Ritual dimulai dengan ketenangan namun juga tegang. Darah yang bercampur menentukan nasib masa depan mereka semua, entah pernikahan atau kematian. Santanael menatap serius ke arah cawan. Suara teriakan kekecewaan, ketakutan, kemarahan dan kebahagiaan terdengar menjadi satu. Piring-piring terisi darah, ketika bercampur menjadi satu maka telah terjadi pernikahan maka akan terdengar suara bahagia. Apabila darah tidak bercampur menjadi satu maka akan terdengar kekecewaan karena menandakan tak ada pernikahan di antara mereka atau malah terpaksa menikah. Tidak semua orang mau dan menyukai pernikahan yang ditentukan. Apabila darah yang bercampur berwarna gelap berarti kematian akan datang menjemput, disinilah orang yang bersangkutan akan berteriak marah hingga histeris, tak ada yang mau mati, kondisi kematian juga berbeda-beda hingga rasa sakitnya tidak ada yang tahu.
"Bibi peri, mengapa darah orang beda di tuangkan di piring yang sama?" tanya Santanael heran, memang belum gilirannya. Victoria menghela nafasnya, bagaimana caranya menjelaskan kepada anak lima tahun, diliriknya Black yang ada disampingnya. "Jangan lihat aku" kata Black santai sambil menggoyangkan gelasnya, sejak awal perjamuan hingga sekarang, kecepatan minum Black tak berkurang bahkan bertambah cepat.
"Ya, itu untuk menentukan pernikahan dan kematian seseorang" jawabnya pelan. Santanael terbelalak mendengar itu, "Aku tidak mau menikah atau mati dengan cara itu, bibi peri. Kakek, hentikan menggoyang gelas wine ketika aku di depan, ingat itu kakek" ancam Santanael melihat kearah Black dengan tatapan tajam. Biarpun kecil tapi ia terlihat berbeda dengan anak kecil lainnya.
Victoria terkejut bahkan menoleh kearah Black. "Jangan lihat padaku, bocah ini memang tajam segalanya" kata Black pelan. "Pernikahan mu sudah ditentukan, untuk apa lagi aku terlibat" katanya lagi sambil menatap tajam Santanael.
"Aku tidak setuju kakek, kalau sampai terjadi, Santana akan buat siapapun itu susah" tolak Santanael kesal. Bagaimana bisa sang ibu diam saja mengenai masalah ini, matanya melihat sang ibu dan kepala pelayan yang sibuk sendiri di sana.
Black mengelengkan kepala mendengar kalimat itu keluar dari Santanael pasalnya di saat bersamaan kepala pelayan tak jauh beda dengan Santanael.
Benar juga kata orang, buah tak jauh dari pohonnya, tapi ini keturunan manusia, apakah pepatah itu bisa dikatakan berlaku juga untuk iblis, tak ada yang tahu jawaban pastinya dan hal ini menarik minat Black untuk membuat Santanael kesulitan di masa depan.
"Tak bisakah kamu diam saja dan mendampingi aku" bisik Kepala pelayan mengengam tangan sang ibu supaya tak bergerak kemana-mana, sedikit menyulitkan mengawasi jalannya ritual, kecemburuannya juga masih di tingkat siaga satu ditambah Rafael yang menempel bagai benalu. "Aku hanya ingin menjemput putriku, apa urusannya denganmu" bisik sang ibu berbalik sebal, mereka berdua saling bertatapan dengan tegang, "Jangan lihat aku seperti itu kalau tak ingin aku lakukan sesuatu disini yang bisa bikin kamu syok" ancam kepala pelayan kesal, bisa-bisanya mengatur dirinya. "Apa! ini mataku, terserah aku mau melihat apa dan siapa" elak sang ibu bertambah sebal, berusaha menarik tangannya tapi tetap saja tak bisa malah badannya bertambah dekat dengan kepala pelayan. Kasak kusuk keduanya membuat Rafael merasa menyesal mengapa dulu melepaskan malah dinikahkan kepada kepala pelayan.
"Bagaimana kalau kalian menikah saja?" kata salah satu tetua dengan tersenyum, mata Rafael melotot kepada yang mengusulkan, terdengar suara tetua lainnya masih melakukan ritual untuk pasangan lainnya dan suara memperingatkan dilakukan tetua lainnya.
"Dia masih istriku, tidak mungkin menikah dengannya" bantah Rafael dengan nada sedikit tinggi. "Siapa yang bilang dia istrimu" ucap sengit Kepala pelayan, enak saja mengaku-ngaku istri padahal bukan itu sebenarnya yang terjadi. "Sudah jelas bukan dan kapan aku menceraikannya!" tuduh Rafael tak kalah sengitnya, mereka berdua berhadapan dengan wajah tegang.
Sang ibu bengong mendengarnya, bagaimana bisa dua orang yang membuat dirinya menderita malah memperebutkan dirinya, kemana saja mereka berdua saat itu, dasar laki-laki tak tahu di untung keluhnya bertubi-tubi dalam hati.
