Pagi itu tidak secerah biasanya. Mendung menyelimuti langit. Rintik-rintik kecil mulai berjatuhan. Tak apa. Suasana seperti ini justru menggambarkan perasaan Luna. Mendung dimana-mana. Jarang bahkan hampir tidak ada celah sinar yang bisa masuk dengan alasan apapun. Luna sudah memutuskan hati dan jiwanya akan selalu mendung kapan dan bagaimana pun.
Setibanya di sekolah, Luna buru-buru memasuki koridor sekolah karena rintik-rintik kecil tadi sudah berubah menjadi hujan yang cukup deras. Rambut Luna sedikit basah. Terlihat lebih memesona dan menggemaskan. Cowok-cowok yang melihatnya nggak sabar ingin menghampiri Luna. Tapi semua keinginan itu dipatahkan karena baru saja Daris menyapa Luna dan berjalan beriringan dengan cewek itu.
"Lun, rambut lo basah."
Suara itu ... bukan. Luna tidak siap berhadapan dengan sang pemilik suara. Luna mempercepat langkahnya supaya cowok itu berhenti mengikutinya. Tetapi semakin Luna berjalan cepat, cowok itu justru berlari kecil menghampirinya.
"Lun." Sentuhan itu ... Daris menyentuh lengan Luna. Membuat Luna benar-benar berhenti tanpa ingin melihat si pelaku. Luna menunduk.
"Rambut lo basah." Daris mengulurkan handuk kecil berwarna biru gelap ke arahnya. Tepat di bawah tundukannya. Di mana matanya memang melihat jelas ke bawah. Luna segera mengambil handuk itu dan ia bisa pergi dari Daris.
"Tunggu dulu."
Daris menyentuh tangannya lagi, menahan Luna agar cewek itu tidak pergi. Hati Luna merasa campur aduk dengan sentuhan di tangannya itu. Luna tidak biasa tapi ia juga tak bisa menolaknya.
"Ini." Daris menglurkan earphone dan sebuah handphone yang sudah jelas milik Daris. "Hujannya deres, pasti bakal ada petir. Nanti lo dengerin lagu aja pakai earphone ini biar nggak denger suara petir."
STOP. Luna lagi-lagi terkejut dengan apa yang dikatakan Daris baru saja. Cewek itu kini mengangkat kepalanya dan menatap Daris. Air yang berkumpul di pelupuk matanya hampir saja terjatuh. Kenapa Daris seperti ini? Kenapa dia yang asing tiba-tiba menjelma menjadi orang yang tahu dirinya? Luna tidak butuh ini semua dari orang lain. Ia cukup mampu mengatasi apa yang terjadi dalam hidupnya.
"Ini bawa aja. Gue ke kelas dulu."
Daris meninggalkan earphone dan handphone-nya di tangan Luna. Lalu ia pergi meninggalkan Luna yang sama sekali belum menjawab kalimatnya.
Luna ... Luna tidak siap untuk kejutan-kejutan Daris setelah ini. Daris begitu asing dan ajaib hingga membuat otak Luna membeku. Luna tidak butuh siapa pun termasuk Daris.
***
Di kelas, Luna hanya diam seperti biasanya. Nggak ada yang asing dengan itu. Luna memang tidak berisik dan tidak punya teman ngobrol. Luna selalu membuat mereka yang mencoba mengajaknya berbicara merasa kapok dan tidak akan mengulangi hal itu lagi. Luna selalu menciptakan jarak yang jauh dengan orang-orang sekitarnya. Hingga tanpa Luna sadari, jarak itu sudah cukup jauh dan membuat siapa pun tidak sanggup mencapainya.
Meski Luna terus sendirian, ia tidak terkejut. Ia sudah terbiasa dengan situasi ini sejak kecil. Luna yang cantik itu selalu menghabiskan hari-harinya dengan buku dan sesekali menonton kartun. Ia tidak berselera untuk bermain dengan teman-teman seusianya di luar sana. Bagi Luna mereka terlalu membosankan dan agresif dalam bicara, terlebih yang satu gender dengannya.
Benar saja yang tadi dikatakan Daris, selain suara hujan yang deras, terdengar juga suara petir yang menggelegar. Namun utung saja Luna sudah memasang earphone di telinganya. Tetapi bukan milik Daris yang ia pakai, melainkan miliknya sendiri. Sebelum orang lain mulai menyadari tentang dirinya dan menawari segala macam bantuan, Luna sudah mengantisipasi dirinya sendiri.
Ditatapnya hujan di luar. Air-air dari langit itu menghujam bumi tanpa ampun. Terus menerus tanpa henti. Seperti sepi-sepi yang tidak membiarkan ia ramai. Hening-hening telah memenjarakannya dalam kotak sunyi tanpa seorang pun tahu dimana letak kunci untuk membebaskannya dari sana. Luna juga tak pernah berusaha mencarinya. Ia membiarkannya berjalan sesuai semestinya dan tidak mencoba melawan.
"Luna, tolong fokus dengan pelajaran." Bu Sinta, guru yang lemah lembut itu membuat Luna mematuhi perintahnya. Meski Luna tidak menjawab, pandangannya kini beralih pada papan tulis yang berisi sederet materi dan di bawahnya ada 5 soal matematika yang harus ia selesaikan.
