Dilan merasa mual melihat pipa yang menghubungkan Ningsih dan Ari. Selama puluhan tahun, Ari dibuat percaya hidupnya bergantung pada Galang, padahal kemungkinan aliran tubuh perempuan itu yang menjaganya bertahan.
'Apa pipa ini bisa dihentikan tanpa membunuh keduanya?' tanya Dilan.
Mira tidak berani menebak. Mereka membutuhkan tenaga medis di kedua lokasi dan cara membuka akses tanpa membawa orang lain ke dalam hubungan.
Polisi sudah mengelilingi gedung olahraga, tetapi pintunya tidak dapat dibuka. Setiap petugas yang menyentuh gagang mendengar suara anggota keluarga memanggil dari dalam. Dilan mengirim peringatan agar mereka menggunakan alat mekanis dan tidak menjawab.
Bu Maya menyarankan membuat sambungan gambar antara dokter di luar dan kondisi Ari. Mereka tidak menggunakan suara. Data denyut ditampilkan pada layar, sementara petugas medis mengirim instruksi tertulis.
Sebelum tindakan dimulai, semua jam disamakan. Dokter menulis angka tiga sebagai aba-aba, petugas di gedung olahraga mengangkat papan dengan angka sama, dan Mira membalas melalui kamera. Tidak ada seorang pun mengucapkan nama atau menerima perintah dari pengeras suara.
Petugas memecahkan kaca samping ambulans menggunakan lengan robot. Melalui lubang itu, mereka memasukkan selang oksigen dan kamera yang lebih jelas. Ningsih terikat, tetapi matanya bergerak mengikuti cahaya. Ketika sebuah papan bertuliskan kedip dua kali bila sadar ditunjukkan, ia berkedip dua kali.
Ari melihatnya dari layar dan hampir bangkit. Alfa mengingatkan bahwa Ningsih sedang ditolong. Berlari menuju gedung hanya akan memberi Surya dua korban di satu tempat.
'Aku selalu menunggu dia kembali,' kata Ari. 'Setelah kertas itu ditemukan Raka, Ningsih hilang. Mereka bilang dia meninggalkanku karena takut.'
'Dia menyimpan bukti selama ini,' ujar Bu Maya. 'Orang yang meninggalkanmu tidak akan mempertaruhkan hidup untuk membongkar mereka.'
Ari menahan tangis. Ia meminta kamera memperlihatkan wajahnya kepada Ningsih. Dokter mengizinkan selama tidak ada suara. Saat gambar Ari muncul pada monitor kecil di ambulans, Ningsih menangis dan menggerakkan bibir membentuk nama yang dulu diberikannya.
Ningsih masih hidup, tetapi tekanan darahnya turun setiap kali pipa Ari mengalir. Memutus mendadak berbahaya bagi keduanya. Dokter meminta aliran dikurangi perlahan sambil memasang cairan pengganti pada dua sisi.
'Ari harus memilih,' kata Laras. 'Pipa melekat karena dia diajarkan menerimanya sebagai sumber hidup.'
Dilan menjelaskan rencana tanpa menyembunyikan risiko. Ari dapat menolak aliran sedikit demi sedikit, tetapi mungkin mengalami sakit, pingsan, atau kegagalan organ. Ia juga boleh menunggu sampai bantuan lain ditemukan.
Ari memandang Ningsih di layar. 'Kalau aku menunggu, dia terus kehilangan darah.'
'Itu benar. Tapi keputusan tetap milikmu, bukan utang kepada siapa pun.'
Ari meminta kertas. Ia menulis bahwa tubuh Ningsih bukan miliknya dan dirinya tidak menerima hidup yang diambil tanpa persetujuan. Setelah menandatangani memakai panggilan Ari, ia melipat kertas sendiri.
Pipa di punggungnya mengendur.
Petugas medis di ambulans memasang cairan kepada Ningsih melalui celah yang dibuka tanpa memasuki gedung. Pada sisi sekolah, Mira mengikuti instruksi serupa kepada Ari. Aliran pipa dikurangi seperempat.
Lima menit pertama menjadi ujian terpanjang. Denyut Ari naik tajam, sedangkan tekanan darah Ningsih belum berubah. Dokter meminta mereka bertahan, tidak mempercepat karena ketakutan. Mira menghitung dengan jari agar suara Galang tidak dapat menyisipkan perintah.
Pada menit keenam, Ari muntah dan tubuhnya menegang. Dilan hampir meminta aliran dikembalikan, tetapi indikator oksigen tetap aman. Ari sendiri mengangkat tangan untuk meneruskan. Keputusan itu dicatat kamera dari dua sudut, supaya tidak ada yang kelak dapat mengatakan ia dipaksa memilih.
