Bang...
Suara tembakan keras membuat seorang gadis kecil yang berlari menoleh ke sumber suara. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal ia langsung menghentikan langkahnya dan berdiri mematung di tempat.
Tes...
Tes...
Air hujan yang menetes membuat penglihatan gadis itu memburam, di depannya terlihat bayangan beberapa pria bertubuh besar memegangi pistol sambil menarik dua tubuh di belakang mereka. Tubuh kedua orang itu tampak tak berdaya bahkan bergerak sedikitpun, caranya merah yang bercampur dengan air hujan mengikuti setiap langkah orang-orang tersebut.
Gadis kecil berumur lima tahun yang tak tahu harus pergi kemana itu hanya bisa terdiam di tempat sambil menangis histeris setelah melihat kedua tubuh yang di seret itu merupakan tubuh kedua orang tuanya.
Ia terduduk di atas aspal yang basah sambil terus menangis memanggil kedua orang tuanya tanpa peduli dengan beberapa pria di sekitarnya yang kapan saja siap untuk menangkapnya.
“mama...” isak gadis kecil itu dengan tangan kecilnya yang terulur hendak meraih tubuh sang ini yang terlihat tak bernyawa.
Tak...
Tak...
Suara sepatu hak tinggi terdengar dari belakang mereka. Gadis itu mengabaikan hal itu dan masih terus berusaha meraih tubuh kedua orang tuanya.
“boss, kami sudah menangkap mereka” ujar seorang pria sambil menyeret salah satu tubuh menghadap pada wanita yang tengah menghirup cerutu di bawah payung hitam yang lebar.
Di sampingnya berdiri tegap dua orang anak laki-laki yang seumuran. Keduanya tampak berumur 10 tahun menatap jijik pemandangan di depannya dari balik payung hitam yang mereka gunakan.
“kalian membunuh keduanya?” tanya wanita itu menatap rendah semua pria bertubuh tegap yang ada di sana.
Semua pria itu tampak terdiam sambil menundukkan kepala mereka karena sepertinya mereka telah melakukan kesalahan fatal.
Wanita itu menyeringai sinis kemudian meraih salah satu pistol yang di pegang oleh anak buahnya kemudian ia menembak dengan membabi buta semua pria yang tadi menyeret tubuh kedua orang yang sudah tak berdaya itu.
Klik...
Suara tanda peluru yang ada di dalam pistol habis membuat wanita itu semakin kesal. Ia melepaskan pistol tersebut kemudian meraih payung yang sedang di pegang oleh anak buahnya untuk memayunginya.
Dengan penuh amarah ia mengayunkan payung tersebut ke tubuh para anak buahnya yang telah jatuh ke aspal akibat tembakan membabi buta darinya. Ia terus mengayunkan payung tersebut tanpa peduli dengan darah yang menciprat kemana-mana bahkan gadis kecil yang tadi terduduk di dekat sana ikut terkena noda darah darinya.
Wanita itu terdiam setelah melihat payung di tangannya tak berbentuk lagi. Ia kini menoleh pada gadis kecil yang tampak ketakutan melihat dirinya yang di penuhi darah hingga ke wajahnya. Ia melepaskan payung yang rusak dan penuh darah ke samping, kemudian menendang mayat di bawahnya lalu berjalan hendak menarik gadis kecil itu, namun belum sempat tangannya meraih tubuh gadis kecil yang gemetaran itu sebuah suara kecil menghentikannya.
“Bibi, aku menyukainya” Teriak anak laki-laki berambut pirang dengan nada memerintah.
Mendengar itu, wanita itu tak jadi menyentuh gadis kecil itu. Ia kembali berjalan ke arah anak laki-laki di belakangnya dan membiarkan anak laki-laki mendekati gadis kecil yang sudah terlihat ketakutan setengah mati dengan wajah yang pucat.
“dia cantik, mainan lamaku sudah usang, bawa dia” ia mendekat untuk melihat dengan jelas gadis kecil depannya, setelah memperhatikan sebentar anak laki-laki itu kemudian berbalik lalu meminta seorang pengawalnya untuk membawa gadis kecil itu bersama mereka.
“Lepaskan” Teriak gadis kecil itu sambil berusaha melepaskan diri.
“Lepaskan” ia terus menggeliat berusaha untuk melepaskan tangan besar yang saat ini menggendong tubuhnya untuk masuk ke dalam sebuah mobil hitam di belakang mereka.
“Aaaah...” gadis itu kembali menjerit kencang begitu tubuhnya di lempar begitu saja ke dalam bagasi mobil bak sebuah barang yang tak berharga.
Pintu bagasi di tutup dan gadis kecil itu hanya bisa meringkuk di dalam sana bersama kegelapan. Samar-samar ia dapat mendengar suara mesin mobil yang menderu diikuti dengan suara pintu mobil yang tertutup kencang.
Air mata mengalir deras, di dalam bagasi mobil yang sempit dan tak ada cahaya sama sekali, ia terus memanjatkan doa agar dirinya bisa tetap hidup sambil meremas kencang kalung dengan bandul bintang di lehernya. Kalung yang menjadi hadiah terakhir dari kedua orang tuanya adalah satu-satunya pegangan yang gadis itu miliki.