"Pssttt!"
Suara yang nyaris seperti desisan ular itu menghentikan langkah Luna. Tak jauh darinya, tengah berdiri seorang cowok yang menatapnya, lengkap dengan cengiran di bibirnya. Luna tidak bergerak kecuali membuat kepala dan matanya kini benar-benar menatap cowok itu. Cowok itu lalu berjalan mendekati Luna.
"Bedaknya ketebelan, tuh!" ungkapnya. Cowok itu terkikik sambil melangkah menjauhi Luna. Cewek berambut sebahu itu mengangkat sebelah alisnya sambil merutuki kepergian cowok itu.
"Gila!"
Meski Luna tidak berteriak, pasti cowok itu mendengar ungkapan Luna karena jaraknya mungkin hanya radius 3 meter dari tempat Luna berdiri sekarang.
Bedak Luna nggak tebal sama sekali. Ia hanya memakai bedak tabur sedikit ditambah lip balm di bibirnya agar bibirnya tidak kering. Apa yang dikatakan cowok itu benar-benar hoax dan nggak masuk akal. Luna memutuskan untuk tidak mengambil pusing perkara ini. Toh, meski Luna tahu siapa cowok itu, Luna bersyukur mereka tidak berada di kelas yang sama.
***
Nggak ada yang lebih menyenangkan dari melihat keadaan kelasnya yang selalu hening. Sesekali ramai karena beberapa anak sering beradu argumen ketika menentukan jawaban untuk soal-soal yang mereka kerjakan. Ya. Disinilah Luna sekarang. Kelas 11 IPA 1. Kelas dimana para jenius berkumpul, salah satunya Luna. Meski kenyataan mengatakan demikian, tapi Luna tak begitu suka berada di kelas ini. Semua penghuni kelas ini hanya berambisi menjadi juara kelas bahkan paralel.
Luna tidak pernah gila juara seperti mereka. Tetapi meski Luna tidak ingin, ia yang biasa saja dan apa adanya selalu mematahkan harapan-harapan mereka. Tanpa Luna harus berdebat jawaban yang paling benar dengan keruwetan lainnya, ia selalu menjadi nomor 1 di kelas. Membuat iri jiwa-jiwa yang ngotot ingin menjadi nomor 1.
"Kita yang usaha pengin juara eh Luna yang silent yang dapet."
"Nggak adil banget ya. Nyogok kali itu cewek. Bonyoknya kan orang tajir."
"Sudah biasa dilakuin sama anak-anak orang kaya. Kayak gini malah bikin repot teman-temannya. Yang sudah belajar mati-matian kayak berasa nggak ada harganya."
Luna dengan sengaja menggebrak bangkunya. Mulut teman-temannya itu selain jago beradu argumen yang ujung-ujungnya nggak nemu jawaban, ternyata hebat juga membuat gosip. Sudah cukup ketenangannya diusik.
Seisi kelas menatap Luna dengan tatapan ngeri. Pasalnya Luna selama ini tidak pernah ambil pusing meski gosip-gosip beredar di telinganya. Cewek itu hampir tidak peduli sekitarnya meski temannya sedang berdarah-darah. Beberapa segera melakukan aksi bisik-bisik yang menyita perhatian Luna.
"Sekali lagi gue denger kalian gosipin gue yang nggak-nggak, siap-siap keluar dari sekolah ini!"
Luna kembali duduk dengan tenang. Sedangkan semua telinga yang mendengarnya, cukup merasa ngeri dengan ancaman Luna. Sebagian besar penghuni kelas ini adalah siswa kurang mampu yang berprestasi dan mendapat beasiswa.
***
Berjalan di koridor sendirian, beberapa kali Luna menjadi pusat perhatian. Pemandangan seperti ini sudah nggak asing lagi, sih. Luna yang cantik dan mempunyai wajah cubby-able, membuat para cewek iri. Cowok-cowok juga dibuat gemas yang rasanya ingin banget mencubit pipinya. Tapi sayangnya, Luna selalu sendirian. Sisinya selalu kosong dan cewek itu nggak pernah berusaha mengisi sisi kosongnya itu. Dirinya sendiri cukup mampu menopang segala hal yang ia alami. Ya, Luna mampu.
Memasuki kantin, Luna dihadiahi kantin yang penuh dengan penghuni. Cewek itu menghela napas. Ternyata membawa bekal dari rumah memang paling menyelamatkan perutnya. Tanpa harus mengantre dan sibuk mencari meja makan. Sialnya bekalnya tadi pagi ketinggalan di meja makan. Mau nggak mau cewek itu pergi ke kantin.
