Santanael merajuk marah, bisa-bisanya ia yang baru berumur 5tahun menikahi pria tua. Walaupun baru pernikahan darah tapi tetap saja hati kecilnya menolak. Untuk anak umur 5tahun ia termasuk anak yang cerdas, itu yang di khawatirkan oleh Kepala pelayan begitu melihat sorot matanya yang menandakan akan terjadi masalah.
Acara baru saja selesai, Santanael duduk bersama kedua orangtuanya sedangkan tak jauh dari mereka, Gospar duduk dengan mata tajam. Entah apa lagi yang direncanakan pak tua pikirnya. Santanael berpura-pura tak tahu, Gospar bertambah kesal, ia ingin bicara tapi tak mungkin karena orang tua Santanael mengawasi ketat.
"Jangan lakukan itu!" tegur Kepala pelayan saat mengambil alih Santanael dari tangan Victoria. Sang ibu menatap keduanya tak mengerti sementara Victoria berjalan menjauh. "Apa? Santana tidak mengatakan apa-apa" keluhnya terlalu cepat sehingga membentuk rasa khawatir di hati Sang ibu. "Kita pulang saja, acara juga sudah selesai" bujuk sang ibu kepada Kepala pelayan, ia enggan jika disuruh menginap di tempat ini. Kepala pelayan menarik nafas panjang, di pojok sana Rafael menatapnya dengan pandangan mata mengancam sedangkan di sudut lain nyonya besar mengawasi bagai induk ayam melihat anaknya.
"Ayo pulang" ajak sang ibu berusaha menarik tangan Kepala pelayan tapi sepertinya kepala pelayan mempunyai pemikiran sendiri. "Kita titipkan setan kecil dulu di Victoria, aku masih harus berbicara banyak hal padamu" tolak Kepala pelayan buru-buru berjalan menghampiri Victoria yang berdiri di samping Black. "Ayah, aku Santanael bukan setan kecil. Bu, mengapa kamu mau dengan pria yang bodoh" keluh Santanael cepat. Kepala pelayan nyaris saja mengomeli tingkah Santanael yang tak berpendidikan mulutnya, tau begitu tadi tak diambil dari tangan Victoria batinnya kesal.
"Ada apa?" tanya Black dengan tatapan curiga pada kepala pelayan, adiknya. "Titip anakku sebentar, malam ini ia bersama kalian" jawab kepala pelayan cepat-cepat menyerahkan Santanael ke tangan Victoria. Mereka semua bingung dengan tingkah Kepala pelayan yang sepertinya terburu-buru ke suatu tempat.
"Kakek, aku capek!" ujar Santanael santai. Mata Black nyaris keluar jika mendengar satu kali lagi panggilan mengesalkan itu maka ia akan buat pelajaran penting tak terlupakan bagi Santanael. "Kau!" teriak Black kesal. "Ayah, aku ada acara dengan suamiku, tak bisa urus Santanael" keluhnya cepat.
"Bagaimana kalau ia menginap ditempat aku?" tanya sebuah suara pelan tapi terdengar keras. Mereka bertiga berpaling kearah suara di samping. Santanael mengeluh dalam hati, wajah Black berubah senang. Akhirnya yang di tunggu datang juga.
"Apa kamu tidak keberatan? Santanael anak yang manis kok tapi kalau kamu kesulitan...." ucapan ragu terdengar dari Victoria. "Tidak... tidak, aku tak keberatan" jawab Gospar cepat.
"Tapi, aku keberatan bibi peri" kilah Santanael cepat, heran dengan orang dewasa bisa menitipkan dirinya dengan orang asing. "Hanya malam ini saja" ujar Victoria cepat menyerahkan Santanael ke tangan Gospar.
Belum sempat, Santanael mengatakan apa-apa, mereka berdua hilang dari hadapannya. "Kamu tahu bukan aku suamimu jadi tidak masalah, aku mengurus istriku" ucapnya cepat tak peduli yang mungkin saja akan keluar dari mulut Santanael.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Gospar lumayan jauh dari rumah utama keluarga Van de BLU, Santanael berusaha untuk sadar tapi rasa kantuk menyerang dirinya, sehingga iapun jatuh tertidur. Tangan Gospar membelai rambut Santanael lembut. "Tuan?" panggil sopir di depannya. "Lakukan saja" katanya acuh tak acuh. Sopir Gospar sedikit takut mengingat Santanael termasuk cucu penguasa hidup dan mati, bagaimana bisa membawanya dengan santai ke arah yang berlawanan.
