Ada suara meraung sangat keras namun tak terdengar , Apakah kamu pernah merasakan itu? Dalam hitungan waktu cukup lama sebenarnya banyak kisah dibalik sebuah cerita . Sunyi kali ini bukan perihal ketenangan, namun tercipta dari kesepian dan luka batin tak tersampaikan. Jiwa yang memiliki isi kepala begitu berisik sampai membuatnya tidak sadar telah melupakan bahwa ia seorang manusia. Berbagai macam problematik tentang impian masa depan , drama keluarga , peliknya hubungan percintaan hingga keresahan pikiran untuk sesuatu yang belum terjadi saat tengah malam. Ramai sekali isi kepala layaknya demonstrasi menuntut keadilan kemudian relung sukma tersiksa begitu hebatnya sebab realita memaksa dan tekanan seperti tidak merestui untuk istirahat sejenak .
Hari demi hari memasang raut wajah seakan baik-baik saja , bahkan tidak hanya menujukkannya pada orang lain tetapi juga terhadap dirinya sendiri . Validasi perasaan seperti hal tabu , terbiasa akan kebohongan sebab merasa malu serta takut muncul cacian yang menganggapnya tidak pernah bersyukur dengan nikmat dari Tuhan . Patah siku digemari sebagai rutinitas dan air mata terkurung gengsi karena lebih memprioritaskan stigma masyarakat yang menilai bahwa menangis itu lemah , padahal kebahagiaan akan jauh lebih istimewa ketika langsung terjun dalam prosesnya walaupun harus terseok-seok , berdarah , hancur namun itu yang menjadikannya bermakna dan tidak hambar rasanya. Manipulasi gelak tawa dan senyuman adalah kemampuan sangat hebat untuk setiap insan yang bernafas ini , melelahkan bukan ? Terkesan dilarang untuk mengekspersikan rasa padahal tidak ada peraturan.
Tuhan dan hanya coretan-coretan kecil yang menemani untuk berkeluh kesah sebab tak pandai terus terang pada orang sekitarnya , apakah ini sebuah usaha agar tetap waras ? Tentu saja, karena ia mungkin telah merasa cukup melalui masa lengan yang tak pernah bersih , nafas yang mudah sesak , rambut tidak kunjung panjang , pola tidur hancur , fisik sengaja untuk beraktivitas secara berlebihan , konsumsi kopi sampai gemetar bahkan pikirannya sudah mencari bagaimana cara mengakhiri hidup. Kalau sembuh total sekedar angan maka menerima keadaan masih bisa untuk digapaikan ? mungkin sulit untuk melakukannya tetapi jika tidak pernah dimulai mau menunggu sampai kapan lagi harus tinggal dilingkaran nestapa ? Teriakan yang sangat membutuhkan telinga kini ingin mengungkapkan semuanya , jadi bagaimana ? Jika kamu tak bersedia mendengar, bisakah berbagi waktu dan izinkan indera penglihatanmu membaca setiap rangkaian kata manusia penuh lebam ini ? Sebentar saja boleh? Terima kasih.