Mereka mengurangi aliran menjadi setengah. Pipa mulai menirukan suara Ningsih.
'Ari, berhenti. Ibu sakit,' suara palsu itu memohon.
Ningsih yang asli segera menulis pada papan, JANGAN PERCAYA SUARAKU. AKU TIDAK BICARA.
Kalimat tersebut menjadi pegangan semua orang. Galang dapat meniru kasih sayang, tetapi ia selalu mengubahnya menjadi perintah. Ningsih memberikan peringatan dan tetap menyerahkan keputusan kepada Ari.
'Aku lanjut,' kata Ari.
Mira menunggu anggukan dokter sebelum mengurangi aliran lagi. Warna merah dalam pipa memudar. Luka pada lengan Ningsih berhenti menarik kulitnya, dan untuk pertama kali garis tekanan darahnya naik tanpa membuat denyut Ari turun.
Dokter menunjukkan dua grafik itu kepada Ari. Tubuh mereka bukan timbangan yang mengharuskan satu orang melemah agar orang lain bertahan. Keduanya dapat hidup pada saat bersamaan. Ari menyentuh dadanya, merasakan denyut yang sejak tadi selalu diklaim milik Galang, lalu tersenyum tipis ketika iramanya tetap ada.
'Itu jantungmu,' kata Mira. 'Tidak ada yang sedang meminjamkannya.'
Ari memejamkan mata dan mengulang kalimat tersebut untuk dirinya sendiri.
Ari menggigil hebat. Alfa tetap di dekatnya tanpa menyentuh sampai diminta. Ketika Ari mengulurkan tangan, Alfa menggenggamnya.
'Kamu nggak harus kuat sendirian,' kata Alfa.
'Aku nggak mau jadi tubuh orang lain.'
'Kamu bukan tubuh. Kamu orang.'
Aliran dikurangi lagi. Bayangan Galang menempel semakin kuat pada punggung Ari dan berusaha berbicara melalui mulutnya. Dilan meminta Ari menjawab dengan gerakan bila suaranya tidak dapat dipercaya.
'Apakah kamu memberikan izin Galang memakai tubuhmu?'
Ari menurunkan tangan kiri, tanda tidak.
Bayangan retak. Pipa daging kehilangan warna dan berubah kembali menjadi logam pada bagian dekat dinding. Ningsih membuka mata di ambulans. Ia melihat kamera medis dan menulis satu kata pada kaca berembun.
ARI.
Nama pilihan itu berasal dari ingatan asli mereka, bukan arsip sekolah. Pipa mengendur lebih jauh.
Raka tiba-tiba menendang Alex dan berusaha berdiri. Benang pada wajahnya menarik ikatan plastik sampai putus. Ia meraih belati yang tergeletak jauh, tetapi Andrea lebih cepat menendangnya kembali.
'Kenapa mau bunuh dia?' bentak Andrea.
'Kalau tubuh menolak, Galang mengambil petugas lama!' Raka berteriak. 'Aku nggak mau kembali ke mesin!'
Raka mencoba menyeret Ari ke arah kartu. Arga menahan kakinya, sedangkan Bu Maya menggeser kotak kartu menjauh memakai tongkat. Tidak ada yang memukul luka atau memotong benang.
Dilan berjongkok pada jarak aman dari Raka. 'Kamu masih punya pilihan untuk menolak Galang juga.'
'Aku sudah terlalu lama jadi petugas.'
'Lama bukan berarti selamanya.'
Raka tertawa putus asa. 'Kalau aku menolak, nama ku hilang.'
'Nama yang mana? Raka, Galang, atau Alfani? Kamu terus memakai nama orang lain karena takut memilih dirimu sendiri.'
Perkataan itu membuat Raka terdiam. Benang dari wajahnya berhenti bergerak sesaat.
Di layar, aliran Ningsih stabil setelah pipa dikurangi sampai tinggal seperempat. Ari masih hidup dengan denyutnya sendiri. Bukti medis mematahkan kebohongan bahwa Galang memberinya jantung.
Ari mengangkat tangan kiri sekali lagi. 'Tubuhku bukan pintu.'
Pipa terlepas dari punggungnya tanpa dicabut. Luka tersisa, tetapi tidak mengeluarkan darah. Ningsih juga bebas dari pipa di ambulans.
Bayangan Galang jatuh ke lantai dan merayap menuju Raka.
Raka menjerit, 'Namaku Rak—'
Bayangan menutup mulutnya sebelum ia selesai mengakui nama pilihan.
Mesin menyala. Pada kartu petugas muncul dua foto bertumpuk: Raka dan Surya.
Galang tidak memilih Ari lagi.
Ia berpindah menuju orang yang selama ini memberinya perintah. (*)