Nayoung menginap di rumah Gaeun sejak kemarin. Ibu dan ayahnya masih belum kembali dari luar negeri. Ia jadi merasa kesepian di rumah. Untunglah Gaeun mengajaknya untuk menginap. Jadi ia tak terlalu merasa kesepian. Dan yang lebih menyenangkan lagi, ia jadi bisa merasakan rasanya bertetangga dengan Wooseok.
Bicara tentang Wooseok, Hayoung merasa kesal pada pangerannya itu. Teganya pergi ke apartemen Bomin tanpa mengajaknya. Memang belakangan ini ia jarang mendengar kabar dari muridnya itu. Kata Wooseok, Bomin sedang murung entah karena apa. Nayoung yakin ini pasti tentang ayahnya Byunggyu.
"Nayoung-ah kenapa kau melamun?" tanya Gaeun.
"Tidak, aku hanya sebal mengapa Wooseok tak mengajakku ke apartemen Kak Bomin." gerutunya.
"Memangnya kau mau melakukan apa di sana?" tanya Gaeun.
"Melindungi Wooseok dan juga menjenguk Kak Bomin. Biar bagaimanapun, Kak Bomin adalah muridku." ucap Nayoung angkuh.
Gaeun terkekeh.
"Baiklah, aku mandi duluan. Kalau kau mau aku bisa meminta ibuku mengantar kita ke apartemen Byunggyu." ucap Na Eun.
"Benarkah? Wuaa terimakasih Gaeun-ah!" ucap Nayoung girang.
Gaeun tersenyum dan mengangguk. Ia lalu mengambil handuk dari lemari dan masuk ke dalam kamar mandi di kamarnya.
Karena bosan menunggu, Nayoung melihat-lihat barang milik Gaeun. Ada satu benda yang menarik perhatiannya. Sebuah buku berwarna merah muda dengan gambar kupu-kupu. Sepertinya ini buku harian milik Gaeun.
Nayoung yang jahil pun mengambilnya dan membukanya. Ia penasaran apakah Gaeun juga menyukai Byunggyu. Ya, Nayoung tahu Byunggyu menyukai Gaeun. Sangat mudah menebak hal itu. Sikap Byunggyu pada Gaeun benar-benar menunjukkan segalanya.
"I-ini ..." mata Nayoung terbelalak melihat isi buku harian Gaeun.
Ia membalik lembar demi lembar buku harian itu. Nayoung menahan tangisnya. Bagaimana bisa Gaeun menyembunyikan hal ini dari dirinya?
Nayoung segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
***
Bomin melempar ponsel dan juga dompetnya ke ranjang sebelum ikut melemparkan tubuhnya juga ke sana. Karena insiden cat itu dia dan Byungjin harus menahan malu karena dilihat orang banyak. Ia mengumpat. Kenapa tadi ia tak bawa tas untuk menutupi cat di celananya?
Tapi, hal yang ia sesali sekarang adalah ia memberi saran tadi pada Byungjin. Padahal ini kesempatannya. Mengapa ia tak membiarkan saja Byungjin membenci Chaerim? Bukannya hal itu akan membuatnya lebih mudah mendapatkan Byungjin?
Ah tidak! Apa yang dilakukannya sudah benar! Seperti yang ia katakan pada Byungjin, dirinya adalah spesies wanita yang berbeda. Ia bukan wanita yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan. Ia harus bermain sehat dan membiarkan Byungjin memilih. Walaupun Bomin tak yakin hasilnya tidak akan menyakitkan baginya.
Drrrrttt ... Drrtt ...
Bomin melihat siapa yang menelpon. 'Guru yang cerewet' itu nama pemanggilnya. Kalian tentu sudah tahu siapa yang dimaksud.
"Halo?"
"Kak Bomin ..."
"Ada apa denganmu? Suaramu bergetar." Bomin berucap cemas.
"Kak Bomin, bisa kita bertemu? Aku akan menunggumu di taman dekat sekolahku."
"Nayoung-ah, aku serius kau kenapa?" tanya Bomin.
"Akan kujelaskan nanti. Yang jelas aku akan menunggumu di sana."
Klik
"Halo? Nayoung? Halo?"
Nayoung mematikan telfonnya? Ini aneh. Bomin berharap tak terjadi apa-apa pada gadis kecil itu.
