Bagas mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan: kertas. Selama dua hari ia membuat proposal kecil di atas meja makan — proposal untuk audiens satu orang yang sedang memasak sayur lodeh. Isinya: harga mesin bekas layak pakai (empat sampai enam setengah juta), kapasitas (minimal dua belas kilo, supaya tidak mengulang nasib Si Bandel), umur pakai, dan skenario balik modal. Ia bahkan membuat grafik batang dengan spidol. Yanti lewat, melihat grafiknya, dan berkomentar, "Bagus. Mesinnya mana?"
Sebelum survei, Bagas menginterogasi Mang Udin lebih dulu, karena dalam hal mesin, tukang servis adalah dosennya. Mang Udin memberi kuliah singkat sambil membetulkan kabel setrika: bekas hotel kecil lebih kuat daripada bekas rumah tangga, karena dipakai berat tiap hari tapi dirawat bengkel; hindari merek yang suku cadangnya sudah tidak dijual; dan yang paling penting, "pilih mesin yang tombolnya sedikit, Le. Makin banyak tombol, makin banyak yang bisa rusak." Bagas menulis semuanya dengan khidmat mahasiswa bimbingan skripsi.
Survei lapangan dilakukan naik motor pinjaman Mang Udin. Toko elektronik bekas pertama menawarkan mesin "istimewa, jarang pakai, ibu-ibu punya" yang ketika dinyalakan berbunyi seperti sedang menggerutu. Toko kedua, di pasar loak, menjual mesin yang tutupnya penyok, dan penjualnya bilang penyok itu "justru tanda sering dipakai, berarti awet". Bagas menawar; penjual menurunkan dua ratus ribu sambil berakting terluka; Bagas tahu akting itu karena ia juga aktor — ia menaikkan tawarannya seratus ribu sambil berakting mau pergi. Mereka berpisah tanpa sepakat, tapi saling menghormati.
Di sudut pasar loak itu ia juga menemukan mesin yang harganya menggiurkan — dua juta saja — dan setelah dinyalakan ia tahu sebabnya: mesin itu berputar dengan irama tak beraturan, seperti orang berjalan sambil tersedak, dan penjualnya menyebut itu "karakter". Bagas menolak halus, dan penjual itu mengangguk maklum, seolah menawarkan mesin sakit memang pekerjaan yang terhormat.
Di toko ketiga, milik Pakde Jono, ia menemukan yang masuk akal: mesin dua tabung bekas hotel kecil, umur tiga tahun, perawatan rapi, bunyi halus. Harga lima juta dua ratus, bisa turun kalau serius. Bagas mencatat semuanya dan pulang dengan bau knalpot dan sedikit harapan.
Harapan itu menabrak meja makan malam.
"Utang?" Bu Tini meletakkan sendoknya. "Kita baru lunas sewa, Le. Sekarang mau utang lagi?"
"Bukan utang sembarangan, Bu. Ini investasi. Aku hitung, dengan order sekarang, balik modalnya sepuluh bulan—"
"Order sekarang itu order Lebaran. Habis ini masuk musim hujan, jemuran lama kering, orang nyuci nunda-nunda. Bulan ketiga belas kamu bilang sepuluh bulan?"
"Kalau musim hujan orang malah nggak bisa jemur, Bu, justru butuh laundry."
"Yang nyuci iya butuh. Yang bayar belum tentu buru-buru."
Mereka berdebat sampai nasi habis. Bagas bicara balik modal, arus kas, titik impas — semua kata yang ia pelajari dari buku dan pernah ia pakai untuk merusak laundry ini di awal kedatangannya. Bu Tini bicara dengan bahasa lain: harga deterjen yang naik dua ribu per kilo, Yanti yang gajinya tak boleh telat, listrik yang melonjak tiap musim penghujan karena setrika dan kipas menyala terus, dan biaya-biaya kecil yang tidak pernah masuk proposal mana pun — keran bocor, pintu reyot, sumbangan mantu tetangga. Bu Tini bahkan punya kategori pengeluaran yang membuat Bagas mengernyit: "biaya jaga-jaga perasaan orang" — untuk sedekah, untuk kasbon, untuk cucian yang dibayar kapan-kapan. Bagas protes itu bukan pos bisnis; Bu Tini menjawab itu justru pos paling bisnis dari semuanya, dan menyuruh anaknya membaca ulang malam takbiran.
"Angkamu benar," kata Bu Tini akhirnya, dan Bagas hampir senang sebelum ibunya melanjutkan, "tapi angkamu cuma tahu laundry dari buku. Ibu tahu laundry dari dapur. Di dapur, yang namanya pasti itu cuma satu: pasti ada yang tidak terduga."
Bagas diam. Malam itu ia membuka lagi proposalnya dan, dengan gengsi yang berhasil ia telan, menambahkan satu kolom baru: "Skenario Buruk". Musim hujan. Order turun tiga puluh persen. Ada keran bocor. Di kolom itu, cicilan utang tiba-tiba terlihat jauh lebih seram daripada di kolomnya yang rapi.
Esoknya ia juga belajar satu hal: proposal yang baik harus lulus ujian operator. Ia memanggil Yanti, menunjukkan tiga kandidat mesin, dan bertanya pendapatnya. Yanti mempelajari foto-fotonya sebentar, menunjuk satu, dan berkata, "Ini. Drum-nya gede, tutupnya enak, tombolnya dikit." Persis kata Mang Udin. Bagas bertanya kenapa tombol sedikit itu penting. Yanti menatapnya seperti menatap orang yang bertanya kenapa payung penting saat hujan. "Karena yang pakai tiap hari itu aku, bukan proposal kamu." Bagas mencatat itu dengan huruf kapital: DENGARKAN YANG PAKAI. Di bawahnya ia menambahkan dengan huruf lebih kecil: "...terutama kalau dia galak."
Pagi berikutnya ia menyerahkan proposal revisi ke ibunya. "Kesimpulan baru. Utang bank, tidak. Rentenir, apalagi. Kita cari jalan lain sambil menyisihkan laba harian. Kalau dalam sebulan tidak ketemu jalan, baru kita bicara utang lagi — dengan hitungan yang sudah ada skenario buruknya."
Bu Tini membaca pelan-pelan, lalu mengangguk. "Ini baru hitungan anak sama ibu."
Di bawah tabel itu, dua tangan sudah mencoret dan menulis bergantian — spidol hitam Bagas, pulpen biru Bu Tini — dan Bagas sadar itu dokumen perusahaan keluarga pertama mereka yang benar-benar sah.