Pagi Lebaran di kampung itu dimulai dengan suara pintu-pintu dibuka hampir serentak, seperti kampung sedang menguap berjamaah. Bagas berdiri di depan cermin sambil bergulat dengan baju koko peninggalan ayahnya yang kekecilan dua senti di bahu. "Ayahmu dulu kurus," kata Bu Tini dari belakang, sudah segar lagi setelah tidur empat jam. "Kamu kebanyakan makan enak di Jakarta." Bagas memutuskan tidak memberi tahu ibunya bahwa makanan terakhirnya di Jakarta adalah mi instan rasa penyesalan.
Di masjid, ia menjalankan kontrak sosialnya: salat Id di saf depan, karena Pak Sarno memegang lengannya seperti penangkap bola liar. Selesai salat, tangannya disalami orang-orang yang namanya belum semua ia hafal, tapi semua sudah hafal namanya. "Mas Bagas!" seru seseorang dari tiga baris belakang. Ia menoleh, dan baru sadar: ia dipanggil Mas. Bukan "anaknya Bu Tini", bukan "sarjana nganggur itu". Mas.
Sebelum keramaian laundry dimulai, Bagas sungkem ke ibunya di teras. Bu Tini kaget — anaknya tidak pernah sungkem sejak SMA — dan tangannya sempat mengambang di udara sebelum mendarat di kepala Bagas. "Maafin Ibu ya, Le. Ibu nggak bisa kasih kamu apa-apa, malah nyuruh kamu jagain cucian orang." Bagas tidak menjawab. Ia cuma menempelkan keningnya lebih lama ke punggung tangan ibunya yang kasar oleh air dan deterjen, dan berpikir bahwa tidak ada ijazah di dunia ini yang setara surat keterangan yang diwakili tangan itu.
Jam delapan, Laundry Berkah dibuka dan kampung datang seperti air bah yang sopan. Antrean mengular tapi berjalan cepat: nama dicatat, kantong diambil, uang dibayar, salam diberikan. Bu Sumi datang membawa toples ketupat. Pak Lurah mengambil jasnya sambil memeriksa kerah dengan mata seorang jenderal, lalu mengangguk — persetujuan tertinggi yang pernah Bagas terima dari pejabat mana pun. Anak-anak mengintip dari balik pintu karena mendengar cerita heroik semalam dan ingin melihat langsung orangnya, lalu kabur tertawa ketika Bagas menoleh.
Seorang pemuda kompleks sebelah mengambil jas abu-abunya untuk wawancara kerja hari Senin, mengangkatnya ke cahaya seperti memeriksa uang palsu, lalu berkata pelan, "Rapi juga ternyata." Bagas mengenal pemuda itu: tiga bulan lalu jasnyalah yang jadi sumber tuduhan noda misterius yang hampir menghancurkan nama laundry. "Semoga keterima kerja," kata Bagas. Pemuda itu menyeringai. "Kalau keterima, jas-jas saya cuci di sini terus."
Setiap pelanggan pergi dengan bersalaman. Beberapa sungkem ke Bu Tini. Seorang nenek yang Bagas tidak kenal menggenggam tangannya lama-lama dan berkata, "Ibumu pernah nyuci seragam suamiku tiap minggu tanpa dibayar, waktu dia dirawat. Kamu anak yang baik, Nak." Bagas mengangguk dan tidak berani menjawab, karena suaranya sedang tidak bisa dipercaya.
Menjelang siang, undangan makan berdatangan seperti orderan dadakan: Bu Sumi memaksa mereka mencicipi ketupat sayurnya, Pak Lurah mengirim opor lewat anaknya, dan warung Bu RT menolak dibayar untuk dua porsi sambal goreng kentang. Bagas makan tiga kali dalam dua jam dan menyerah pada ronde keempat. Yanti pamit mudik sore itu, menyalami Bu Tini, lalu menatap Bagas. "Jangan rusak laundry selama aku pergi." "Aku yang ngurus." "Itu yang kutakutkan."
Menjelang sore antrean habis. Bagas menutup pintu, berbalik, dan mendapati ibunya memandanginya. Ia merogoh saku, mengeluarkan tiket bus Jakarta yang lecek itu, dan merobeknya dua kali di depan ibunya.
"Sayang, tiketnya masih bisa direfund," kata Bu Tini.
Bagas membekap mulutnya. "Ibu!"
Bu Tini tertawa, lalu menangis, lalu tertawa lagi sambil menangis — kombinasi yang hanya bisa dilakukan ibu-ibu. Ia mengambil sobekan tiket dari tangan anaknya, merapikannya di atas meja seperti menyetrika, dan menyimpannya di laci. "Buat kenang-kenangan. Biar kalau kamu sombong lagi, Ibu tunjukkan."
Sore harinya, setelah tamu terakhir pamit dan piring-piring ketupat dicuci, Bagas duduk dengan buku kas. Orderan Lebaran tahun ini yang terbanyak dalam tiga tahun — bukan karena promonya yang gagal-gagal itu, tapi karena warga kampung sengaja mencuci di Laundry Berkah. Ia menekan kalkulator tiga kali untuk memastikan, lalu mendorong kertasnya ke arah ibunya tanpa bicara.
Bu Tini membaca angkanya. Melepas kacamatanya. Membaca lagi. "Cukup?"
"Cukup, Bu. Tunggakan sewa ruko dua bulan, lunas. Masih sisa buat stok deterjen sebulan."
Malam itu Bagas mentransfer pelunasan ke pemilik ruko. Balasan datang sepuluh menit kemudian, singkat dan khas juragan: "Diterima. Ruko aman sampai tahun depan." Bagas membaca pesan itu sampai hurufnya terasa berpijar. Setahun lalu ia mengira keamanan hidup bentuknya kontrak kerja berlogo perusahaan. Ternyata bisa juga bentuknya pesan singkat dari pemilik ruko kampung.
Ia mematikan lampu ruang cuci, mengunci ruko, dan berdiri sebentar di gang yang mulai sepi. Dari rumah-rumah masih tercium sisa rendang dan ketupat. Seseorang di ujung gang menyalakan obor kecil pengusir nyamuk, dan Bagas berdiri di sana lebih lama dari yang diperlukan, hanya untuk menghafal rasa ini: lelah yang pas, perut yang kenyang, dan rumah yang tinggal dua puluh langkah lagi.
Sebelum tidur, ia mampir sekali ke ruang cuci. Si Bandel berkilat dibersihkan Yanti sore tadi, setia seperti kerbau tua. Bagas menepuk tutupnya. "Makasih, ya."
Si Bandel menjawab dengan bunyi: tok. Tok-tok.
Bagas menempelkan telinganya. Bunyi itu datang dari dalam, seperti kentongan kecil yang dipukul orang sabar. Ia mengernyit, menepuk sekali lagi, dan bunyi itu berhenti.
"Paling masuk angin," gumamnya, lalu mematikan lampu.
Di kamarnya, untuk pertama kali sejak pulang kampung, Bagas tidur tanpa bermimpi soal Jakarta sama sekali.