“AAA!” pekik Sakura.
Matanya terbuka lebar. Napasnya langsung naik turun secara drastis. Dia langsung terbangun dan menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapapun.
Pandangan Sakura langsung berlabuh pada tubuhnya yang hanya tertutupi oleh selimut. Dia kembali berteriak saat melihat tubuhnya sudah berganti pakaian dengan gaun tidur tipis berwarna putih dan terbuat dari bahan silk.
“Kenapa kamu teriak-teriak pagi hari seperti ini?”
Pandangan Sakura teralihkan ke arah asal muasal suara itu. Tampak Dinan baru saja selesai mandi. Pria itu menggunakan bathrobe sebagai penutup tubuhnya yang atletis dan sedikit berbulu di bagian dadanya itu. Tangannya bergerak mengeringkan rambutnya yang basah dan menguarkan aroma maskulin.
“A-apa yang kamu lakukan padaku semalam?” Sakura meremas selimut yang menempel di dadanya. Dia menatap kecewa ke arah Dinan.
“Memangnya kamu tidak ingat?” timpal Dinan. Pria itu duduk di kursi rias. Dia menghadap ke arah Sakura.
Sakura terdiam. Dia merenung dan mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
Ya, semalam bibir Dinan melumatnya dengan kuat. Begitu panas dan sensual. Membuat sekujur tubuh Sakura panas dingin.
Kepala Sakura semakin pening. Setelah itu, dia tak ingat apa-apa lagi. Pandangannya kabur dan menghitam legam.
“Aku pingsan,” desis Sakura syok.
“Baguslah kalau sudah sadar,” balas Dinan. Dia membalikkan tubuhnya ke arah kaca meja rias. Di sana dia mengambil sisir dan menyurai rambutnya agar lebih rapi.
“Tapi kenapa aku pakai baju ini?” tanya Sakura marah. Dia menatap cemberut ke arah Dinan.
“Lebih baik pakai baju kan daripada tidak sama sekali,” ucap Dinan.
UGH! Sakura benar-benar tertohok hatinya mendengar jawaban dari Dinan. Benar-benar seorang pria yang b******k dan menyebalkan!
“Lagipula kita ini pasangan suami istri. Kamu masih ingat kan isi perjanjian kita? Kita bisa melakukan kontak fisik hingga bercinta,” terang Dinan mengingatkan.
“Tapi kan atas persetujuan kedua belah pihak,” timpal Sakura dengan gaya jual mahal.
Dinan tersenyum mengejek. “Jika nanti publik menginginkan kita memiliki anak secepat mungkin, aku tetap akan menidurimu tiap malam hingga kamu hamil. Ini bagian penting dari kesepakatan kita,” ucap Dinan. “Kamu tidak bisa menolak atau aku akan menuntutmu dengan denda ratusan juta franc.”
UGH! Ini kedua kalinya Sakura tertohok. Suaminya benar-benar kejam. Rasanya ingin membatalkan perjanjian pernikahan kontrak ini.
“Jika kamu tidak suka, ingatlah kalau kamu harus bertemu orang tuamu,” imbuh Dinan. “Atau, kamu memang lebih suka terkena denda dan masuk penjara. Lalu, berakhir jadi gelandangan atau di pasar gelap. Well, kamu cantik. Setidaknya masih bisa dijual di tempat prostitusi.”
“SUDAH! CUKUP!” pekik Sakura. Kepalanya benar-benar sakit gara-gara semua berondongan kalimat menohok dan arogan dari Dinan.
Dinan mengenakan jam tangannya. Iris mata biru danaunya menatap layar kaca jam tangannya yang bermerek mahal itu.
“Bersiaplah. Setelah ini kita harus sarapan dan ikut acara ramah tamah,” tutur Dinan.
“Kakiku masih sakit,” ucap Sakura. “Apa aku boleh bersantai seharian di rumah? Acara pesta pernikahan ini terlalu lama. Lebih dari satu hari.”
“Aturan umumnya seharusnya tetap akan ada pesta selama tujuh hari,” balas Dinan.
