaraan, dan kamera panti juga mengarah kepadanya. Surya adalah pelaku manusia yang memiliki kewenangan nyata, bukan sekadar suara gedung.
Radio berbunyi lagi. Kali ini Surya menyebut nama Ningsih dan mengatakan perempuan itu akan mati bila Ari tidak menyentuh kartu.
Ari mencoba berdiri. Pipa daging di punggungnya bergerak seolah merasakan kepanikan.
'Dia menolongku,' katanya. 'Aku harus menyelamatkan dia.'
'Kita akan mencari Ningsih tanpa memberikan tubuhmu,' jawab Dilan.
'Kalau terlambat?'
'Surya sedang memakai kepedulianmu sebagai paksaan. Itu bukan berarti ancamannya kita abaikan.'
Mereka meminta polisi mencari ambulans yayasan dan menutup jalan di sekitar sekolah. Andrea menemukan pelacak kendaraan pada salinan kunci mobilnya. Raka memasangnya untuk mengikuti mobil, tetapi sinyal terakhir justru berasal dari ambulans di halaman gedung olahraga lama.
Gedung itu berada dalam kompleks sekolah, terpisah dari bangunan utama. Kamera menunjukkan ambulans terparkir dengan pintu belakang tertutup. Tidak ada gerakan.
Polisi tidak langsung mendobrak. Mereka menerbangkan kamera kecil melalui jendela ventilasi yang sudah pecah. Di dalam, lampu lapangan menyala bergantian membentuk arah menuju ambulans. Setiap kali petugas mendekat, pengeras suara gedung memanggil nama mereka dengan suara orang terdekat.
Dilan menulis peringatan agar semua petugas melepas perangkat audio, memakai kode tangan, dan tidak membaca tulisan yang muncul di lantai. Sebuah robot penjinak bom dikirim lebih dulu. Rodanya sempat berhenti ketika kabel menyerupai jari melilit poros, tetapi petugas berhasil memotong kabel itu dari jarak jauh.
Kamera robot mencapai ambulans dan menunjukkan tabung cairan, borgol kain, serta satu kursi kosong di samping Ningsih. Kursi itu seukuran tubuh Ari. Surya rupanya merencanakan mereka ditempatkan berdampingan setelah penyerahan, agar aliran bisa dipertahankan ketika Galang mengambil tubuh baru.
Laras menjelaskan gedung olahraga memiliki pipa komunikasi sendiri. Bila Ningsih menjawab suara dari sana, hubungan kedua dapat masuk melalui jalur baru.
Aini melihat satu benang pada foto Ningsih. Benang tersebut tidak menuju mesin atau Galang, melainkan ke pipa yang tersambung pada Ari.
'Mereka terhubung sebelum malam ini,' katanya.
Ari mengingat perawat itu pernah memberikan darah saat dirinya hampir mati karena obat. Surya mungkin memakai hubungan biologis tersebut sebagai cadangan aliran.
Mira memeriksa pipa daging. Cairan di dalamnya tidak hanya memiliki warna darah, tetapi denyut yang berbeda dari Ari. Mungkin sebagian berasal dari Ningsih selama bertahun-tahun.
'Kita nggak boleh mencabutnya sebelum tahu kondisi Ningsih,' kata Mira.
Radio Raka menyala sendiri. Surya tertawa pelan.
'Akhirnya kalian mengerti. Satu tubuh hidup karena tubuh lain terus membayar.'
Pada layar, pintu ambulans terbuka. Ningsih terbaring di dalam dengan pipa merah keluar dari lengannya.
Pipa itu menembus tanah dan berakhir di punggung Ari. (*)