"Selamat pagi pak." Sapa Sasti yang langsung berdiri dari kursinya saat melihat kedatangan Pak Dirjen, dengan cepat Sasti langsung menekan password pada kotak kecil berwarna hitam yang menempel di depan pintu ruangan Pak Dirjen. Begitu accessed diterima pintu berwarna coklat biji salak itu pun terbuka.
"Tolong jadwal saya hari ini taruh di meja ya." Pesan Pak Dirjen sebelum masuk ke dalam ruangannya.
Sasti tersenyum lalu mengangguk, "Iya pak."
Antara sudah terbiasa dan sedikit heran, padahal setiap malam Sasti selalu mengirimkan chat di w******p dan juga email terkait kegiatan Pak Dirjen untuk esok hari. Tapi tetap saja saat hari H, Pak Dirjen akan meminta print-out jadwalnya diletakkan di meja kerjanya.
Sasti keluar menuju pantri yang terletak di sebrang ruangannya, seorang office girl yang tidak lagi muda menyapanya ramah. "Pagi mba Sasti, mau bikin kopi untuk bapak ya?"
"Iya nih Bu Ni." Balas Sasti tidak kalah ramah.
Sasti pun mencolok kabel teko listrik untuk memanaskan air, lalu mengambil cangkir dari dalam lemari dan toples kopi. Meski sudah ada office girl, pekerjaan membuatkan kopi hingga mengantarkan makanan untuk Pak Dirjen menjadi tanggung jawab Sasti.
Pertama karena Pak Dirjen lebih cocok dengan kopi buatan Sasti, dan yang kedua karena Pak Dirjen membatasi orang-orang yang bisa keluar masuk ke dalam ruangannya, tentu hanya Sasti yang bisa keluar masuk dengan bebas. Oleh karena itu yang mengetahui password pintu Pak Dirjen hanya Sasti dan juga Pak Dirjen sendiri. Selesai membuat kopi Sasti langsung membawanya ke ruangan Pak Dirjen, tidak lupa ia juga membawa serta print-out kegiatan Pak Dirjen untuk hari ini.
--
Ratna bergegas merapihkan mejanya dan juga mematikan komputernya begitu jam menunjukkan pukul 16.55 WIB. Sore ini dia telah membuat janji dengan sahabatnya untuk bertemu di Pondok Indah Mall. Namun sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya, baru saja ia melangkah meninggalkan mejanya, salah satu temannya memanggilnya. "Ratnaa..."
Ratna memutar ke dua bola matanya karena kesal, dengan malas ia menoleh ke sumber suara. “Apaan?”
"Katanya Pak Irsan lo dipanggil sama Pak Satria."
"Iya." Jawab Ratna singkat, ia semakin malas saat mendengar alasan temannya itu memanggilnya. Langkah Ratna menjadi terasa begitu berat untuk naik ke lantai 5 seolah ada dua anak tuyul yang memeluk kedua kakinya. Mau ngapain sih tuh orang batinnya kesal.
Perjalanan ke lantai 5 yang tidak membutuhkan waktu sampai 10 menit berubah menjadi lebih dari 15 menit karena Ratna yang melangkah dengan ogah-ogahan. Sesampainya di depan ruangan Satria, Arin sekretarisnya Satria langsung mempersilahkan Ratna untuk masuk ke dalam ruangan Direktur muda itu.
"Bapak manggil saya?" Tanya Ratna tanapa ada keramahan begitu masuk ke dalam ruangan Satria.
Satria yang sedang duduk di kursi kebesarannya mengangguk, "Kamu pulang ke rumah kan? tolong titip ini dong." Ucapnya sambil menunjuk sebuah bungkusan yang ada di ujung mejanya.
"Engga, engga pulang ke rumah malam ini udah ijin sama tante Ambar kok, mau nginep di rumah temen."
"Nginep? di rumah siapa?" Tanya Satria.
"Di rumahnya Sasti." Jawab Ratna datar.
"Sasti?"
"Iyaa Sasti, kenapa emang?" Ratna heran dengan sikap kakak sepupunya yang banyak tanya itu, tidak seperti biasanya yang selalu cuek.
"Rumahnya dimana?" Tanya Satria lagi.
Ratna mengerutkan keningnya sesaat, "Dia tinggal di Apartment Kristal" Jawab Ratna kemudian.
"Udah ya pak, buru-buru nih." Tanpa menunggu jawaban Satria, Ratna langsung ngeloyor keluar dari ruangan Satria. Sedangkan Satria mulai kembali bermain dengan pikirannya, mungkinkah Sasti yang sama?
