Emosi Gospar tak dapat ditahannya ketika anak buahnya melaporkan jika calon istri masa depannya nyaris terluka dalam perjalanan menuju sekolah, untungnya tak terjadi sesuatu hal yang perlu diperhatikan.
Nafasnya naik turun. Ia menoleh kearah kepala pelayan yang asyik membaca jurnal kegiatan hari ini. "Jadi, kamu berada di taman karena tahu dia ada disana dan kamu sengaja tak mengijinkan aku mengenalnya!" bentaknya kepada kepala pelayan.
Kepala pelayan hanya memiringkan kepala lalu tersenyum santai. "Anakku masih kecil. Mana boleh bermain-main dengan pria dewasa" Ucapnya membenahi tumpukan dokumen yang tadi dibaca.
Tak terima dengan perkataan kepala pelayan, Gospar berbalik arah menuju kamar Rafael dilantai dua. Ia harus membuat perhitungan, tak mungkin ia mengamuk dengan calon mertuanya.
Pintu kayu berwarna coklat dibukanya kencang. Kepala pelayan menarik nafasnya sekali, ia sudah berada di lantai dua.
Brak!
Tangannya mencengkram kuat leher Rafael. Rafael kaget, tangan Gospar mencekiknya.
Wajahnya mengeras ingin membunuhnya. Bayangan calon istrinya terluka membuat kewarasannya nyaris hilang.
"Ouch lepas Gos--par" teriak parau Rafael, tangannya mencengkram tangan Gospar dilehernya. Bukannya melepaskan, malah tekanannya ditambahkan di leher Rafael.
Rafael tak berkutik sama sekali. Ia bahkan tak mengenakan pakaian sama sekali karena asyik bercinta dengan wanita selingkuhannya.
Diliriknya pasangan bercintanya yang berada di sudut kamar dalam kondisi ketakutan dan menangis. ( Jangan tanyakan jenis kelamin karena Rafael tak pernah peduli tentang hal itu selama nafsunya terobati dengan kepuasan maksimal.)
Sebuah tangan menahan Gospar bertindak lebih jauh lagi. "Gospar!" teriak Kepala pelayan kencang berusaha menahan sekaligus menyadarkan Gospar.
Gospar perlahan melepaskan saat mata Kepala pelayan menatapnya tajam. Terpaksa melepaskan walaupun kesal dan marah. Gospar merasa kemarahannya sia-sia dikeluarkan.
"Ingat baik- baik, jangan kamu sentuh wanitaku! Jika terjadi sesuatu dengannya, sampai neraka sekalipun aku akan memburu sehingga kamu menyesal di telah dilahirkan" ucapnya sebelum pergi dengan membanting pintu lagi.
Gospar terlalu marah tapi ia juga bingung. Semua barang yang dilihatnya mendapat sasaran amukannya. Tak ada yang selamat. Kepala pelayan tak tertarik menonton. Ada urusan yang harus dilakukan daripada melihat tingkah kekanak-kanakan Gospar yaitu mengunjungi calon istrinya dan ibu dari setan kecil anaknya.
Rafael merosot ke bawah lantai. Terbatuk-batuk berusaha menghirup udara bebas untuk masuk kedalam paru-parunya. Terasa sesak. Wajahnya berangsur-angsur pulih. Kepala pelayan menyerahkan jubah tidur padanya. "Kamu berfikir sama dengannya. Aku hanya mengirim kucing bukan kematian" keluhnya sambil memakai jubahnya.
"Aku--tahu. Tapi, aku ingatkan. Sebaiknya pikir lagi sebelum melakukan hal bodoh lainnya jika tuan sayang dengan nyawa" katanya datar. Rafael menatap tajam tak suka. "Ah, iya sebelum saya lupa juga. Tadi nyonya besar mencari anda. Jangan tunda lebih lama, anda tak ingin nyonya besar marah, bukan?" tanyanya kaku. Tak menunggu perkataan Rafael, kepala pelayan keluar dari kamar Rafael.
Rafael tersenyum sinis. Tangannya terkepal tak terima dengan situasi saat ini. Ia harus membalasnya. Namun, apa dikata, ia tak punya kekuatan untuk membalas. Dibelakang kepala pelayan ada nyonya besar alias ibunya yang sangat mendukungnya sedangkan Gospar saat ini mengurus semua aaetilik ibunya. Sungguh malang dirinya, sejak menikahi banyak wanita tak satupun yang membuahkan hasil.
