Sasti berjalan dengan cepat mengikuti Satria yang sudah terlebih dahulu berjalan ke tempat Pak Dirjen, orang-orang dari pengembang dan juga Direktur serta staff dari Unit di Kantornya berdiri mengamati situasi di lokasi proyek. Disaat langkahnya semakin dekat ke tempat tersebut Sasti teringat dengan kakinya yang mengenakan sendal jepit, tidak mungkin bergabung dengan mereka semua sambil memakai sendal kayak gini batin Sasti dengan kepala sedikit menunduk melihat kakinya.
Sasti bergantian menatap heels yang ia jinjing dengan kakinya yang hanya beralaskan sendal jepit, ganti aja kali yaa pikirnya. Dengan bimbang Sasti pun menukar alas kakinya kembali dengan heels sedangkan sendal jepit milik Satria ia masukkan ke dalam tasnya, lalu berjalan perlahan mendekat ke samping Pak Dirjen.
"Ehh.. kok kau lama? Ngapain dulu sama Satria?" Tanya Pak Dirjen saat menyadari kedatangan sekretarisnya itu.
"Hah..engga ngapa-ngapain kok pak." Sasti yang ditanya seperti itu sedikit kaget.
"Kirain ngapa-ngapain dulu kalian." Ucap Pak Dirjen dengan tatapan menggoda Sasti lalu melirik ke arah Satria.
"Tadinya mau ngapa-ngapain dulu pak, tapi Sastinya engga mau." Celetuk Satria tanpa malu.
Sasti yang mendengar ucapan Satria menoleh kaget dengan kedua mata melotot ke arah Satria. Sedangkan Satria hanya tersenyum sekilas lalu kembali memasang muka datar kepada Sasti. Pak Dirjen tertawa melihatnya, lalu perhatiannya kembali ke proyek, ia memutuskan untuk berjalan berkeliling melihat situasi di proyek tersebut. Pak Dirjen, Pak Nurwan dan Satria berjalan lebih dahulu di depan, sedangkan Sasti, staff dari Unit dan beberapa orang dari pihak pengembang mengikuti dari belakang.
Sasti terus tersenyum meski dalam hatinya mengeluh tiada henti karena heels yang ia kenakan membuatnya susah berjalan dengan cepat mengikuti tiga orang penting yang telah berjalan lebih dahulu di depan.
Pak Dirjen dan Pak Nurwan tampak serius mendengarkan penjelasan yang diutarakan oleh Satria, salah satu staff dari unit mencatat penjelasan tersebut sedangkan satu staff yang lain sibuk mengambil gambar menggunakan kamera.
"Hei kau, coba foto kita dulu." Ucap Pak Dirjen sambil melambaikan tangannya kepada staff yang bernama Asep.
"Siap pak." Balas Asep dengan sigap ia langsung mengambil posisi siap mengambil foto. Pak Dirjen, Direktur, dan Satria pun berdiri berdampingan.
"Pak Udin! sini kau ikut juga." Seru Pak Dirjen sambil melambaikan tangan memanggil Pak Udin. Pak Udin pun langsung merapatkan diri, berdiri di samping Pak Dirjen.
"Sasti kau ikut juga, berdiri sana sebelah Satria." Perintah Pak Dirjen. Sasti mengangguk lalu berjalan ke arah Satria, dua langkah lagi namun entah kenapa Sasti seperti kehilangan keseimbangan.
Hup!
Jantung Sasti berdebar kencang, namun hal yang ia takutkan tidak terjadi. Ia tidak jatuh ke jalan rusak berbatu dan berpasir tersebut. Satria menahannya, tangan kekar milik lelaki tampan itu telah melingkar dipinggang Sasti membuat jantungnya berdebar semakin kencang.
Sasti langsung membetulkan posisi berdirinya, "Makasih.." Ucapnya pelan kepada Satria yang telah menarik tangannya dari pinggang Sasti. Satria tampak tak acuh, lelaki itu kembali menatap ke depan. Sasti pun ikut menatap kamera yang telah dibidikkan ke arah mereka semua.
"1..2..3... ckrek!"
"Sekali lagi." Ucap Pak Dirjen yang memang senang di foto.
"1..2...3...ckrek!"
"Coba saya lihat hasilnya." Ucap Pak Dirjen membuat Asep langsung berlari ke arahnya.
"Ini pak." Asep menunjukkan foto yang ia ambil kepada Pak Dirjen.
Pak Dirjen pun tersenyum lalu mengangguk puas,"Oke... kita kembali saja ke depan." Ucap Pak Dirjen disusul anggukan oleh yang lain.
Jalan yang dipilih Pak Dirjen untuk kembali ke depan kantor proyek ternyata sedikit memutar, jalan agak menurun dengan tingkat kerusakan lebih parah membuat Sasti menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Satria, Pak Nurwan, Pak Udin juga Asep berjalan mendampingi Pak Dirjen. Namun sebuah panggilan yang masuk ke telepon genggam milik Satria membuat lelaki itu tertinggal dari rombongan. Sasti yang berjalan dengan susah payahpun telah melewati Satria yang tampak serius berbicara dengan penelpon, sekilas Sasti dapat mendengar suara Satria.
