“Selamat pagi, saya Kira Morgan” Sapa Kira dengan senyum ramah dan profesional pada Agra yang baru saja melewatinya untuk masuk ke ruangannya.
Mendengar sapaan yang terlalu ramah itu Agra menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Kira yang tersenyum lebar di balik mejanya.
Ia tampak memperhatikan Kira dari atas hingga bawah lalu tanpa berkata apa pun kembali berbalik dan langsung masuk ke ruangannya.
“Hahh...” Kira menghembuskan nafas lega berhasil melewati momen menenggangkan dalam hidupnya.
Pekerjaan sebagai sekretaris adalah pengalaman pertama bagi Kira. Ia banyak mendengar rumor tentang betapa pemilih dan menyebalkannya seorang Agra Carlisle hingga membuat pria itu terus berganti sekretaris setiap bulan.
Belum sempat Kira duduk telepon di mejanya sudah berbunyi, sambil kembali menahan nafas panjang Kira mengangkat telepon tersebut dengan ramah.
“Selamat pagi—“
Belum selesai Kira menyapa si penelepon ucapannya langsung di potong oleh suara dari ujung telepon.
“Kopi sekarang”
Tak...
Telepon terputus begitu saja seolah Kira baru saja tak di beri kesempatan untuk berbicara sama sekali. Masih mencoba menenangkan diri, Kira beranjak dari tempat duduknya kemudian menuju pantri untuk menyeduh kopi yang di minta bos nya itu.
Setelah selesai menyeduh kopi, dengan hati-hati Kira mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan Agra. Suasana ruangan kerja yang begitu remang dan senyap membuat Kira sedikit bergidik di tambah lantunan musik klasik dari piringan hitam di sudut lemari membuat Kira merasakan kalau ia sama sekali tidak berada di dalam sebuah ruangan kantor.
“letakkan di sana” ujar Agra tanpa menoleh dari berkas di tangannya.
Kira hanya menurut dan meletakan cangkir kopi yang ia seduh tadi ke atas meja yang di tunjuk oleh Agra. Tangan Agra tampak meraih cangkir kopi tersebut sama sekali tak menoleh pada Kira yang sudah menarik handle pintu.
Prang...
Baru satu kaki Kira yang melangkah keluar melihat itu Kira dengan cepat berbalik dan buru-buru berjalan mendekat pada meja Agra.
“Apa ada yang salah dengan kopinya?” Tanya Kira kebingungan bercampur panik melihat cangkir kopi yang pecah berserakan di lantai.
“kopinya terlalu manis” ucap Agra dengan wajah memerah.
“ah, maafkan saya akan menggantinya” Kira tampak panik sambil buru-buru berlutut meraih pecah gelas tadi untuk di buang.
Agra yang melihat itu langsung menarik tangan Kira sebelum wanita itu sempat meraih salah satu pecahan gelas di lantai.
“Kau sedang apa? Panggilkan saja orang untuk membersihkan ini”
Kira yang masih panik dengan cepat menarik tangannya dan hanya bisa menundukkan kepalanya mundur beberapa langkah masih tampak kebingungan dengan apa yang terjadi.
“ck” Agra berdecak kesal kemudian meraih telepon di mejanya menelepon seseorang dan langsung di tutup dengan cepat setelah ia selesai berbicara.
Setelah menutup telepon Agra kembali pada Kira yang masih berdiri mematung dengan wajah ketakutan dan hampir menangis.
“memangnya kau baru bekerja hanya untuk menyeduh kopi saja tidak tahu caranya bagaimana, lalu harusnya kau bertanya lebih dulu kopi apa yang ku suka, banyak gula yang ku suka, bukan langsung membuatnya begitu saja”
Wajah Agra tampak memerah karena amarah yang meledak-ledak. Ia menatap tajam Kira yang terlihat tak berdaya di depannya.
“Jika tidak tahu bertanya, jangan diam saja” tambahnya masih dengan suara yang penuh emosi.
“Hiks...”
“Hiks...”
Bukannya jawaban yang Agra terima melainkan sebuah tangisan yang keluar dari wanita itu. Ia tampak mencoba mengelap air matanya yang jatuh sambil berusaha menyembunyikan tangisannya.
Tok...
Tok...
Di saat yang bersamaan pintu ruangan Agra di ketuk. Seorang OB masuk ke dalam kemudian langsung mengerjakan pekerjaannya, ia sedikit melirik ke arah Kira yang menangis kemudian kembali keluar setelah pekerjaannya selesai.
Tak ada kata-kata yang keluar dari keduanya setelah kepergian si OB, wajah Agra tampak berkerut tak menyangka kalau wanita itu akan menangis hanya karena ucapannya.
“keluar!!” perintah Agra tanpa menoleh pada Kira yang masih mengelap air matanya.
“Ta...tapi...kopi...kopinya?” tanya Kira dengan gagap.
“Ck” Agra kembali berdecak kesal dan hanya menatap tajam wanita itu, ia tak menjawab pertanyaan dari wanita itu.
“Baik saya permisi”
Melihat tatapan tajam dan tak senang dari bos nya itu Kira memutuskan untuk tak bertanya lagi dan memilih langsung pergi meninggalkan ruangan Agra. Di luar ruangan ia berpapasan dengan seorang pria tampan dengan senyum ramah di wajahnya.
