Si Bandel hidup lagi tiga hari kemudian, setelah Bagas berhasil menawar sparepart di Pasar Klewer sampai murah dan Mang Udin memasangnya sambil ngobrol soal harga cabai. Mesin tua itu kembali berputar dengan suara batuk-batuknya yang khas, dan Bu Tini bersorak kecil seakan menyambut anggota keluarga yang pulang dari rumah sakit. Bagas pura-pura cuek, tapi diam-diam ia ikut lega.
Kelegaan itu tidak bertahan lama.
Pagi berikutnya, saat Bagas mengantar pesanan dengan sepeda ibunya, ia melihatnya. Di seberang gang, di ruko yang dulu kosong, kini berdiri bangunan baru dengan cat putih bersih, kaca lebar, dan papan nama yang menyala terang bahkan di siang hari: CLEAN & GO. Laundry Modern. Di bawahnya ada gambar ponsel dengan tulisan: Pesan lewat aplikasi, antar-jemput gratis, selesai dalam 24 jam, garansi bersih.
Bagas mengerem sepeda. Ia menatap ruko itu seperti menatap musuh. Lewat kaca, ia melihat barisan mesin cuci front-loading yang mengilap, pengering otomatis, rak baju yang tertata rapi seperti butik, dan seorang lelaki muda berkemeja rapi sedang menjelaskan sesuatu kepada pelanggan dengan tablet di tangan. Semuanya bersih, terang, modern. Kebalikan total dari Laundry Berkah yang sumpek, beruap, dan beraroma melati uzur.
Di sebelahnya, dua ibu-ibu yang ia kenal, langganan lama ibunya, sedang masuk ke Clean & Go sambil mengobrol. Bagas merasakan tusukan di dadanya.
Ia pulang dengan wajah masam dan langsung melapor ke ibunya. "Bu, tau nggak ada laundry baru di seberang? Yang gede, putih itu. Clean & Go."
Bu Tini, yang sedang menyetrika, tidak mengangkat kepala. "Oh, iya, sudah sebulan lebih itu. Punya Mas Rendra."
"Ibu kenal?"
"Ya kenal lah. Dia anaknya Bu Warsih, yang rumahnya di RT sebelah. Dulu sering main ke sini waktu kecil, ngambilin permen di toples ibu." Bu Tini akhirnya menengadah, dan Bagas terkejut melihat tidak ada kebencian di wajah ibunya, cuma semacam keletihan yang sudah lama. "Dia merantau ke Surabaya, kerja di perusahaan apa gitu. Terus balik, buka laundry itu. Katanya mau ngembangin kampung."
"Ngembangin kampung," Bagas mengulang dengan nada sinis. "Ngembangin dompet sendiri kali, Bu. Sejak dia buka, pelanggan kita berapa yang kabur?"
Bu Tini terdiam sejenak, lalu menarik buku catatan kembang-kembangnya, membuka halaman, menelusuri dengan jari. "Bu Yuli pindah. Keluarga Pak Hartono pindah. Anak-anak kos di gang tiga, yang dulu langganan tiap minggu, sekarang pakai aplikasinya Rendra karena bisa pesan dari HP, nggak usah jalan ke sini." Suaranya pelan. "Lumayan banyak, Le."
Bagas merebut buku itu, menghitung sendiri. Dalam sebulan, pemasukan turun hampir sepertiga. Untuk usaha sekecil ini, sepertiga adalah selisih antara bertahan dan tenggelam. Otak manajemennya, yang selama ini cuma ia pakai untuk membayangkan diri di kantor, tiba-tiba menyala. Ini masalah pangsa pasar. Ini kompetisi. Ini hal yang ia pelajari di kampus.
"Bu, kita harus lawan," katanya, dan untuk pertama kalinya suaranya bukan suara orang yang malu pada laundry, melainkan suara orang yang tersinggung gengsinya. "Masa kalah sama anak kemarin sore yang modalnya cuma aplikasi."
Bu Tini menatap anaknya dengan campuran khawatir dan, mungkin, harapan kecil. "Lawan gimana, Le? Kita nggak punya aplikasi. Mesin kita cuma satu, itu pun Si Bandel. Modal nggak ada."
"Nanti aku pikirin. Pokoknya nggak bisa dibiarin."
Sorenya, didorong rasa penasaran dan dendam kecil, Bagas berjalan ke seberang gang. Ia ingin mengintai musuh. Ia berdiri di depan Clean & Go pura-pura main ponsel, mengamati. Dari dekat, tempat itu memang lebih mengesankan: lantai mengilap, AC dingin, ada dispenser air mineral gratis untuk pelanggan yang menunggu, dan musik pelan dari speaker.
Lelaki muda tadi keluar, melihat Bagas, dan tersenyum ramah. "Mau laundry, Mas? Pertama kali gratis ongkir, lho. Bisa dijemput ke rumah."
Bagas mendongak. Dari dekat, Rendra ternyata seumuran dengannya, mungkin lebih tua satu-dua tahun, dengan wajah lelah yang disembunyikan di balik senyum profesional. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Kemejanya rapi, tapi ujung lengannya ada noda yang tidak sempat ia ganti.
"Nggak, makasih," jawab Bagas kaku. "Saya... cuma lewat."
Rendra mengangguk, lalu memicingkan mata sedikit. "Eh, Mas ini anaknya Bu Tini ya? Yang Laundry Berkah?" Senyumnya melebar, tapi kali ini lebih tulus, lebih kampung. "Saya Rendra. Dulu sering main ke rumah Bu Tini. Beliau baik banget, dulu sering kasih saya makan kalau saya laper. Salam ya buat beliau."
Bagas tidak menyangka disapa begitu. Ia ingin membenci Rendra, tapi laki-laki ini malah ramah, dan menyebut ibunya dengan hormat. "Iya, nanti saya sampaikan," katanya, terbata.
"Sehat-sehat ya, beliau," kata Rendra, lalu ada jeda, dan sesuatu yang lelah muncul di matanya. "Usaha laundry ini... berat ya, Mas. Kelihatannya doang gampang." Ia menengok ke dalam rukonya yang mengilap, lalu menambahkan pelan, hampir pada dirinya sendiri, "Saya juga lagi mikir keras nih, gimana caranya nutup setoran."
Kalimat terakhir itu keluar begitu saja, lalu Rendra seperti sadar ia kelepasan, dan buru-buru memasang senyum profesionalnya lagi. "Eh, yaudah, Mas. Saya masuk dulu, ada orderan. Salam buat Bu Tini."
Bagas berjalan pulang dengan kepala penuh. Ia datang untuk membenci, tapi pulang dengan kebingungan. Musuhnya, ternyata, bukan raksasa jahat bermodal besar. Musuhnya adalah anak kampung yang juga sedang pusing memikirkan setoran, yang punya lingkaran hitam di matanya, dan yang mengingat ibunya pernah memberinya makan waktu kecil. Itu tidak membuat persaingan ini hilang. Tapi membuatnya jauh lebih rumit, dan, anehnya, lebih nyata.
Malam itu, Bagas menyampaikan salam Rendra ke ibunya. Bu Tini tersenyum. "Anak baik dia. Cuma sekarang lagi berusaha aja, sama kaya kita." Lalu ibunya menambahkan, dengan kebijaksanaan yang membuat Bagas terdiam, "Saingan itu bukan musuh, Le. Cuma orang yang lagi lari di jalan yang sama. Kadang malah dia juga capek."