Pagi-pagi sekali, seprai Pak Guru Hadi sudah kering, meski masih sedikit lembap di sudut. Bu Tini menyetrikanya dengan setrika uap yang juga sudah uzur, lalu melipatnya rapi dan membungkusnya dengan plastik. Pak Guru Hadi datang tepat sebelum subuh, menerima bungkusan itu, dan tidak pernah tahu bahwa semalaman seprainya dikucek dengan tangan oleh seorang sarjana manajemen yang sedang krisis identitas.
Tapi masalah sesungguhnya belum selesai. Mesin cuci itu masih mati, dan tanpanya, Laundry Berkah cuma punya dua tangan Bu Tini dan dua tangan Bagas yang masih pegal. Maka pagi itu, Bu Tini menelepon Mang Udin.
Mang Udin datang setengah jam kemudian dengan motor butut yang knalpotnya lebih berisik dari mesin cuci, membawa tas kain berisi obeng, tang, dan benda-benda logam yang Bagas tidak tahu namanya. Mang Udin adalah lelaki kurus berkumis tipis, usia sekitar lima puluhan, yang menurut Bu Tini bisa memperbaiki apa saja: kipas angin, kompor, antena TV, sampai sepeda. Kunci keahliannya, kata Mang Udin sendiri, adalah "perasaan".
"Ini mah Si Bandel emang udah tua, Bu," kata Mang Udin sambil menempelkan telinganya ke badan mesin seperti dokter mendengar detak jantung. "Dia tuh kaya orang tua. Kalau dingin, ngambek. Kalau dipaksa muter berat, ngambek. Mesti dirayu."
Bagas, yang menyaksikan dari samping dengan tangan terlipat, tidak tahan. "Mang, mesin kan benda mati. Mana bisa dirayu. Pasti ada komponen yang rusak. Mungkin dinamonya, atau drive belt-nya."
Mang Udin menengok ke Bagas dengan tatapan yang sopan tapi jelas menahan diri untuk tidak tertawa. "Wah, pinter Masnya. Sekolah teknik ya?"
"Manajemen," jawab Bagas.
"Oh, manajemen." Mang Udin mengangguk-angguk, lalu kembali ke mesinnya, dan dengan demikian secara halus mengakhiri kredibilitas teknis Bagas tanpa satu kata kasar pun.
Mang Udin membongkar panel belakang mesin. Di dalamnya, kabel-kabel kusut, karat, dan debu yang menggumpal jadi karpet. Bagas melongok, dan harus mengakui dalam hati bahwa ia tidak mengerti satu pun dari yang ia lihat. Ilmu "drive belt" yang ia sebut tadi cuma ia baca sekali di forum internet semalam, dan kini terbukti tidak ada gunanya di hadapan mesin sungguhan.
Di tengah pembongkaran itu, lonceng pintu berbunyi, dan masuklah seorang perempuan muda dengan jaket denim, rambut diikat asal, dan ekspresi orang yang sudah hafal pekerjaannya sampai bosan. Ini Yanti, karyawan paruh waktu yang membantu Bu Tini tiga hari seminggu. Ia menaruh tasnya, menggulung lengan, dan langsung mulai memilah tumpukan cucian baru tanpa diberi tahu apa-apa.
"Mesin ngambek lagi?" tanya Yanti tanpa menengok.
"Iya, parah kali ini," sahut Bu Tini.
Yanti mendecak. Lalu matanya jatuh ke Bagas, dan ia mengukur pemuda itu dari atas ke bawah dalam satu sapuan pandang yang cepat. "Anaknya Bu Tini? Yang katanya manajer di Jakarta?"
"Bukan manajer," Bagas mengoreksi cepat. "Belum. Maksudnya, masih cari."
"Hmm." Yanti mengangkat satu kaus dari tumpukan, membaliknya, menunjuk noda kuning di ketiak. "Ini noda keringat lama. Kalau dicuci biasa nggak ilang. Mesti direndam pakai cuka sama soda kue dulu. Tau nggak?"
