Lagi-lagi Kira sangat terpesona dengan senyum ramah dan aura menyenangkan dari pria di hadapannya, entah kenapa pria itu dapat membuatnya merasa nyaman.
“Aku sudah memarahinya untukmu dan sebagai permintaan maaf Agra akan mentraktirmu makan siang”
Kira terlihat kebingungan ia menoleh ke arah ruangan Agra begitu ia mendengar suara pintu dan melihat wajah Agra yang memerah karena ulah Elwin.
“Oh, kebetulan orangnya sudah di sana, kalau begitu sampai jumpa” Senyum jahil mengembang di wajah Elwin, ia langsung pergi begitu saja dengan amat santai setelah mengatakan hal-hal yang sulit di percaya bagi Kira.
“Yang dia katakan tidaklah benar, jangan mendengarkannya” Ucap Agra dengan tegas sambil mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
“ah, jadi anda tidak berniat mentraktir saya makan siang” Kira menangguk kecil memahami dengan cepat ucapan Agra.
Mata Agra kembali melotot, ia menoleh cepat pada Kira yang tampak kecewa kemudian berdehem pelan.
“Maksudku bukan tentang itu, aku akan tetap mentraktirmu”
“oh jadi aku tetap mendapatkan makan siang gratis, yes”
Batin Kira kesenangan mencoba menyembunyikan rasa bahagianya karena bisa menghemat pengeluarannya namun meskipun ia berusaha keras senyum lebar di wajahnya tak dapat ia sembunyikan setelah mendengar Agra tetap akan mentraktirnya makan siang.
“Terima kasih atas kebaikan hati anda” ujar Kira berusaha memberikan pujian pada Agra.
Wajah Agra malah semakin memerah, ia lalu mengeluarkan sebuah kartu dari dompet ya dan meletakannya di telapak tangan Kira. Kini giliran Kira yang kebingungan melihat kartu hitam di telapak tangannya berbaring cantik dan mengkilap seolah memanggilnya untuk menggunakannya segera.
Kira mengerjapkan kedua matanya menatap Agra yang tampak kebingungan harus berbicara apa namun pria itu tetap berusaha terlihat tenang.
“Kau bisa membeli apa pun untuk makan siangmu dengan kartu itu”
Ucapan itu adalah sebuah sinyal untuk Kira bisa berfoya-foya dengan bebas di hari pertamanya bekerja namun Kira langsung menggelengkan kepalanya cepat berusaha menghilangkan bisikan tidak baik yang keluar beberapa saat lalu.
“Ahhh... terima kasih, saya akan segera mengembalikannya pada anda”
“ya” pria itu hanya menjawab singkat kemudian kembali masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintu dengan cepat.
Agh...
Suara teriakan terdengar dari dalam seolah pria itu baru saja menabrak sesuatu, saat Kira hendak memeriksanya pria itu sudah berteriak lebih dulu.
“Aku tidak apa-apa, jangan masuk” perintahnya membuat Kira mau tak mau menurut dan kembali duduk di kursinya sambil menatap Black card di tangannya.
Pikirannya sudah dapat membayangkan steak premium hangat yang di masak dadakan di depannya dengan bumbu-bumbu berkelas, memikirkannya saja sudah membuat Kira meneteskan air liur.
Namun, semua itu hanya ia bayangkan karena saat ini ia sedang duduk di sebuah restoran kecil yang menyajikan banyak pilihan salad. Dengan malas Kira menatap bos nya yang plin plan tengah memilih menu salad dengan serius. Kira bahkan tak tahu sensasi apa yang di dapat dari memakan rumput.
“yang benar saja, steak premium kesayanganku lenyap begitu saja”
Tangisan batin Kira sepertinya dapat di baca jelas oleh Agra. Pria itu menurunkan buku menu kemudian meminta Kira mendekat ke arahnya. Kira mendekatkan wajahnya mencoba mendengarkan apa yang hendak pria itu katakan.
“lain kali aku akan mentraktirmu makanan yang kau inginkan, saat ini aku sedang berolahraga jadi harus menjaga makananku” jelasnya
Kira kembali menjauhkan wajahnya kemudian tersenyum pahit berusaha terlihat tidak kecewa.
“lagi pula untuk apa dia memberikanku kartu jika dia tiba-tiba ikut keluar bersamaku”
Lagi-lagi Kira kembali menggerutu di pikirannya, masih tidak paham kenapa pria itu mendadak ingin ikut dirinya pergi makan siang setelah dengan malu-malu memberikan kartu padanya.
