Hyungseob dan Yookwon berjalan ke arah parkiran sambil berbincang-bincang. Well, sebenarnya hanya Yookwon yang berbicara banyak. Hyungseob hanya menanggapinya dengan mengernyit, tersenyum dan berdehem.
"Ah! Kak Chaerim!" Yookwon membelalak ketika mereka berpapasan dengan seseorang.
"Eh? Hyungseob dan kau ..." Chorong menatap Yookwon, berusaha menggali ingatannya.
"Kau lupa? Aisssh, kau melupakanku yang tampan ini? Aku Yookwon! Sahabat Bomin yang paling tampan! Ingat?" Yookwon menunjuk wajahnya dengan percaya diri.
"Tidak."
Doeng...
Aura Yookwon langsung menggelap. Bagaimana bisa Chaerim bisa melupakan pria tampan sepertinya? Chaerim dan Hyungseob hanya terkekeh.
"Aku hanya bercanda. Aku mengingatmu Yookwon-ah. Hanya saja kau agak berubah. Kulitmu jadi... Errr eksotis?" ejek Chaerim.
"Jujurlah. Kau mau bilang kulitku jadi lebih hitamkan?" gerutu Yookwon.
"Well, bukan aku yang mengatakannya." kekeh Chaerim.
"Kau belum berubah, Kak. Mulutmu masih sepedas dulu." Hyungseob tersenyum.
"Sepertinya kau dan Yookwon yang berubah. Kalian tambah tinggi dan tampan. Aku yakin kalian sekarang sudah punya kekasih. Atau bahkan sudah menikah?" tanya Chaerim.
Mata Yookwon berkilat jahil. Oh tidak, Hyungseob mulai was-was. Kalau sudah begini berarti Yookwon sedang memikirkan sesuatu yang mengancamnya.
Yookwon tertawa, "Ha! Aku tentu saja punya kekasih Kak. Aku tak seperti Pria di sebelahku yang bahkan belum pernah pacaran karena belum bisa melupakanmmmbbffttt ..." Hyungseob segera membekap mulut Yookwon.
"Wuooo jadi kau masih belum bisa melupakan gadis yang kau sukai itu ya?" goda Chaerim pada Hyungseob, " Bicara tentang itu, aku selalu penasaran. Siapa gadis yang kau sukai itu?"
Hyungseob mulai panik dan salah tingkah. Tanpa melepaskan tangannya dari mulut Yookwon, ia segera menutupi ekspresi malunya dengan tersenyum canggung.
"Kak, aku dan Yookwon harus pergi. Kami sudah terlambat. Nanti kita bicara lagi. Sampai jumpa!" pamit Hyungseob sambil menarik Yookwon ke mobilnya.
Chaerim hanya mengendikkan bahunya lalu tersenyum dan berbalik pergi. Tanpa menyadari Hyungseob berhenti berjalan dan menatapnya dari jauh.
"Kak Hyungseob, apa kau harus ikut pelatihan bersama Bomin untuk menjadi lebih agresif? Kau bahkan menyukainya sejak kita masih taman kanak-kanak. Sepertinya kau memang harus memanggil Nayoung dengan sebutan guru mulai sekarang." ejek Yookwon.
"Diamlah, kau takkan mengerti perasaanku." ucap Hyungseob kesal.
"Aku mengerti. Sangat mengerti. Karena itulah aku selalu berusaha membocorkan rahasiamu ini pada Kak Chaerim. Karena kau terlalu pengecut untuk mengungkapkannya sendiri." cibir Yookwon.
"Aku pasti akan menyatakan perasaanku sendiri. Pasti..."
***
Byunggyu duduk terdiam di kursinya sambil melamun. Kedatangan Chaerim benar-benar mempengaruhinya. Ia yang biasanya acuh pada teman-temannya yang memakan bekal buatan ibu mereka sekarang entah mengapa merasa iri.
Nayoung yang merupakan orang yang paling peka pun menyadari hal itu. Ia sudah tahu masalah Byunggyu. Jadi ia merasa iba pada sahabatnya itu. Mungkin dulu Nayoung hanya menganggap Byunggyu sahabat karena Byunggyu sahabat Wooseok. Tapi mendengar masalah Byunggyu dari Bomin kemarin membuat Nayoung ingin berteman dekat dengan Byunggyu.
Bicara soal kemarin. Setelah mengetahui kalau Gaeun menyukai Wooseok, Nayoung jadi agak merubah sikapnya pada Wooseok dan Gaeun. Nayoung mengacuhkan Gaeun dan juga tak mengejar-ngejar Wooseok seperti biasa. Gaeun merasa heran dengan tingkahnya. Namun gadis itu tak mengatakan apapun.
Nayoung mengambil kedua bekalnya. Ia selalu meminta pelayannya untuk membuat dua bekal. Satu untuknya, dan satu untuk Wooseok. Walaupun Wooseok selalu menolak bekalnya.
Nayoung bangkit berdiri dan berjalan menghampiri bangku Byunggyu dan Wooseok. Wooseok memutar bola matanya melihat Nayoung berjalan ke arahnya.
"Nayoung-ah aku tidak bisa menerima ..."
Wooseok melongo melihat Nayoung melewatinya dan meletakkan salah satu bekal itu di meja Byunggyu.
"Ini untukmu. Aku selalu bawa dua bekal. Mulai sekarang, satunya akan menjadi milikmu. Anggap saja ini hadiah karena aku adalah guru dari Kak Bomin, calon ibumu. Atau kalau kau mau, aku bisa bilang pada Kak Bomin untuk membuatkanmu bekal. Tapi aku yakin kau akan memilih bekal ini dibanding bekal buatan Kak Bomin yang pastinya warnanya hitam semua." ucap Nayoung membuat Byunggyu sukses melongo.
