Bagas tidak bisa tidur memikirkan Clean & Go. Bukan karena dendam lagi, sebab dendamnya sudah mengempis sejak bertemu Rendra. Tapi karena gengsinya yang lain, gengsi sarjana, bersikeras bahwa ia tidak boleh kalah oleh aplikasi dan ongkir gratis. Ia punya ilmu. Ia punya teori. Dan teori, dalam keyakinan Bagas yang naif, pasti mengalahkan praktik.
Maka pagi itu, ia mengumpulkan ibunya dan Yanti untuk "rapat strategi". Ia bahkan menggambar diagram di kertas bekas: panah-panah, kotak-kotak, kata-kata seperti "efisiensi", "branding", dan "segmentasi pasar". Bu Tini memandangi kertas itu seperti memandangi peta harta karun dalam bahasa asing. Yanti melipat tangan, skeptis.
"Begini," Bagas memulai dengan penuh percaya diri. "Masalah kita ada tiga. Satu, kita kalah modern. Dua, harga kita kemurahan, jadi keuntungan tipis. Tiga, brand kita kuno. Nah, solusinya, kita rombak semua."
Yanti mengangkat alis. "Rombak gimana?"
"Pertama, sistem antrean. Mulai sekarang, semua pelanggan ambil nomor antrean. Kita catat di papan, ada estimasi waktu selesai, ada status: dicuci, dijemur, disetrika, siap diambil. Biar profesional, biar nggak ada yang protes lupa."
Bu Tini mengernyit. "Tapi Le, pelanggan kita kan udah ibu hafal semua. Bu Sumi tinggal bilang 'yang biasa, Bu Tini', ibu langsung tau. Ngapain pakai nomor?"
"Itu dia masalahnya, Bu. Ibu ngandelin ingatan. Nggak scalable. Kalau pelanggan banyak, ibu pasti lupa." Bagas menulis SISTEM ANTREAN di kertasnya dengan tegas. "Kedua, rebranding. Nama 'Laundry Berkah' itu... maaf ya Bu, terlalu kampung. Kita ganti jadi yang lebih catchy. Aku usul: 'Fresh Laundromat Solo'."
Hening. Yanti tertawa pendek, lalu menutupnya dengan batuk. Bu Tini cuma menatap anaknya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Ketiga," Bagas melanjutkan, tidak menyadari suasana, "harga. Kita naikkan sedikit, dari lima ribu jadi tujuh ribu per kilo. Kita posisikan sebagai laundry premium, bukan laundry murahan. Orang itu suka yang mahal, Bu, mereka pikir mahal berarti bagus."
"Le," Bu Tini akhirnya bicara, pelan. "Pelanggan kita itu ibu-ibu kampung. Mereka pilih kita karena murah. Kalau dinaikin..."
"Justru itu, Bu, kita saring. Kita cari pelanggan yang mau bayar lebih untuk kualitas. Itu namanya segmentasi." Bagas tersenyum, yakin sepenuhnya bahwa ia sedang menyelamatkan usaha ibunya dengan ilmu modern.
Bu Tini menghela napas panjang, lalu, dengan kelembutan seorang ibu yang memutuskan membiarkan anaknya belajar dari jatuh sendiri, berkata, "Yaudah. Coba seminggu. Kalau kamu yang ngatur, ibu ikut."
Maka dimulailah minggu paling kacau dalam sejarah Laundry Berkah.
Hari pertama, Bagas memasang papan antrean dari kardus bekas, lengkap dengan kolom-kolom rapi. Pelanggan pertama, Bu Sumi, datang membawa keresek cucian seperti biasa, lalu kebingungan melihat papan baru.
"Ini apa, Mas?"
"Ibu ambil nomor antrean dulu di sini, terus saya catat, terus ibu pantau statusnya di papan."
"Lah, saya kan tinggal naruh, terus besok ambil. Ngapain nomor-nomoran? Emang ini puskesmas?" Bu Sumi mengernyit, tapi mengikuti, dengan wajah orang yang merasa hidupnya jadi ribet tanpa alasan.
