"Satu.... dua.... tiga.... Yee" teriaknya kencang. Tubuh kecilnya melayang jatuh ke kolam dengan wajah berseri-seri. Di rumah sang ibu tidak memiliki kolam renang, kemampuan berenang sangat baik karena ikut les renang di sekolah TK.
byur....
Gospar menoleh ke arah suara air, wajahnya pucat ketika ingat kedalaman kolam renang hampir mencapai 2 m dirumahnya. Cepat-cepat ia berlari kearah kolam renang, ia lupa memilikinya. Kepala menyembul keluar dari dalam kolam renang lalu berenang ke pinggir.
"Santana" gumamnya cepat menghampiri namun, kedatangannya tak di sadari oleh Santanael, ia hendak ancang-ancang lagi untuk masuk lagi ketika tiba-tiba ada yang menyambar badannya. "Eh...." teriak kaget Santanael pasalnya belum hilang kekagetannya, serbuan bibir menciumi wajahnya tak terelakkan.
Tangan kecil Santanael berusaha menghindari tapi tetap saja tidak bisa lolos. "Lepas!" teriaknya kencang. "Aku pikir kamu kabur". Gospar mempererat pelukannya. Tak dipedulikan baju yang membasahinya. Santanael berhenti berontak, percuma juga berontak tenaganya hanya sampai mana. "Aku mau kemana! aku masih kecil! lepas, pak tua!" teriaknya melengking ditelinga Gospar kehabisan kesabaran. Sudah tahu ia masih kecil malah peluk terus main cium. Ternoda wajahnya karena pak tua pikirnya kesal bukan main. Hampir saja Gospar melempar Santanael gara-gara suaranya yang mirip toak, sangat tidak elegan.
"Bisa tidak sih jangan panggil aku pak tua, panggil aku sayang atau suami atau sayang" keluhnya tapi tak melonggarkan pelukannya malah membawa Santanael ke bangku terdekat. Sontak wajah Santanael bingung, pak tua sudah gila kali ya, masih bagus ia punya otak bagus malah di suruh aneh-aneh.
"Pak tua, kamu sudah gila ya" ujar Santanael dengan kesabaran ditambah ekstra. Mata Gospar mendelik mendengarnya, sekarang dituduh gila, astaga ia tak sabar menunggu 15tahun lagi. "Hei... aku suamimu" teriaknya kesal. "Ya...ya... terserah, sekarang lepaskan, aku mau berenang" ucapnya mulai malas meladeni. "Tidak!" tolak Gospar cepat. "Tidak? kok... eh pak tua sadar diri dong, aku umur berapa" kata Santanael bingung, apa iya harus tanya ayahnya umurnya sendiri berapa. Gospar tertegun mendengarnya, benar juga ia sudah gila tapi bukan salah dia kan, anak keturunan campuran iblis manusia perkembangan badan berbeda dengan manusia biasa.
"Maaf tuan" sela pelayan rumah. Mereka berdua menoleh kearah suara yang menyela. "Ada apa?" tanya Gospar sedikit gusar dan kesal, momen terpenting bersama istrinya terganggu. "Ada tamu di ruang utama" jawab pelayan rumah takut. "Siapa pagi-pagi kemari?" tanya Gospar bingung, rumahnya tak banyak yang tahu kecuali Rafael. "Bawa masuk nyonya untuk berganti pakaian, aku kesana" perintahnya melepaskan Santanael untuk berdiri sendiri. Diambilnya handuk dari tangan pelayan untuk menutup tubuh kecil Santanael tapi di tepis hingga terjatuh di lantai.
"Aku masih ingin berenang" kata Santanael hendak melanjutkan tapi tangannya di cekal. "Aku tak beri ijin! ganti pakaian sekarang! jadi istri yang penurut atau kamu akan mendapatkan masalah setelah ini" ujar Gospar dengan nada tinggi. Bagaimana tak marah, ia ketakutan lalu mendekap tubuhnya dengan kuat kemudian tak ada rasa bersalah dari Santanael, bikin emosinya naik turun. Apalagi tubuh Santana mampu memberikan reaksi kimia luar biasa, seandainya ia tak menahan sekuat tenaga dan di ganggu oleh pelayan, mungkin ia benar-benar akan melakukan hal itu.
Mata Santanael menyipit kemudian berbalik menuju kamar diikuti pelayan dengan langkah tergesa-gesa. Gospar memijit tengkuknya dan terduduk di kursi. "Santana!" gumamnya dengan perasaan bingung 100% padanya.
Gospar bangkit sari duduknya setelah menenangkan diri selama 10menit kemudian berjalan menuju ruang utama. Rafael duduk manis sedang membaca ponselnya, di meja tersedia cangkir kopi yang tersisa setengah dan cemilan yang tak tersentuh.
