Suasana Rumah Sakit Umum Daerah Palembang Bari cukup ramai meski hujan turun dengan derasnya. Sebuah mobil Toyota Kijang Innova berwarna abu-abu metalik memasuki pelataran UGD, Asep yang pertama melompat turun dari pintu depan ia langsung berlari ke dalam lalu kembali keluar bersama 3 orang suster yang membawa brankar dorong.
Satria yang berdiri di samping pintu belakang mobil yang telah terbuka langsung menggendong Sasti yang tidak sadarkan diri begitu brankar dorong sudah dekat dengan mobil, pelan-pelan ia meletakkan Sasti ke atas brankar tersebut. Kedua suster itu pun langsung mendorong brankar ke dalam UGD, Satria turut serta ke dalam sedangkan Asep ia berdiri di lobi karena harus menunggu kedatangan Pak Dirjen.
Tidak lama datang mobil CRV Hitam yang kemudian berhenti di pelataran UGD. Pak Udin yang turun pertama kali langsung membukakan pintu belakang untuk Pak Dirjen dan Pak Nurwan.
"Sasti mana?" Tanya Pak Dirjen yang terlihat khawatir.
"Sudah dibawa ke dalam pak." Jawab Asep.
Pak Dirjen dan Pak Nurwan pun menyusul masuk ke dalam UGD diikuti oleh Asep dan Pak Udin.
Sedangkan di dalam ruangan UGD,
"Bapak tunggu diluar saja, biar ibunya diperiksa sama dokter di dalam." Suster tersebut pun mendorong brankar Sasti ke masuk dalam ruangan.
Satria mengangguk pasrah, lalu bersender pada dinding di dekat pintu kaca.
"Bapak juga harus diperiksa." Ucap salah satu suster saat melihat memar kebiruan di kening Satria.
"Nanti saja." Tolak Satria halus.
"Tapi pak, nanti...." Belum selesai ucapan suster, Satria langsung memotongnya dengan tegas, "Saya baik-baik saja.”
Suster tersebut pun tampaknya enggan untuk memaksa Satria menjalani pemeriksaan, ia memilih untuk masuk ke dalam ruang periksa.
"Bagaimana keadaan Sasti?" Tanya Pak Dirjen saat melihat Satria.
Satria yang semula bersender pada dinding langsung berdiri tegak, "Sedang diperiksa pak di dalam."
"Permisi, maaf wali dari bu Sasti?" T anya seorang suster yang membawa papan kertas.
"Ya.." Satria langsung berjalan mendekati suster tersebut.
"Maaf bapak ada administrasi yang harus dilengkapi." Ucap suster tersebut sambil menunjukkan sebuah form kosong, ia pun menjelaskan beberapa hal kepada Satria, dan Satria mendengarkan secara seksama.
"Baik akan saya urus." Balas Satria yang telah paham dengan penjelasan suster.
"Apa yang harus diurus?" Tanya Pak Dirjen saat Satria selesai berbicara dengan suster lalu berjalan kearahnya.
"Hanya administrasi pak." Jawab Satria dengan senyuman diwajahnya.
"Biar si Udin saja yang mengurus." Ucap Pak Dirjen.
"Biar saya saja pak." Tolak Satria sopan.
"Ohh begitu? Kau mau urus?"
"Iya pak, biar saya saja. Permisi pak." Satria pun pergi meninggalkan Pak Dirjen.
"Lebih baik bapak dan Pak Nurwan kembali saja ke hotel, biar kami yang disini." Ucap Pak Udin sepeninggalan Satria.
Tampaknya Pak Dirjen enggan meninggalkan rumah sakit, tapi saat ia melihat Pak Nurwan akhirnya ia mengangguk setuju untuk kembali ke hotel.
"Baiklah, saya kembali ke hotel. Kabarkan perkembangan Sasti ke saya ya, kau juga jangan lupa cari informasi soal penabraknya." Pesan Pak Dirjen kepada Pak Udin.
"Ya pak, akan saya kabarkan semua perkembangannya. Asep kamu ikut dengan Pak Dirjen ya." Pak Udin mengangguk siap, ia juga memerintahkan Asep untuk mendampingi Pak Dirjen kembali ke hotel.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Pak Dirjen dan Pak Nurwan pun meninggalkan rumah sakit, diikuti Asep dari belakang.
--
Sekembalinya Satria dari mengurus administrasi, ia langsung dipanggil ke dalam ruangan UGD. Dokter yang memeriksa keadaan Sasti ingin berbicara dengannya.
"Dengan Bapak Satria?" Sapa seorang dokter perempuan yang tidak lagi muda.
"Iya dok, saya Satria."
"Istri bapak hanya shock, untuk luka-lukanya tidak ada yang parah, sedangkan memar di pinggul dan leher karena tertahan seat belt akan hilang perlahan jadi bapak tidak perlu khawatir." Jelas dokter tersebut panjang lebar.