“ngomong-ngomong aku minta maaf soal tadi, aku tidak bermaksud membentakmu”
Mata Kira langsung melotot mendengar seorang Agra Carlisle meminta maaf padanya, jujur saja pria ini tak seperti gosip yang ia dengar. Gosip yang bilang kalau Agra Carlisle sombong dan kasar, meskipun awalnya Kira sempat takut dan bahkan menangis karena cara bicaranya namun setelah mengenalnya Agra merupakan seorang pria yang cukup sopan dan perhatian.
“anda tidak perlu minta maaf, lagi pula yang anda katakan tadi benar dan berkat teman anda yang baik itu saya juga tidak merasa terlalu sedih lagi, saya berjanji akan melakukan pekerjaan dengan baik meskipun tidak berpengalaman”
“Kau menyukai Elwin?”
Kira tampak bingung sesaat kemudian langsung paham setelah mengingat kalau Agra sempat bergumam menyebut nama seseorang saat di kantor tadi.
“oh jadi namanya Elwin, tentu saja dia pria yang cukup menyenangkan”
Dahi Agra mengernyit tak senang dengan jawaban Kira “Kau tidak boleh menyukai pria seperti itu, Elwin itu b******n jauh lebih b******n dari para b******n yang pernah kau temui”
Melihat Agra yang tampaknya sedang memaki sahabatnya sendiri itu membuat Kira hanya bisa mengerjapkan kedua matanya merasa heran dengan pertemanan keduanya yang terlihat aneh. Selama hidupnya ia belum pernah sekalipun melihat seorang teman memaki temannya sendiri seperti yang Agra lakukan pada Elwin.
“Kau paham, kan” putus Agra tiba-tiba sambil menatap Kira tepat ke matanya.
Mau tak mau Kira menganggukkan kepalanya karena perintah bos adalah kewajiban baginya terlebih Agra adalah orang yang memberikan makan untuknya.
“Bagus, kau sangat polos jadi sudah pasti langsung menyukai pria sepertinya tanpa pikir panjang”
Entah apa yang di ocehkan oleh Agra, Kira hanya bisa menganggukkan kepalanya setuju dengan semua ucapan Agra demi kenyamanan makan siangnya hari itu.
Hari yang melelahkan itu akhirnya berlalu, setelah sampai ke apartemennya Kira merebahkan tubuhnya di atas kasur bahkan tanpa berganti pakaian lebih dulu. Ia masih terus terngiang dengan cerita dari rekan-rekan di kantornya tentang bos nya yang aneh itu.
“Agra Carlisle terlihat lebih santai setelah teman baiknya kembali dari Irland itu sebabnya kau termasuk sekretaris yang beruntung”
“benar sekali, sekretaris sebelumnya mengalami penyiksaan yang parah bahkan kami semua tidak dapat bergosip seperti saat ini kemarin-kemarin”
“Ya, lingkungan kerja menjadi sangat menekan, salah sedikit saja Agra Carlisle akan mengamuk bak singa”
Semua obrolan itu terasa seperti mereka tengah membicarakan dua orang yang berbeda. Sementara Agra yang Kira lihat hannyalah seorang pria kikuk dan pemalu, pria yang sangat bingung bagaimana caranya berbicara dengan seorang wanita. Mengingatnya saja sudah membuat Kira tertawa sendiri karena betapa menggemaskan pria itu di matanya meskipun ia sempat membuatnya menangis di awal.
Namun, perhatian Kira tiba-tiba beralih pada Elwin. Seorang pria ramah dengan senyum hangat dan mata biru yang selalu berbinar-binar itu tentu saja dapat membuat semua orang jatuh cinta. Anehnya pria seperti itu dapat membuat Agra yang kaku menjadi seorang pria yang banyak bicara, entah pertemanan seperti apa yang keduanya miliki Namun jelas bagi Kira kalau Agra sangat menuruti ucapan Elwin.
Kira meraih ponselnya yang berada di sampingnya, ia kemudian membuka mesin pencari dan mencari nama Elwin. Hanya dengan nama depan saja pencarian teratas langsung muncul.
Elwin Erland pacar
Kencan Elwin Erland
Kekasih baru Elwin Erland
Dan berbagai pencarian lain tentang Elwin yang rata-rata di penuhi dengan kata kencan dan wanita.
“pantas saja Agra berkata seperti itu, lihat berapa banyak wanita yang ia temui setiap bulan”
Kira terus menelusuri pencariannya karna seperti telah membuka dunia baru setiap hal yang ia baca tentang Elwin Erland sangatlah menarik.