Malam takbiran itu, keran di dapur Laundry Berkah berbunyi seperti orang tua batuk: cekrek, cekrek, lalu diam. Bagas berdiri mematung, satu tangan di gagang keran, satu tangan menggenggam tiket bus Jakarta yang sudah lecek sejak sore. Di belakangnya tiga keranjang cucian basah menunggu dibilas — seragam, kemeja, gamis, sarung — semua dijanjikan selesai sebelum salat Id. Di kursi rotan, Bu Tini tertidur dengan mulut setengah terbuka, kelelahan setelah dua hari menyetrika nyaris tanpa berhenti.
Bagas menatap tiket itu lama sekali. Lalu ia melipatnya, menyelipkannya ke saku, dan mengambil ember plastik hijau dari sudut ruangan. "Kalau air nggak mau datang," gumamnya, "kita yang jemput."
Ia menghitung di buku catatan ibunya di bawah neon yang berdengung. Sembilan belas kilo cucian tersisa. Satu kali bilas kurang lebih empat ember. Berarti hampir delapan puluh ember, dibulatkan ke atas untuk jaga-jaga kalau ada yang tumpah. Bagas menatap angka itu seperti menatap soal ujian yang jawabannya cuma satu: kakinya sendiri.
Tujuan pertama, sumur Bu RT di ujung gang. Ia mengetuk warung yang sudah setengah tutup. "Bu RT, maaf, malam-malam. Air PDAM mati. Boleh saya minta air sumurnya buat bilas cucian? Besok Lebaran."
Bu RT muncul dengan rambut digelung, menatap Bagas dari atas ke bawah, lalu menatap embernya, lalu menghela napas panjang sampai Bagas takut napas itu tak kembali. "Anaknya Bu Tini ada-ada saja. Ya wis, ambil. Tapi timbanya pelan-pelan, sumurku bukan tambang." Ia masuk, keluar lagi membawa dua jeriken lima liter. "Nih, sekalian. Awas kalau baju langgananku sampai bau sumur."
Tujuan kedua, masjid. Drum penampungan air wudu masih penuh, dan Pak Sarno sang marbot mengizinkan dengan dua syarat: drum tak boleh kosong sebelum subuh, dan Bagas wajib ikut salat subuh. Bagas menyetujui keduanya, sadar ia baru menandatangani kontrak sosial pertamanya di kampung itu tanpa pengacara. Warung Sasa menyumbang empat galon isi ulang. "Taruh di bon saja," kata Sasa sambil nyengir, "biar ibumu tambah pusing baca catatannya."
Perjalanan pertama dua ember terasa ringan. Perjalanan kelima, bahunya mulai mengajukan protes tertulis. Perjalanan kesembilan, sandal jepitnya putus di tengah gang dan ia berjalan bertelanjang kaki karena tak sempat berduka. Takbiran dari corong masjid menggema di atas genting, dan Bagas mengangkut air mengikuti iramanya: takbir, angkat; takbir, jalan; takbir, tumpah sedikit; takbir, mengumpat pelan-pelan.
Di perjalanan kesebelas, sesosok bayangan sudah duduk di depan laundry, kaki dilipat, muka bosan.
"Yanti? Bukannya kamu mudik?"
"Busku besok pagi." Yanti berdiri, mengambil satu ember dari tangannya tanpa diminta. "Kamu ngangkut kayak orang linglung. Ember kiri-kanan nggak rata, pantas jalannya miring."
"Aku nggak minta bantuan."
"Iya. Makanya aku datang. Kasihan embernya."
Entah bagaimana kabar itu menyebar — mungkin lewat Bu RT, mungkin lewat jaringan gosip kampung yang lebih cepat dari takbiran. Pak Lurah datang dengan dua jeriken dan senter kepala seperti mau menambang. Bu Sumi menyusul membawa panci sebesar tudung saji. Anak-anak remaja masjid, selesai takbiran keliling, berkerumun dengan mata mengantuk tapi semangat menggebu; dalam lima menit terciptalah estafet ember dari sumur Bu RT ke bak laundry, delapan anak satu barisan, ember berjalan seperti kereta malam. Mang Udin muncul terakhir, mendorong gerobak servis berisi galon dan ember bekas oli yang dicuci mengilap. "Jangan tanya dapat dari mana," katanya sebelum ada yang bertanya.
Kekacauan itu, anehnya, berjalan. Dua kali ember tumpah. Sekali Bagas kepeleset di depan Pak Lurah dan pura-pura sedang memeriksa lantai. Seekor kucing kampung mengawasi dari atas tembok dengan tatapan menghakimi. Tapi air terus mengalir, bak terus terisi, dan cucian satu demi satu masuk bilasan.
Bu RT membuka warungnya lagi lewat tengah malam, bukan untuk berjualan melainkan untuk merebus air: kopi untuk yang dewasa, teh manis untuk anak-anak, dan sepiring gorengan yang ia bawa dengan gaya pahlawan. "Yang kerja malam harus makan," katanya, lalu menagih lima ribu per gorengan dengan muka serius, sebelum tertawa sendiri dan menggratiskan semuanya. Bagas makan dua buah di depan sumur dan merasa itu gorengan terenak dalam hidupnya — atau mungkin semua makanan memang terasa lebih enak kalau dimakan jam dua pagi dengan kaki basah.
Lewat tengah malam Bu Tini terbangun dan mendapati halamannya seperti pasar malam kecil: orang mengangkut ember, Yanti memeras gamis dengan muka galak, anak-anak remaja bertakbir sambil estafet. Ia tak berkata apa-apa, hanya mengambil kain dan ikut memeras. Bagas hendak melarang, ibunya melotot, dan Bagas tahu itu referendum yang tak bisa diganggu gugat.
Menjelang subuh, bilasan terakhir dikibarkan. Gang itu berubah menjadi hutan kain: sarung, kemeja, dan mukena bergelantungan dari rumah ke rumah, diikatkan ke terali, antena, dan apa pun yang bisa diikatkan. Anak-anak remaja menyetrika bergantian sementara dua kipas angin diarahkan ke baju basah — teknologi pengeringan hasil musyawarah lima menit.
Azan subuh berkumandang saat kemeja terakhir diangkat dari setrikaan. Bagas duduk di lantai di antara tumpukan handuk bersih, punggungnya berbunyi seperti pintu tua setiap kali bergerak. Ia menatap orang-orang yang satu per satu pamit ke masjid — Bu RT, Pak Lurah, Bu Sumi, Mang Udin, anak-anak itu — dan tiba-tiba teringat buku hutang lusuh ibunya. Cucian Pak Hartono yang tak pernah ditagih. Setrika gratis waktu anak Bu Sumi mantu. Cucian keluarga sebelah yang sedang kesusahan dan ibunya menolak dibayar.
Bertahun-tahun ia mengira ibunya pebisnis yang buruk. Malam itu ia paham: ibunya menabung, bukan di bank, tapi di kampung. Dan tabungan itu baru saja dicairkan semalaman, dalam bentuk delapan puluh ember air.
Tiket bus di sakunya terasa tidak seberat tadi sore.