Sabtu pagi selalu menjadi saat yang paling membahagiakan untuk Sasti, ia tidak perlu berangkat saat langit masih gelap untuk pergi ke kantor dan juga pulang larut malam untuk kembali ke rumahnya. Suatu kebiasaan bagi Sasti di hari sabtu dan minggu yaitu meregangkan tubuhnya dibawah terpaan sinar mentari pagi, membiarkan hangatnya menyelimuti tubuhnya yang dingin karena terlalu lama berada di ruangan ber-AC serta menghirup dalam udara pagi yang sedikit lebih baik ketimbang siang hari.
Setelah puas berdiri di balkon apartmentnya, Sasti masuk ke dalam lalu menuju ke salah satu kamar yang ia sulap menjadi ruang wardrobe. Ia membuka salah satu pintu lemari pakaiannya, mengambil celana legging dan kaos lalu mengenakannya. Setelah itu Sasti mengambil salah satu running shoes yang ia miliki. Sasti berdiri di depan sebuah cermin besar yang menampilkan bayangan tubuhnya dari atas hingga ke bawah, ia tersenyum puas melihat penampilannya. Tidak lupa menjinjing tas fitnes yang ia dapatkan dari salah satu tempat fitnes terkenal di Jakarta, Sasti pun keluar dari apartmentnya menuju tempat fitnes yang terletak di lantai GF Tower 1 tempat apartmentnya berada.
Bulir keringat terus keluar dari pori-pori kulit Sasti bahkan nafasnya mulai terdengar ngos-ngosan, namun tidak membuat perempuan itu berhenti berlari di atas treadmill. Sedikit lagi batin Sasti saat matanya melihat ke arah jarak tempuh yang telah ia capai yaitu 9,7 km. Sasti terus berlari hingga ketika Distance menunjukkan angka 10 km barulah ia menekan tombol panah ke bawah agar kecepatan treadmillnya berkurang secara perlahan, dan akhirnya ia menekan tombol stop.
Sasti menenggak infus water yang berisi potongan buah lemon dari botolnya, samar ia mendengar nada panggil telepon genggamnya yang berbunyi. Ia pun mengacak isi tasnya, begitu telepon genggamnya ditemukan Sasti langsung menyentuh gambar telpon yang berwarna hijau.
"Mamiiiii....mamiiiiiii." Terdengar seruan dari balik telpon.
Sasti tersenyum mendengar suara tersebut, "Ayesh jangan teriak-teriak, kuping mami sakit.”
"Mamiii Ayesh udah syiap nih, mami uda jalan belum?" Tanya anak kecil itu.
"Satu jam lagi mami sampai, ayesh udah makan belum?"
"Ayesh nda mau maem, ayesh tundu mami aja yah." Rajuk Naresh.
"Loh kalo ayesh engga makan mami engga jadi jemput." Ancam Sasti.
Tak ada balasan dari balik telpon, "iya ayesh maem tapi maem loti aja yah." Anak kecil itu pun mengalah.
"Iyaa sayang, makan roti aja." Sahut Sasti begitu lembut.
"Tapi satu aja yah mi." Tambah Naresh.
"Iyaa satu, tapi harus habis nanti mami tanya ke nenek loh ya ayesh habis apa engga rotinya." Ucap Sasti dengan nada digalak-galakkan.
Naresh tidak menjawab ia malah cekikikan, tidak lama suara di telpon itu berubah, "Sas..." Terdengar suara ibu-ibu yang tidak kalah lembut dari suara Sasti.
"Bu, ayesh tolong diliatin ya itu bener makan roti apa engga." Pinta Sasti.
"Iya, kamu mau ke sini jam berapa? Naresh udah mandi itu dari jam 7 pagi." Ujar Rukmini.
"Iya bu sedikit lagi Sasti ke sana, Sasti mandi dulu baru habis olahraga." Balas Sasti.
"Ya sudah, hati-hati ya nak."
"Iya bu.."
