"Siapa kamu?" tanya Santanael berkacak pinggang tak suka dengan arah mata laki-laki yang berdiri memandangi dirinya dengan intens. Ia pikir sudah pergi dari taman ketika tadi ia menghampiri ibunya.
Mata kecilnya menyipit berbinar melihat laki-laki di depannya yang berdiri menjulang menghalangi sinar matahari berawan menimpanya.
"Aku?" tanya baliknya. Untuk pertama kalinya ia ingin menyentil putri kecilnya yang menyebalkan sekaligus cantik. Bertahun-tahun mencari, sekalinya menemukan malah bikin kepalanya pusing tujuh keliling dengan sikapnya yang sok bosy. Berusaha keras mengacuhkan tetapi akhirnya mendekati setelah pria disebelahnya pergi tanpa mengatakan apa-apa dan mendapati putrinya masih berada di taman.
Tangan kecilnya melambai. Sikapnya acuh tak acuh mengemaskan tapi sorot matanya menatap tajam layaknya memburu mangsa sama seperti dirinya.
"Tidak jadi, kata ibu dilarang berbicara dengan orang asing." tolaknya cepat. Rambutnya dikepang bergerak cantik seirama gerakan tubuhnya. Tangan kecilnya membetulkan letak tas ranselnya. Sikap putrinya berubah-ubah dan ia tak menyukainya. Secara tak langsung putrinya memperingatkan dan menantang dirinya.
Keningnya mengerut lebih dalam, wanitanya mendidik dengan baik putri mereka berdua. Kaki kecil berlari-lari kemudian melompat tiada henti bahkan tak lagi memperdulikan kehadirannya.
"Dimana ibumu?" tanya pelan meraih tangan kecil Santanael cepat sebelum bergerak tak jelas.
Gadis kecil itu menoleh. Tangannya menunjuk seorang wanita yang duduk bersandar di bangku taman. Mata terpejam, tampak kelelahan diwajahnya. Awalnya ingin menegur, bagaimana bisa membiarkan putrinya bermain seorang diri di taman tapi melihat wajah lelah, diurungkan niatnya.
"Ibu capek, Santana benci ayah." cetus cepat Santanael sambil menendang kaki pria didepannya. Santanael tahu pria didepannya adalah ayahnya sejak pertama kali melihatnya.
"Mengapa?" tanyanya ingin tahu. Kepala pelayan menatap kaki kecil yang menendang kesal kearah dirinya. Gemas tak pernah terlintas tapi kali ini ia benar-benar gemas dengan putri kecilnya.
"Ayah kejam bikin mommy capek, Santana tidak mau dekat ayah" jawabnya cepat. Ia berusaha melepaskan diri dari pegangan tangan ayahnya tapi bukannya terlepas malah tubuh kecilnya terangkat hingga ke d**a. Posisi mengendong yang kaku menyebabkan Santanael cepat meraih lehernya karena takut jatuh.
Laki-laki itu tak lain kepala pelayan hanya bisa tersenyum simpul mendengar gerutuan putrinya. Wajahnya dekat dengannya.
"Kamu tahu, aku ayahmu?" tanyanya lagi ingin tahu sekaligus mengalihkan perhatian putrinya yang mengatakan dirinya kejam. Putri kecilnya mirip setan jika dilihat-lihat dari samping maupun depan. Benar-benar masalah.
"Tentu saja" jawab lugas Santanael cemberut. Ia kesal digendong hingga tangannya tak bisa dilepaskan sama sekali dari lehernya. Ia tak suka di gendong.
"Bukankah tadi tidak mengenalku?" tanya kepala pelayan heran. Ia ingin sekali mengomel terhadap putrinya ini tapi sikapnya yang santai dan lincah membuatnya mengurungkan niat, belum lagi pandai bersilat lidah yang mampu membuatnya kesal.
"Aku tidak kenal." jawabnya cepat, berusaha turun. Tak ingin putrinya jatuh, ia menurunkan tapi belum sempat posisi berdiri kokoh, tangan putrinya berhasil lepas. Spontan ia berlari-lari ke arah ibunya. Nafasnya gos-gosan saat di samping ibunya yang terbangun karena gerakan Santanael yang cepat.
"Santana. Darimana? ayo pulang" ajaknya begitu melihat jam tangannya, ia ternyata sudah terlalu lama disini. Keringat membasahi pakaiannya dan Santanael, terasa lengket.
"Setan kecil! tadi bilang kenal sebentar tidak. Lihat saja nanti" geramnya melihat Santanael berpaling sambil menjulurkan lidahnya kearahnya. Benar-benar setan kecil.