--
Sasti menggendong Naresh saat turun dari taksi, ia berjalan melewati body detector yang berada di depan pintu kaca Mall tersebut. Saat melewati toko mainan Naresh meminta untuk turun dari gendongan Sasti, dan kaki kecilnya melangkah cepat masuk ke dalam toko mainan tersebut. Melihat ulah Naresh Sasti hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lagu Bang Bang Bang dari Big Bang mengalun kencang dari telepon genggamnya, Dari Ratna.
"Halo na..."
"........."
"Gue mampir dulu di toys kingdom."
".........."
"Iyaa ketemu di lèko aja."
".........."
Sambunganpun terputus, Sasti mengembalikan telepon genggamnya ke dalam tas.
Disaat Sasti sedang melihat-lihat, Naresh datang berlari menghampirinya sambil membawa kotak yang lumayan besar.
"Mamiii...ayesh mau ini mi." Serunya dengan ekspresi wajah memohon.
"Ayesh bukannya udah punya robot-robot?" Tanya Sasti saat melihat isi kotak yang dibawa Naresh.
"Ndak mi, Ayesh ndak punya yang ini. Beda itu." Jawab Naresh dengan ekspresi wajah serius mencoba meyakinkan Sasti, kalau robot yang ada dirumah berbeda dengan yang ia pegang sekarang.
"Masa sih beda?" Tanya Sasti lagi.
"Iyaa mi beda, ayuk mi bayal ke om nya" Naresh menarik tangan Sasti ke arah kasir yang dijaga oleh seorang lelaki berkumis tebal. Tanpa Sasti sadari, dari kejauhan ada sepasang mata yang sedang mengawasinya, melihat setiap pergerakan Sasti dan Naresh.
--
"Halo Naresh." Sapa Ratna sambil mencubit pipi chubby Naresh.
Naresh yang baru pertama kali melihat Ratna diam saja tidak merespon, perhatiannya tetap kepada mainan robot yang baru saja dibeli.
"Ayesh, salim dulu sama tante Ratna sayang." Perintah Sasti lembut.
Naresh menuruti ucapan Sasti, tapi tetap saja tanpa ekspresi, dia menoleh datar ke arah Ratna lalu mengambil tangan kanan Ratna menciumnya dan melepaskannya kembali. Sepertinya robot itu benar-benar menghipnotis Naresh. Ratna tidak kuasa menahan gemas saat diperlakukan seperti itu oleh Naresh, ia pun kembali mencubit pipi bocah lelaki itu.
"Gemesin banget sih kamu." ucap Ratna sambil tertawa.
Sekarang perhatian Ratna beralih ke Sasti yang duduk didepannya, wajahnya yang semula tersenyum berubah menjadi serius. "Naresh anak siapa?" Tanya Ratna tanpa basa-basi.
"Elu yaa hampir 4 tahun kita engga ketemu sekalinya ketemu yang ditanyain beginian." Semprot Sasti kesal.
"Sorry, tapi gue bener-bener shock kaget engga percaya pas lu bilang lu bawa anak." Balas Ratna dengan sedikit penyesalan.
"Lo hutang penjelasan sama gue Sas, kita sahabatan kan?? Tapi lo engga pernah cerita sama sekali. Gue aja kalo ada apa-apa selalu ngehubungin elo." Tambah Ratna yang kecewa.
"Hehe." Sasti hanya terkekeh membuat Ratna semakin kesal.
"Buruan cerita ahh!" Desak Ratna.
"Anak gue kok Na." Ucap Sasti dengan senyum di wajahnya.
Ratna memandang Sasti tanpa berkedip, "Serius gue."
"Loh! gue juga serius, Naresh anak gue."
"Tapi lo kan.... jadi lo nikah engga ngundang gue?" seru Ratna.
"Gue belom nikah kok." Balas Sasti santai.
"Lo??? Ahh sumpah, ini bercanda kan?! Engga April mop kan!?" Ratna tidak percaya mendengar ucapan Sasti.
Sasti tidak menjawab pertanyaan Ratna itu, ia hanya tersenyum.
"Sas... beneran Naresh anak lo? dari rahim lo? Bukan adopsi?"
"Ihh jangan ngomong yang aneh aneh deh nanti anak gue denger lagi, Naresh itu anak gue. Kalo bukan dari rahim gue terus rahim siapa?"
"Sas...aduh, keabisan kata-kata nih gue." Ratna yang shock menjadi bingung harus berbicara apa.
"Hahaha ya gausah ngomong lah kalo keabisan kata-kata" Tawa Sasti meledak melihat ekspresi Ratna.
"Hmm... bapaknya siapa?" Tanya Ratna pelan.
"Nantilah gue certain, tapi engga sekarang." Jawab Sasti yang enggan membahasa ayah Naresh.
"Tapi dia tau kan keberadaan anak ini?" Tanya Ratna lagi.
Sastipun terdiam. Ratna juga diam menunggu jawaban Sasti.
"Engga......."
--