"Kapan kamu menikah dengannya? Tuan Rafael yang terhormat sepertinya anda menggingau saat ini, sebaiknya anda perhatikan lagi dokumen-dokumen diatas meja anda sebelum mengklaim sesuatu yang bukan milik anda" protes Rafael tak terima.
Wajah Rafael merah, ini ketiga kalinya, ia dipermalukan di hadapan tetua. "Apa maksudmu?" tanya Rafael tak mengerti. "Tidak ada tapi untuk lebih paham, anda lebih baik mengeceknya segera" jawab Kepala pelayan dengan nada suara rendah.
Tetua-tetua mengelengkan kepala melihat mereka bertiga. "Begini saja, kita lihat percampuran darahnya. Jika sesuai, tidak perlu lagi diperdebatkan atau di ributkan, bagaimana?" tanya salah satu tetua.
"Aku setuju dengan kata tetua tapi kalau dia.... aku nyakin tak akan setuju" sindir Rafael terhadap Kepala pelayan. "Baik, aku setuju, siapa takut" ujar Kepala pelayan cepat, enak saja bilang dirinya takut, tidak ada kamus takut untuk masalah sepele begini.
"Eh aku...." kata sang ibu terlambat, pisau menggores jarinya cepat. Darah mengalir di atas dua piring. Tetua yang bertugas membaca mantera berusaha tenang. Mata semua orang yang berada di tengah berubah-ubah tak tentu melihat piring keduanya. Satu piring milik Rafael lebih dulu diletakkan diatas cawan suci, tak ada pergerakan sama sekali, melihat itu wajah Rafael bertambah marah kemudian satu piring milik Kepala pelayan diletakkan di atas cawan suci, awalnya tak ada pergerakan tapi perlahan-lahan bercampur menjadi satu dan berwarna merah terang.
"Bagaimana bisa!" teriak marah Rafael, Kepala pelayan tersenyum dan tertawa senang sedangkan sang ibu menjadi pucat dan bingung.
"Kamu sudah lihat tuan, sejak awal dia memang milikku!" ujar santai Kepala pelayan sambil memberikan isyarat tegas ke arah tetua, Rafael bergerak maju ingin melakukan sesuatu tapi tak bisa karena keburu tangannya dicekal oleh tetua lain. Biarpun panggilannya tetua namun umur mereka masih muda dan kuat sehingga menyulitkan Rafael bergerak.
"Tuan Rafael jangan gegabah, apa yang diputuskan oleh cawan suci tak bisa ditentang" kata salah satu tetua yang posisi berdiri dekat Rafael. "Kita disini melakukan ritual tiap tahun bukan ingin memulai tradisi baru" ucap tetua lainnya menyindir.
Rafael terpaksa menahan diri, dilihatnya nyonya besar mengelengkan kepalanya tak menyetujui jika ada kekerasan di rumahnya.
Tetua-tetua tersebut segera mengambil kedua tangan yang terluka untuk di satukan lalu di bacakan mantera pernikahan. Sang ibu hendak menarik tangannya dari tangan Kepala pelayan tapi pinggangnya ditarik benar-benar disampingnya dan ditahan kuat.
"Kau!"
Kepala pelayan menciumnya langsung dihadapan semua orang, kaget bercampur malu dirasakan bersamaan oleh sang ibu. Tetua-tetua hanya bisa menggelengkan kepala masing-masing, siapa yang tak tahu posisi Kepala pelayan di rumah ini dan perjanjian abadi.
Ketika dilepaskan ciumannya, sang ibu diam membisu dengan jantung berdebar dan tubuhnya gemetaran menahan gairah yang dibangkitkan Kepala pelayan, kalau tak ingin lebih malu maka ia harus diam saja.
Suasana diluar rumah tak seperti di dalam rumah yang tegang bercampur bahagia. Angin dan hujan mulai turun dengan deras bahkan kilat disertai Guntur menambah suasana di luar rumah menakutkan.
"Ayah!" panggil Victoria cemas. "Sudah seharusnya terjadi sejak dulu, tak mungkin kita biarkan Santanael menjadi anak diluar pernikahan perjanjian abadi" kata Black menggoyangkan gelas wine miliknya.
Santanael berdecak tak setuju, sejak dari tadi melihat semuanya bikin ia berfikir keras. Victoria mengendong Santanael karena takut berkeliaran kemana-mana padahal Santanael sendiri tak peduli masalah di gendong atau tidak.
Black melirik ke arah Santanael. Acara pernikahan adiknya termasuk pernikahan yang sangat rumit, tanpa campur tangannya tak mungkin terjadi. "Kakek, aku ingatkan lagi, jangan mencoba mengocangkan gelas wine di tengah sana saat Santanael maju. Kalau sampai Santana lihat kakek melakukannya, Santana akan buat perhitungan dengan kakek" ancam Santanael untuk kedua kalinya, Victoria hanya bisa menggelengkan kepalanya mengetahui anak pamannya benar-benar mirip.