Setelah kegagalan minggu manajemen modern, Bagas merendahkan ego sedikit. Cuma sedikit. Ia masih yakin ilmunya berguna, ia cuma salah menerapkannya, begitu pembelaannya pada diri sendiri. Tapi ia mulai melakukan hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan: ia mengamati. Ia memperhatikan bagaimana ibunya menerima cucian, bagaimana Yanti memilah, bagaimana setiap baju punya pemilik yang punya cerita. Pengamatan itu yang menyelamatkannya saat badai berikutnya datang.
Badai itu bernama: celana batik Pak Lurah.
Kejadiannya bermula biasa. Pagi itu Laundry Berkah ramai, Si Bandel berputar penuh, dan Bagas membantu melipat sambil masih belajar membedakan kain. Sore hari, Pak Lurah mengirim ajudannya, seorang pemuda gugup bernama Joko, untuk mengambil cucian. Joko menerima bungkusan plastik, membayar, dan pergi tanpa mengecek. Setengah jam kemudian, telepon rumah berdering keras.
Bu Tini mengangkat, dan dari gagang terdengar suara Pak Lurah yang menggelegar sampai Bagas yang berdiri tiga meter pun mendengarnya. "BU TINI! INI CELANA BATIK SAYA MANA? KOK YANG DIBUNGKUS DASTER PEREMPUAN? BESOK SAYA ADA ACARA RESMI DI KECAMATAN! BATIK ITU PEMBERIAN MERTUA SAYA, ALMARHUM!"
Bu Tini langsung pucat. "Astaghfirullah. Tukeran, Pak. Sebentar, kami cari. Sebentar ya, Pak Lurah, jangan marah dulu."
Ia menutup telepon dengan tangan gemetar. "Le, gawat. Celana batik Pak Lurah ketuker. Yang di bungkusannya malah daster perempuan. Berarti batiknya nyasar ke pelanggan lain."
Dan di sinilah, di tengah krisis kecil ini, sesuatu di dalam Bagas yang sudah dua tahun mati suri tiba-tiba menyala. Bukan ego. Bukan teori. Tapi insting menyelesaikan masalah, insting yang dulu membuatnya bersemangat kuliah manajemen sebelum dunia menolaknya berkali-kali.
"Tenang, Bu," katanya. "Kita lacak. Daster yang nyasar ke Pak Lurah ini punya siapa?"
Yanti mengambil daster dari bungkusan yang ditolak Pak Lurah, membaliknya, memeriksa. "Ini... motif kembang ungu, ada bordir di lehernya. Kayanya punya Bu Sumi. Tapi Bu Sumi punya tiga daster mirip, susah dibedain."
"Oke. Berarti kemungkinan batik Pak Lurah ada di bungkusan Bu Sumi." Bagas mengambil buku catatan ibunya, menelusuri orderan hari itu. "Siapa aja yang ngambil cucian hari ini selain Pak Lurah?"
Bu Tini menyebut nama. Bu Sumi, keluarga Pak Guru Hadi, anak kos gang tiga, dan satu lagi, Bu Wati penjual jamu. Bagas mencatat semua, lalu, untuk pertama kalinya sejak pulang, ia keluar rumah bukan untuk gengsi melainkan untuk misi. Ia menyusuri gang, mengetuk pintu demi pintu, seperti detektif yang menyelidiki kasus baju hilang.
Rumah pertama, Bu Sumi. "Bu, maaf, cucian tadi udah dibuka belum?"
"Belum, Mas, masih di meja. Kenapa?"
"Boleh saya cek? Sepertinya ada yang ketuker."
Bu Sumi membuka bungkusannya, dan benar saja, di antara dasternya terselip celana batik cokelat keemasan yang jelas bukan miliknya. "Lah, ini celana siapa? Bagus amat. Bukan punya saya."
"Itu punya Pak Lurah, Bu!" Bagas hampir berteriak lega. Ia mengambil celana itu seperti memungut piala. "Tapi berarti daster Ibu yang satu nyasar ke Pak Lurah. Boleh saya tukar?"
Dan di sinilah kekacauan itu beranak. Karena ternyata, di bungkusan Bu Sumi juga ada satu kaus anak yang bukan miliknya, yang setelah ditelusuri ternyata punya keluarga Pak Guru Hadi, yang bungkusannya juga kemasukan satu kaus kaki anak kos gang tiga, yang bungkusannya pula entah bagaimana berisi satu BH milik Bu Wati penjual jamu, yang membuat seisi kos pemuda itu heboh dan malu tujuh keliling.
Bagas berkeliling kampung sepanjang sore, dari pintu ke pintu, membawa kantong plastik penuh baju yang harus dikembalikan ke pemilik yang benar. Dan di setiap pintu, terjadi hal yang tidak ia duga. Ia mengobrol. Bu Sumi menawarinya es teh dan bercerita soal cucunya. Keluarga Pak Guru Hadi mengundangnya masuk dan Pak Hadi bertanya soal pengalaman kerjanya di Jakarta dengan tulus, tanpa nada mengejek. Bu Wati penjual jamu, yang awalnya marah soal BH-nya nyasar, akhirnya tertawa terbahak-bahak begitu masalah selesai, dan memberinya segelas beras kencur gratis.
"Kamu ini anaknya Bu Tini ya?" kata Bu Wati. "Kirain anak kota yang sombong. Ternyata mau capek-capek nganterin baju satu-satu. Ibumu beruntung punya anak kaya kamu."
Kalimat itu menempel di dada Bagas. Selama ini ia merasa malu jadi anak tukang laundry. Tapi sore itu, untuk pertama kalinya, ada orang yang menyebut ibunya beruntung punya dia. Bukan karena ia sarjana. Bukan karena ia hampir jadi manajer. Tapi karena ia mau berkeliling kampung mengembalikan baju yang ketuker.
Menjelang maghrib, semua baju kembali ke pemilik yang benar. Celana batik Pak Lurah, yang ternyata adalah peninggalan mertuanya yang sangat ia sayangi, dikembalikan langsung oleh Bagas. Pak Lurah, yang tadi siang mengamuk, kini menerima celananya dengan mata sedikit berkaca, mengelusnya, lalu menatap Bagas.
"Maaf ya Mas, tadi saya marah-marah. Ini bukan soal celananya. Ini... ini pemberian terakhir bapak mertua saya sebelum beliau wafat. Cuma ini yang tersisa." Pak Lurah menepuk pundak Bagas. "Makasih sudah dicari sampai ketemu. Bilang ke ibumu, Laundry Berkah tetap langganan saya. Selamanya."
Bagas pulang dalam gelap maghrib, lelah, kaki pegal, tapi dadanya hangat dengan rasa yang asing. Ia baru menyadari sesuatu yang tidak pernah terpikir olehnya sebelumnya: bahwa di setiap bungkusan cucian itu ada manusia. Ada celana batik yang menyimpan kenangan mertua almarhum. Ada daster yang dipakai nenek menggendong cucu. Ada seragam anak yang harus bersih buat sekolah besok. Mereka bukan "pelanggan" dalam diagram manajemennya. Mereka orang-orang, dengan hidup yang menempel pada kain yang mereka titipkan.
Di rumah, Bu Tini menyambutnya dengan nasi hangat dan tempe goreng. "Capek ya, Le?"
"Iya, Bu," jawab Bagas, lalu, mengejutkan dirinya sendiri, ia tersenyum. "Tapi seru juga."
Bu Tini menatap anaknya lama, lalu tersenyum dengan mata yang menua tapi cerah. "Nah. Itu baru anak ibu."