Tak mau buang waktu lagi, sopir segera berbelok menuju arah rumah yang dimaksud. Gospar masih melihat cara Santanael yang tidur dengan wajah polos. Mengapa kalau bangun, mulutnya bisa setajam silet. Mobil berhenti di depan rumah sederhana, wajah Gospar antusias mengendong Santanael untuk dibawa ke dalam rumah.
"Selamat datang istriku di rumah kita" bisiknya pelan di telinga Santanael, dasar Santanael masih anak-anak jadi tak peduli hal-hal beginian.
Gospar bahagia bukan kepalang dengan kondisi ini. Perlahan-lahan diletakkan ke atas ranjangnya, kamar tidur dihias dengan cantik, sayang ia tak bisa menyentuh Santanael pikirnya kemudian bersiap membersihkan diri sebelum tidur.
***
"Ayah, kamu ceroboh memberikan Santanael ke tangan Gospar" tegur Victoria tak suka dengan tindakan ayahnya kali ini. "Hei, biar bagaimanapun dia suaminya, siapa kita bisa mencegahnya" elak Black cepat berjalan mendahului Victoria memasuki rumahnya. "Tapi dia anak paman dan dibawah umur. Tak bisakah ayah, sedikit lebih manusiawi" keluh Victoria kesal.
"Tunggu! apa kamu bilang manusiawi? Victoria, sejak kapan iblis memiliki hal itu?" tanya Black berpura-pura bingung, suruh siapa berkata kakek, ia nyakin pagi datang akan terjadi keributan yang menghebohkan.
"Ayah!" panggil Victoria kencang tapi tak ada respon berarti yang diberikan Balck karena kecepatan menghilang lebih tinggi daripadanya alias berlindung di balik ibunya. "Victoria, jaga mulutmu, pulang ke rumahmu" tegur ibunya melotot kearah Victoria tajam. "Baik Bu, ayah aku tidak mau ikutan jika nanti paman akan marah" ujarnya sebelum pergi tinggalkan rumah Black.
"Jangan bilang kamu tinggalkan keponakan aku bersama suaminya" tuduh istri Black pelan. "Sayang, ini permainan yang harus dilewati setan kecil, jika selamat maka ia layak menyandang gelar keturunan iblis" ucapnya pelan berusaha mengalihkan perhatiannya dengan ciuman setelah mengatakan itu.
***
Santanael terbangun sebelum Gospar bangun. Mata kecilnya menatap kesal wajah Gospar berhadapan langsung dengan wajahnya , bisa-bisanya tidur disampingnya bahkan memeluknya erat. Perlahan-lahan ia bangun, tak bermaksud membangunkan tapi Gospar sangat kuat memeluk tubuh kecilnya.
"Pak tua bangun, tanganmu berat sekali" keluhnya sambil memukul lengan Gospar kencang. "Ada apa? kamu mau apa?" tanya Gospar antara sadar atau tidak. "Aku mau ke kamar mandi, cepatlah lepaskan aku" teriaknya kencang bikin refleks Gospar melepaskan pelukannya.
Santanael secepatnya kabur ke kamar mandi, Gospar menghela nafasnya berat, seharusnya bisa melakukan malam pertama tapi istrinya saja belum cukup umur, bisa-bisanya nanti di demo orang karena dianggap p*****l. Apa harus menunggu sampai umur 20tahun baru bisa merasakan, kalau begitu, umurnya mencapai 40 tahun, astaga malang benar nasibnya keluhnya dalam hati. Tanpa diketahui Gospar, Santanael melesat keluar dari kamar begitu selesai urusan dengan kamar mandi menuju ruang makan, perutnya lapar.
Air liurnya nyaris menetes melihat makan beraneka ragam sudah tersedia di atas meja. Pelayan mondar-mandir menyiapkan tidak menyadari Jika Santanael santai mengambil makanan tersebut lalu membawanya ke arah taman di belakang dekat ruang makan bahkan matanya tak lepas dari kolam renang yang tak jauh sedikit tertutup dari rimbunnya pepohonan dari taman.
Namanya juga anak-anak, melihat kolam renang yang menggoda, lama-lama tak tahan juga buru-buru ia makan tapi baru ingat tak membawa baju renang. Tapi bukankah dia anak-anak jadi sah saja main air dengan pakaian lengkap.
Byur.....
Suara air terdengar hingga di telinga Gospar yang masih tidur ayam. Tangan menepuk-nepuk sebelahnya dan langsung terbuka matanya, dimana Santanael pikirnya segera bangun. Bisa gawat jika terjadi sesuatu dengan istri kecilnya pikirnya lagi.
Ia menjadi panik ketika tak satupun pelayan yang mengetahui dimana Santanael. Semua orang rumah dikerahkan untuk mencari Santanael, gelisah menunggu kabar.