Abad pertengahan di tahun Masehi terjadi perubahan sistem dimana manusia dan iblis memiliki aturan yang jelas di masa itu. Demi mendapatkan kelangsungan hidup di buatlah sebuah perjanjian abadi untuk manusia dengan imbalan kekuatan iblis. Perjanjian abadi yang membuat semua menjadi manusia bertambah serakah dan gila untuk mencari celah agar selamat.
Isi perjanjian abadi antara lain :
• Anak pertama hasil perkawinan manusia dan manusia pengabdi iblis akan mati di tahun pertama jika menikahi manusia dan memiliki anak.
• Anak pertama hasil perkawinan manusia dan iblis akan menjadi pengikut iblis secara mutlak akan hidup abadi.
• Harta kekayaan sembilan turunan akan menjadi hak milik manusia pengabdi iblis dan keturunannya.
• Iblis akan membantu manusia pengabdi iblis jika mendapat masalah demikian juga sebaliknya.
• Semua sumber kekuatan iblis akan menjadi manusia bukan pengabdi iblis atau pengabdi iblis.
Manusia berusaha bertahan dengan pernjanjian tersebut , berlindung dari kekuatan iblis dan mulai bersikap semena-mena pada manusia tanpa kekuatan dan iblis. Namun, imbalannya sangat setimpal dengan kekuatan dan kekayaan.
Perubahan terjadi ketika salah satu manusia melanggar perjanjian abadi hingga urat saraf dan kekuatan muncul di kedua belah pihak.
Disinilah di putus menambah satu perjanjian abadi yaitu minum darah keturunan sebagai pengikat janji. Cawan suci digunakan sebagai permulaan.
Penambahan syarat hidup abadi :
• Turunan kesembilan harus memperbaharui perjanjian abadi mengunakan cawan suci.
• Kematian akan tetap terjadi apabila dicurangi oleh keturunan dari manusia ataupun iblis.
• Tiap tahun awal akan dilakukan perjamuan sebagai pengenalan keturunan dan penerus perjanjian abadi.
• Apabila dilanggar maka kedua belah pihak harus menerima konsekuensinya di akhir hidupnya entah manusia atau iblis.
• Manusia abadi tidak akan mati jika memberikan tumbal di awal tahun sebagai persembahan keabadian.
Setelah perdebatan panjang dan alot, akhirnya diputuskan wilayah Van de BLU menjadi titik awal.
Daerah pegunungan yang memiliki pemandangan eksotis dan dikelilingi lembah serta jurang menjadi pilihan sebagai tempat pertemuan dan perjamuan di tiap tahun awalnya. Manusia dan iblis membuat pernyataan yang sederhana demi kelangsungan hidup masing-masing.
Di setiap 100 tahun akan terjadi persatuan antara iblis dan manusia. Darah menjadi penghubung keduanya, cinta hanya sebagai pelengkap, gairah termasuk dalam persatuan yang mutlak.
Ribuan tahun bahkan abad telah berjalan hingga satu masa dimana cawan suci bergejolak mencari batasan diluar itu dan semua mencari keselamatan.
Black adalah penguasa iblis di neraka. Ia yang menentukan hidup dan mati manusia pengabdi iblis. Tak sedikit yang ingin lari dari perjanjian harus mati mengenaskan.
Kepala pelayan adalah adiknya yang bertugas sebagai pengawas jalannya perjanjian di dunia manusia.
Victoria adalah putri Black yang memiliki darah iblis bercampur manusia tapi sayangnya mati karena tak ingin melihat kesakitan hatinya.
Mereka bertiga hidup abadi sejak pertama dilahirkan. Banyak manusia silih berganti untuk memperbaharui perjanjian abadi.
Manusia yang hidup abadi sebenarnya sangat menderita karena melihat anak pertamanya akan mati kemudian pasangannya mati disitulah ia akan menikah lagi dan fasenya akan terus berulang hingga ia meminta iblis mencabut nyawanya.
Kematian manusia yang hidup abadi tak semudah dibayangkan orang. Ia akan mendapatkan kesakitan luar biasa melebihi manusia lainnya hingga jarang mereka mau untuk mati, mereka lebih suka memberikan tumbal pengganti.
Hidup mati di tangan langit. Walaupun sudah berusaha tapi ketika sudah waktunya maka manusia juga tak bisa luput dari kematian.
Cawan suci sebagai alat tumbal kematian seseorang. Jika ada perubahan warna pada darah yang ada di atas piring kecil saat dituangkan darah pada cawan maka sudah dipastikan akan mati. Tak seorangpun tahu bagaimana mereka mati.
