Bomin mengernyit saat merasakan cahaya matahari masuk dan mengganggu mimpi indahnya. Ia membuka matanya dan melihat Yeorum yang menyibakkan gorden kamarnya.
Hah, mungkin ini hanya mimpi. Ia mencoba tidur lagi. Tunggu! Chaerim di kamarnya?
"Wuaaa!" Bomin bangun dan terduduk dengan kaget. Ia menunjuk Chaerim tepat di wajah sepupunya itu.
"Kau! Kenapa kau bisa masuk? Aku sudah mengunci pintuku!" marah Bomin.
"Kau tentu tahu keahlianku bukan? Membuka pintu kamarmu tanpa merusakkannya, itu keahlian khususku." ucap Chaerim bangga.
"Kalau begitu mengapa tak sekalian kau jadi pencuri saja? Aisshh, oh ayolah kau sudah menjajah seluruh ruangan di apartemen ini. Setidaknya biarkan kamarku menjadi wilayah privasiku!" omel Bomin.
Chaerim mengambil sesuatu dari meja. Lalu menggoyang-goyangkannya sambil terkekeh. Oh tidak! Flashdisk itu!
"Ada apa? Kau takut ini akan terbongkar? Park Bomin sepupu kecilku sudah dewasa rupanya." ejek Chaerim.
Bomin segera bangun dan merebut flashdisk itu. Membuat tawa Chaerim meledak.
"I-ini pemberian dari seseorang." lirih Bomin.
"Siapa?" ejek Chaerim.
Bomin mendengus.
'Aku ingin tahu reaksimu kalau kau tahu Byungjin yang memberikannya padaku.' batin Bomin.
Chaerim berhenti tertawa. Ia memandangi pemandangan kota Seoul saat pagi hari dari kaca jendela Bomin. Wajahnya berubah serius.
"Tadi malam, aku melihatmu memapah Byungjin."
Bomin menoleh dengan cepat. Chaerim melihatnya?
"Aku merasa aku sedikit cemburu. Park Bomin, kau tak berusaha merebut milik sepupumu ini bukan?" tanya Chaerim memastikan.
"Dari awal aku tak tahu kalau Oh Byungjin adalah pria yang kabur bersamamu sepuluh tahun yang lalu. Dan bila itu yang memang terjadi, aku tak bisa mengubahnya. Bagiku itu hanyalah masa lalu kelam Oh Byungjin dan aku tak keberatan dengan hal itu. Yang terpenting aku mencintainya." ucap Bomin serius.
Chaerim mendecih, mendekatkan dirinya dengan Bomin. Menatapnya penuh intimidasi.
"Apa kau sedang mengibarkan bendera perangmu untukku? Kau pikir kau bisa mengalahkanku? Kau tahu bukan, aku lebih unggul darimu dalam segala hal." cibir Chaerim.
"Mungkin kau benar," Bomin tersenyum miring, "Tapi ada satu hal yang kumiliki dan tak kau miliki."
"Apa?"
"Pengakuan dari Byunggyu." Bomin menjulurkan lidahnya mengejek Chaerim.
Ia mengambil handuk yang ada di lemari di belakang Chaerim dan berjalan ke arah kamar mandi. Meninggalkan Chaerim yang berusaha mengontrol emosinya karena Bomin.
"Aissshh dasar kekanak-kanakan. Park Bomin, kau memang tak pernah berubah. Mari kita lihat, siapa yang akan menang dalam perang ini." Chaerim tersenyum sinis.
***
Wooseok merasa heran melihat Bomin yang keluar dari kamarnya dan duduk di meja makan untuk sarapan. Ia mendekati kakak kesayangannya itu dan mencubit kedua pipi Bomin.
"Hei! Kenapa kau mencubit pipiku!" jerit Bomin.
"Sakitkan?"
"Tentu saja!"
"Hatiku juga seperti dicubit rasanya karena beberapa hari ini Kakak mengabaikanku. Aku juga sakit, Kak. Kau benar-benar membuatku khawatir." ucap Wooseok serius.
Wooseok melepaskan cubitannya dan kembali duduk diiringi dengan tawa Eunjin dan Junho. Bomin mengusap pipinya yang memerah. Ada apa ini? Kenapa Wooseok jadi tiba-tiba dewasa dan keren begitu? Ah, Bomin benar-benar menyayangkan Nayoung tak ada di sini untuk melihat Wooseok tadi. Kalau Nayoung ada, mungkin gadis kecil itu akan berteriak-teriak menggila karena Wooseok yang keren tadi.