Bagas tidak tahu. "Eh, itu kan bisa dilihat di prosedur standar..."
"Prosedur standar." Yanti mengulang dengan nada datar yang anehnya lebih menohok dari ejekan. Ia mengambil kaus berikutnya. "Yang ini bahan rayon, nggak boleh diperes kenceng, nanti melar. Yang ini sablonnya bakal ngelupas kalau disetrika langsung, mesti dibalik. Yang ini punya Bu Marni, dia paling cerewet kalau ada bau apek dikit, jadi harus dijemur kena angin, bukan cuma dikeringin mesin."
Bagas menatap Yanti memilah cucian dengan kecepatan dan ketepatan yang membuatnya bungkam. Di kepalanya, mencuci adalah satu kata kerja sederhana: masukkan, putar, jemur. Tapi di tangan Yanti, mencuci ternyata punya cabang ilmu sebanyak peta keluarga: jenis kain, jenis noda, watak pemilik, cuaca, jenis sablon. Setiap potong baju punya aturannya sendiri, dan aturan-aturan itu tidak tertulis di mana pun, melainkan tersimpan di kepala orang-orang seperti Yanti dan ibunya.
"Kamu kira ini kerjaan gampang ya?" kata Yanti, masih tanpa menengok. "Banyak yang mikir gitu. Cuma muter mesin. Padahal kita ini pegang baju orang. Tanggung jawab. Salah dikit, hilang satu kaus kaki aja, bisa dimarahin sampai ke RT."
Bagas membuka mulut, tapi tidak ada yang keluar. Untuk pertama kalinya ia merasa, di ruangan ini, dialah yang paling bodoh. Bukan ibunya yang cuma lulusan SD. Bukan Yanti yang anak STM tidak tamat. Bukan Mang Udin yang ilmunya "perasaan". Tapi dia, sarjana manajemen, yang merasa paling pintar tapi tidak bisa membedakan kain rayon dari kain katun.
"Nah!" seru Mang Udin tiba-tiba dari balik mesin. "Ketemu. Ini kabelnya kegigit tikus, terus karbon dinamonya aus. Wajar, namanya juga udah belasan tahun. Bisa diganti, tapi sparepart-nya mesti nyari di toko loak Pasar Klewer, soalnya model lama udah nggak diproduksi."
"Berapa, Mang?" tanya Bu Tini, dan Bagas melihat kekhawatiran melintas di wajah ibunya, kekhawatiran soal uang yang langsung ia kenali.
"Sparepart sama ongkos, paling dua ratus lima puluh. Tapi itu cuma nahan, Bu. Mesin ini umurnya udah mau habis. Cepat atau lambat mesti ganti baru."
Bu Tini mengangguk pelan, dan Bagas tahu bahwa dua ratus lima puluh ribu itu bukan jumlah kecil di rumah ini. Ia melirik ibunya, lalu mesin tua itu, lalu tumpukan cucian yang menunggu, lalu Yanti yang sudah lanjut bekerja seakan dunia tidak boleh berhenti hanya karena satu mesin rusak.
Dan tanpa benar-benar memutuskan, tanpa pidato di kepalanya soal gengsi dan sarjana, Bagas berkata, "Mang, saya ikut ke Pasar Klewer. Biar saya yang nawar sparepart-nya. Saya... lumayan jago nawar."
Mang Udin menyeringai. "Nah, gitu dong. Lumayan ada yang gendong tasnya."
Yanti, dari sudut ruangan, mendengus pelan. Tapi kali ini, Bagas berani bersumpah, di ujung dengusan itu ada sedikit, sangat sedikit, rasa hormat. Atau mungkin cuma harapannya saja. Ia tidak yakin. Tapi ia ikut Mang Udin ke pasar siang itu, dan untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan apakah kerjaan ini pantas buat sarjana atau tidak. Ia cuma memikirkan bagaimana caranya menawar karbon dinamo dari harga delapan puluh jadi enam puluh lima.