Nayoung berjalan menuju taman meninggalkan Wooseok dan Byunggyu yang masih terkejut. Byunggyu yang tersadar pun membuka bekal itu dan tersenyum.
"Nayoung, terimakasih!" teriak Byunggyu yang ditanggapi Nayoung dengan deheman.
Wooseok sadar dan langsung mengambil ponselnya untuk menyalakan kamera depannya. Ia pun bercermin dan melihat apa ada yang salah dengan wajahnya.
"Kak Byunggyu, apa ada yang berubah dariku? Atau kadar ketampananku berkurang? Sejak tadi bahkan Nayoung tak menatapku sedikit pun!" jerit Wooseok tak percaya.
"Ada apa? Apa kau mulai menyukainya sehingga kau frustasi begitu?" tanya Byunggyu.
"Tidak, hanya saja ini terasa aneh. Nayoung yang biasa mengejar-ngejarku yang tampan ini, langsung berubah seperti itu hanya dalam satu hari. Tidakkah itu aneh?" tanya Wooseok.
"Umm, tidak juga. Sudahlah, aku ingin makan bekal dari Nayoung. Kurasa ia menyadari kalau aku lebih tampan dibanding kau." ejek Byunggyu sambil berjalan keluar mencari tempat yang nyaman untuk memakan bekalnya.
"Hei! Setidaknya bagi itu juga untukku! Hei, Kak Byunggyu! Aisshhh!"
***
Byungjin terus memikirkan perkataan Bomin. Benarkah ia harus mendengarkan penjelasan Chaerim? Ia tak yakin dengan itu. Bagaimana kalau apa yang dijelaskan oleh Chaerim hanyalah karangan wanita itu saja? Hidup bersama Chaerim selama satu tahun membuat Byungjin mengerti tentang wanita itu. Ia rasa Chaerim cukup pandai berakting dan pasti bisa membodohinya bila ia tak hati-hati.
"Paman?! Paman!"
Byungjin tersadar dari lamunannya.
"Ah, ada apa?"
"Masakanmu gosong." ucap Taeil.
Byungjin membelalak. Ia segera mematikan kompornya. Berdecak melihat masakannya yang tidak bisa diselamatkan lagi. Taeoh menghampirinya dan menatap masakan Byungjin dengan mata sipitnya.
"Hebat, sekarang masakan Ayah jadi mirip dengan masakan Kak Bomin." ucap Taeoh polos.
"Bomin masih belum bisa masak?" Taeil langsung bereaksi mendengar nama Bomin.
"Umm, dia pernah memasakkan Kak Wooseok, aku dan juga Kak Byunggyu nasi goreng. Kata Kak Wooseok rasanya bisa membunuh orang yang memakannya." celoteh Taeoh.
"Benarkah? Gadis itu memang belum berubah. Bahkan sejak kami berpacaran hanya aku yang tahan memakan masakannya."
Byungjin berhenti dari aktivitasnya dan menatap Taeil penasaran.
"Kau dan Bomin pernah berpacaran?" tanyanya.
"Hum, kami berpacaran sebelum dia pindah ke luar kota." jawab Taeil santai.
Byungjin terdiam. Taeil tak tahu pamannya itu sedang memikirkan apa. Tapi ia bahagia karena pancingannya berhasil.
***
Anak-anak itu datang kembali ke apartemen Junho. Bahkan Byunggyu juga ikut. Tapi ia mengajak Taeoh untuk berjaga-jaga, takutnya ia tak bisa menjaga emosinya.
Nayoung masih belum bicara pada Wooseok atau pun Gaeun. Tapi ia tetap menjaga jarak antara Wooseok dan Gaeun dengan selalu duduk di tengah mereka. Ia memang setuju untuk mundur hingga ia cukup umur. Tapi itu tidak berarti ia akan membiarkan Gaeun memiliki Wooseok. Ia akan menyingkirkan semua gadis yang mendekati Wooseok muahahaha...
"Byunggyu-ya, aku membuatkan ini untukmu." ucap Chaerim sambil membawakan kue dan minuman untuk Byunggyu.
Byunggyu tak menanggapinya. Ia malah sibuk bermain gim bersama Wooseok. Ia mengutuki Bomin yang sedang tak ada di di sana dalam hati. Gadis itu beralasan bahwa ia sedang menemani Eunjin untuk melihat gedung yang akan Junho dan gadis itu gunakan untuk pesta pernikahan mereka. Byunggyu sudah ingin pergi seandainya saja Chaerim tidak mengunci apartemen itu dan menyembunyikan kuncinya agar Byunggyu dan teman-temannya tak bisa keluar dan pergi dari apartemen itu. Siapa bilang Chaerim itu waras? Ia bahkan jauh lebih gila daripada Bomin.
"Kak Chaerim, biar aku saja yang memakannya." tawar Wooseok.
"Panggil aku Bibi. Aku ibunya Byunggyu." ucap Chaerim sambil tersenyum pada Wooseok.
"Hieee? Tak ada miripnya sama sekali," Wooseok berpura-pura terkejut, "Dan bukannya kebanyakan wanita tak suka dipanggil bibi? Baiklah, karena Bibi ibunya Byunggyu berarti Bibi sudah tua dan akan kupanggil Bibi." ucap Wooseok penuh penekanan. Ia tersenyum manis.
Chaerim mengabaikan nada aneh dari Wooseok saat mengatakan kalimat tadi karena Wooseok sangat manis. Ia tak tahu saja Wooseok tadi tersenyum licik. Wooseok bahkan bertos ria dengan Byunggyu.
Baiklah, neraka Chaerim akan segera dimulai. Siapa suruh mengurung mereka disini? Akan Wooseok pastikan Chaerim akan menderita.
****
Makassar, 08 April 2016