Tangan dan kakinya bergerak mengikuti irama musik di mobil. Hari ini pertama kali masuk sekolah, Santanael tak sabar melihat teman barunya. Celotehan kecil terdengar tak sabar. Sang ibu tersenyum melihat wajah senang Santanael. Empat tahun berlalu, ia berhasil melarikan diri. Hatinya merasa lega, rasa syukur tak henti diucapkan dalam hati.
"Mommy...cat!" teriak lantang Santanael sambil menunjuk. Sang ibu kaget. Melintas kucing hitam muncul dihadapan mobil. Kaki menginjak rem kuat-kuat. Wajah pucat pasi seketika, sang ibu menoleh kearah putrinya. "Apa kamu baik-baik saja, sayang?" tanya sang ibu memperhatikan seluruh badan Santanael.
Santanael menganguk lalu tersenyum. Matanya menatap kucing hitam tergeletak depan mobil. Sang ibu menoleh lagi kearah depan. Jantungnya masih berdebar kencang.
"Diam disini sayang". Sang ibu mematikan mobilnya, walaupun timbul rasa takut tapi ditahannya.
Turun perlahan. Perasaan gugup dan takut bersamaan dirasakan. Ia tak lernah membunuh apalagi binatang. Kucing hitam meregang nyawa dengan mata melotot kearahnya. Usus berurai keluar dari perutnya, darah membasahi jalanan. Sang ibu syok.
Santanael cemberut melihat roh kucing keluar dari raganya santai. Kesal saat kucing itu mendekat padanya. "Mommy.... mommy" panggil Santanael pelan.
Sementara sang ibu panik mencari kain yang bisa digunakan untuk menguburkan. Bagasi dibukanya, kotak bahkan tas yang biasa dipakainya. Tak ada satupun. Peluh membasahi tubuhnya. "Aduh tak ada....". Diingatnya lagi, kain putih atau scarf yang selalu dibawanya sebagai hiasan. Ditepuknya jidat perlahan, ia membuka pintu penumpang. Diaduk lagi tas kecil milik Santanael. Senyumnya lega mengetahui ada scarf di dalam. "Mommy.... " rengeknya cepat melihat sang ibu di dekatnya.
Sang ibu menghela nafasnya pelan, saat Santanael berpindah duduk ke belakang untuk meraihnya. Mau tak mau di gendongnya daripada menangis.
Ditutupnya kucing hitam dengan scarf kemudian ia memasukkan kedalam bagasi. Diturunkan Santanael di kursi depan sampingnya. Dilanjutkan perjalanannya ke sekolah.
Sesampainya disana, Santanael dibawa ke kelasnya baru setelah itu, ia mencari penjaga sekolah untuk minta bantuan menguburkan kucing.
Senyum lega terukir cantik di wajahnya. Ditepuknya pakaiannya yang sedikit kotor. Wajahnya berpaling kearah taman, keningnya mengerut merasa ada yang memperhatikan.
Taman besar disamping sekolah Santanael memberikan kesejukan dan ketenangan sehingga sekolah menjadi tampak asri, damai dan nyaman.
Sejenak ia gugup, pikirannya kacau seketika. Tetapi, ditepisnya dengan mengatakan dalam hati jika itu hanya perasaan dan ilusi belaka. Ia melangkah ke arah ruang tunggu sekolah. Tampak beberapa orang tua murid duduk menunggu buah hati mereka disini. Diambilnya ponsel untuk mengecek adakah pekerjaan hari ini sambil menunggu kelas Santanael usai sekaligus perasaan gugup yang dirasakannya tadi.
Di dalam taman, kepala pelayan melihatnya muram. Kekecewaan tapi juga lega bersarang dalam hatinya. Beberapa kali ia memusatkan perhatiannya ke arah kelas Santanael. Matanya menyipit melihat putri kecilnya malah asyik dengan dunia rohnya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Gospar berusaha ikut melihat tapi tak bisa karena terlalu jauh. Tak menoleh sedikitpun, kepala pelayan berdecak kesal. "Apa aku harus selalu memberikan laporan?" tanyanya balik. "Tidak juga" jawabnya menginjak rokok di atas aspal.
"Apa kamu sudah menemukan calon istriku?" tanya Gospar berusaha sekali lagi, apa yang dilihat kepala pelayan. Gestur kepala pelayan berubah cepat menghalangi pandangan Gospar.
