Jarak hanyalah waktu yang tipis untuk pasangan. Ketika waktu sudah berpihak maka sesuatu lainnya hanya bisa mengikuti jalannya perjalanan.
"Ayo, Santanael... ini giliran mu" ajak Victoria mendekati kerumunan di tengah. Santanael yang berada di gendongan mengangguk namun matanya menyipit kearah sosok pria yang bergerak ke tengah. Rasa tak suka berlipat-lipat muncul di kepalanya, mau apa pak tua aneh ini ikutan ke tengah pikirnya.
Gospar sangat senang, akhirnya tiba gilirannya. Berusaha terlihat santai dan cuek padahal hatinya berdebar-debar jika ternyata salah, ia dan Santanael tak berjodoh lalu apa yang harus dilakukan.
Ketika hampir mendekat ke arah tengah tiba-tiba Santanael bergerak memutar badannya ke arah Black. "Kakek! hentikan gelasnya, awas ya, Santana bikin kakek susah!" ancam Santanael membuat semua orang bingung. Black mengeryitkan keningnya tak suka dengan teriakan Santanael, "Cih, dasar bocah setan! siapa kakekmu" geramnya dalam hati. Namun, Black adalah raja iblis, bukan masalah kecil untuk mengubah permainan sedikit dramatis.
Ribuan tahun ia melihat banyak macam peristiwa di dunia iblis dan manusia, baru kali ini Balck diancam oleh keturunannya sendiri. Sungguh harus diberikan pelajaran.
"Santana mana boleh begitu dengan kakek" tegur sang ibu berusaha mengambil Santanael dari gendongan Victoria tapi ditahan oleh Kepala pelayan. "Eh, kok" protes sang ibu bukannya bisa mendekati Santanael malah dipeluk erat dengan tak tahu malu. "Victoria bisa melakukannya, kita masih ada urusan setelah ini. Victoria titip setan kecil" perintahnya kearah Victoria yang melengos. "Lepaskan, aku harus bersama Santana" keluh sang ibu berusaha melepaskan diri. "Tidak!" tolaknya bertambah erat sehingga sang ibu tak bisa bergerak sama sekali. "Kamu longgarkan sedikit, ini terlalu erat" keluh sang ibu namun bukannya melonggarkan pelukannya, Kepala pelayan sedikit menundukan kepalanya hingga ke telinga sang ibu, "Bergerak sedikit lagi, aku pastikan kamu akan merasakan hukuman yang tak ingin kamu tahu"bisiknya sambil lidahnya menjilati sebagian dalam telinganya bikin merinding seluruh saraf sang ibu. Kepala pelayan tertawa dalam hati ketika badan sang ibu berubah kaku.
Piring-piring kecil di atur berbeda. Santanael mengerutkan kening, ini tidak sama dengan tadi, mengapa berbeda. Gospar melirik Santanael yang bersikap waspada, terlihat lucu, mana ada anak umur 5 tahun bisa berfikir serius.
"Bibi peri, mengapa pak tua ikut di sebelah kita?" tanya Santanael cepat menyembunyikan tangannya di balik punggungnya. Gospar melotot tak terima disebut pak tua.
Tetua-tetua dan Victoria tertawa mendengar pertanyaan Santanael, tawa bertambah kencang saat mulut Santanael cemberut. Gospar merasa tak akan mudah melewati tradisi kali ini, perasaan Santanael yang menolak dirinya bisa berpengaruh pada darah.
Santanael masih menunggu tapi bukannya dijawab malah tetap dilakukan. "Kemari kan tanganmu" pinta Victoria pada Santana. "Jawab dulu pertanyaan tadi bibi peri" tolaknya dengan keras kepala. Tetua-tetua saling berpandangan satu sama lain, Gospar bertambah tak tenang. Black menyeringai senang, Santanael akan menjadi masalah bagi banyak orang terutama Gospar.
"Itu.... " Victoria bingung sehingga meminta pertolongan para tetua, suara tawa tertahan terdengar tak jauh dari mereka, spontan menoleh ke kiri, ternyata Kepala pelayan.
"Setan kecil lakukan saja, ibumu sudah capek dan lapar, lagipula ayah juga ingin segera pulang" perintahnya berusaha membujuk tapi bergaya berwibawa agar mengalihkan perhatian semua orang pada pertanyaan Santanael dengan kembali pada ritual.
"Sebentar saja, tidak akan sakit, hanya seperti di gigit semut" kata Victoria cepat sambil menarik tangan Santanael. "Santana belum pernah digigit semut, bibi peri" ucapnya polos memandang semua orang dengan pandangan tajam sangat berbeda dengan mulutnya. "Karena itu, ayo mana tanganmu" bujuk Victoria menarik sekali lagi, begitu berhasil langsung di arahkan lebih dekat pada tetua.
