Di sebuah ruang pertemuan dengan kapasitas tiga ratus orang, telah berlangsung sebuah acara penandatanganan nota kerjasama antara sebuah perusahaan swasta dengan sebuah kementerian. Acara yang dihadiri oleh tiga puluh orang tersebut telah selesai sekitar setengah jam yang lalu, namun masih banyak peserta acara yang belum meninggalkan ruang pertemuan. Ada yang masih asik bercengkrama dengan sesama rekan kerja, ataupun bertukar informasi antara peserta dari kementerian yang satu dengan yang lain.
Di depan ruang pertemuan, beberapa wartawan dari berbagai media informasi segera menghadang seorang lelaki yang baru saja keluar dari ruang pertemuan tersebut. "Bagaimana pendapat bapak terkait kesepakatan yang telah dibuat ini?" Tanya salah seorang wartawan sambil mengarahkan telepon genggamnya ke arah Rahadhi Satria dengan maksud untuk merekam jawaban yang akan dilontarkan oleh Direktur yang perusahaannya bergerak pada bidang Pengembang PLTM (Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro) tersebut.
"Tentu saja kami menyambut baik kesepakatan yang dibuat oleh Kementerian ESDM, PLN dan juga Pengembang. Karena selama ini pengembang khususnya PLTM seringkali mengalamai kesulitan dalam kesepakatan jual beli tenaga listrik dengan PLN." Ujar Rahadhi Satria dengan mantap.
"Dan kedepannya kita harus optimis dalam menjalankan proyek ini demi kemajuan Indonesia." Tambahnya tanpa ada keraguan.
Dari arah pintu ruang pertemuan, seorang perempuan dengan rambut berwarna chestnut brown berjalan mendekati Rahadhi Satria yang sedang dikerumuni oleh wartawan.
"Maaf pak," Perempuan itu menyentuh lengan Rahadhi Satria, namun direktur berusia 29 tahun itu tampaknya tidak menyadarinya. Ia masih asik menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh para wartawan kepadanya.
"Bapak Rahadhi Satria!" Perempuan itu mengeraskan suaranya, bahkan ia sedikit menarik lengan lelaki itu.
Rahadhi Satria berhenti berbicara, ia tidak suka ada yang memotong pembicaraannya. Dengan jengkel ia menengok ke arah sumber suara yang telah menyebut namanya itu. Tanpa sengaja matanya bertabrakan dengan mata perempuan itu, menimbulkan perasaan aneh yang menyesap ke dalam hatinya.
"Maaf pak mengganggu waktunya sebentar, bapak diminta untuk kembali ke dalam ruangan." Ujar perempuan itu dengan senyuman di wajahnya.
Rahadhi Satria tidak menjawab, ia kembali menghadapi para wartawan, "Maaf ya rekan-rekan wartawan saya tinggal dulu, terima kasih banyak." Pamit Rahadhi Satria kepada para wartawan lalu ia berjalan meninggalkan kerumunan.
Sedangkan perempuan itu menatap datar kepergian Rahadhi Satria yang seperti tidak mengacuhkan keberadaannya. Namun ia tetap menyusul langkah Rahadhi Satria dengan berlari kecil, hingga akhirnya langkah mereka menjadi sejajar.
"Maaf pak bukan ke sana, tapi ke sini." Perempuan itu menunjuk ke arah yang berlawanan dengan arah kaki Rahadhi Satria yang hendak kembali melangkah mendekati ruangan acara.
"Loh, kan acaranya di sebelah sana." Rahadhi Satria tampak bingung dengan perempuan yang ada didepannya ini.
"Iya pak, tapi pak dirjen menunggu bapak diruangan yang terpisah." Jawab perempuan itu, lagi lagi dengan senyumannya yang menawan. Rahadhi Satria pun mengikuti perempuan itu dari belakang, hingga akhirnya sampailah mereka di depan pintu kayu berwarna coklat biji salak.
“Tok Tok Tok..”