"Tidak. Ada apa? tuan Rafael membutuhkan aku atau apa. Ini hari liburku" keluhnya mengingatkan tentang hari ini. Kepala pelayan terpaksa berpura-pura supaya Gospar tak menyadari temuannya.
Gospar berbalik menuju kursi taman. "Nyonya besar minta aku menikah. Aku tak bisa. Aku sudah terikat janji dengan nyonya muda untuk menikah dengan putrinya". Menghempaskan pantatnya begitu menemukan kursi, ia menoleh kesamping. Kepala pelayan berdiri disampingnya dengan santai.
"Menikah saja. Apa sulitnya? wanita yang dijodohkan juga menarik. Dia dari kalangan atas" ungkapnya. "Yang benar saja. Aku masih berumur 20tahun. Aku masih menginginkan banyak hal" ucapnya kesal. Kepala pelayan mengangkat bahunya santai, tak merasa itu bukan masalah besar.
"Rafael bahkan sudah menikah tiga kali dalam empat tahun terakhir" ujarnya bergerak duduk disampingnya.
Gospar menghela nafasnya panjang. Tak bisa mengelak, sepupunya memang bejad. "Aku akan bersenang-senang, sementara waktu usahakan alihkan perhatian nyonya besar ke arah Rafael. Bantu aku ya" pintanya memelas.
"Apa yang akan aku dapatkan? Kamu tahu gaji kecil, libur jarang bahkan tak ada privasi sama sekali dalam banyak hal" sindirnya telak membuat Gospar mengaruk kepalanya.
"Apapun yang kamu mau" katanya mau tak mau demi mengalihkan perhatian ibu angkat sekaligus nyonya besar. Wajah kepala pelayan menimbang-nimbang lalu ia bangkit berdiri. Telinganya mendengar teriakan dan tawa anak kecil.
"Baiklah. Tidak sekarang. Kamu bisa pergi dan biarkan aku menikmati hari liburku" usir Kepala pelayan cepat sebelum Gospar menyadari calon istri yang dicarinya ada di sekitar mereka berdua.
Gospar tersenyum senang, beranjak bangun. "Kamu tak akan menyesal. Apapun pasti akan kuberikan. Aku pergi dulu" katanya senang. Ia pergi meninggalkan kepala pelayan tapi ia sempat melihat gadis kecil berlarian kesana kemari bahkan naik dan loncat di beberapa kursi tanpa rasa takut.
Kepala pelayan melirik Gospar tapi ia diam saja. Matanya melihat tingkah bar-bar putri kecilnya. Helaan nafas takut menghadapi Santanael sepertinya akan sulit kecuali memiliki berbagai macam persiapan.
Mata kecil Santanael menatap tajam pria yang memandangnya. Rasa tak suka muncul di wajahnya. Roh kucing disampingnya mengeong. Kening Santanael berkeringat karena berlari tak tentu arah. Tadi ibu sudah memberikan ijin kepadanya untuk bermain-main sebentar.
Kepala pelayan kembali duduk di kursi memperhatikan putri kecilnya yang jelas-jelas menunjukkan wajah tak suka. Ia tak menyalahkan jika putrinya akan menolaknya karena sejak ia lahir, dirinya tak ada menemani.
"Santana" panggil ibunya kencang, Santanael memutar badannya kearah ibu yang mencari-cari dirinya. Santanael cepat melupakan pria tersebut. "Santana disini, sebentar ibu" teriaknya cepat sedikit cempreng. Roh kucing disamping Santanael tersambar oleh tangan tak kasat mata. Santanael terus berlari sekencang-kencangnya menuju ibunya.
Desahan ragu dan kesal berbaur menjadi satu, tengkuknya dingin. Dipegang tengkuknya untuk mengusir rasa dingin disertai ketidakberdayaan. "Sulit" gumamnya tak senang.
Bayangan hitam menghampiri kepala pelayan. "Berapa lama lagi, kamu akan bersembunyi disitu?". Ucapan kesal karena lagi-lagi ada penganggu.
Suara tawa terbahak-bahak mendengar ucapannya. "Sampai kamu sadar, wanita itu tak layak untukmu" katanya santai dengan memunculkan dirinya di hadapan kepala pelayan.
"Kamu belum lupa bukan jika dia pegawai ku" ujarnya duduk disebelahnya. Penampilannya bagai bos. Namun, tak membuat kepala pelayan takut. Mereka diam membisu melihat langit. Tak suka dengan cuaca panas, tangannya mengibas kearah langit.
Matahari berangsur-angsur menurunkan suhunya, awan beriringan membuat udara panas berubah sejuk.