"Kalau tidak penting jangan hubungi saya." Hanya itu yang dapat Sasti dengar dari Satria.
Sasti yang melangkah pelan-pelan dikagetkan oleh sebuah tarikan yang menahan lengannya, dengan cepat ia menoleh dan mendapatkan Satria yang sedang menatapnya.
"Pegangan sama saya biar engga jatuh." Ucap Satria dengan wajah datarnya.
"Engga perlu pak, saya bisa sendiri kok." Tolak Sasti halus.
"Yaudah..." Satria pun melepas lengan Sasti lalu berjalan meninggalkannya.
--
Sasti dan Satria berjalan beriringin menuju tempat parkir mobil. "Kamu duduk di depan sini." Ucap Satria saat melihat Sasti yang hendak membuka pintu belakang.
"Emang saya supir apa, kamu duduk di belakang." Tambah Satria sebelum membuka pintu depan lalu duduk dibalik kemudi.
Sasti terdiam sesaat lalu jalan memutari mobil, ia membuka pintu depan dan duduk dengan manis disamping Satria.
"Ohh iyaa, ini sendal bapak." Sasti mengeluarkan sendal jepit abu-abu dari dalam tasnya lalu menyerahkannya kepada Satria. Namun Satria diam saja tidak mengambil sendal tersebut dari tangan Sasti.
"Taro dibawah situ." Ucap Satria sambil menstater mobilnya.
Sasti menurutinya, ia meletakkan sendal jepit tersebut tepat di bawah kakinya, "Makasih." Ucap Sasti pelan.
Satria melirik sekilas lalu menjalankan mobil keluar dari kawasan proyek. Sasti memilih untuk diam, ia tidak mempunyai bahan pembicaraan. Lagian juga dia bingung, apa yang harus dibicarakan dengan Satria.
Terdengar bunyi gemuruh dari langit, yang semula langit terang berwarna biru dengan cepat berubah menjadi gelap karena tertutup awan mendung. Kilat mulai bermunculan, menimbulkan garisan cahaya putih di langit. Perlahan setetes demi setetes air mulai menimpa apa saja yang ada dibawah langit. Tidak perlu waktu yang lama hingga akhirnya hujan yang amat deras turun, membuat Satria memelankan laju mobil yang ia kendarai.
Duaarrr...
Bunyi petir yang besar membuat Sasti tersentak. Kilat terus menerus terlihat di langit, seolah sedang ada pertunjukkan dengan lampu flash diatas sana.
"Pak.. apa engga lebih baik berhenti dulu? Ini engga keliatan apa-apaan di depan." Suara Sasti terdengar mulai khawatir.
"Keliatan kok." Balas Satria santai sambil terus menyetir.
Sasti mendelik kesal, "Apanya yang keliatan sih pak?"
"Ya menurut kamu apa yang keliatan?" Satria malah bertanya balik dengan pertanyaan yang membuat Sasti semakin kesal.
Sabar Sasti sabar.... lebih baik diam daripada dilanjutkan batin Sasti.
Satria bisa melihat dari spion tengah, kalau ada satu mobil yang jaraknya tidak begitu jauh dari mobilnya. Ia menghembuskan nafas lega.
Saat melewati pertigaan jalan tanpa mereka sadari sebuah mobil melaju dengan kecepatan cukup tinggi, lalu....
Braaakkkk!!
Mobil yang mereka naiki terhempas ke arah kanan karena ditabrak dari sisi kiri.
Sasti merasakan dirinya terhempas kencang ke arah Satria, untuk saja ia menggunakan sabuk pengaman kalau tidak entah apa yang akan terjadi. Namun tetap saja ia merasakan sakit pada badannya, terlebih lagi pecahan jendela yang menghujaninya. Sedangkan Satria kepalanya terbentur ke jendela cukup keras namun tidak cukup kuat untuk membuatnya pingsan.
"Sas, kamu engga apa-apa?" Tanya Satria khawatir, apalagi saat melihat kening sebelah kiri Sasti berdarah. Bukan hanya kening tapi tangan kirinya juga terdapat beberapa luka kecil. Satria segera membuka sabuk pengaman yang ia kenakan, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Sasti. Pelan-pelan ia membuka sabuk pengaman yang terpasang di tubuh sasti.
"Hhh...." Sasti yang masih shock tidak menjawab pertanyaan Satria. Ia meringis pelan sambil memegang kepalanya yang terasa pusing dan perlahan kesadarannya pun menghilang. Untung saja pintu tidak penyok terlalu dalam sehingga tidak menjepit kaki Sasti.
Duaaarrrr!
Petir kembali menggelegar di langit, dan hujan turun semakin deras.
--