“Astaga, susah sekali,” cicit Sakura. Dia tak tahu-menahu perihal pesta pernikahan yang harus dirayakan selama tujuh hari tujuh malam.
Dinan menyunggingkan sebuah senyuman simpul di wajahnya. “Kamu ingin melewati semua acara pesta yang masih enam hari ini?” tanya Dinan kemudian.
Sakura terkaget. Dia menatap penasaran ke arah Dinan. “Memang bisa?” tanya Sakura dengan polosnya.
“Well, tentu bisa.”
“Aku harus gimana?”
“Ikut aku sarapan dan jangan lupa pakai pakaian yang sudah kusiapkan di atas meja itu. Oh, satu lagi. Pakai flat shoes atau sandal. No high heels. Any kind of them is forbidden!” tegas Dinan mulai mengatur kehidupan Sakura.
Tentu saja Sakura hanya bisa mengangguk patuh. Dia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan turun dari atas ranjang.
Tangannya meraih gaun berwarna baby orange itu. Langkahnya terseok-seok masuk ke dalam kamar mandi.
Cukup lama Sakura mandi. Pikirannya mulai bercampur aduk bingung karena acara pesta dan sikap Dinan yang terus-menerus semakin membahayakan.
Jemari tangan Sakura mengusap permukaan bibirnya. Rasa ciuman Dinan semalam kembali mampir di hati dan pikirannya. Betapa agresif dan panasnya. Bahkan, dia bisa merasakan gerak lidah Dinan di dalam mulutnya yang menaut erat lidahnya semalam hingga saliva mereka saling menyatu dengan sempurna. Betapa hebatnya sebuah french kiss yang dilakukan langsung oleh orang Perancis.
“Argh! Kenapa aku kepikiran itu lagi!” Sakura merasa malu sendiri. Sekujur tubuhnya mulai dirambati hawa panas aneh meski tubuhnya diguyur oleh air dingin di bawah shower sekarang.
Sakura buru-buru menyelesaikan mandinya. Dia berganti pakaian yang diberikan oleh Dinan dan berdandan secantik mungkin seperti yang diinginkan oleh suaminya.
“Sini,” panggil Dinan.
“Ada apa lagi?”
“Sini. Duduk di sampingku,” Dinan menepuk-nepuk sisi kasur yang kosong di sisinya.
Sakura duduk ragu di sisi Dinan. Dia berteriak kaget saat Dinan meraih kaki Sakura.
“Mau apa?!” teriak Sakura memukuli Dinan. Tentu dengan sangat keras dan bar-bar.
“Argh! Aduh! Hentikan!” Dinan mencoba meraih tangan Sakura dan menghentikannya. Pukulan Sakura benar-benar acak dan kuat. Membuat lengannya terasa pedih.
“Kamu ngapain pegang-pegang kakiku?!” jerit Sakura kesal.
“Aku mau mengganti perban di kakimu,” balas Dinan agak berseru. “Lukamu baru bisa sembuh besok atau lusa.”
“Eh?” Sakura mulai tenang. Dia sudah suudzon pada suaminya. “Gi-gitu ya?”
“Iya. Dasar!” decak Dinan kesal. Pria itu mendengus berat. “Naikkan kakimu!”
“I-iya,” sahut Sakura kikuk. Dia menaikkan kakinya dan membiarkan Dinan mengganti perban di kakinya.
“Nanti kamu pura-pura pincang yang parah saja,” suruh Dinan.
“Aku memang sudah pincang, kan?”
“Iya. Tapi, akting yang lebih,” ucap Dinan.
“Untungnya apa? Bukannya nanti malah orang tuamu akan menatapku tajam?” Sakura cemberut sedih. Dia tahu benar seperti apa orang tua Dinan.
Dinan menyunggingkan senyuman lebarnya. “Santai saja. Ikutin ucapanku dan semuanya akan baik-baik saja,” terang Dinan.
Sakura tidak paham medan. Tentu saja dia akhirnya hanya bisa mengangguk setuju.
Setelah perban Sakura diganti, Dinan mengajak Sakura ke ruang makan. Di sana tentu saja sudah ada orang tua Dinan dan beberapa kerabat dekat yang datang.
