Rapat pembahasan tindak lanjut mengenai proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro baru saja selesai, Satria beserta peserta rapat yang lain mulai membubarkan diri, satu persatu mereka semua meninggalkan ruangan rapat. Satria yang di dampingi oleh salah satu staffnya tidak langsung turun ke lobi, ia malah menekan tombol angka 9 pada kotak tombol lift di dinding, namun yang muncul malah tanda bintang membuat Satria bingung.
Satpam yang berdiri tidak jauh dari tempat Satria datang menghampiri, “Mau ke lantai berapa pak?” Tanyanya.
“Lantai 9.” Jawab Satria.
“Ohh, bapak harus turun terlebih dahulu ya ke lantai 1, nanti di lantai 1 baru ditekan lagi untuk ke lantai 9-nya. Akses liftnya berbeda bapak.” Ujar satpam bertubuh tinggi itu lalu menekankan angka 1 pada tombol kotak lift, dan terteralah huruf A pada layar kotak.
“Silahkan bapak di lift A.”
Satria mengangguk lalu masuk ke dalam lift A.
Di bawah, lift yang harus ia gunakan untuk ke lantai 9 ternya lift F, Satria dan staffnya pun beringsut masuk ke dalam lift F yang terbuka. Pintu lift pun menutup, membawa Satria dan staffnya naik ke lantai 9.
Lantai 9
Ting!
Satria tidak bisa menutupi rasa kagetnya saat melihat wajah Sasti ketika pintu lift terbuka. Staffnya Satria dengan sigap menahan pintu lift agar tidak kembali menutup.
"Selamat siang pak.." Sapa Sasti dengan sopan tidak lupa senyum kecil menghiasi bibirnya. Satria pun balas tersenyum namun sedikit kikuk.
"Bapak mau kemana?" Tanya Sasti yang sedikit heran karena Satria tidak kunjung keluar dari dalam lift.
"Ehh.. ini saya mau ketemu Pak Dirjen." Jawab Satria spontan.
"Kenapa engga menghubungi saya dulu pak? Pak Dirjen keluar kota." Balas Sasti.
"Oohh..gitu y.a" Suara Satria terdengar gugup.
Staffnya Satria mulai menatap bingung bosnya tersebut, tidak pernah ada rencana untuk bertemu Pak Dirjen batinnya.
"Maaf, permisi pak." Ucap Sasti yang terlihat ingin masuk ke dalam lift, karena lift yang akan turun ke lobi adalah lift F.
"Ohh..i..iya..silahkan." Satria menggeser tubuhnya sehingga Sasti bisa masuk ke dalam lift.
"Maaf pak, staffnya mungkin bisa disuruh supaya jangan nahan pintu lift terus." Sasti menoleh ke arah Satria sambil menunjuk staffnya Satria yang masih menahan pintu lift.
Seketika Satria merasa begitu malu, ia dapat merasakan kalau wajahnya memanas, "Ded jangan ditahan terus."
"Iya pak." Dedi-Staffnya Satria pun beringsut dari pintu lift, membiarkan pintu tersebut menutup.
Suasana di dalam lift begitu hening dan canggung, tidak ada yang berbicara, baik Satria maupun Sasti saling berdiam diri.
Lantai 1
Ting!
Pintu lift terbuka, Sasti langsung melangkah lebar keluar dari dalam lift. Seorang satpam yang berdiri di dekat lift menyapanya, "Mba Sasti, Nareshnya nangis-nangis terus tuh katanya pegawai daycare."
"Iya bang, ini saya mau ambil Naresh dari sana." Balas Sasti tersenyum.
Satria yang mendengar pembicaraan Sasti dan satpam tersebut mencoba menebak-nebak di dalam pikirannya. Naresh? Daycare? mungkinka anak kecil yang digendong Sasti di halte beberapa hari yang lalu?.
Rasa penasaran mulai muncul di dalam hati Satria, namun pikirannya mencoba menepis rasa itu. Bukan urusanmu Satria pikiran Satria seolah berbicara kepada dirinya sendiri.