Luna sudah selesai mengantre sepiring gado-gado dan segelas es teh. Sekarang ia harus mendapat tempat duduk untuk menuntaskan dahaga dan rasa laparnya.
"Lun, sini."
Seseorang memanggilnya. Luna mengedarkan pandangan dan tatapannya jatuh pada cowok yang tadi pagi membuatnya sebal. Cowok itu menepuk kursi di sampingnya supaya Luna kesana. Bangku lain sudah penuh dan hanya di situ yang masih kosong. Luna menghela napas. Mau nggak mau Luna harus duduk di sana dan berurusan dengan cowok itu.
"Duduk sini aja, bangku lain udah penuh. Kursinya nggak kotor dan udah gue bersihin."
Sepersekian detik Luna terkejut. Bukan karena cowok itu menawarinya kursi, tapi ... darimana ia tahu?
"Duduk, Lun. Kapan makannya kalau lo berdiri terus?"
Luna mengikuti instruksinya. Ia duduk dan mulai memakan gado-gadonya tanpa basa-basi. Membuat cowok itu dan temannya paham bahwa Luna memang kaku.
Meski dalam keadaan mengunyah kentang, Luna tidak bisa mengalihkan pikirannya yang kini bercabang. Cowok itu, Daris, tahu salah satu pribadi Luna yang nggak ada satu orang pun tahu kecuali dirinya. Dari mana Daris tahu? Sejak kapan dan apakah Daris sudah membocorkannya ke dunia? Hal itu benar-benar membuat Luna tidak bisa menikmati makan siangnya dengan tenang. Ia takut Daris juga mengetahui rahasianya yang lain.
Sial. Kenapa Luna jadi memikirkan Daris?
***
Selepas kejadian Luna mengancam teman sekelasnya tadi, tidak ada lagi yang berani menggosipkan Luna secara terang-terangan. Mereka takut Luna benar-benar bertindak seperti yang cewek itu katakan tadi. Mereka tahu Luna adalah anak orang kaya yang uangnya bisa untuk mengatur hal-hal yang orang miskin nggak mampu melawan.
Luna tidak peduli dengan ruang kelasnya yang memang biasanya hening kini menjadi lebih hening lagi. Hanya beberapa anak yang berani beradu argumen itu pun sudah tidak sekeukeuh biasanya. Pengaruh Luna memang luar biasa di kelas itu. Selain dia tajir, Luna juga ahli di segala bidang mata pelajaran.
Sepulang sekolah, Luna merebahkan diri di kasur. Rasanya lelah seharian berada di tempat yang tidak membuatnya nyaman namun sedikit menjanjikan masa depannya. Di sana sudah pasti Luna akan mendapatkan ilmu-ilmu baru dan kelak lulus dengan menenteng ijazahnya.
Ingatannya kembali pada kejadian di kantin tadi. Daris. Teman yang hanya ia kenal semasa MOS dan mereka jarang terlibat pembicaraan. Tetapi dengan ajaibnya cowok itu mengerti Luna nggak bisa berada di tempat yang kotor.
"Tahu dari mana, sih?"
Luna mengacak rambutnya. Ia nggak bisa berhenti memikirkan itu. Luna mengerti Daris adalah tipe anak yang bisa bergaul sama siapa pun dan nggak bisa dipungkiri selain itu, cowok itu juga jahil. Luna takut Daris mengatakannya pada semua orang tentang pribadi Luna yang itu. Yang kemungkinan besar akan membuat mereka semua menertawakan Luna dan mengejeknya habis-habisan. Luna nggak mau. Luna nggak pernah siap untuk itu.
"Lun, berani kotor itu baik, loh."
"Kalau kotor ya bersihin, jangan dihindarin. Kayak bocah lo."
"Adek gue yang bocah aja paham ilmu membersihkan tempat yang kotor. Masa lo malah kabur, sih? Pengecut nggak sih namanya?"
Dan ribuan kalimat-kalimat bully-an terlintas di kepalanya. Luna nggak mau itu terjadi. Luna harus bilang pada Daris. Tapi Luna nggak tahu bagaimana caranya. Luna takut kalau nantinya ia bilang, justru membuka kesempatan untuk Daris mengancamnya untuk melakukan hal-hal di luar dugaan.
"NGGAK! NGGAAAKKK!!!"