"Oh tuhan! Kumohon jangan taman lagi!" jeritnya.
Bomin segera berganti pakaian dan keluar apartemen. Tapi langkahnya terhenti melihat Taeil yang ada di depan apartemennya sambil menggandeng Taeoh.
"Kau?"
"Hai! Mantan kekasihku." sapa Taeil.
"Ada apa? Mengapa kau ada di sini?" tanya Bomin ketus. Masih kesal dengan kejadian flashdisk.
"Taeoh ingin bertemu denganmu. Ia merindukanmu. Jika kau tanya kenapa bukan Byunggyu yang mengantarnya, kau tahu sendiri kan masalah sepupumu?" ucap Taeil tak acuh.
"Ah, aku mengerti. Tapi aku akan pergi. Taeoh-ya, bagaimana kalau kau ikut denganku?" ajak Bomin pada Taeoh.
"Baiklah bila kau memaksa. Kami akan ikut denganmu!" ucap Taeil sambil menyengir.
Bomin menatap Taeil malas. Oh ayolah, ia tidak sedang dalam suasana hati yang baik untuk bercanda.
"Apa kau tuli? Aku mengajak Taeoh, bukan kau." cibir Bomin.
"Aku dan Taeoh satu paket. Kau mengajak Taeoh berarti kau mengajakku juga." ucap Taeil.
"Wahai mantan kekasihku yang gagal move on! Setahuku yang satu paket itu Taeoh dan Byunggyu. Sudahlah, aku tak ada waktu meladenimu." Bomin menggandeng Taeoh dan langsung pergi dari tempat itu.
Taeoh hanya bisa terdiam dan terkekeh.
"Yeah, setidaknya ia tahu aku masih menyukainya." kekeh Taeil.
***
Nayoung menunggu Bomin di taman di dekat sekolahnya seperti perkataannya. Di tangannya ada bungkusan plastik berisi es krim dengan aneka rasa.
Bomin menghampirinya sambil menggandeng Taeoh. Karena trauma dengan bangku taman yang tadi, Bomin menempelkan tangannya di bangku taman dulu memastikan catnya tidak basah lalu duduk di atasnya.
"Ada apa? Bangku itu aman. Aku tak menaruh lem di atasnya." Nayoung mengernyit heran.
"Tadi aku tak sengaja duduk di bangku taman yang baru di cat. Jadilah bokongku terkena cat." ucap Bomin malas.
Taeoh yang tadinya duduk ditengah-tengah mereka segera berdiri.
"Kak Bomin, bisa kau berdiri dan buka celanamu?" pinta Taeoh.
"Apa kau bilang?!" Mata Bomin membulat. Tak menyangka bocah seumuran Taeoh bisa berkata begitu.
"Aku tak pernah lihat b****g yang dicat sebelumnya. Kumohon perlihatkan padaku." pinta Taeoh dengan nada memelas.
Nayoung dan Bomin saling berpandangan.
Pfftt...
"Muahahaha!"
Mereka tertawa dengan kencang. Mereka tak menyangka Taeoh sepolos itu.
"Taeoh, yang terkena cat itu celananya bukan b****g Kakak. Dan itu terkena cat bukannya dicat, mengerti?" Bomin masih belum bisa berhenti tertawa.
Taeoh mengangguk polos membuat tawa Bomin dan Nayoung semakin kencang. Nayoung yang ingat dengan tujuannya tadi pun berhenti tertawa. Ia mengambil es krim dari kantong plastik yang dibawanya dan menyerahkannya pada Bomin dan Taeoh.
"Wuaa es krim!" Taeoh bersorak riang.
"Untuk apa ini? Kau mau menyuapku untuk membantumu dekat dengan Wooseok?" tanya Bomin yang heran karena Nayoung tiba-tiba baik padanya.
"Kakak ini selalu berpikiran buruk tentangku ya?" Nayoung berdecak.
"Ini adalah es krim pecundang. Aku selalu makan es krim di sini setiap aku mempunyai masalah atau ditolak oleh Wooseok." jelas Nayoung.
Bomin mengangguk-angguk mengerti.
"Jadi kau makan ini karena kau baru ditolak lagi oleh Wooseok?" tanya Bomin.
"Bukan. Ini masalah yang lebih serius lagi. Kau juga sedang ada masalah bukan? Jadi kita bisa berbagi masalah." ucap Nayoung.
