Empat jam sebelum Santanael keluar dari rumah Gospar.
Brak!
Pintu terbuka lebar, Victoria masuk kedalam setengah berlari di ruangan kerja Black.
"Ayah, kita harus menyelamatkan Santanael" teriak Victoria panik. Black meletakkan penanya ke atas dokumen yang sedang dibacanya. "Mengapa?" tanya Black menghela nafas, tidak seharusnya iblis berurusan dengan dunia manusia. "Dia berada di rumah Gospar, tidak kemungkinan Rafael akan muncul disana" jawab Victoria berjalan mondar-mandir di depan meja Black. "Bocah itu istrinya, Victoria. Secara iblis juga tak bisa kecuali orang tuanya yang bisa melakukannya" tegur Black hati-hati. Dunia manusia yang rumit membuat Black enggan berurusan tapi sepertinya akan sulit jika mengingat adiknya sibuk dengan sang ibu, apa ia harus ikut campur sedikit menambah drama didalamnya, melirik sekilas lalu tersenyum, tidak melalui tangannya sehingga ia tidak akan disalahkan adiknya, suruh siapa main pergi tinggalkan anaknya dibawah pengawasan Victoria.
"Ayah!" protes Victoria kesal menghempas pantatnya di sofa. Tangan dilipat depan d**a, mulut cemberut bahkan matanya tajam memandang Black. "Apalagi?" tanya Black sedikit kesal. "Dia cucu sekaligus keponakan, dimana letak kepedulian ayah padanya" jawab Victoria bertambah kesal. Black mengelengkan kepala lalu beranjak berdiri, berniat melihat istrinya. "Kamu hanya bisa mengambil atau menahannya selama 15 tahun tapi setelah itu tak terkecuali orangtuanya, takdir dan nasibnya yang bergerak" kata Black pelan tapi cukup di dengar Victoria. "Dimana paman, ayah?" tanya Victoria bangkit berdiri mendekat ke arah Balck dengan rasa ingin tahu. "Bulan madu selama 14hari. Kenapa?" tanya Black bingung. Senyum Victoria mengembang sangat cantik di wajahnya. "Aku akan mengambil Santanael kalau begitu" jawabnya segera berlari keluar ruangan tak lupa mengecup pipi Black.
Black menyeringai melihat Victoria pergi, "Apa kamu ingin membuat permainan takdir dan nasib, tuanku?" tanya Bayu menunggu Black keluar ruangan untuk diikuti. "Tidak. Takdir anak itu sudah jelas tapi nasib tak ada yang tahu" jawabnya santai melangkah menuju rumah manusia miliknya.
Gerbang terbuka lebar-lebar ketika berjalan keluar lalu menutup secara otomatis, hanya keturunan asli iblis yang bisa masuk. Jika tak diperhatikan baik-baik, tak ada yang tahu jika gerbang neraka ada di halaman belakang rumah Black. Bau masakan rumah menggoda hidungnya untuk segera pulang.
Empat jam setelah Santanael diambil dari rumah Gospar.
Wajah Santanael terlihat damai di atas ranjangnya, Victoria mengecup sekilas pipinya hendak menyiapkan makanan untuknya. Ditutupnya perlahan pintu takut membangunkan Santanael.
Rumahnya terletak jauh dari rumah manusia, lebih tepatnya berada di desa. Manusia biasa tak dapat kemari kecuali memiliki kekuatan besar untuk dapat melihatnya. Rumah Victoria terlindungi oleh kabut iblis tak kasat mata. Victoria segera menyiapkan makan siang, ia nyakin sebentar lagi Santanael akan terbangun.
Mata Santanael bergerak-gerak terbuka perlahan, badannya terasa capek, sudah lama tidak berenang. Ia berusaha untuk duduk dan melihat ke sekelilingnya, kaget ternyata kamar yang ditempati sangat berbeda dari sebelum tertidur. Ia loncat dari tempat tidur, berlari keluar dan tertegun melihat Victoria sedang menata makanan di atas meja.
"Bibi peri, aku dimana?" tanyanya kebingungan melihat tak berada di kamar Gospar, duduk di kursi makan. "Di rumah bibi, untuk sementara kamu tinggal bersama bibi daripada dengan Gospar selama ibu dan ayahmu bulan madu" jawab Victoria lembut mengelus rambutnya dengan perasaan sayang. "Gospar? siapa itu bibi peri?" tanya Santanael kebingungan, seingatnya kemarin tidur di rumah pak tua. "Itu rumah suamimu atau orang yang Santana panggil pak tua" jawab Victoria melirik kearah Santanael yang hanya mengangguk saja. Victoria segera mengambilkan makanan untuk Santanael di piringnya. "Apa enak?" tanya Victoria memandang Santanael yang makan dengan lahap. "Tentu saja" jawab Santanael mengangkat jempolnya memberikan pujian untuk Victoria.
Santanael makan sambil melihat ke sekelilingnya namun ada seseorang yang berjalan mendekat. "Bibi, siapa itu?" tanya Santanael semakin tertarik melihatnya melalui jendela rumah. Sangat menarik pria kecil disamping pria dewasa itu. Victoria menoleh kearah yang dimaksud lalu tersenyum lebar. "Itu Dimitri suamiku dan putraku Adam, sebentar sayang, bibi akan mengenalkan padamu" jawab Victoria beranjak menuju pintu dapur untuk membukanya.