Black yang mengatur semuanya hingga ketika manusia abadi menyadari kesalahannya, semua sudah terlambat termasuk pernikahan sesama mereka.
Santanael melihat wajah Gospar dengan mengerutkan dahinya, ada sesuatu yang aneh dengan tatapannya.
"Ada apa sayang?" tanya Victoria heran melihat keponakannya memandang wajah di seberang ruangan dengan tatapan ingin tahu.
"Tidak ada. Aku hanya merasa harus lari sejauh-jauhnya dari pria tua itu" jawab Santanael gelisah.
Victoria tak tahu harus menangis atau kasihan pada Santanael, pasalnya garis pernikahan Santanael dan Gospar sudah ditentukan sebelum kelahiran Santanael sendiri tahu.
Gospar adalah keponakan jauh dari nyonya besar. Ia berasal dari keturunan manusia abadi maka sudah dipastikan tak bisa mengelak dari takdir dan nasibnya.
Black menyesap anggurnya yang terasa pahit, ritual yang mulai membosankan baginya sedangkan kepala pelayan sibuk melayani semua peserta perjamuan, satu persatu darah di ambil mengunakan pisau yang khusus.
Cawan suci jugalah yang menentukan pernikahan tapi Black lah yang membuatnya terjadi. Matanya menatap tajam kepala pelayan yang mendekati sang ibu disampingnya Santanael dan Victoria berdiri dan Rafael.
"Aku menjemput putriku" kata sang ibu pelan. Mata kepala pelayan mengelap seperti malam tak berbintang. Ada rasa takut di hatinya. "Mengapa kamu pakai gaun ini? apa kamu ingin menggoda pria-pria disini?" tanya kepala pelayan kesal berbalut cemburu.
Mendengar kalimat bodoh yang dilontarkan kepala pelayan, bikin Victoria geram. "Apa maksudnya? apa aku harus mengunakan pakaian tak layak pakai di acara semegah ini? apa kamu sudah gila!" tuduhnya lantang membuat semua mengarahkan matanya menghadap mereka.
Victoria dan Santanael menghela nafasnya secara bersamaan. Mereka berdua tak habis pikir, otak kepala pelayan ada dimana. Benarkah karena cinta, iblis atau manusia akan berubah menjadi bodoh.
Rafael menatap tak suka pada kepala pelayan rumahnya. Biar bagaimanapun sang ibu masih berstatus istrinya depan hukum dan agama.
"Apa maksudmu bertanya begitu pada istriku?" tanya Rafael tak menyukai. Kali ini dipastikan akan muncul ketegangan kebodohan jika tak segera dilerai hingga membuat ritual akan terganggu.
"Bisakah kalian menundanya! waktu terus berjalan, aku takut bukannya tidak mendapatkan restu dari cawan suci yang ada minta tumbal dari kalian manusia" tegur Victoria cepat.
Mereka bertiga menoleh kearah Victoria dengan tatapan tajam. Black tertawa terbahak-bahak melihat ala FTV di depan matanya. Santanael mengelengkan kepala melihat semuanya.
"Ayolah kalian tak berfikir jika melewati batas waktu akan terjadi kehebohan. Apa kalian sudah memiliki tumbal untuk diberikan pada raja neraka" kata Victoria melirik Black yang masih asyik tertawa.
Sungguh ayahnya adalah i***t termasuk kepala pelayan, pamannya. Mendengar kalimat itu, tangan sang ibu ditarik mendekati kearah meja di tengah.
Kepala pelayan merasa jengkel setengah mati. Hatinya mengomel tiada habis-habisnya. Sang ibu merasa terpaksa mengikuti kalau tak ingin dipermalukan.
Kasak kusuk mulai terdengar, mereka mengira sang ibu telah mati menjadi tumbal tapi nyatanya tidak demikian. Apa yang sebenarnya terjadi? mereka semua menoleh kearah Santanael yang berdiri dengan kemarahan luar biasa.
"Paman, apakah aku boleh membunuh semua orang di ruangan ini?" tanyanya polos yang langsung di sambut gelak tawa Victoria dan Black. "Aduh sangat mengemaskan, kamu sangat mirip dengan bibi. Tenanglah waktu mereka juga tak akan lama. bersabar!" jawab Victoria pelan.
Buah jatuh selalu tak jauh dari batangnya. demikian juga Santanael, ia memiliki kekuatan yang mampu membuat orang lupa segalanya.