"Bagaimana bisa kamu tahu ini rumahku!" kata Gospar dengan wajah datar, ia berharap Santanael tak kemari. "Sepupu, kamu sungguh tak sopan. Aku tentu saja selalu tahu dimana letak rumah setiap anggota keluarga" tegur Rafael meletakkan ponselnya ke dalam saku celananya. "Dan tak seorangpun tahu kecuali sejak awal kamu menguntit. Lupakan, basa-basi Rafael. Ada apa?" tanya Gospar duduk di sofa. "Aku dengar putriku menginap disini" jawab Rafael melirik kesana-kemari tapi orang yang dituju tak kelihatan. "Putrimu? Rafael, jangan buat drama disini" keluhnya, bertahun-tahun mengenal Rafael dan tahu sikapnya yang menjijikkan, ia malu mempunyai sepupu seperti Rafael.
"Dia putriku!" teriaknya gusar. Gospar menghela nafas berat, "Kamu ingat malam pertama dan penanda tanganan surat pernikahan, siapa yang lakukan?" tanyanya pelan. Rafael mengeryitkan keningnya mendengar pertanyaan itu, hatinya mendidih seperti ada yang membakarnya. "Kamu berpihak pada siapa, Gospar" pertanyaan dengan nada dingin yang dikatakan, sangat tidak nyaman karena secara tidak langsung membuatnya menjadi serba salah.
"Benar juga, dimana kamu berpihak pak tua?" tanya Santanael bersedekap berdiri tak jauh dari mereka berdua. Gospar bangkit dari duduknya secepat ia bisa untuk berdiri di sampingnya. Mata Rafael takjub melihat Santanael berdiri dengan aura menindas. Penampilannya tak sebanding dengan umurnya.
Gospar mengutuk habis-habisan dalam hati, mengapa tadi tidak berpesan kepada pelayannya untuk tidak mengijinkan Santanael keluar dari kamarnya. Badannya terlihat putih bersih sehabis mandi, segar bahkan wangi sabun dan shampo mulai tercium lembut. Bibir Santanael mungil berwarna merah polos tanpa efek kontaminasi lipstik, rambutnya tergerai sepunggung. Pakaian yang sengaja di belikan mendadak oleh orang kepercayaannya menambah daya tarik tidak sewajarnya anak umur 5 tahun.
"Apa kamu sudah makan, Santanael?" tanya Gospar berusaha mengalihkan perhatian dari Rafael kepada dirinya. "Pak tua, kamu pihak siapa?" tanya Santanael pelan sambil menoleh kearahnya, pandangan lembut membuat Gospar mulai merasa berhalusinasi, dimana Santanael yang menyebalkan dan cerewet. Gospar salah tingkah dibuatnya sementara Santanael sendiri bingung dengan tingkah Gospar.
Rafael mengamati tingkah keduanya dan ia tak suka. Ia kaget ternyata putrinya sangat cantik, tidak seperti semalam atau mungkin efek sehabis mandi sehingga mampu menggetarkan semua syarafnya minta pertolongan.
"Aku belum makan" kata Rafael acuh tak acuh berjalan santai melewati mereka berdua menuju ruang makan. "Siapa yang bertanya padamu? hei... siapa yang menyuruh masuk?" protes Gospar kesal bukan main mengikuti Rafael yang seenaknya masuk.
Santanael tak tertarik dengan tamu tak diundang kali ini, jadi ia berbalik menuju kamarnya tanpa mengucap apapun. Orang-orang dewasa yang aneh, mungkin ia akan bertanya pada ayahnya atau bibi peri tentang mereka berdua atau sang ibu. Setelah berenang dan makan sedikit tadi pagi, sekarang ia merasa capek, Biarlah ia mau tidur. Ia segera loncat menuju ranjangnya tapi belum menutup matanya, ia merasakan keributan depan pintu, entah apa itu, ia tak peduli, tak butuh waktu banyak Santanael sudah masuk kedalam mimpinya.
Pintu terbuka lebar, Victoria masuk kedalam kamar mendapatkan Santanael tertidur pulas. Tangannya meraih Santanael kemudian mengangkatnya. "Victoria, dia istriku" protes Gospar kesal, mengapa hari ini banyak sekali tamu tak diundang ke rumahnya dan buatnya serba salah. "Tunggu 15tahun baru bisa bicara jika dia istrimu, sampai hari itu, jauhkan tanganmu darinya" ucap Victoria sebelum menghilang membawa Santanael pergi. Gospar hanya bisa duduk lemas. Belum juga merasakan hubungan malah di ambil lagi.
Kedatangan Victoria yang mendadak di rumahnya kemudian bertemu Rafael bikin suasana rumahnya seperti Medan perang, seharusnya ia menyadari jika tak mudah membawa Santanael. Betapa tololnya ia. Gospar menarik nafasnya berjalan menuju ruang makan.