***
Luna tidak berusaha mencari keberadaan Daris untuk mengembalikan earphone dan handphone-nya. Setelah menghabiskan bekalnya, nasi goreng dengan sosis dan telur mata sapi, ia memilih menuju kolam ikan yang berada di samping perpustakaan. Di sebelah kolam ikan juga ada pohon yang tumbuh begitu besar dan lebat. Suasana di sana sangat sejuk dan Luna sangat menyukainya.
Luna membawa botol minumnya dan mulai menyusuri koridor. Sesampainya di tempat tujuan, ia duduk dan memperhatikan ikan-ikan hias yang ramai berkejaran. Meski Luna tidak mengerti bahasa hewan, ia yakin mereka sedang saling mengejek dan bercanda. Membuat kedua sudut bibirnya terangkat. Hal yang jauh dalam lubuk hatinya ingin ia wujudkan, sudah diwakilkan oleh ikan-ikan hias itu.
Tiba-tiba saja hatinya bergetar untuk pertama kalinya. Selain gara-gara ikan hias itu, ia teringat sentuhan hangat yang diberikan Daris di lengannya pagi tadi. Seperti setrum yang menyengat dirinya. Sudah lama tidak ada yang menyentuh Luna, seperti Daris. Berbeda dengan Luna yang terkejut, Daris justru terlihat biasa saja bahkan cowok itu mengulanginya dua kali.
"Gue tahu lo di sini."
Panjang umur. Yang baru saja membuat dirinya bergejolak berada di tempat yang sama dengannya. Cowok itu menempati tempat di sebelah Luna. Ikut memperhatikan ikan-ikan hias seperti yang Luna lakukan.
"Tadi ada petir. Lo pakai earphone-nya kan?" tanya Daris memastikan. Luna mengangguk. Ia merogoh saku bajunya, mengambil eraphone dan handphone milik Daris lalu menyerahkannya kepada sang empunya.
"Makasih," ucap Daris. Luna menatap cowok itu. Bukannya seharusnya Luna yang mengatakannya karena sudah dipinjami dua benda itu?
Daris tersenyum, "Nggak papa. Mungkin lo belum terbiasa dengan kalimat itu."
Luna tidak menjawab. Tapi apa yang Daris katakan memang benar. Jangankan kata terima kasih, Luna juga sangat irit bicara. Hampir menghilangkan semua kosa kata saat harus berhadapan dengan manusia-manusia di sekitarnya.
"Lo juga akan diem terus kalau gue ngoceh seharian di samping lo?"
Daris tidak menyerah demi mendengar satu kata uang keluar dari mulut Luna. Cewek itu sangat imut. Pasti akan lebih imut lagi kalau melihat Luna bicara. Terakhir yang ia dengar dari Luna adalah u*****n waktu ia menjahili Luna beberapa waktu lalu.
"Gila." Begitu kata Luna. Itu saja sudah cukup membuat Daris terkikik dan merasa senang. Cewek imut seperti Luna tidak akan terlihat seram ketika marah.
***
Bel pulang sekolah menghentikan seluruh kegiatan belajar mengajar. Guru-guru yang mengajar di kelas berpamitan. Semua penghuni kelas berbondong-bondong meninggalkan kelas yang sedari pagi sibuk menjejalkan pelajaran itu.
Luna tidak merasa sesenang mereka saat mendengar bel pulang sekolah berbunyi. Luna merasa biasa saja. Ia hampir menjadi manusia yang mati rasa. Tidak bisa mengekspresikan senang atau sedih. Meski sedang sendirian. Luna memilih memendamnya dalam hati.
"Luna."
Suara itu kini memang tidak asing lagi bagi Luna. Beberapa kali ia berinteraksi dengannya. Meski ia hanya diam dan cowok itu yang berbicara.
"Pulang bareng, yuk. Gue bonceng naik motor. Seru lho!" Daris menawarkannya pada Luna dengan tulus. Dengan senyum yang melekat di bibirnya. Tetapi Luna tidak menjawab. Ia memilih meninggalkan Daris tanpa menjawab.
"Nggak bosen dijemput naik mobil terus? Sesekali lo harus bisa menikmati indahnya jalanan kota ini dengan motor." Daris tidak berhenti merayu Luna. Meski Luna juga tidak niat berhenti atau sekadar menjawab ajakannya. Luna tidak mau berbicara dengan Daris. Tetapi cowok itu keukeuh tidak mau menyerah. Ia terus berceloteh di sebelah Luna.
Ponsel Luna bergetar. Ada notifikasi dari sopir yang biasa menjemputnya. Ban mobilnya bocor depan belakang. Jadi kemungkinan telat menjemputnya. Cewek itu mencebikkan bibirnya.
"Lo lucu banget, sih, Lun kalau begitu. Gemes gue, boleh cubit?"
Hampir saja Daris mendaratkan tangannya di pipi cubby Luna. Namun Luna memberi pelototan tajam hingga membuat Daris mengurungkan niatnya.
"Nggak jadi, deh, ampun." Sedikit ada kemajuan. Meski mulut Luna juga tak mengeluarkan kata-kata, ekspresinya sudah cukup untuk Daris mengerti. "Lo nggak dijemput, kan? Bareng gue saja deh."
Benar. Jemputan Luna memang telat karena ban mobilnya bocor. Ia terus saja berjalan keluar sekolah tanpa menghiraukan Daris. Ia mengehetikan taksi dan menyebutkan alamat rumahnya. Luna menaiki taksi tanpa melihat ke arah Daris. Luna benar-benar menganggap Daris tidak ada. Sedikit membuat cowok itu heran. Nggak apa-apa. Daris nggak akan menyerah.