Sang ibu mengandeng tangan kecil Santanael supaya tidak lagi berlari-lari. "Mommy, jika nanti ayah datang, apakah mommy akan mengenalkan Santana padanya?" tanya Santanael sengaja. Ia tadi sempat menoleh dan melihat ayahnya berjalan di belakang mereka. Sang ibu yang tak menyadari kalau diikuti oleh kepala pelayan, santai saja berjalan menyusuri.
"Apakah harus? Bukankah kamu tak ingin mengenalnya, sayang. Kenapa berubah pikiran?" selidik sang ibu. Tak ada yang harus dikhawatirkan dari pertanyaannya tapi entah mengapa hatinya seperti ada yang melihatnya dengan tatapan tajam.
Santanael senyum-senyum. "Tidak. Santana ingin tahu jika ayah datang, apakah ibu mencintainya?" tanya Santanael berusaha polos. Helaan nafas terdengar dari hidung ibunya. Ditariknya tangan kecil Santanael sehingga ia bisa mengendongnya.
"Ayo pulang. Ayahmu sudah tenang di alamnya, jangan nganggu lagi" jawabnya mencium pipi chubby Santanael. Mendengar kalimat ibunya, Santanael melirik ke belakang. Wajah Kepala pelayan berubah dan sangat menyeramkan di mata Santanael. Bisa-bisanya berkata ia berada di alam lain, itu berarti dirinya sudah meninggal dunia. Tangannya mengepal kesal bukan main. Rasanya ingin menghukum wanitanya dengan cepat.
Mendadak hati sang ibu berubah cemas. Namun, ia berfikir ini adalah jalan yang terbaik daripada Santanael tahu siapa ayah sesungguhnya. Ia tak suka jika suatu hari harus kembali berurusan dengan masa lalunya yang tidak ingin diingat sama sekali. Ditepisnya lagi perasaan tidak nyaman yang muncul berkali-kali hari ini.
Angin berhembus kencang. Matahari bersembunyi dibalik awan yang mengelap. Santanael memegang erat-erat leher sang ibu.
"mommy... Santana takut" ucap lirihnya melihat ke belakang. Ditepuknya perlahan lalu didudukkan di kursi penumpang belakang, tak lupa di ikatkan sabuk pengaman. "Tak perlu takut, ada ibu disini. Kita pulang, sepertinya akan ada badai". Sang ibu berputar menuju kursi pengemudi. Tangannya memutar kunci mobil dan menjalankan perlahan meninggalkan tempat ini.
Kepala pelayan duduk santai di sampingnya Santanael. Mulut Santanael mencebik tak suka melihat ayahnya. "Mommy....ada orang disebelah Santana" adunya cepat. Sang ibu melirik melalui kaca spion tengah. "Tidak ada siapa-siapa" katanya kembali berkonsentrasi mengendarai mobilnya di jalanan yang padat.
Santanael memutarkan bola matanya tak menyukai perkataan ibunya kemudian memiringkan kepalanya kearah ayahnya. Firasat kepala pelayan tak enak. "Mommy...apa aku boleh memiliki ayah baru?" tanyanya acuh tak acuh tapi jelas menantang ayahnya yang melotot.
"Maksudmu Dave? atau yang lainnya? tentu saja jika Santanael suka, mommy akan memikirkan" jawabnya sambil berhenti perlahan di depan lampu merah.
Petir mendadak muncul berkilat di hadapan mobil. Teriakan sang ibu yang takut membuat kepala pelayan merasa bersalah.
"Apa ayah tidak tahu, mommy tak suka petir atau hujan. Pantas saja mommy lupa dengan ayah" bisiknya kesal. Kepala pelayan menoleh kearahnya. Sejak kapan sang ibu takut dengan hujan ataupun petir.
Wajah sang ibu yang pucat pasi ditambah gemetaran saat menjalankan mobilnya menjadikannya bukti jika ia telah lama kehilangan wanitanya. Santanael mendengus dingin kearah kaca jendela, ia tak mau ibunya bertambah takut.
"Pergilah ayah. Aku tak butuh ayah sekarang. Disini ada mommy." usir Santanael berbisik-bisik supaya tak terdengar ibunya. Mata kepala pelayan merah bagai darah menahan marah yang muncul.
"Setan kecil!" serunya memperingatkan tapi sepertinya Santanael tidak peduli. Ia hanya takut ibunya akan bertindak ceroboh dalam menyetir karena takut.
"Mommy tak butuh ayah. Ada Santana disini. Pergi!" bentaknya kesal, mata sang ibu melirik ke belakang tapi tak ada siapapun di samping putrinya.
Perasaan takut, ragu dan tidak nyaman sepanjang hari ini mulai dimengerti perlahan jika ada orang lain bersama mereka saat ini.