Insiden baju ketuker meninggalkan satu pelajaran teknis pada Bagas: pencatatan ibunya berantakan. Tidak ada penanda yang jelas pada tiap bungkusan, tidak ada sistem pemilik, semuanya mengandalkan ingatan dan tali rafia warna-warni yang artinya cuma ibunya yang paham. Maka Bagas, kali ini dengan lebih rendah hati, memutuskan membenahi pembukuan. Bukan dirombak total seperti minggu kemarin, tapi dirapikan pelan-pelan.
Ia duduk suatu sore dengan buku catatan kembang-kembang itu, secangkir teh, dan niat baik. Ia membuka halaman demi halaman, hendak menyalin data ke buku baru yang lebih rapi. Tapi semakin ia membaca, semakin keningnya berkerut.
Buku itu bukan cuma catatan cucian. Di sela-selanya, dengan tulisan tangan ibunya yang miring dan kadang sulit dibaca, ada catatan-catatan lain. Angka-angka. Nama-nama. Dan kata yang muncul berulang kali, membuat dada Bagas mengencang: belum bayar.
Bu Sumi, belum bayar 3 minggu, 45.000. Di sebelahnya, dengan tinta berbeda, ditambahkan: anaknya sakit, jangan ditagih dulu.
Keluarga Pak Hartono, belum bayar 2 bulan, 120.000. Catatan: bapaknya kena PHK, kasihan.
Mbak Lis, belum bayar, 60.000. Catatan: ditinggal suami, anak tiga. Gratiskan saja yang bulan ini.
Bagas membalik halaman demi halaman dengan tangan yang mulai gemetar. Puluhan nama. Puluhan utang yang tidak ditagih. Ratusan ribu, mungkin jutaan rupiah, yang seharusnya masuk ke kas tapi dibiarkan menggantung oleh ibunya, dengan catatan kecil di sebelahnya yang menjelaskan alasan: sakit, PHK, ditinggal suami, anaknya banyak, lagi susah.
Di tengah usaha yang nyaris bangkrut, di tengah mesin yang harus diperbaiki dengan uang pas-pasan, di tengah persaingan dengan Clean & Go, ibunya membiarkan piutang sebanyak ini menguap karena kasihan. Bagas merasa darahnya naik. Otak manajemennya menjerit: ini fatal. Ini sebab usaha ini sekarat. Bukan cuma karena kompetitor, tapi karena pemiliknya terlalu baik hati untuk menagih uangnya sendiri.
Malam itu, ia menghadapkan buku itu pada ibunya, terbuka di halaman penuh tunggakan. "Bu, ini apa?"
Bu Tini melirik, lalu kembali melipat baju. "Catatan, Le."
"Catatan utang pelanggan yang nggak ibu tagih! Bu, ini banyak banget. Coba ibu jumlah sendiri. Mungkin dua juta lebih. Sementara kita ngutang sewa ruko, mesin rusak, ibu cape kerja subuh sampai malam. Kok bisa ibu biarin orang ngutang sebanyak ini?"
Bu Tini berhenti melipat. Ia menatap anaknya dengan tenang, tenang yang justru membuat Bagas merasa kecil. "Kamu pernah liat Bu Sumi waktu anaknya masuk rumah sakit, Le? Dia nangis di sini, di kursi itu, sambil bawa cucian seragam anaknya yang penuh darah karena kecelakaan. Kamu mau ibu bilang, 'Bu, bayar dulu utang yang minggu lalu'?"
Bagas terdiam.
"Pak Hartono itu," lanjut Bu Tini, "dulu waktu bapakmu meninggal, dia yang bantu ngurus pemakaman. Dia yang nyari ambulans, yang ngegali kubur sama-sama warga, yang nungguin ibu nangis sampai pagi. Sekarang dia kena PHK, susah. Kamu mau ibu nagih dia seratus dua puluh ribu?"
Bagas membuka mulut, tapi tidak ada yang keluar.
"Le," Bu Tini duduk di sebelah anaknya, menepuk lututnya. "Ibu ngerti kamu mikir soal untung rugi. Itu bagus, kamu pinter. Tapi laundry ini bukan cuma tempat cari uang buat ibu. Ini tempat ibu hidup bareng tetangga. Mereka bantu ibu pas susah, ibu bantu mereka pas susah. Kalau ibu cuma mikir uang, mungkin laundry ini udah kaya. Tapi ibu udah sendirian. Nggak punya siapa-siapa pas butuh."
Ia berhenti, lalu menambahkan pelan, "Utang itu nggak ilang, Le. Mereka bayar kok, pelan-pelan, pas ada rejeki. Bu Sumi udah nyicil minggu lalu, dua puluh ribu, sambil minta maaf. Yang penting mereka nggak ibu permalukan pas lagi jatuh. Nanti pas mereka bangkit, mereka inget. Itu modal yang nggak ada di buku manajemenmu, Le."
Bagas menunduk, menatap buku lusuh di pangkuannya dengan pandangan yang sama sekali berbeda dari sejam yang lalu. Tadi ia melihat angka merah, kebocoran, kesalahan fatal. Sekarang ia melihat sesuatu yang lain: peta belas kasih. Setiap utang yang tidak ditagih itu adalah benang dalam jaring yang menahan kampung ini tetap saling pegang. Ibunya bukan pebisnis buruk. Ibunya pebisnis dengan mata uang yang tidak diajarkan di kampus mana pun.
Tapi pemuda dalam diri Bagas yang masih pegang gengsi sarjana belum mau menyerah sepenuhnya. "Bu, aku ngerti. Tapi kalau kita bangkrut beneran, kita nggak bisa nolong siapa-siapa juga. Kita harus seimbang. Boleh baik hati, tapi usaha juga harus hidup."
Bu Tini tersenyum, dan kali ini ada kebanggaan di matanya. "Nah. Itu betul. Itu yang ibu nggak bisa. Ibu kebablasan baiknya. Mungkin... mungkin itu kenapa ibu butuh kamu, Le."
Kalimat itu menusuk Bagas lebih dalam dari semua penolakan kerja yang pernah ia terima. Mungkin itu kenapa ibu butuh kamu. Selama dua tahun ia mencari tempat yang membutuhkannya. Mengirim ratusan lamaran, memohon agar ada perusahaan yang mau menerimanya, yang menganggapnya berguna. Dan ternyata tempat itu ada di sini, di ruang tamu beruap, di sebelah ibunya, di tengah jaring tetangga yang saling utang dan saling tolong.
Malam itu, Bagas tidak menyalin buku tunggakan ke kolom "piutang macet" untuk ditagih, seperti niat awalnya. Ia membuat halaman baru, dengan judul yang ia tulis pelan-pelan: Dibantu dulu. Lalu di kolom sebelahnya, dengan kompromi antara hati ibunya dan otak manajemennya, ia menulis: cicilan sukarela, tanpa malu. Ia menunjukkannya pada ibunya, yang membaca, lalu mengangguk, lalu mengusap kepala anaknya seperti waktu Bagas masih kecil.
"Kamu udah pulang, Le," kata Bu Tini lirih. "Beneran pulang."
Bagas tidak menjawab. Ia cuma menatap buku lusuh itu, dan untuk pertama kalinya sejak turun dari bus, ia tidak memikirkan Jakarta sama sekali.