“Wah, ini ya menantumu, Adam,” puji seorang perempuan dengan lesung pipi manisnya. Perempuan berambut merah bata itu tersenyum lembut pada Sakura. “Berasal dari Asia ya?”
“Iya, kami baru-baru saja kenal dan cocok,” jawab Dinan mendahului Sakura. “Namanya Sakura.”
“Keluarga Sakura ikut ke sini juga?” tanya perempuan itu. Pandangannya tampak sangat penasaran kepada Sakura. Seolah-olah ingin tahu alasan Dinan menjadi Sakura sebagai istri.
“Sakura tinggal sendirian di sini. Dia sudah lama menetap di Paris. Benar kan, Sayangku?” Dinan mencium pipi Sakura di depan semua orang.
Tentu saja Sakura terkejut barang sesaat. Dia tak pernah menyangka Dinan akan berani mencium pipinya di depan orang-orang. Rasanya masih aneh saat dirinya menerima banyak ciuman dari Sakura.
“Wah, berarti sebatang kara ya. Kasihan,” timpal yang lainnya.
Tentu mereka tak benar-benar kasihan. Pandangannya lebih menyiratkan sebuah ejekan karena yakin bahwa Sakura pasti miskin.
“But, love is pure, right? Soal kesendirian dan status sosial bisa selalu disingkirkan atas nama cinta,” sahut Dinan dengan senyuman menawannya. “In the name of love.”
“Pretty sure! In the name of love,” sahut Amy. Tentu saja dia akan membela anaknya.
“Well, well, cinta memang buta. Semoga kalian bahagia,” balas yang lainnya disertai derai tawa.
“Hei, anakku pasti bahagia,” ucap Adam. “Lihatlah menantuku ini. Dia sangat cantik. Pasti Dinan sangat bahagia memiliki istri secantik Sakura.”
“Dan, lebih bahagia lagi jika kita bisa menikmati sarapan ini sesegera mungkin,” pungkas Dinan mengakhiri topik pembicaraan.
Akhirnya semuanya pun diam dalam sebuah kesetujuan. Mereka mulai menikmati makanan yang tersaji di atas meja yang memanjang itu.
Usai makan, Amy mengajak Sakura dan Dinan mengobrol secara terpisah. Mereka duduk santai di balkon dekat ruang makan.
“Ma, aku berencana mengajak Sakura langsung pergi ke tempat bulan madu kami,” tutur Dinan.
“Sekarang? Ini terlalu cepat Dinan. Pestanya masih enam hari lagi,” balas Amy tak setuju.
“Kaki Sakura sakit. Aku ingin dia beristirahat. Lagipula, apa Mama tidak ingin aku memberikan Mama cucu lebih cepat?” timpal Dinan.
“Cu-Cucu?!” Amy terkaget mendengar ucapan Dinan. Dia tak menyangka putranya akan sevisioner ini.
“Benar. Bilang saja kalau kami sedang dimabuk asmara dan ingin cepat memiliki anak. Makanya kami buru-buru pergi honeymoon ke Annecy. Ini bisa semakin mendukung program kampanye Nikah Muda yang jadi aspek penting dalam Pemilu kali ini, kan? Papa pasti akan dapat nama baik jika jadi headline news di surat kabar,” jelas Dinan dengan sangat meyakinkan.
Amy menatap ke arah Sakura. Tampak Sakura bingung sekaligus canggung. Semuanya terukir jelas di wajah cantik Sakura.
“Sakura,” panggil Amy tegas.
Sakura menoleh ke Amy. Dia menatap takut ibu mertuanya itu. “I-iya,” jawab Sakura. Dia takut kena marah Amy.
Namun, Amy malah menyunggingkan senyuman lembutnya. Dia meraih jemari tangan Sakura dan menggenggamnya dengan lembut. “Ikuti ucapan Dinan ya? Buatkan aku dan suamiku seorang cucu yang menawan,” tutur Amy dengan nada memerintah. Membuat Sakura benar-benar mematung resah.