--
Selesai mandi masih dengan berbalut handuk, Sasti yang mendengar suara dering telepon genggamnya langsung berjalan ke nakas untuk mengambil benda tipis berukuran 5,7 inch tersebut. Tampak tertera Caller ID Bapak Bossque. Sasti mengerutkan kening saat melihat nama penelpon, please jangan ada panggilan hari ini batinnya. Ia tidak ingin rencana jalan-jalannya dengan Naresh batal.
"Hallo, selamat pagi pak." Sasti membuka pembicaraan dengan sopan namun sedikit cemas.
"..........."
"Iya pak." Sasti menganggukkan kepalanya.
"............"
"Ohh tidak mengganggu pak, siap pak siap."
"............"
"Iya pak."
Begitu sambungan terputus Sasti langsung mencari kontak Apriyani, bermaksud menghubungi sahabatnya tersebut. Tidak perlu menunggu lama untuk panggilan tersebut diangkat.
"Halo pri, lo ke kantor?"
"............"
"Tolong dong penerbangan ke jogja, business class ya untuk sore ini."
"............."
"Iya Garuda, atas nama Sumedi Rajasa ya. Tolong Check in sekalian ya say hehe."
"............."
"Iyaa, kirim ke email gue."
"............."
"Oke makasih ya, gabungin aja sama penerbangan yang terakhir."
"............"
“Ya harap maklum, masa gue yang bayar.” Sasti tertawa menjawab keluhan sahabatnya itu.
Sasti bernafas lega setelah sambungannya terputus. Inilah untungnya punya sahabat yang memiliki travel ia bisa meminta tolong kapan saja untuk pembelian tiket, bahkan pembayarannya pun bisa disusul kemudian hari. Ralat, bukan kemudian hari tapi sampai dengan beberapa hari kemudian.
Selesai berpakaian dan memulas wajahnya dengan make-up tipis Sasti langsung mengambil telepon genggamnya, membuka aplikasi Gojek untuk memesan Gocar. Kebetulan sekali lokasi driver yang akan menjemputnya berada tidak jauh dari apartementnya. Lima menit setelah Sasti menunggu di lobi, akhirnya mobil Avanza hitam bernomor polisi B 4476 KEH terlihat memasuki lobi apartment.
"Selamat pagi mbak." Sapa driver tersebut dengan ramah.
"Pagi pak." Balas sasti tidak kalah ramah.
"Ke Bekasinya mau lewat mana mbak?" Tanya driver tersebut.
"Terserah bapak, yang engga macet pokoknya." Jawab Sasti terkekeh.
"Siap mbak." Balas si driver yang kemudian melajukan mobilnya meninggalkan kawasan apartment.
Tring!
Sebuah pesan masuk, dari Apriyani.
From Apriyy : cek email ya udah gue kirim tiketnya.
Dengan cepat sasti membalas pesan tersebut,
To Apriyy : makasih sayangkuh.
Setelah membalas pesan Apriyani, Sasti langsung mengirim pesan untuk Pak Dirjen yang memberitahukan bahwa e-tiketnya sudah dia kirim ke email bosnya tersebut. Setelah pesan terkirim Sasti memasukkan kembali telepon genggamnya ke dalam tas, pandangannya beralih ke luar jendela. Mobil yang berlalulalang mulai memadatkan jalanan Ibu Kota di sabtu pagi ini. Apalagi dengan adanya pembangunan di sepanjang Jalan Fatmawati, membuat laju mobil menjadi terhambat di beberapa titik.
--
"Mamiiiiii daten yeeeyyy!" Naresh berteriak girang saat melihat Sasti yang muncul dari balik pintu. Kaki kecilnya melompat-lompat menghampiri Sasti dengan kedua tangannya mengangkat ke udara. Minta digendong.
"Uuww.. kesayangannya mami." Ucap Sasti yang langsung menggendong Naresh.
"Mmuaachh...mmuacchh...mmuacchh." Sasti menghujani pipi dan kening Naresh dengan ciuman rindu menyisakan lipstick kemerahan di wajah bocah lelaki yang baru berusia 3 tahun itu.