"Tapi aku sedang tak punya masalah. Jadi aku tak boleh memakannya?" tanya Taeoh dengan mata yang berkaca-kaca.
Oh Taeoh, polos sekali dirimu, nak. Bo Mi dan Hayoung hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Anggap saja dengan es krim ini aku menyuapmu untuk tidak menceritakan masalah kami pada orang lain. Mengerti Taeoh-ya?" ucap Nayoung pada Taeoh.
"U-um! Dengan es krim enak ini, mulutku terkunci rapat!" Taeoh memakan es krimnya.
Nayoung terkekeh. Tapi ia mengubah ekspresinya menjadi serius.
"Kak Bomin, aku benar-benar bingung harus memilih cinta dan persahabatan sekarang." gumam Nayoung sedih sambil ikut memakan es krimnya.
"Kenapa?"
"Aku baru tahu, ternyata Gaeun menyukai Wooseok. Bahkan jauh sebelum aku menyukai Wooseok." ucapnya sambil tersenyum miris.
"Ohh Gaeun menyukai Wooseok." ucap Bomin tak acuh.
Tunggu! Sepertinya ada yang salah. Gaeun menyukai Wooseok ... Gaeun menyukai Wooseok ...
"Apa kau bilang?!"
"Hahaha sudah kuduga kau sama terkejutnya denganku." ejek Nayoung.
"T-tapi bagaimana bisa?"
"Entahlah, dia seharusnya memberitahuku. Aku tak marah dia menyukai Wooseok. Tapi aku marah karena ia tak memberitahuku sementara selama ini aku selalu menceritakan rahasiaku sekecil apapun itu padanya. Aku merasa aku sahabat yang buruk. Ia pasti memendamnya karena tak ingin aku sedih." ucap Nayoung.
"Tapi, bagaimana dengan Byunggyu? Dia bahkan sekarang sedang ada masalah. Hal ini pasti akan membuatnya semakin sedih." ucap Bomin.
"Masalah? Masalah apa?"
Bomin menimbang-nimbang apa ia harus menceritakan hal ini pada Nayoung atau tidak.
"Ibunya Byunggyu datang kembali. Kalau kau sahabatnya, kau pasti tahu kalau Byunggyu membenci ibunya, kan?" ucap Bomin.
"Karena itu kau jadi murung belakangan ini?" tanya Nayoung.
"Hmm, kau tahu ada yang lebih buruk dari itu."
"Apa?"
"Ibunya Byunggyu itu adalah sepupuku, Park Chaerim."
Mereka terdiam. Lalu terisak bersamaan.
"Kenapa hidupmu jadi seperti drama begitu?" Isak Nayoung.
"Hiks ... Hikss ... Kau juga." ucap Bomin.
"Hiks ... Kau saja yang jadi sainganku sudah berat untuk kuhadapi. Sekarang bertambah lagi satu. Lalu apa yang harus kulakukan?" tangis Nayoung mengeras.
"Hiks ... Chaerim lebih tinggi, lebih cantik, lebih dewasa, lebih waras, lebih pandai, lebih licik, lebih kaya dan lebih segalanya dariku. Dia juga ibunya Byunggyu. Apa yang bisa aku lakukan untuk mengalahkannya?" tangis Bomin juga ikut mengeras.
"Mengapa kehidupan cinta itu serumit ini?" tanya Nayoung.
"Karena itu berhentilah. Kau masih terlalu muda untuk ikut pusing dalam masalah cinta yang rumit ini. Abaikan lebih dulu perasaanmu pada Wooseok. Tunggu hingga kalian sudah cukup umur dan kejar dia. Kau harus bermain tarik ulur kalau ingin mendapatkannya." ucap Bomin bijak.
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Kalau masalah itu aku tidak tahu hueeee..." Bomin menangis lagi.
"Hiks, makanya kau kembali menjadi anak-anak saja agar kau bisa menggunakan saranmu tadi juga untukmu." mereka berpelukan sambil menangis.
Taeoh hanya mampu memandangi dua orang yang menangis seperti anak kecil itu sambil memakan es krimnya. Satu hal yang ia pikirkan dalam otak mungilnya. Ia berharap kehidupan cintanya nanti takkan dibuat rumit seperti mereka.
****
Makassar, 05 April 2016