Perempuan itu mengetuk pintu, membukanya lalu masuk ke dalam. Tidak lama kemudian ia muncul kembali, lalu membukakan pintu lebih lebar dan mempersilahkan Rahadhi Satria untuk masuk ke dalam. Di dalam ruangan yang lumayan besar itu, telah duduk di sebuah sofa seorang lelaki berusia 59 tahun. Bertubuh tinggi besar, dengan kepala yang sudah botak bagian depannya namun wajahnya begitu ramah. Ketika Rahadhi Satria jalan mendekatinya, lelaki itu berdiri dari duduknya. Wajahnya yang sudah banyak kerutan tersenyum lebar.
"Silahkan duduk Pak Rahadhi." Ucapnya setelah berjabat tangan dengan lelaki yang nyata berusia jauh dibawahnya. Rahadhi Satria tersenyum lalu duduk tepat diseberang lelaki tersebut.
"Terima kasih pak, tapi lebih baik panggil Satria saja. Tidak usah Pak Rahadhi pak." Ujar Satria sungkan. Satria merasa tidak enak dipanggil dengan sebutan bapak oleh lelaki yang bahkan sepertinya usianya lebih tua dari papanya itu. Terlebih lagi dengan sosok Pak Dirjen yang terlihat begitu ramah dengan siapa saja, tanpa mengenal usia atau jabatan.
"Hahahaha anak muda..." Pak Dirjen tertawa hingga matanya menyipit saat mendengar ucapan Satria, "Baiklah Satria, saya memanggil anda kesini hanya ingin berpesan mengenai suatu hal." Pak Dirjen menghentikan ucapannya, sedangkan Satria tetap serius mendengarkan.
"Hei.. jangan terlau serius, anda ini masih muda coba dibawa santai sedikit." Ucap Pak Dirjen dengan wajah yang ingin kembali tertawa namun ia menahannya. Satria pun tersenyum, lalu mencoba merilekskan wajahnya.
"Nah.. begini kan lebih enak dilihatnya." Pak Dirjen menyunggingkan senyuman kecil.
"Tadi sampai mana? Ahh ya... jadi saya hanya ingin menyampaikan apabila ada sesuatu yang menyimpang dan itu melibatkan pegawai dari tempat saya tolong segera beritahu saya. Jangan sungkan dan saya mohon proyek ini harus berjalan sesuai dengan tujuan utama yaitu demi kepentingan rakyat Indonesia, bukan kepentingan dibalik orang-orang tertentu." Pak Dirjen berbicara dengan mata yang menerawang seolah menyimpan suatu beban. Satria terdiam, tidak perlu waktu yang lama untuk memahami maksud dari ucapan beliau.
"Saya mengerti pak, akan saya menjalani dengan baik amanat bapak." Ucap Satria penuh keyakinan.
"Ini bukan amanat saya, ini amanat dari rakyat Indonesia." Balas Pak Dirjen yang kembali tersenyum. Satria pun ikut tersenyum mendengar ucapan Pak Dirjen, lalu ia menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, untuk kedepannya staf saya pasti akan terus melaporkan setiap perkembangan tapi saya juga ingin dari pihak pengembang memberikan laporan tersendiri. Dan mengenai hal itu sekretaris saya yang akan berkomunikasi dengan anda." jelas Pak Dirjen.
"Anda sudah berkenalan kan dengan sekretaris saya?" tanya Pak Dirjen, yang disusul dengan gelengan pelan dari Satria.
Pak Dirjen menyerngitkan dahinya, "Sasti..."
Perempuan berambut chestnut brown yang berdiri di dekat pintu berjalan mendekat, "Iya pak.”
"Coba kenalan dulu sama bapak direktur ini, saya kira kalian udah kenalan ternyata belum ya?"
Sasti hanya tersenyum menanggapi ucapan Pak Dirjen.
"Yasha Sastika." Sasti menyebutkan nama lengkapnya dengan tangan yang terulur ke arah Satria. Satria pun berdiri dari duduknya, ia menyambut tangan Sasti, "Rahadhi Satria". Dan sekali lagi kedua pasang mata itu saling bertabrakan.