Sasti yang sudah beberapa langkah di depan Satria tiba-tiba membalikkan badannya, "Pak saya duluan ya." Ucap perempuan itu kepada Satria. Sasti berbelok ke arah kiri, lalu menghilang dari balik pilar.
Satria sendiri berjalan menuju gate lobi. Dengan sigap Dedi menempelkan kartu visitor ke tempat tempel kartu agar gate tersebut dapat terbuka, begitu gate terbuka Satria langsung melewatinya.
--
Telepon genggam milik Satria terus berbunyi tanda ada panggilan masuk, namun Satria tetap memejamkan matanya, entah dia benar tertidur atau tidak. Dedi yang duduk di sebelah supir tidak berani mengganggu bosnya itu. Telepon genggam milik Satria kembali berbunyi, Dedi yang semula cuek mulai menebak mungkin itu telpon penting pikirnya.
"Pak, maaf itu..." Belum selesai ucapan Dedi, tangan Satria terjulur ke arah telepon genggam yang ia letakkan persis disampingnya. Dengan mata yang masih terpejam Satria membalikkan benda titpis tersebut, otomatis nada dering berubah menjadi mute. Dan suasana di dalam mobil kembali hening. Dedi yang melihat hal itu tidak berkomentar, ia kembali menatap lurus ke jalanan.
Perjalanan kembali ke SCBD tidak membutuhkan waktu yang lama, apalagi siang ini jalanan di ibu kota tidak begitu padat seperti biasanya. Tidak sampai setengah jam, Satria sudah sampai di kantornya.
Satpam yang mengenali mobil milik Satria langsung membukakan pintu mobil itu, “Selamat siang pak.” Sapa si satpam ketika Satria turun dari mobil.
Satria yang cuek hanya mengangguk kecil, ia pun masuk ke dalam gedung diikuti oleh Dedi di belakangnya. Sesampainya di lantai 5, tempat dimana ruangannya berada, Arin-sekretarisnya tampak sudah menunggu kedatangannya.
"Maaf pak..." Arin langsung mendekat ke arah Satria. "Ada ibu di dalam, sudah menunggu bapak sejak sejam yang lalu. Bapak saya telponin kenapa nggak angkat?" Ujar Arin sedikit kesal.
Satria teringat dengan telepon genggamnya yang terus berdering sepanjang jalan tadi, ternyata itu ibunya dan juga Arin.
"Iya..." Hanya satu kata yang keluar dari mulut Satria.
Arin terlihat bingung sekarang, masih ada satu hal yang belum ia sampaikan kepada bosnya itu, dan ia ragu untuk menyampaikannya. "Hmm..anu pak, ibu datang tidak sendiri." Tambah Arin pelan.
"Sama siapa emang?" Tanya Satria yang tidak tertarik.
"Sama perempuan yang datang kesini 3 hari yang lalu itu loh pak, yang bapak menolak untuk bertemu." Jawab Arin dengan kepala tertunduk.
Satria langsung menghentikan langkahnya saat mendengar jawaban sekretarisnya itu, perempuan? 3 hari yang lalu?
Satria mencoba mengingat-ingat, siapa perempuan yang dimaksud oleh sekretarisnya itu, dan setelah ia teringat kembali siapa perempuan yang dimaksud, air muka Satria langsung berubah tidak suka. Untuk apa mama datang bersama perempuan itu batinnya.
"Loh bapak mau kemana?" Tanya Arin ketika Satria merubah haluan, yang semula berjalan ke ruangannya sekarang malah berbalik arah menuju ruangan manajer pelaksana.
"Kalau mama saya tanya keberadaan saya, bilang aja kamu engga tau." Jawab Satria tanpa menengok. Arin menghentakkan kakinya kesal. Semudah itu berbicara, memangnya dia lupa apa bagaimana peringai ibunya yang super itu keluh Arin.
--
Satria memang berjalan menuju ruangan manajer pelaksana, tapi bukan berarti dia masuk kesana. Ia malah membuka pintu darurat, lalu menaiki tangga hingga sampai ke lantai 7. Satria tidak membuka pintu darurat lantai 7 tersebut, tangannya terulur untuk membuka pintu kecil yang berada di dekat tangga.