Istri? Jadi dokter ini berpikir kalau Sasti adalah istriku? batin Satria yang entah kenapa membuat dirinya tersenyum tipis. Senang.
"Memar di kepala bapak akibat kecelakaan juga?" Tanya dokter dengan name tag Kemala di dadanya.
"Ohh..ini..iya dok, kepala saya terbentur jendela." Jawab Satria sedikit gugup sambil memegang bagian keningnya yang membiru.
Tangan dokter Kemala terulur ke arah memar di kening Satria, namun tubuh Satria refleks menjauhinya. Dokter Kemala sedikit kaget melihat reaksi cepat dari Satria namun akhirnya ia tersenyum.
"Saya hanya melihatnya saja sebentar, jangan takut pak." Ucap dokter Kemala seraya memajukan badannya mendekati Satria.
Satria pun diam di tempatnya berdiri lalu membiarkan tangan yang mulai berkerut itu menyentuh keningnya, "Aaaww.." Satria meringis kecil saat memarnya disentuh.
Dokter Kemala menarik kursi yang tak jauh darinya, "Coba bapak duduk dulu." perintah dokter Kemala kepada Satria.
Meski enggan Satria tak menolak, ia duduk di kursi tersebut. "Tolong mata bapak mengikuti pergerakan tangan saya." Perintah doketr Kemala sembari menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri di depan mata Satria.
Mata Satria pun mengikuti pergerakkan jari telunjuk dr.Kemala, "Merasakan pusing?" tanya dokter Kemala kemudian.
Satria menggelengkan kepalanya.
"Di bagian memar merasakan nyeri?"
Satria kembali menggeleng, “Hanya saat disentuh.”
"Kepala secara keseluruhan ada yang terasa sakit atau nyeri?"
Lagi lagi Satria menggelengkan kepalanya.
"Pasca tabrakan tidak terasa apa-apa di kepalanya?"
"Nyeri sebentar aja dok, tapi lama-lama ilang." Jawab Satria mengingat kembali saat setelah mobil yang ia kendarai ditabrak. Dokter Kemala mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baiklah, kalau bapak bersedia agar melakukan scanning kepala boleh di sini atau sekembalinya bapak ke Jakarta." Ujar dokter Kemala.
"Hmm.. di Jakarta saja ya dok." balas Satria setelah berpikir sesaat.
Dokter Kemala tersenyum, "Oke, kalau begitu ayok kita ke tempat istri bapak."
Satria pun mengikuti dokter Kemala berjalan ke brankar yang terletak di sisi kanan ruangan UGD, langkahnya terhenti di depan brankar nomor 7.
"Sas.." Satria menyentuh tangan kanan Sasti lalu menggenggamnya.
Sasti memang memejamkan matanya, namun ia tidak tidur sehingga langsung membuka matanya.
"Penyangga lehernya jangan dilepas dulu ya pak, setidaknya sampai besok."
Satria mengangguk, "Baik dok. Hmm dok, kira-kira kapan bisa pulangnya?"
"Sekarang juga sudah boleh pulang, tapi harus banyak istirahat. Akan saya panggilkan suster untuk membantu ya pak."
"Terima kasih dok."
"Sama-sama pak, semoga istri bapak lekas pulih." Dokter Kemala pun pergi meninggalkan Satria dan Sasti.
Tidak lama datang dua orang suster, yang satu sambil mendorong kursi kosong dan yang satunya lagi membawa sebuah map berwarna biru muda.
"Selamat malam pak, ada surat yang harus bapak tanda tangani." Ucap suster yang membawa map biru.
Sedangkan suster yang mendorong kursi langsung membantu Sasti bersiap untuk pulang selagi Satria menandatangani surat pernyataan kepulangan pasien.
Selesai Satria menandatangani surat ia membantu Sasti untuk pindah ke kursi dorong, "Saya bantu." ucap Satria menawarkan diri.
Anggukan Sasti langsung disambut dengan kesigapan Satria menggendong Sasti lalu memindahkannya ke kursi dorong. Entah wajah Sasti yang terlalu dekat dengan Satria atau leher Satria yang terlalu menunduk membuat hidung Sasti menyentuh leher Satria dan hati lelaki tersebutpun berdesir.
"Terima kasih ya sus." Ucap Sasti pelan.
"Sama-sama bu, semoga lekas pulih." Balas suster tersebut dengan terus tersenyum melihat ke arah Satria.
Bukan hanya suster itu saja yang melihat Satria dengan tatapan terpesona, suster suster yang lain pun tidak sedikit yang mencuri pandang ke arah Satria.
"Suaminya ganteng, istrinya cantik, cocok banget ya." Bisik suster yang satu dengan yang lain saat melihat Satria mendorong kursi Sasti keluar dari ruangan UGD.
--
Telepon genggam Satria berbunyi nyaring, ia berhenti mendorong kursi dorong Sasti lalu mengangkat panggilan tersebut. Dilihatnya layar telepon genggamnya, ternyata Pak Dirjen yang menghubunginya.
