Lebaran tinggal dua hari lagi, dan Laundry Berkah tenggelam dalam orderan paling banyak sepanjang sejarahnya. Setiap rumah di kampung ingin baju Lebaran bersih dan wangi: baju koko, mukena, gamis, seragam keluarga untuk foto, taplak meja untuk tamu. Cucian menggunung sampai ke langit-langit, melebihi kapasitas Si Bandel yang batuk-batuknya makin parah karena dipaksa bekerja siang malam.
Bagi Bagas, ini bukan cuma kesibukan. Ini peluang. Ia sudah menghitung: kalau semua orderan Lebaran ini selesai dan dibayar, uangnya cukup, lebih dari cukup, untuk melunasi tunggakan sewa ruko yang jatuh tempo lusa. Untuk pertama kalinya sejak ia pulang, Laundry Berkah punya kesempatan keluar dari lubang. Bagas mengatur semuanya dengan presisi yang ia pelajari dari serangkaian kegagalan: jadwal cuci, prioritas pelanggan, pembagian tugas dengan Yanti dan ibunya, bahkan Sasa ikut membantu di sela jaga warung. Semua terkendali. Semua berjalan.
Lalu, pada malam puncak, di tengah seluruh kampung sibuk memasak ketupat dan opor untuk besok, air PDAM mati total.
Mula-mula Bagas tidak percaya. Ia memutar keran, dan yang keluar cuma desisan udara, lalu setetes air keruh, lalu tidak ada apa-apa. Ia mencoba keran di belakang. Sama. Ia keluar ke gang, dan tetangga sudah ramai mengeluh, panci di tangan, mengetuk pintu satu sama lain. Air mati sekampung, tanpa pemberitahuan, entah karena pipa pecah atau pompa rusak di musim puncak pemakaian.
Di dalam, ratusan potong cucian Lebaran tergeletak. Sebagian sudah dicuci dan tinggal dibilas, kini terjebak penuh busa, tidak bisa dilanjutkan tanpa air. Sebagian lagi masih kotor, menunggu giliran yang tak akan datang. Dan besok pagi, sebelum subuh, puluhan pelanggan akan datang mengambil baju Lebaran mereka. Baju yang dipakai sholat Id. Baju yang sudah dibayar di muka. Baju yang menyimpan harapan tiap keluarga akan pagi Lebaran yang bersih dan baru.
Bu Tini, yang sudah bekerja sejak subuh tanpa henti selama tiga hari, terduduk di kursi, wajahnya pucat pasi, napasnya berat. Bukan sakit parah, tapi kelelahan yang menumpuk sampai tubuhnya menyerah. "Le," suaranya lemah, "ibu... ibu pusing. Capek banget. Bentar ibu istirahat ya, bentar aja."
Bagas membantu ibunya berbaring di balik tirai, memberinya teh hangat dari sisa air galon, mengipasinya. Tangannya gemetar, bukan karena marah, tapi karena untuk pertama kalinya ia merasa tanggung jawab sebesar ini ada di pundaknya sendiri. Ibunya tumbang. Yanti sudah pulang ke kampung halamannya untuk Lebaran. Si Bandel mati tanpa air. Dan di luar, malam takbir mulai bergema dari masjid, gema kemenangan yang terasa seperti ejekan di tengah keran kering.
Bagas berdiri di tengah ruangan, dikepung gunungan cucian basah yang tak bisa dibilas, di bawah jemuran yang menetes sisa-sisa, dengan suara takbir bersahut-sahutan dari segala penjuru kampung. Ia memasukkan tangan ke saku, dan di sana, terlipat, ada sesuatu yang ia bawa sejak turun dari bus dua bulan lalu dan tidak pernah benar-benar ia buang: tiket bus ke Jakarta, hangus sebenarnya, tapi ia simpan sebagai jimat, sebagai pintu darurat, sebagai pengingat bahwa ia bisa kapan saja pergi dari sini, dari laundry, dari kampung, dari kegagalan ini.
Dia bisa pergi. Sekarang juga, kalau ia mau. Tinggalkan kekacauan ini. Toh selama ini ia memang cuma numpang. Toh ini bukan kerjaan sarjana. Besok pagi, biar ibunya yang menghadapi pelanggan dengan baju yang tidak jadi, biar warga marah, biar Laundry Berkah tutup. Ia bisa naik bus subuh, kembali ke Jakarta, melamar kerja lagi, berpura-pura kampung ini tidak pernah ada.
Dua bulan lalu, ia pasti pergi.
Bagas menatap tiket itu di telapak tangannya yang sekarang kasar, kapalan, dan bau deterjen melati yang tidak pernah benar-benar hilang. Tangan yang sudah mengucek seprai Pak Guru Hadi tengah malam, mengantar baju ketuker keliling kampung, membersihkan jas Pak Bondan helai demi helai. Tangan yang, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dibutuhkan oleh orang sungguhan.
Dari balik tirai, suara ibunya lirih, setengah tertidur karena kelelahan, bergumam pada dirinya sendiri seperti dulu ia bergumam pada Si Bandel: "Maaf ya, semuanya... ibu udah nggak kuat... maaf..."
Maaf. Ibunya, yang seumur hidup menolong orang, kini meminta maaf karena tubuhnya menyerah. Dan sesuatu di dada Bagas, sesuatu yang dua tahun lalu retak karena penolakan demi penolakan, malam itu pecah sepenuhnya, tapi bukan pecah hancur. Pecah seperti telur yang menetas.
Ia menatap keran kering. Ia menatap tumpukan cucian. Ia menatap tiket bus di tangannya. Di luar, takbir bergema, mobil bak air bersih milik entah siapa lewat di gang besar, sumur tetangga, drum penampungan di masjid, galon-galon, ember-ember, gerobak. Otak yang dulu cuma ia pakai untuk gengsi mulai berputar cepat, menghitung, menyusun, mencari jalan, bukan untuk dirinya, tapi untuk menyelamatkan pagi Lebaran ratusan orang yang mempercayakan baju mereka pada ibunya.
Bagas menggenggam tiket bus itu erat-erat. Lalu, dengan satu gerakan, ia merobeknya menjadi dua, lalu empat, dan menjatuhkan serpihannya ke lantai basah di antara busa-busa cucian yang menunggu air.
Ia menyingsingkan lengan, mengambil ember kosong terbesar yang ada, dan membuka pintu menuju gang yang berdengung takbir. Di ambang pintu ia berhenti sejenak, menengok ke arah ibunya yang terbaring, lalu ke gunungan cucian, lalu ke malam Lebaran yang gelap dan penuh suara.
Dan untuk pertama kalinya sejak turun dari bus dengan koper rodanya patah, Bagas Permana melangkah keluar bukan untuk lari, melainkan untuk bertahan.