Jari Santanael di tusuk dengan jarum, matanya bersinar terang mengawasi tapi mulutnya cemberut. "Mengapa pak tua di samping aku, bibi peri?" protesnya lagi. Tak ada yang mendengarkan, ketegangan dirasakan semua orang. ketika darah mengalir pelan, piring di letakkan di bawahnya untuk menampung demikian juga Gospar melakukan hal yang sama. Gospar yang mendengar hal ini melotot kesal, siapa pak tua, bisa-bisanya memanggil dirinya pak tua padahal ia adalah calon suaminya.
"Siapa pak tua, hah!" ucapnya kesal, Gospar harus ekstra sabar dengan Santanael yang masih di bawah usia. "Sabar... sabar Gospar ... calon istrimu masih kecil" batin Gospar dalam hati.
Darah Santanael berwarna merah bersih di tetesi darah Gospar. Darah Gospar berwarna merah sedikit tua berbaur menjadi satu. Semua orang melihat dengan tegang.
"Kenapa mau dipanggil pak tua, kalau tau sudah tua kenapa juga mau.... eh, ini kok ikutan darahnya di taruh piring milik Santana" protesnya panik.
Victoria tak dapat menahan ketawa demikian juga yang lainnya. Santanael bertambah cemberut, sementara Gospar menjadi semakin geram bercampur kesal dengan calon istrinya. Terbayang di kepalanya jika menikahinya pasti akan ramai.
"Lihat bibi peri, darah Santanael jadi berbaur dengan pak tua" keluhnya bahkan wajahnya seperti orang bersedih. "Kamu ini! jangan panggil aku pak tua terus, aku masih belum tua" protes Gospar cepat. Hatinya berbunga-bunga melihat darah mereka berdua berbaur jadi satu bahkan warnanya berubah sangat terang.
Beberapa tetua disitu segera mengucapkan mantera bahkan Black turut serta disini. Sang ibu berubah pucat sementara kepala pelayan mengeluh dalam hati tak percaya ternyata benar tebakannya dari awal.
Tangan Gospar mengengam erat tangan Santanael, berkali-kali berusaha melepaskan tapi kekuatannya hanya anak umur 5tahun mana bisa lepas.
"Eh, ayah ibu bibi peri.... kok tangan Santanael dijadikan satu dengan pak tua" katanya bertambah panik. Gospar tak bergeming hingga selesai tetua mengucapkan mantera.
Victoria menyerahkan Santanael ke dalam tangan Gospar yang hendak mengendong tapi Santanael berusaha keras untuk tidak melepaskan satu tangannya yang lain di leher Victoria.
Sekuat-kuatnya tenaga anak umur 5tahun, tetap saja tak bertahan lama, Gospar berhasil mengendongnya erat. Berontak juga tak bisa, bikin Santanael marah luar biasa.
"Untuk menyegel pernikahan ini bisa dilakukan mencium pasangan tapi karena di bawah usia, lebih baik pipi saja" usul salah satu tetua.
Mendengar itu mata Santanael melotot tak mau berusaha mengelak. Namun, Gospar tak peduli dengan usulan tersebut langsung saja ia mengecup sekilas bibir Santanael.
"Hwa..... pak tua m***m!" teriak spontan Santanael kencang. Akhirnya semua orang-orang tertawa terpingkal-pingkal mendengar teriakan Santanael. Sang ibu menutup mulutnya dengan kedua tangannya tak tahu harus mengatakan apa demikian juga Kepala pelayan yang hanya bisa mengaruk rambutnya.
"Eh enak saja bilang aku pak tua m***m. Kamu sudah jadi istriku. Nanti aku akan datang mengambil yang memang menjadi hak ku" ujar Gospar kesal, malu bahkan bahagia, sebuah perasaan bercampur aduk.
"Tidak! Santana akan buat kamu berfikir ulang!" tolak Santanael dengan tekad kuat sehingga mereka berpandangan dengan kuat, Santanael lupa jika masih di gendongan Gospar.
"Coba saja lari, kamu akan mendapatkan masalah jika melakukannya" katanya pelan sambil meletakkan kalung di leher Santanael.
Santanael berusaha melepaskan kalung berbandul cincin tapi tertahan oleh tangan Gospar yang besar. "Sekali kamu melepaskannya maka kamu tidak akan bisa pulang bersama ibumu" tantang Gospar cepat dengan mendelik.
"Sudah.... sudah... masih ada acara lain yang harus dilakukan" tegur salah satu tetua, mereka semua langsung bubar melanjutkan, Gospar segera mengembalikan Santanael ke tangan Victoria. Tangannya pegal mengendong.
Black tak tahu harus mengatakan apa jika Santanael bertanya padanya, tanpa campur tangannya ternyata takdir dan nasib sudah melakukannya dengan baik.