*Author Pov*
Setelah kepergian Alvian, suasana kamar rawat itu kembali sedikit lebih tenang.
Hanya tersisa suara kipas angin yang berputar pelan di langit-langit dan sesekali percakapan samar dari pasien lain di balik tirai pembatas.
Rio menyandarkan punggungnya lebih dalam ke bantal. Tatapannya kosong namun menatap lurus ke depan.
Padahal pikirannya sendiri tidak benar-benar kosong saat ini.
“Bang…” panggilnya pelan.
Jo yang sedang merapikan plastik makanan langsung menoleh.
“Kenapa?”
Rio terdiam sejenak, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat untuk memulai.
“Kalau seandainya mereka kalah nanti, menurut lo gimana?” tanya pemuda itu.
Jo mengangkat alisnya sedikit lalu duduk di tepi kasur adiknya itu.
“Kenapa nanya gitu?”
Rio menghela napas pelan, “Gue cuma kepikiran aja.”