"Apa-apaan itu tadi? Wooseok-ah, kau mendapatkan pengakuanku!" Eunjin mengangkat tangannya dan bertos ria dengan Wooseok.
"Ngomong-ngomong hari ini hari minggu bukan?" tanya Junho.
"Tentu saja. Kau pikir kapan lagi kita bisa lengkap seperti ini. Kita semua sibuk, kecuali penikung yang disana itu." sindir Chaerim.
"Wahai wanita yang sedang menumpang tapi tak bayar. Setahuku selama di sini hanya kau yang tak punya kerjaan." balas Bomin.
Wooseok, Eunjin dan Junho terkikik. Inilah hasil latihan Bomin setelah menghadapi Byunggyu. Mulut pedas Chaerim itu bisa ditangani oleh Bomin karena ia sudah terbiasa membalas sindiran Byunggyu.
Tapi bicara soal hari minggu, bukankah seharusnya hari ini Bomin pergi berkencan dengan Byungjin? Mereka sudah janjian beberapa hari yang lalu bukan saat menjemput Chaerim? Bomin mendesah sedih, mungkin Byungjin sudah lupa. Ya, setelah apa yang terjadi pasti Oh Sehun sudah lupa.
Drrrtt ... Drrtt...
Bomin merasakan saku celananya bergetar. Eh bukan saku celananya, melainkan ponsel Bomin yang ada dalam saku celananya.
Bomin mengernyit melihat nomor tak dikenal yang menelponnya.
"Halo?"
"Halo? Bomin-ah?"
Tunggu, suara ini?! Bomin hampir saja menjerit saking senangnya. Ia menepuk dahinya. Bagaimana bisa sudah hampir beberapa bulan ini ia tak pernah punya nomor telpon Byungjin? Darimana Byungjin mendapatkan nomornya?
"Siapa ini?" Bo Mi pura-pura tak tahu siapa yang menelponnya.
"Ini aku, Oh Byungjin. Aku, ingin berterimakasih mengenai tadi malam. Kalau kau tak membantuku mungkin aku sudah menginap di bar sekarang."
"Tak usah dipikirkan, Kak. Tapi ada masalah apa kau sampai minum-minum begitu?" tanya Bomin masih pura-pura tidak tahu.
Byungjin terdiam. Bomin mengerti dan berniat mengalihkan pembicaraan. Tapi Byungjin menyelanya.
"Bomin-ah, bisa kita bertemu? Aku menunggumu di taman dekat apartemen."
"Sekarang?"
"Ya."
"Baiklah."
Klik...
Bomin bangkit berdiri dan melangkah masuk ke kamarnya untuk mengambil dompetnya. Membuat orang-orang yang berada di ruang makan merasa heran.
"Kau mau kemana? Sarapanmu belum selesai kan?" tanya Junho.
"Ada urusan darurat. Simpankan makanan untukku. Saat aku pulang nanti aku yakin aku akan sangat lapar." teriak Bomin sebelum keluar dari apartemen.
***
Bomin menghampiri Byungjin yang duduk di kursi taman. Ia lalu duduk di samping Byungjin.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan, Kak?" tanya Bomin.
Byungjin terkejut melihat Bomin sudah duduk di sebelahnya hanya beberapa menit setelah ia menelponnya. Ia terkekeh.
"Kau sangat cepat. Kukira aku akan menunggu lama. Biasanya para wanita akan berdandan sangat lama hanya untuk menemui pria yang ia sukai." goda Byungjin.
"Aku spesies wanita yang berbeda. Tapi aku senang kau mengingat bahwa aku menyukaimu." ucap Bomin.
"Tentu saja aku ingat." ucap Byungjin.
Bomin tersenyum, "Benar. Teruslah ingat itu. Ingat bahwa aku menyukaimu. Ingat perasaan tulusku padamu agar kau bisa berpaling padaku."
Byungjin membalas senyuman Bomin. Prua itu menggaruk tengkuknya gugup. Bomin menahan teriakannya. Bagaimana bisa Sehun jadi imut begini? Ahhh, jadi makin cinta.
"Ngomong-ngomong soal semalam, Byunggyu bilang aku melakukan sesuatu yang menyakitkan untukmu," Byungjin berkata gugup. "A-aku tak ingat apa yang kulakukan. Tapi aku benar-benar minta maaf."