Naresh pun balas mencium Sasti, ia menciumi pipi Sasti berulang kali hingga pipi Sasti basah karena air liurnya. Sasti tidak merasa geli apalagi jijik, ia malah senang karena jarang sekali momen seperti ini terjadi, mengingat betapa sibuknya ia bekerja.
"Ayesh udah makan?" Tanya Sasti dengan mata menyipit.
"Udah mi tadi ayesh maem loti." Jawab Naresh sambil memainkan rambut Sasti.
"Bener?" Tanya Sasti dengan nada suara tidak percaya.
"Benel, tanya nene aja." Jawab Naresh sambil menunjuk Rukmini dengan bibirnya.
"Ibu.." Sasti menurunkan Naresh dari gendongannya, lalu menghampiri Rukmini yang baru saja keluar dari dapur, ia mencium tangan ibunya itu.
"Kamu mau kemana sama Naresh?" tanya Rukmini.
"Mau ke Ragunan, terus aku pulang ke apartment ya bu. Biar Ayesh sama aku, kan bapak keluar kota jadi Ayesh bisa aku bawa ke kantor." Ujar Sasti.
"Emang engga apa-apa bawa anak kecil ke kantor?" Rukmini terdengar tidak yakin dengan niat Sasti.
"Engga apa-apa kok bu, udah ibu tenang aja." Ucap Sasti mencoba meyakinkan ibunya.
"Yasudah, biar ibu rapihkan baju-baju Naresh." Rukmini pun berlalu menuju kamar Naresh.
Sasti melirik Naresh yang sedang bermain dengan robot Iron Mannya, senyuman pun tersungging di bibirnya saat melihat pola tingkah Naresh yang menggemaskan itu.
"Mami.. mami kita mau temana?" Naresh menarik celana kulot yang dikenakan Sasti.
"Hm..ke Ragunan." Jawab Sasti sumringah.
"Lagunan itu apa?" Naresh yang baru pertama kali mendengar Ragunan pun bertanya.
"Ragunan itu kebun binatang sayang, nanti disana Ayesh bisa lihat gajah, harimau, burung, jerapah, monyet pokoknya banyak deh." Jelas Sasti.
Seketika mata Naresh membulat, wajahnya tampak begitu tertarik dengan penjelasan Sasti. Naresh pun menarik tangan Sasti ke arah pintu rumah, "Ayo mami kita te lagunan shekalang." ucapnya semangat.
--
Di Ragunan...
"Ayesh, jangan lari-larian sayang!" Seru Sasti yang berlari kecil mengikuti Naresh dari belakang.
"Mami bulungnya walnanya banyak ihh, itu! Iyat itu!" Naresh menunjuk burung Kakatua dan Nuri yang bulunya berwarna-warni.
"Iya.. ayok sini mami foto, Ayesh diri deket kandangnya ya." Sasti mengeluarkan telepon genggamnya dari dalam tas lalu mengambil beberapa foto Naresh yang sedang bergaya di dekat kandang burung Kakatua dan Nuri tersebut.
Sore hari.....
Puas seharian berkeliling melihat binatang yang ada di Kebun Binatang Ragunan, akhirnya Naresh mulai kelelahan. Ia mulai merajuk meminta agar Sasti menggendongnya. Baru saja melewati pintu keluar, tiba-tiba terdengar gemuruh dari langit disusul awan mendung yang mulai terlihat dan angin yang berhembus kencang. Sasti mencoba mempercepat langkahnya menuju halte bus Ragunan, namun dengan keadaan menggemblok tas milik Naresh, mencangklong totebag miliknya dan juga menggendong Naresh yang mulai mengantuk membuat dirinya kesusahan. Beruntung sekali, tepat setelah Sasti menginjakkan kakinya di Halte, hujan pun turun dengan derasnya menimbulkan tampiasan yang membasahi kaki Sasti.
Dengan susah payah akhirnya Sasti bisa mengeluarkan telepon genggamnya, ia mencoba membuka aplikasi Gojek namun tidak bisa, hujan yang sangat deras sepertinya telah membuat jaringan aplikasi kendaraan online tersebut bermasalah. Sasti pun pasrah menunggu taksi yang lewat, namun seperti sedang jatuh lalu tertimpa tangga, tidak ada satupun taksi yang lewat di depan Halte. Hujan semakin deras, dan angin yang berhembus semakin kencang membuat Sasti gelisah.
