TAP!
Seseorang menangkap tubuh Sakura dengan sempurna dan tepat waktu dari belakang. Membuat tubuh Sakura terselamatkan dari hal yang paling memalukan. Mengingat ada beberapa media yang datang ke sana untuk meliput pernikahan Sakura dengan Dinan.
“Kamu baik-baik saja, kan?”
Sakura membuka matanya yang tadi terpejam dalam ketakutan. Senyuman Sakura mengembang saat dia melihat bahwa malaikat penyelamatnya adalah Dinan.
“Sakura! Maaf! Apa kamu baik-baik saja?” seru Robert. Pria itu berlari tergopoh-gopoh menghampiri Sakura.
Pandangan Dinan memicing tajam ke arah Robert. Dia tahu persis seperti apa sosok Robert yang terkenal dengan sifat muka duanya.
“Sakura sakit,” balas Dinan mendahului Sakura.
Tanpa banyak kata, tangan Dinan bergerak menguatkan pegangannya pada tubuh Sakura. Di detik kelima, dia sudah menggendong tubuh ringan Sakura dalam gendongan bridal yang menakjubkan dan terkesan romantis.
Sakura tentu saja melongo kaget. Dia sungguh tak percaya dengan apa yang dia alami saat ini.
Belum sempat selesai rasa kaget Sakura, kini Dinan malah mendaratkan sebuah kecupan manis di keningnya. Saat mata Sakura bergerak mendongak dan bertautan dengan bola mata teduh Dinan, pria itu menyunggingkan sebuah senyuman yang tak kalah manis di wajahnya.
Dada Sakura terasa sesak sekarang. Dia benar-benar merasa seperti terkena serangan jantung dadakan!
“Sekarang kita istirahat saja ya,” ucap Dinan.
Pria dengan tinggi badan menjulang dan tubuh tegap atletis itu membawa Sakura meninggalkan ruang pesta. Tentu saja Sakura tak bisa berkutik. Sakura pun cukup tahu diri untuk tidak banyak tingkah sekarang. Sakura membiarkan suaminya itu membawanya menuju kamar pengantin mereka.
CKLEK!
Suara pintu kamar terkunci terdengar. Tanda bahwa Dinan sudah mengunci rapat kamar tersebut dari dalam.
Dinan membaringkan Sakura di atas sebuah kasur yang sudah dihiasi dengan taburan bunga mawar merah. Ada sepasang angsa cantik yang terbuat dari handuk putih nan wangi. Sudah jelas bahwa kamar tersebut memang sudah didekorasi sedemikian rupa agar mereka bisa menikmati hangatnya malam pengantin yang biasanya sangat diidam-idamkan oleh para pasangan yang baru saja diresmikan status mereka sebagai pasangan suami istri.
Suara decakan Dinan terdengar. Dia meraih kaki Sakura.
“Eh! Mau ngapain?!” jerit Sakura salah paham.
“Seharusnya kamu tidak pakai sepatu hak tinggi,” ucap Dinan. Tangannya bergerak membuka high heels yang digunakan oleh Sakura.
Tampak pergelangan kaki Sakura bengkak sebelah. Sakura mendesis kesakitan saat tangan Dinan tak sengaja menyentuhnya.
“Sakit sekali?” Dinan menatap kasihan ke arah Sakura.
Mau tak mau, Sakura mengangguk. Dia tak pernah berpikir bakal tergelincir dan bengkak di pergelangan kaki. Dia kira dia bisa melalui pesta pernikahan ini dengan santai dan tanpa halangan apapun. Ya, hanya pesta. Apa susahnya?
Sakura menunduk lesu. Melakukan hal sederhana saja dia tak bisa. Bagaimana nantinya saat dia harus melakukan hal yang lebih besar saat Dinan membutuhkannya.
“Maaf. Aku bukan patner yang baik untukmu,” ucap Sakura nelangsa. Dia menyadari kesalahannya.
Dinan hanya melirik sekilas. Pria itu melangkah menuju kamar mandi. Tak berapa lama, dia keluar membawa kotak P3K.
Tangan Dinan bergerak lincah mengusapi salep ke pergelangan kaki Sakura yang bengkak. Tak lupa, dia membalutnya dengan perban khusus luka terkilir.
“Sekarang kamu istirahat saja,” ucap Dinan.
“Kamu gimana?” tanya Sakura takut-takut. Dia masih belum berani menatap Dinan dengan pandangan tegak berani.