"Halo sayang, apa kabarmu?" tanya Dimitri pada Victoria begitu dekat langsung memeluknya lembut, menciumnya sekilas di bibir. "Mami" rengek Adam pelan, Victoria mengangkatnya lalu membawanya masuk sambil mencium wajahnya dengan perasaan rindu. "Kabarku luar biasa menyebalkan seperti biasa. Mengapa kalian baru pulang? apa ada masalah dengan Chris?" tanyanya pelan meletakkan Adam di hadapan Santanael. "Tidak ada" gumam pelan Dimitri, wajah cantik Santanael menarik perhatiannya.
Adam memicingkan matanya dingin. Perasaan tak suka melihat ada bocah lain selain dirinya ada di rumah Victoria. "Siapa dia sayang?" tanya Dimitri ikut duduk di samping Adam. "Dia anak paman, namanya Santanael" jawabnya.
Victoria duduk di samping Santanael yang matanya menatap tertarik dengan Adam. "Baik-baik dengan Santanael, Adam. Dia masih kecil, kamu harus menjaganya dari monster" ucap Victoria tenang, Dimitri mengelengkan kepala mendengar istilah yang digunakan, jika ada monster lalu siapa mereka berdua yang iblis. Sungguh istrinya bisa bikin orang salah paham.
"Monster? mami, mana ada" keluh Adam cepat, Victoria selalu saja mempunyai akal yang luar biasa sebagai maminya. "Hei siapa bilang tidak ada. Bahkan mempunyai nama" cela Victoria cepat memandang putranya bergantian Santanael.
"Victoria jangan bikin masalah" tegur Dimitri cepat begitu melihat tanda istrinya akan membuat keributan di masa depan. "Adam berapa umurmu?" tanya Victoria melihat putranya dengan pandangan berbeda. "Sekitar 8 atau 9 tahun kata ayah" jawab Adam mulai curiga, akhir-akhir ini ibunya sering main perjodohan untuknya.
"Ah. Iya! sudah mami putuskan mulai sekarang Adam yang menjaga dan menikahi Santanael". Perkataan Victoria sukses membuat kaget, Santanael bahkan tersedak, untung saja sigap meminum air.
"Mami!"
"Bibi peri!"
"Victoria!"
Suara-suara protes terdengar. Victoria meringis kemudian berpura-pura sedih, ia harus menyelamatkan Santanael dari tangan Gospar. "Kalian tak suka rencana ku? apa kalian tak lihat Santanael hampir saja dimakan monster dan itu sangat menyakitkan" katanya dengan suara sedih yang menyayat hati. Dimitri memijit kepalanya dengan gusar, ia tahu trik Victoria karena dulu iapun terjebak dengan trik itu. Santanael terkejut mendengarnya, "Tapi aku baik-baik saja, bibi peri" ucapnya bingung. "Belum tahu saja, monster sering menusuk di bagian tertentu dan rasanya sangat sakit" Victoria semakin semangat untuk membuat Santanael percaya padanya. "Apa pak tua adalah monster yang bibi maksud?" tanya Santanael mengira-ngira dan wajahnya sangat serius. "Tentu saja. Untung bibi berhasil selamatkan keponakan bibi yang cantik" jawab Victoria memeluk tubuh kecil Santanael cepat, Dimitri menarik nafas, ia akan mendapatkan masalah karena ini nantinya.
Adam memandang Santanael dengan kasihan, ternyata hidupnya sangat menakutkan diteror oleh monster. "Mami, baiklah aku akan menjaga Santanael sampai ia bisa menjaga dirinya sendiri tapi menikah, Adam belum memikirkan" kata Adam tegas menghampiri Victoria dan memeluknya lembut. "Bagaimana denganmu Santanael?" tanya Adam ke arahnya. "Aku juga tak mau di makan monster, aku pasti akan mengikuti kata-kata kak Adam, bibi peri" jawab Santanael dengan wajah serius.
Dimitri tak dapat berkata-kata melihat putranya dan Santanael seperti kompak mengikuti rencana tipuan Victoria. "Kalian pergi bermain saja, biar kami bicara dulu" usir Dimitri cepat sebelum Victoria muncul dengan tipuan lainnya lagi. Adam mengelengkan kepala, malah mempererat pelukannya pada leher Victoria, Santanael memandang wajah Adam yang tampan lalu ke arah Dimitri. Benar-benar hari yang menyenangkan bisa melihat pria tampan. Victoria tersenyum lembut kearah keduanya. "Pergilah ajak Santanael keliling, 14 hari ke depan ia masih harus tinggal disini dan kamu juga harus disini menemaninya" bujuknya kepada Adam sambil menepuk-nepuk lembut punggung tangannya.
"Baiklah, ayo Santana" ajak Adam enggan tapi tak dapat membantah Victoria karena hanya Victoria saja yang di dengarkan di dunia iblis. Santanael mengikuti langkah Adam yang mengajak main diluar rumah.
"Apa kamu tahu sayang, ini akan menjadi masalah?" tanya Dimitri secepat kilat menarik Victoria duduk di pangkuannya. Victoria menampilkan mata tak berdosa kearah Dimitri. "Aku tidak tahu sayang tapi jika jodoh, tak ada yang bisa dilakukan, bukankah ini juga yang terjadi pada kita" jawab Victoria pelan. Gemas dengan reaksi tak berdosa Victoria, Dimitri menciumnya kasar.
Matahari bersinar sangat terik diluar sana tapi di atas rumah Victoria, malah seperti mendung.