Sesekali Sasti melirik ke arah Naresh yang sudah terlelap di gendongannya, ia mengusap-usap punggung Naresh agar bocah lelaki tersebut merasa sedikit hangat. Haduh masa iya naik angkot, kasian ayesh batin Sasti yang mulai kesal karena tidak kunjung mendapatkan taksi untuk pulang ke apartementnya.
--
*Satria Pov*
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan Jakarta, enggak hujan saja macetnya luar biasa, apalagi dengan situasi hujan deras seperti sekarang ini. Jalanan tidak bergerak!
Aku tidak tahu sudah berapa lama mobil yang kukendarai ini berhenti seolah terparkir di tengah jalan. Wiper mobilku bergerak ke kanan dan ke kiri secara bergantian untuk menyapu derasnya air dari langit yang menghalangi pandanganku saat menyetir. Entah kenapa perhatianku terarahkan kepada halte bis Ragunan yang lumayan ramai. Beriringan dengan wiper yang terus bergerak di kaca mobil, aku seperti mengenali salah satu sosok yang turut serta berdiri di bawah atap halte.
Mungkinkah itu sekretarisnya Pak Dirjen? Keningku berkerut saat melihat perempuan yang tengah menggendong anak kecil.
Mobil di depanku bergerak maju tak cukup jauh memang, tapi itu membuat mobilku semakin mendekat ke halte dan membuat jarak pandangku ke arah perempuan itu semakin jelas.
Dan aku yakin sekali sekarang kalau perempuan itu adalah Sasti.
Apa yang dia lakukan disini? Apakah itu anaknya? Jadi dia sudah menikah?
Ahh kenapa aku harus memikirkan hal itu, anaknya atau bukan, menikah atau tidak tentu itu bukan urusanku. Aku mengalihkan pandanganku dari halte tersebut, kembali melihat ke depan berharap mobil yang ada di depanku melaju jauh hingga aku bisa terlepas dari kemacetan ini.
10 menit berlalu, dan aku masih disini. Di dalam mobilku yang terjebak macet tapi posisi mobilku hampir di depan halte. Entah kenapa hatiku ingin kembali melihat ke arah halte, kepalaku mulai berpikir apakah Sasti masih berada disitu atau dia sudah pergi.
Tapi kutahan keinginanku, tidak perlu menengok sebuah bisikan di kuping kiriku. Menengok saja tidak ada salahnya sebuah bisikan lain di kuping kananku.
1 menit..
2 menit..
3 menit..
4 menit..
5 menit..
Kaki kiriku mulai bergoyang sendiri tidak tenang, ahh tidak ada salahnya menengok.
Aku pun menengok dan mendapatkan anak yang berada di dalam gendongan Sasti sedang menangis, ia berontak ke kanan dan ke kiri. Dapat kulihat Sasti berusaha menenangkan anak itu.
Dan aku.... kenapa aku jadi sedikit khawatir? apa aku perlu menelponnya dan menyuruhnya masuk ke dalam mobilku? Lalu apabila sudah masuk apa yang harus kulakukan? Mengantarnya pulang?
Aku kembali berpikir...
Mungkin itu tidak perlu, belum tentu dia mau kan? Malu dong kalau ternyata nanti dia malah menolak tawaranku. lagipula kami juga tidak begitu mengenal satu sama lain. Tapi hatiku, hatiku ingin agar aku menghubunginya. Mungkin karena hatiku ini kasihan melihat perempuan seperti dia menggendong anak kecil dibawah hujan. Tapi apa urusannya denganku? Jariku mulai mengetuk-ngetuk stir mobil. Mobil di depan ku kembali berjalan, aku memindahkan persneling dari N ke angka 1 lalu menginjak pedal gas pelan. Posisi mobilku sekarang sudah sedikit melewati halte. Mungkin memang aku tidak perlu menghubunginya dan menyuruhnya masuk ke dalam mobilku.
*Satria Pov End*