“Aku harus keluar dan masih menyapa beberapa tamu,” terang Dinan. “Orang tuaku memiliki banyak kolega.”
Sakura mengangguk. Dia membiarkan Dinan melangkah keluar kamar.
Namun, dia merasa tak nyaman tidur dengan gaun pengantin seperti ini. Bagaimanapun, dia butuh berganti pakaian sekarang.
“Dinan!” panggil Sakura.
Dinan yang berniat membuka kunci kamar langsung menoleh ke belakang. Keningnya berkerut heran menatap ke arah Sakura.
“Ada apa?”
“Um, aku nggak bisa tidur pakai gaun ini,” terang Sakura. “Apa kamu bisa membantuku ganti pakaian?”
“Maksudmu aku harus membantumu membuka pakaianmu?”
Sakura tersadar bahwa dia salah kata. Wajahnya langsung memerah tomat seketika itu juga. “Bu-bukan begitu! Maksudku itu, hm, aku butuh baju tidur. Hanya itu,” terang Sakura lebih detail dan masuk akal.
“Membuka pakaiannya gimana?”
“Aku bisa lakuin sendiri!” sahut Sakura secepat kilat. Dia benar-benar malu karena salah ucap seperti ini. Rasanya ingin membuang mukanya jauh-jauh dari hadapan Dinan sekarang.
Dinan melangkah ke arah lemari di kamar itu. “Harusnya ada set baju tidur di sini,” gumam Dinan. Dia membuka daun pintu lemari itu.
Tangan Dinan meraih dress tidur yang ada di dalam sana. Dia memberikannya pada Sakura. “Ini. Sekarang kamu bisa memakainya,” terang Dinan.
“Makasih ya,” Sakura menerimanya. Jantungnya entah mengapa jadi berdebar-debar lagi sekarang. Apalagi, Dinan belum menunjukkan tanda-tanda akan pergi keluar dari kamar saat ini.
Sakura melirik ke arah Dinan. “Kamu nggak keluar?” tanya Sakura.
“Kamu mengusirku?”
“Oh, bukan. Hm, kan tadi kamu bilang kalau mau nemuin beberapa tamu,” jelas Sakura sedikit gugup. Sejujurnya dia memang ingin mengusir Dinan. Jika Dinan tidak keluar dari kamar ini mana mungkin dia bisa berganti pakaian.
“Aku masih ingin di sini,” Dinan duduk tepat di hadapan Sakura.
Sakura bisa merasakan jantungnya akan meledak sebentar lagi. Dinan tak hanya terlalu dekat dengannya saat ini. Pria itu menatapnya terlalu lekat dengan pandangan teduhnya yang mampu menghanyutkan hati Sakura.
Sakura menelan ludahnya. Dia menggelengkan kepala agar kembali tersadar. “Aku mau ganti pakaian tapi,” balas Sakura. Seharusnya Dinan paham maksud ucapannya sekarang.
“Akan kubantu,” ujar Dinan. Tangan pria itu bergerak meraih resleting belakang gaun Sakura. “Kamu pasti tidak akan bisa berganti pakaian.”
Suara resleting gaun Sakura terdengar. Seiring dengan hal itu, bagian atas gaun Sakura pun menurun ke bawah.
“Su-sudah! Aku bisa ganti sendiri! Kumohon!” pinta Sakura memelas. Dia belum pernah berganti pakaian di depan seorang pria. Rasanya malu setengah mati jika ada seorang pria melihat tubuhnya. Apalagi, dia tak mengenakan bra saat ini.
“Aku bisa membantumu tapi,” ucap Dinan tak mau mundur. “Lagipula, kita sudah menjadi suami istri. Bukankah wajah jika aku membuka gaun pengantinmu saat ini?”
Sakura tersentak. Pandangannya bingung menatap ke arah Dinan. “Gimana maksudnya?” tanya Sakura terbata dan tentu saja dengan polosnya.
Dinan menyungging sebuah senyuman menggoda. Wajahnya mendekati telinga kiri Sakura. “I can undress you and make you mine right now,” bisik Dinan dengan suara berat dan serak basahnya.
Jantung Sakura kembali berdesir. Dia bisa mencium aroma parfum Dinan yang berbau kayu manis bercampur cengkeh itu.
“Aku—“
Belum sempat Sakura meyelesaikan kalimatnya, Dinan justru sudah mendorongnya berbaring kembali di atas kasur. Membuatnya tertindih dan tak bisa bergerak sama sekali.