Hari kedua, papan nama lama ditutup kertas bertuliskan FRESH LAUNDROMAT SOLO dengan spidol. Hasilnya, tiga pelanggan baru yang lewat malah bingung dan tidak masuk, mengira Laundry Berkah sudah tutup dan diganti tempat asing. Sementara pelanggan lama mengira Bu Tini menjual usahanya.
"Bu Tini-nya ke mana? Laundry-nya udah pindah tangan ya?" tanya Pak RT, melongok.
"Masih saya, Pak," Bu Tini berseru dari dalam, lelah. "Cuma anak saya yang ganti nama."
Hari ketiga, kenaikan harga mulai berlaku, dan inilah pukulan terberat. Bu Marni, yang datang membawa dua keranjang penuh, melihat papan harga baru dan langsung melotot.
"Tujuh ribu? Kemarin lima ribu! Naik dua ribu sekaligus?" Suaranya melengking, dan dalam hitungan menit kabar itu menyebar ke warung Bu RT seperti api di jerami kering. "Sombong sekarang Laundry Berkah. Gara-gara anaknya pulang dari Jakarta, sok-sokan jadi mahal!"
Hari keempat, antrean kacau karena sistem nomor buatan Bagas tidak cocok dengan kebiasaan pelanggan yang menitip dan mengambil tidak berurutan. Satu keranjang cucian tertukar nomornya, dan Bagas menghabiskan dua jam mencocokkan kembali sambil keringat dingin, ditertawai Yanti yang berkata, "Tuh, kan. Otak ibumu lebih scalable dari papan kardusmu."
Puncaknya hari kelima. Bagas, yang sedang mengantar cucian, dipanggil mampir ke warung Bu RT. Di sana sudah berkumpul empat ibu-ibu, termasuk Bu Marni dan Bu Sumi, dengan teh dan gorengan. Mereka tidak memarahinya. Justru lebih buruk dari itu: mereka menasihatinya dengan halus, sambil tersenyum, dengan cara khas ibu-ibu kampung yang menusuk lebih dalam daripada bentakan.
"Mas Bagas," kata Bu RT, menyodorkan teh. "Sini, duduk. Minum dulu. Capek ya ngurus laundry?"
Bagas duduk dengan firasat buruk.
"Mas ini pinter, sekolahan tinggi, kita semua bangga," lanjut Bu RT. "Tapi Mas, kampung ini bukan Jakarta. Di sini, ibumu itu nolong kita bertahun-tahun. Waktu cucian saya numpuk pas mantu, dia bantuin sampai malam, nggak nambah ongkos. Waktu Bu Sumi sakit, ibumu anter cuciannya sampai depan pintu. Kita pakai Laundry Berkah bukan cuma karena murah, Mas. Tapi karena ibumu itu sudah kaya saudara."
Bu Marni menimpali, lebih lembut sekarang, "Nama yang baru itu apa tadi? Fres lon... aduh, susah. Kita nggak ngerti, Mas. Buat kita, itu tetap Laundry-nya Bu Tini."
Bagas menunduk, memandangi teh di depannya. Setiap kata itu menampar pelan tapi telak. Ia datang dengan diagram dan teori, dengan kata-kata seperti segmentasi dan branding, dan ia lupa satu hal paling dasar yang tidak diajarkan di kampus: bahwa usaha kecil ini bukan mesin yang bisa dioptimalkan dengan rumus, melainkan jaring hubungan antarmanusia yang dirajut ibunya selama bertahun-tahun dengan kebaikan, bukan dengan efisiensi.
"Maaf, Bu," katanya akhirnya, suara nyaris berbisik. "Saya... salah."
Ibu-ibu itu tersenyum puas, lalu menyodorkan gorengan, dan dengan itu memaafkannya. Bagas pulang membawa pisang goreng di tangan dan rasa malu di dada. Malam itu, ia mencopot kertas FRESH LAUNDROMAT SOLO, mengembalikan harga jadi lima ribu, dan membuang papan antrean kardusnya ke tempat sampah. Bu Tini melihatnya tanpa berkata apa-apa, hanya menepuk pundak anaknya sekali, dan kembali menyetrika.