“hmm? Kau baik-baik saja?” tanya pria itu setelah melihat mata Kira yang memerah.
Kira mencoba menyembunyikan matanya dan hanya mengangguk kecil.
“pasti Agra memarahimu, kan” tambah pria itu seolah dapat membaca pikiran Kira.
Melihat itu pria itu hanya tersenyum kemudian mengeluarkan sebuah permen dari dalam saku jasnya.
“Jangan menangis, aku akan memarahinya untukmu” ujarnya sambil meletakan permen tersebut di telapak tangan Kira kemudian menepuk pundak Kira dengan lembut lalu masuk ke dalam ruangan Agra.
Melihat permen s**u strawberry di tangannya membuat Kira tersenyum kecil. Pria itu tampak seperti seorang anak kecil yang kemana-mana membawa permen dan membagikannya pada semua orang. Namun, berkat pria itu tangisan Kira berhenti dan rasa sedihnya karena bos nya langsung lenyap begitu saja.
Sementara itu di dalam ruangan Agra yang tampak fokus pada berkas di mejanya tak memperhatikan Elwin yang sudah berdiri di depan mejanya sambil memainkan pulpen di tangannya.
“Apa itu perjanjian pembangunan dengan anak perusahaan kami” ujar Elwin sambil menunjuk berkas di tangan Agra dengan pulpen.
Agra mengangkat kepalanya dan langsung tersenyum lebar begitu melihat sahabatnya itu berdiri di depannya. Sahabat yang selama tiga tahun ini menghabiskan waktunya di Irlandia.
“Kau tidak mengatakan akan kembali hari ini” ujar Agra sambil berdiri di tempat duduknya dan berjalan memeluk Elwin.
Ia melepas pelukannya kemudian mengajak Elwin untuk duduk di sofa tamu.
“Aku kembali tiga hari lalu tapi karena restoran sangat sibuk, aku barusan bisa menemuimu hari ini”
Agra melirik arloji di tangannya, ia kemudian mengernyitkan dahi setelah menyadari kalau pria itu datang di saat jam kerja masih berlangsung.
“Kau tidak ke Erland? bukankah sekarang masih jam kerja?”
Dengan wajah tanpa dosa Elwin melipat kakinya sambil melebarkan kedua tangannya ke sisi kiri dan kanan lalu tersenyum jahil.
“Bahkan tanpa aku perusahaan tetap akan berjalan lancar”
Melihat wajah menyebalkan Elwin, Agra hanya bisa bersungut kesal mencibir cara bicara Elwin yang cukup menyinggungnya.
“Enaknya menjadi anak kedua” tambah Elwin lagi membuat Agra semakin mendidih.
Ia menendang meja di hadapannya kemudian kembali ke meja kerjanya dengan wajah muram. Sementara Elwin begitu menikmati kebebasannya sehingga ia hanya tertawa lebar melihat betapa sebalnya Agra padanya bahkan memperbaiki meja yang tadi Agra tendang.
“Oh ngomong-ngomong, wanita cantik di depan itu sekretaris barumu?”
Elwin mengalihkan pembicaraan mereka sambil menunjuk pada jendela luar yang menampilkan seorang wanita terlihat sibuk di depan komputer sambil sesekali menahan air mata yang hendak jatuh.
“ya” jawab Agra singkat tanpa menoleh.
“baru hari pertama ia bekerja sudah kau buat menangis, apa yang sebenarnya direktur Carlisle Enterprise lakukan pada karyawannya”
Agra menurunkan pulpennya sedikit merasa bersalah pada Kira yang terlihat benar-benar ketakutan tadi.
“Eric yang wajahnya seperti ini saja tidak pernah berganti sekretaris selama bertahun-tahun” tambah Elwin sambil mempraktikkan wajah datar milik Eric.
Melihat kelakuan Elwin, Agra tampak tidak tahan dan mulai tertawa lebar sambil melemparkan pena di tangannya ke arah Elwin yang ikut tertawa terbahak-bahak.
“tidak ada salahnya kau bersikap lebih baik, cobalah ajak sekretarismu makan siang sebagai permintaan maaf, lagi pula jika aku menjadi karyawanmu setiap hari aku akan mengumpat di hadapanmu karena sikap burukmu itu”
Tawa Agra seketika menghilang ia tampak berpikir sejenak seolah merenungkan ucapan Elwin yang entah kenapa begitu melekat di pikirannya. Ia melirik keluar ruangan dan dari balik kaca terlihat sekretarisnya itu tampak sibuk dengan komputer di depannya melihat dari wajahnya yang cukup serius.
Elwin yang memperhatikan itu hanya tersenyum kecil kemudian beranjak dari tempat duduknya.
“Kau terlalu lama untuk bertindak, biar aku saja” putus Elwin kemudian membuka pintu ruangan Agra dan langsung menghampiri meja kerja Kira.
Menyadari kehadiran seseorang di hadapannya Kira buru-buru berdiri dengan tegap di balik mejanya.
“Namamu?”
“Kira... saya Kira Morgan” jawab Kira cepat.
“Kira nama yang cantik” ujar Elwin sambil tersenyum manis.