Gelak tawa terdengar di sebagian tempat pesta kali ini. Santanael telah mencuri perhatian, kemarahan tampak di ujung sudut ruangan, dua orang duduk dengan pandangan berbeda.
"Jangan banyak berfikir" tegur nyonya besar pada Rafael, matanya memandang tajam kearah Santanael, tangan mengelus kucing hitamnya, Mr James. Rafael melirik sedikit kearah nyonya besar dengan rasa tak terima. "Ibu membelanya? aku putramu sedangkan dia anak selingkuhan!". Decak tak setuju keluar dari nyonya besar sebelum bangkit. "Anak selingkuhan atau bukan, nyatanya kamu tak bisa memberikan aku cucu, sayangnya lagi anak itu terdaftar sebagai anggota keluarga kita" ucap kesal nyonya besar meninggalkan Rafael sendirian.
Tangan Rafael mengepal tanda menahan marah yang teramat sangat. Salah satu pria disampingnya mengusap tangannya lembut. "Jangan gegabah. Disini terlalu banyak saksi" cegahnya sambil tersenyum manis di depannya. "Kamu memang paling mengerti denganku. Dimana istriku yang ke empat? mengapa ia tak turun mendampingi aku?" tanyanya celingukan padahal tadi ia ke kamar mencari dokumen tentang Santanael sempat meminta istrinya untuk turun. "Mana aku tahu" jawabnya mengangkat bahunya santai, Rafael tak pernah tahu isterinya menjadi bulan-bulanan pria di sampingnya. Kecemburuan bisa menjadi malapetaka siapa saja entah jenisnya apapun itu.
Nyonya besar menghampiri kerumunan dengan membawa Mr James di tangan. Semua tahu kebiasaan nyonya besar yang kemana-mana membawa Mr James dan tak ada yang berani menegurnya.
"Acara utama sebentar lagi dimulai, bersiap-siap bagi anggota baru" tegur nyonya besar membuat semua orang yang mengelilingi jengah dan tak percaya dengan acara kali ini. "Mengapa wajah kalian seperti terserang demam, hah!" tanya nyonya besar bingung melihat satu persatu wajah yang memerah. "Apa sebaiknya acara ini ditiadakan mengingat ada anak kecil disini?" tanya salah satu anggota keluarga jauh. "Diwakilkan saja" jawab nyonya besar acuh tak acuh meninggalkan mereka semua dalam kebingungannya dan ketidaksukaan terjadi.
Kepala pelayan mendesah dalam hati. Ribuan abad tak pernah dikiranya akan ada hari dimana ia tak berkutik pada nyonya besar.
"Apa kamu akan memanggil sang ibu untuk mewakili acara kali ini, adik?" tanya Black memiringkan kepalanya kepada adiknya, kebiasaan buruk black jika terjadi masalah maka ia akan memanggil kepala pelayan dengan panggilan adik. Dengusan dingin yang diberikan padanya dan itu cukup membuat black tertawa terbahak-bahak karena tahu jika memanggil sang ibu hadir dalam pesta , bisa dipastikan akan terjadi kehebohan.
Orang yang sudah di anggap mati tak mungkin muncul lagi di acara orang hidup tapi tak ada salahnya bermain-main untuk menghibur hati yang resah. Black menganguk samar pada orang yang berdiri dekat pintu, sekejap mata ia menghilang dari rumah ini.
Victoria tahu hal ini akan selalu menjadi masalah di sepanjang sejarah bahkan gara-gara inilah hidupnya tak pernah berakhir dengan baik.
Sejarah panjang mengenai acara puncak ini adalah meminum darah di cawan suci yang diberikan sebagai tanda kesetiaan pada keluarga keturunan iblis. Cawan suci ini biasanya berasal dari tangan yang benar-benar suci hatinya maupun pemikirannya sehingga darah yang dituangkan dalam cawan tak berujung dengan pertempuran iblis dan manusia.
Kepala pelayan mulai waspada ketika beberapa orang mulai menyingkirkan meja perjamuan, di tengah-tengah akan ada altar pemujaan yang dipakai untuk acara puncak.