"Selamat malam pak."
"............"
"Sasti baik-baik saja pak, hanya shock dan beberapa luka juga memar akan sembuh perlahan."
"............."
"Iya pak ini sudah bisa kembali ke hotel."
"............."
"Kita berdua saja pak, Pak Udin tadi pamit ke kantor polisi."
"............."
"Baik pak, akan saya sampaikan."
".........."
Sambungan terputus, Satria kembali meletakkan telepon genggamnya ke dalam kantong celananya.
"Kamu dapat salam dari Pak Dirjen." Satria menyampaikan salam Pak Dirjen kepada Sasti, namun Sasti tidak menjawabnya.
Satria pun kembali mendorong kursi Sasti dalam diam, ia terus mendorong kursi Sasti hingga ke area parkiran.
"Bukan bapak kan yang nyetir?" Kalimat pertama Sasti sejak Satria menjemputnya dari UGD akhirnya terucap.
"Kamu takut kalau saya yang nyetir?" Tanya Satria dengan mata menyipit menatap Sasti. Sasti tidak langsung menjawabnya, ia terdiam untuk beberapa saat.
"Supir dari proyek yang tadi pagi antar kita yang nyetir Sas, bukan saya." Penjelasan Satria membuat Sasti menghembuskan nafas lega. Satria terus mendorong kursi Sasti hingga mendekat ke Toyota Avanza Putih yang terparkir dibawah pohon. Lelaki berseragam safari berwarna hitam yang tengah bersender pada pintu mobil langsung membukakan pintu mobil untuk Satria.
Satria pun langsung menggendong Sasti, memindahkannya ke dalam mobil. Setelah menutup pintu mobil, Satria memerintahkan lelaki tersebut untuk mengembalikkan kursi roda ke UGD, lalu ia berjalan memutari mobil dan masuk ke dalam mobil dari sisi yang lain, kemudian ia duduk di samping Sasti.
Sekembalinya lelaki tersebut dari mengembalikkan kursi roda, Satria menyuruhnya untuk segera meninggalkan parkiran rumah sakit kembali ke Hotel tempat mereka semua menginap.
"Pak nyetirnya pelan-pelan aja." Pinta Sasti memelas saat mobil mulai melaju kencang di jalanan yang cukup lengang tersebut.
"Iya bu.." Sang supir pun mengurangi kecepatan mobil.
Satria terus menatap Sasti yang sedang memejamkan matanya, dalam hatinya ia merasa khawatir dengan keadaan Sasti. Dibandingkan luka fisik, lebih berbahaya trauma menurut Satria. Hati Satria ingin sekali menggenggam tangan Sasti yang terus meremas baju yang ia kenakan, namun Satria menahan keinginannya tersebut.
Tiiiinnnn!!
Tiba-tiba mobil yang mereka naiki mengerem mendadak, supir berdecak kesal saat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menyalip membuatnya harus banting stir.
"Aaaaakk!" Sasti menjerit tertahan, jantungnya berdetak tak karuan.
"Ma..maaf bu." Supir tersebut langsung meminta maaf.
"Engga apa-apa pak, lanjutkan nyetirnya." Bukan Sasti yang menjawab melainkan Satria.
"Kamu engga apa-apa?" Satria menyentuh pundak Sasti, ia dapat merasakan tubuh Sasti yang begitu tegang.
"Sas...." Sastria memanggil Sasti dengan lembut namun Sasti diam tak menjawab, Sasti terus memejamkan matanya dengan kuat.
Entah keberanian dari mana yang membuat Satria nekat memeluk Sasti, ia terus mengelus punggung Sasti hingga akhirnya tubuh Sasti yang semula tegang perlahan mulai rileks.
"Hikss..." Sasti mulai menangis pelan di pelukan Satria membuat Satria semakin khawatir.
"Ada yang sakit? Kita kembali ke rumah sakit aja ya?" tanya Satria yang dijawab dengan gelengan kepala dari Sasti.
"Kamu yakin?" Tanya Satria yang tidak yakin dengan keadaan Sasti.
"Hmm.." Sasti bergumam menganggukkan kepalanya.
Satria menghela nafas panjang, ia terus memeluk Sasti dan enggan untuk melepasnya. Sasti pun tampak tidak keberatan berada di dalam pelukan Satria, rasa nyaman terselip di dalam hati Sasti, hingga akhirnya ia tertidur di dalam pelukan lelaki tampan tersebut. Satria dapat merasakan nafas Sasti yang mulai teratur, apa ia tertidur batin Satria.
Satria yang hendak membetulkan posisi duduknya pun membatalkan niatnya tersebut karena takut membangunkan Sasti. Ia meringis pelan saat pinggangnya mulai terasa pegal, namun rasa pegalnya segera hilang saat melihat wajah damai Sasti yang tertidur bersandar di dadanya.
--