Byungjin tiba-tiba membungkuk membuat Bomin terkejut.
Pfftt...
"Hahaha."
Bomin tiba-tiba tertawa dengan keras. Byungjun menegakkan kembali tubuhnya dan kembali menggaruk tengkuknya gugup.
"Kau benar-benar imut saat merasa bersalah, Kak." ucap Bomin.
"Baiklah, aku memaafkanmu. Tapi masalah kau mabuk-mabukan itu aku benar-benar marah. Kau punya dua anak yang masih kecil. Dan mereka dua-duanya laki-laki. Mereka benar-benar mengagumimu. Bagaimana kalau anak-anakmu yang melihatmu mabuk-mabukan malah kehilangan kekagumannya padamu? Bagaimana kalau mereka mengikutimu dan sering mabuk-mabukan saat mereka dewasa?" Bomin berjinjit dan menyentil lembut dahi Byungjin. "Kau harus memikirkan hal itu, Kak."
Byungjin mengangguk dan tersenyum. Ia mengakui kesalahannya. Bomin memang pantas marah.
"Kemarin aku benar-benar kacau. Sepupumu, Park Chaerim adalah mantan kekasihku sekaligus ibunya Byunggyu." ucap Byungjin sambil menunduk. Memainkan jemarinya.
Bomin sebenarnya tak ingin mendengar lebih jauh karena tahu itu akan menyakitinya. Tapi ia penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Dengan begitu ia bisa memutuskan jalan apa yang akan ia ambil setelahnya.
"Orang tuaku dan juga paman dan bibimu menentang hubungan kami. Karena kami masih sangat muda dan tak memikirkan apa yang terjadi kedepannya, kami memberanikan diri untuk kabur dari rumah. Dan suatu malam terjadi kecelakaan yang menyebabkan Chaerim hamil." Byungjin tersenyum.
"Walau tahu ini salah, aku tak menyesalinya. Aku merasa sangat bahagia. Aku bekerja serabutan. Kesana kemari mencari uang untuk menghidupi kami dan calon anakku. Hingga akhirnya Chaerim melahirkan Byunggyu. Membuat kebahagiaanku semakin lengkap. Kami pun memutuskan untuk menikah. Tapi sebulan sebelum pernikahan kami dia pergi meninggalkanku dan Byunggyu tanpa mengatakan apapun. Aku terus menunggu dan terus menunggu hingga akhirnya aku menyerah." Byungjin terkekeh miris.
Ia menghela nafas, "Saat Byunggyu berumur enam tahun ia datang dan meminta maaf. Ia ingin kembali bersama kami tapi kau tahu takkan semudah itu. Pengkhianatan seperti itu sulit untuk kumaafkan."
Bomin terdiam. Ia tahu sebuah fakta. Tapi ia tak yakin bisa mengatakan hal itu pada Byungjin. Bukan haknya untuk mengatakan hal ini. Walaupun fakta ini mungkin akan membuat Byungjin akan memilih bersama Chaerim kembali. Tapi Bomin bukanlah pemeran antagonis yang akan menyembunyikan fakta itu untuk mendapatkan Byungjin.
"Kak Byungjin, kadang kita perlu mengetahui apa yang terjadi dari kedua sisi dan bukan hanya mengambil kesimpulan dari sisi kita saja." saran Bomin.
"Maksudmu?"
"Aku bukannya mendukung Park Chaerim. Tapi saranku, kau harus mendengar alasan Chaerim meninggalkan kalian. Aku tak ingin kau menyesal nantinya." tambahnya lagi.
"Kau benar-benar spesies wanita yang berbeda Bomin-ah," Byungjin terkekeh. "Baiklah kalau kau yang memintaku, aku akan memikirkannya dulu."
Bomin tersenyum dan mengangguk. Tapi ngomong-ngomong..
"Kak Byungjin, kenapa bangku taman ini terasa lengket ya? Dan tulisan apa itu?" tanya Bomin sambil menunjuk ke arah pohon di belakang bangku taman yang mereka duduki.
"Astaga! Bangku ini baru dicat dan masih basah!" mata Byungjin membola.
"Ha! Bagaimana ini! Celanaku warnanya putih!" jerit Bomin.
Aisshh, benar-benar memalukan! Saat suasana seperti ini pun mereka diberi cobaan. Padahal tamannya sedang ramai begini! Baiklah jika ingin pulang dari sini, mereka harus menanggung malu karena celana mereka terkena cat.
***
Makassar, 04 April 2016