Gelak tawa atau bercakap-cakap satu persatu berubah menjadi kuburan bahkan terlihat satu dua mulai takut untuk melakukan hal ini. Orang-orang baru yang terpilih akan maju dan menyodorkan tangannya untuk disayat, darah yang akan keluar akan diletakkan di piring kecil lebih dulu.
"Victoria!" perintah Balck padanya. Walau enggan, Victoria berjalan menuju tengah. Beberapa orang memberikan jubah untuknya, semua diperhatikan peralatan perak dan emas yang bercampur menjadi satu.
Cawan suci ada di tengah-tengah meja, di sekitarnya ada piring-piring kecil yang nanti untuk menampung darah. Pisau kecil terdapat berbagai macam bentuk, sisi tajamnya telah diproses dengan baik.
Victoria menganguk kepada wakil dunia manusia yang menandakan ia cukup puas dengan semua peralatan acara puncak yang akan digunakan. Sulit baginya tak memperdulikan budaya ribuan tahun ini, jika bisa melewatinya maka ia akan melakukannya dengan senang hati. Setelah memastikan ia berjalan kembali menuju tempat Black berdiri disamping kepala pelayan.
Suara sepatu memecahkan keheningan di ruangan perjamuan, angin malam berhembus kencang, suara-suara binatang bersautan menambah rasa takut yang mendengarkan. Mereka semua menoleh kearah suara sepatu.
Langkah kakinya benar-benar mengusik rasa ingin tahu. Sang ibu berjalan dengan wajah marah, mengunakan gaun berwarna merah maroon dengan model sabrina menampilkan bahunya yang putih seputih batu pualam, rambutnya bergelombang jatuh di belakang punggungnya berwarna hitam, sepatunya berwarna senada dengan warna gaunnya tapi yang menarik dari semua itu kaki jenjang terekspos karena gaun itu hanya sebatas betis sehingga semua mata menatap takjub. Bagaimana diusianya tidak memperlihatkan sedikitpun kecacatan akibat melahirkan seorang anak.
Kepala pelayan menelan ludahnya susah payah. "Kamu takut, heh!" gurau black kalem padanya. "Tidak! hanya tak nyakin akan selesai dengan mudah" katanya datar, sempat menangkap mata di ujung ruangan yang bergerak maju untuk mendekati.
Kaki sang ibu semakin dekat demikian juga dengan Rafael yang bergerak cepat-cepat menghampiri. Ia terpesona dengan kecantikan sang ibu, seumur hidup tak melihatnya dengan mata yang benar dan kini bagaikan putri jatuh dari khayangan.
"Istriku!" panggilnya dengan antusias. Semua orang terkesima mendengar panggilan yang aneh dan janggal. Era modern seperti ini, siapa yang memanggil seseorang dengan nama istriku? hanya Rafael saja karena ia sudah lupa dengan namanya.
Sang ibu terpaksa berhenti kemudian tertawa terbahak-bahak mendengar panggilan yang mengelikan keluar dari seorang pria ditakuti keluarga Van de BLU. Kerutan tak suka muncul di wajah Rafael, tidak anak atau ibu sama saja, bikin dirinya kesal bukan main.
"Siapa kamu?" tanyanya pelan. Pertanyaan yang membuat semua orang di ruangan tegang luar biasa termasuk kepala pelayan. Haruskah kepala pelayan mengambil tindakan mengingat disini banyak mata yang sewaktu-waktu dapat mencongkel matanya keluar dari kepala.
"Aku suamimu Rafael" jawab Rafael kecewa. Tadi sempat berharap sang ibu mengenalnya tapi ia terlalu meremehkan wanita sialan di depannya, seharusnya ia dulu membunuhnya.
"Maaf suamiku sudah lama mati. Aku kemari untuk membawa putriku pulang dari sini. Bisakah anda tidak menghalangi jalanku?" tanyanya sambil tersenyum.
Hembusan angin kencang membuat semua orang terdiam melihat perubahan ketegangan di sekitar mereka. Kepala pelayan sudah di dekatnya sambil menggendong Santanael yang tertidur pulas dalam tangannya. Tak terusik dengan keributan yang terjadi pada kedua orangtuanya. Semua berharap tak ada pertumpahan darah yang berakibat fatal menghilangnya keluarga Van de blu di tanah kelahiran mereka semua bertahun-tahun..