"Kemari. Aku perlu dihibur" perintahnya kepadanya yang sejak tadi duduk dipojok menunggu dengan rasa takut. Dia cepat menghampirinya, Rafael mengecup pelipisnya. "Tak apa. Semua sudah berakhir" katanya lembut menenangkan.
****
Sang ibu menarik selimut tebalnya ke arah tubuhnya. Ia sangat lelah. Hembusan angin dilehernya membuat tubuhnya kaku seketika. Kepala pelayan mengecup lehernya lembut, memberikan tanda kemerahan disana.
Tubuhnya sangat mengenal bau dan gerakan orang yang menghembuskan nafasnya. Kecupan kecil itu membangkitkan sesuatu yang terlupa empat tahun lalu. "Mengapa kamu bilang kepada anak kita, aku sudah berada di alam lain?" tanya kepala pelayan menarik lembut sang ibu untuk lebih dekat di badannya. "Aku--" jawab putus sang ibu saat tangan kepala pelayan masuk lebih jauh. Tubuh kaku sang ibu membuatnya geli tapi sekaligus bersemangat untuk menjelajahi.
"Berapa lama kita tidak bertemu? coba aku hitung tapi sepertinya tidak terlalu lama jika tubuhmu masih mengenali pemiliknya" bisik lembut di telinga sang ibu.
Gemetaran sang ibu dirasakan oleh Kepala pelayan. "Mengapa kamu gemetaran? aku merindukanmu." tanya kepala pelayan membalikkan badan sang ibu yang kaku.
Mata sang ibu terlihat takut bahkan wajahnya basah bersimbah air mata. Ada perasaan tak nyaman dalam hati kepala pelayan. "Jangan menangis. Maafkan aku baru bisa menemukanmu" bisiknya mengusap air mata.
"Jangan lari lagi. Aku tak bisa kehilangan kalian lagi." ucapnya setelah dirasakan sang ibu tidak lagi menangis atau gemetaran.
Kepala pelayan menggeser badannya ke samping. Sang ibu bergerak melepaskan diri dari badan kepala pelayan. Ia bangkit berdiri. "Apa maksudmu? Santanael anak Rafael bukan anakmu" sergah sang ibu kesal. Jelas-jelas ia berhubungan dengan Rafael dan istrinya.
Mata kepala pelayan berkilat marah. "Setan kecil itu anakku! kamu bukan istri Rafael. Kamu sudah dianggap mati" ucapnya lantang kemudian bangkit dari atas tempat tidur.
"Itu tidak mungkin. Dia.... dia tak mungkin melakukan itu. Apa kamu sudah gila?" tanyanya heran. Ia hanya tahu kepala pelayan hanyalah pesuruh nyonya besar.
"Apa aku harus menjelaskan? aku tak punya waktu saat ini. Ada hal penting yang harus kita lakukan bersama seperti memberikan adik untuk setan kecil" jawabnya pelan dengan langkah yang sangat pelan mengintimidasi sang ibu.
Mata terbelalak sang ibu membuat geli kepala pelayan. Jangan lupa rona merah di wajahnya. "Setan kecil? adik? b******n!!" bentaknya tak terima, ia bergerak ke kanan tapi gerakan kepala pelayan lebih cepat menyambar tubuh sang ibu.
"Apa menurutmu sekian tahun menghilang maka kubiarkan kamu pergi dari hadapanku" kata kepala pelayan pelan menyusup rasa takut dalam diri sang ibu.
"Ka--mu! jangan mendekat" ucapnya menahan wajah kepal pelayan yang berjarak hanya 15 cm dari wajahnya. Kepanikan dirasakannya. "Benarkah? tidak boleh? aku ingat kamu selalu meminta lagi".
Wajah sang ibu berubah merah. Terasa manis di mata kepala pelayan. Tangannya menarik lebih dekat tubuh sang ibu hingga menempel padanya walau tangan sang ibu berusaha keras untuk menghalanginya.
Kepala pelayan menyeringai, ia membiarkan sang ibu mengira ia akan menciumnya tapi wajahnya ia sandarkan di leher sang ibu yang tak dihalangi.
"Kali ini. Tak akan ada yang bisa merebut milikku dari tanganku. Aku pastikan itu. Rafael hanya masa lalu." bisik pelan di leher sang ibu. Perlahan tangannya melemah. Sang ibu bergetar antara sedih atau bahagia, ia sendiri bingung.
"Tak apa ada aku" ucapnya menutup semua celah sang ibu untuk melarikan diri.
Angin malam berhembus lembut memberikan sedikit rasa dingin yang tersisa di kamar sang ibu karena hawa panas yang terpancar mengular di seluruh kamar.