Ternyata terdapat ruangan terbuka dengan 3 bangku dan sebuah meja yang terbuat dari rotan, lalu tanaman hias dan pepohonan dengan ukuran sedang memenuhi tempat itu. Begitu hijau sungguh segar dipandang mata. Satria memilih duduk di salah satu kursi yang dinaungi oleh pohon kamboja, lalu mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Ia menutup matanya, dan membiarkan telinganya mendengar suara dedaunan yang diterpa angin.
Belum 10 menit Satria memejamkan matanya, tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar. Perempuan berambut keriting dan berwarna oren berdiri sambil bertolak pinggang, "Pak! dicariin malah tidur disini enak-enak!" Seru perempuan tersebut tanpa ada rasa takut.
Satria yang mendengar seruan perempuan itu diam saja pura-pura tidak mendengar.
"Pak, bangun deh saya tau kok bapak pasti denger suara saya. Ini banyak dokumen yang harus di tanda tangan." Ucap perempuan itu lagi.
Perempuan satu ini, kalau bukan adik sepupu pasti udah gue tendang dari perusahaan ini batin Satria yang mulai kesal. Tapi mengingat kinerjanya yang sangat baik Satria tentu tidak akan menendang sepupunya itu begitu saja.
"Hellooooo!! Rahadhi Satria!" Sekarang perempuan itu mulai meneriaki nama panjang Satria sambil menendang pelan kursi yang diduduki oleh Satria.
"Ratnaaaaa..." Akhirnya Satria bersuara, "Taro aja dimeja bisa kan, nanti saya turun."
"Ck.. bapak turun sekarang atau saya bilangin ke Tante Ambar kalau bapak ada disini, biar Tante Ambar ke sini sama cewe ngeselin itu." Ancam perempuan yang bernama Ratna itu sambil mencolek-colek pundak Satria.
Meski Ratna dan Satria sepupuan, namun Ratna memilih untuk berbicara formal selama di kantor. Tapi tidak jarang juga cara berbicaranya itu suka terbawa sampai dirumah.
Tiba-tiba terdengar lagu Stereo Hearts- Adam Levine yang mengalun kencang, ternyata itu nada dering telepon genggam milik Ratna.
"Sastiiii, tunggu ya sebentar." Ratna langsung berbicara pada si penelpon.
Satria yang mendengar ucapan Ratna langsung membuka matanya, Sasti? Mungkinkah Sasti yang sama dengan yang gue kenal batin Satria.
Satria mencoba menajamkan pendengarannya, namun Ratna yang merasa sedang dikupingin mengambil jarak dari tempat Satria. Satria hanya bisa melihat ekspresi wajah Ratna, dan kepala Ratna yang beberapa kali mengangguk-angguk. Tidak lama Ratna memasukkan telepon genggamnya ke dalam kantung tunic yang ia kenakan.
"Kepo banget sih, nguping yaa pak tadi."
Satria tidak menghiraukan ucapan Ratna, ia kembali memejamkan matanya.
Melihat tingkah bosnya alias kaka sepupunya sendiri Ratna hanya bisa mendesah kesal sekaligus gemas. "Jangan lama-lama ya disininya, Tante Ambar udah pulang kok." Selesai berbicara Ratna langsung pergi meninggalkan Satria, ia sengaja menutup pintu dengan kencang.
Sepeninggalan Ratna, Satria kembali membuka matanya. Ia menatap langit yang sedikit terhalang cabang pohon kamboja, tampak begitu biru tidak ada awan sama sekali. Entah kenapa akhir-akhir ini Satria sering merasa ada sesuatu yang mengganjal hatinya, namun ia tidak bisa menemukan jawaban mengapa hatinya merasa seperti itu. Dan dengan menatap langit ia merasa hatinya sedikit lebih baik, itulah mengapa Satria menyukai tempat ini. Sebuah ruangan terbuka yang begitu hijau dan hanya segelintir orang yang mengetahuinya.
--