*Author Pov*
Motor yang dikendarai Genta melaju membelah jalanan yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan memantul di aspal yang sedikit lembap, menciptakan kilau samar di sepanjang jalur yang mereka lewati.
Riri masih diam di belakang. Tangannya masih bertahan di pinggang Genta. Tidak terlalu erat, tapi juga tidak lagi ragu seperti sebelumnya.
Angin malam berhembus pelan, membuat rambut-rambutnya bergerak tertiup angin.
“Aman?” tanya Genta tiba-tiba tanpa menoleh.
“Iya,” jawab Riri singkat.
Namun dalam hati, jawabannya tidak sesederhana itu.
Bukan soal perjalanan. Bukan pula soal motor.
Tapi soal perasaan yang mulai terasa berbeda.
Riri menatap punggung Genta beberapa detik. Pemuda itu terlihat santai seperti biasa, seolah tidak ada yang berubah.
Padahal bagi Riri, semuanya terasa