Hari ketiga setelah Lebaran, kampung itu mencuci habis-habisan: sprei bekas mudik, taplak meja kena kuah opor, seragam yang dua minggu ditumpuk. Laundry Berkah kebanjiran order, dan Si Bandel bekerja seperti kuda tua yang disuruh lari. Bunyinya berubah hari demi hari: dari deg-deg menjadi klotok, dari klotok menjadi klotok-klotok dengan variasi bunyi suling tipis yang membuat Yanti berkata, "Mesinnya ngoceh."
Kamis pagi, di tengah putaran penuh dua belas kilo, Si Bandel berhenti. Bukan melambat — berhenti. Lampu indikatornya padam, drumnya terkulai, dan dari dalamnya menguar bau yang tidak salah lagi: gosong. Bagas menekan tombolnya berkali-kali dengan harapan yang makin tipis, seperti orang menelepon nomor yang sudah tidak aktif. Yanti mencabut colokan, menunggu, memasang lagi. Tidak ada. Di dalam drum, dua belas kilo cucian pelanggan mengapung dalam air sabun yang berhenti berputar. Yanti berlutut, menempelkan telinganya ke badan mesin seperti memeriksa napas pasien, lalu menggeleng pelan. "Nggak ada. Biasanya dia masih ngedumel kalau ngambek. Sekarang diam total." Bagas membuka tutup drumnya sekali lagi, berharap menemukan sesuatu yang bisa dikutuk, tapi yang ia temukan cuma wajahnya sendiri terpantul di air sabun yang tenang.
Mang Udin datang sejam kemudian, membongkar panel belakang dengan obeng kesayangannya, dan bekerja dalam diam yang makin lama makin panjang. Bagas mengenal diam seperti itu dari dokter-dokter di sinetron. Akhirnya Mang Udin bangkit, mengelap tangannya, dan menggeleng.
"Dinamo jebol. Gigi gearbox rontok dua. Ini sudah saling makan dari dalam, mungkin sejak tahun lalu." Ia menepuk badan mesin itu pelan. "Biaya benerinnya hampir sama dengan harga mesin bekas. Umurnya sudah lewat, Le. Maaf."
Mang Udin tidak menyerah tanpa perlawanan. Ia mencoba mengganti sekring, mengetuk kapasitor dengan gagang obeng, bahkan memerintahkan Bagas menekan tombol start sambil ia sendiri mendorong drum dari belakang — prosedur yang ia sebut "manual override", padahal sebenarnya cuma dua orang dewasa berkeringat mendorong benda mati. Drum berputar seperempat lingkaran, berdecit, lalu berhenti lagi dengan bunyi yang membuat Mang Udin menutup panel dengan hormat, seperti orang menutup peti. "Sudah, Le. Jangan disiksa. Dia ini bandel, tapi bandel juga ada pensiunnya."
Entah siapa yang menyiarkan, sore itu warga berdatangan seperti melayat. Bu RT membawa kembang plastik dari warungnya dan meletakkannya di atas mesin. Pak Lurah mengenang Si Bandel yang "sudah ada sebelum saya jadi lurah". Anak-anak menuliskan kata perpisahan di kertas HVS — "Selamat jalan mesin, terima kasih sudah muter" — dan menempelnya dengan lakban. Hanya Bagas yang tidak bisa berkabung dengan tenang, karena di kepalanya yang berputar bukan kenangan, melainkan angka.
Bu Tini paling lama berdiri di samping mesin itu. "Ibu beli dia waktu Bagas kelas tiga SD," katanya, bukan pada siapa-siapa. "Bekas juga. Abis Ayah pergi, Ibu hitung-hitung: mesin cuci tangan itu kan kurus, bisa buat nerima cucian orang." Ia tertawa kecil. "Dia ini karyawan pertama Laundry Berkah. Nggak pernah minta naik gaji, cuma minta digoyang-goyang kalau ngambek." Bagas mendengarkan dari ambang pintu tanpa bersuara; untuk pertama kalinya ia mengerti bahwa mesin tua itu bukan barang, melainkan teman seperjuangan ibunya dari masa yang tidak pernah diceritakan.
Karena ini masalahnya: laundry tanpa mesin itu bukan laundry, itu gudang baju kotor. Pagi berikutnya telepon mulai berbunyi. Bu Painem menanyakan spreinya. Agen ojek kompleks menagih seragam anaknya. Bagas menjawab satu per satu dengan janji "dua hari lagi" yang ia sendiri tidak tahu dasarnya apa. Di seberang gang, spanduk Clean & Go berkibar seperti sedang senam. Setiap pelanggan yang kecewa hari ini adalah pelanggan yang pindah selamanya, dan mereka semua tahu ke mana pindahnya.
Yang paling berat adalah telepon dari juragan ojek kompleks, pemilik dua puluh stel seragam anak sekolah — pelanggan terbesar mereka sejak Lebaran. "Mas Bagas, saya bukan nggak tahu diri," katanya, terdengar tidak enak. "Tapi Senin anak-anak pada pakai. Kalau di situ nggak bisa, saya terpaksa lari ke seberang." Seberang berarti Clean & Go. Bagas menelan sesuatu di tenggorokannya dan berkata, "Kasih saya waktu, Pak. Saya kabari sebelum Senin." Ia menutup telepon dan menatap langit-langit, menghitung mundur bukan dalam hari, melainkan dalam pelanggan.
Malamnya Bagas membuka buku kas di bawah lampu, dan buku itu menjawab dengan kejujuran yang menyebalkan. Uang Lebaran sudah lunas untuk sewa ruko. Sisanya cukup untuk operasional — deterjen, plastik, listrik — paling lama dua minggu. Mesin bekas yang masih layak, menurut iklan-iklan yang pernah ia lihat, harganya empat sampai enam kali lipat dari sisa kas. Ia menulis angka itu, mencoretnya, menulis lagi, seolah kalau ditulis cukup sering angkanya akan malu dan mengecil sendiri.
"Nggak usah dipaksa malam ini," kata Bu Tini dari ambang pintu. "Mesin nggak bisa dibeli pakai begadang."
"Aku cuma menghitung, Bu."
"Kamu nggak menghitung. Kamu bertengkar sama kalkulator."
Bagas menunduk, menemukan dirinya tersenyum kecil, dan menutup buku. Tapi sebelum tidur ia kembali sekali ke ruang cuci, duduk di lantai di samping bangkai Si Bandel, dan membiarkan hening. Seminggu lalu ia baru belajar bahwa kampung ini menyelamatkannya. Sekarang mesinnya mati tepat setelah mereka selamat. Hidup, pikirnya, punya selera humor yang perlu dipertanyakan.
"Kamu dulu bandel," katanya pada mesin itu. "Kenapa berhenti sekarang, pas kita mulai bener?"
Si Bandel tidak menjawab. Untuk pertama kalinya dalam sejarah laundry itu, ia tidak berbunyi apa-apa sama sekali — dan justru itu yang paling berisik.