Siang ini cukup terik. Matahari begitu senang menebar cahaya yang panas hingga membuat manusia-manusia di bumi ini mengeluh. Luna sendiri merasakannya hingga tenggorokannya terasa kering saat ini. Cewek berponi pendek itu berjalan menuju minimarket terdekat dari rumahnya. Ia ingin membeli camilan dan minuman dingin.
Luna adalah seorang penyuka makanan berbahan dasar kentang. Jadi ia ambil beberapa snack yang berbahan kentang dan meletakkannya di keranjang. Ia juga membeli beberapa mie instan, meski ia tahu megonsumsi makanan instan tersebut secara berlebihan itu tidak baik.
Tidak ada orang yang tahu bahwa sebenarnya Luna suka memasak. Tidak ada teman untuknya bercerita. Jarak yang ia bentangkan membuat semua orang tidak memiliki secuil informasi tentang Luna, kecuali yang cewek itu tunjukkan di hadapan umum.
Luna mengambil satu botol saus pedas, saus tomat, kecap asin, kecap manis, minyak wijen, dan beberapa perlengkapan dapur lainnya karena kebetulan stok perbumbuan di rumahnya sudah menipis. Ia juga mengambil beberapa tepung-tepungan. Lalu ketika Luna beralih ke show case yang menampilkan banyak jenis minuman dingin, ia tidak sengaja menginjak kaki seseorang. Mendengar si empunya kaki mengaduh, Luna ingin meminta maaf. Tetapi niatnya ia urungkan begitu mengetahui siapa orang itu.
"Luna!"
Daris begitu antusias dan melupakan rasa sakit di kakinya begitu melihat Luna. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Luna di tempat ini. Adiknya di rumah menangis karena tidak sengajak terpeleset menginjak lantai yang licin. Daris berinisiatif membelikan s**u dan minuman yogurt kesukaan adiknya.
Luna melengos pergi tanpa menghiraukan antusiasnya Daris. Cewek itu memilih show case yang paling ujung untuk mengambil yakult dan beberapa minuman dingin.
"Lun, tunggu."
Sudah bisa dipastikan bahwa Daris akan mengekorinya. Luna tidak mau ambil pusing dan membiarkan apa yang ingin Daris lakukan selama tidak mengganggunya.
"Nggak nyangka banget bakal ketemu di sini." Daris basa-basi. Luna tengah mengambil yakukt.
"Ini minimarket di pinggir jalan raya kalau lo lupa."
Satu kalimat yang cukup panjang untuk keheningan yang sering Daris terima dari Luna. Meski terdengar sedikit s***s, tapi Daris tidak mempermasalahkannya.
"Banyak banget belanjaan lo. Mirip kayak ibu gue kalau belanja bulanan."
"Hmm."
"Lo juga suka snack kentang? Wah kita samaan, Lun."
"Hmm."
Daris begitu antusias ketika mengetahu ternyata ia dan Luna menyukai makanan yang sama. Bisa buat modus kalau besok-besok ia akan mendekati Luna.
Setelahnya, Daris tidak banyak bicara karena Luna tidak menjawab kalimatnya lagi. Hanya anggukan dan gelengan yang ia dapatkan ketika ia sudah repot-repot mengajak Luna berbicara. Selesai memilih barang, keduanya pun mengantre di kasir. Daris mempersilakan Luna untuk mengantre di depannya.
***
"Pulang naik apa, Lun?"
"Jalan kaki."
"Rumah lo deket dari sini?"
"Hmm."
Astaga. Kenal Luna dari kelas 10 waktu MOS hingga sekarang, Daris tidak tahu kalau ternyata rumah mereka dekat, bahkan berada di komplek yang sama. Ini menambah kebahagiaan Daris saat itu juga. Berarti ia bisa sering-sering main ke rumah Luna atau berangkat bareng ke sekolah.
Daris menawarkan untuk mengantar cewek itu pulang, tetapi Luna menolaknya. Cewek itu keukeuh ingin berjalan kaki dan menenteng 2 kantong kresek besar berisi semua belanjaannya. Tanpa Luna tahu, Daris mengikutinya demi tahu dimana letak posisi rumah Luna.
Luna memasuki rumah dengan gerbang berwarna hitam. Rumah Luna besar dan megah. Bisa dilihat bahwa rumah gedongan itu mencapai 3 lantai. Jauh berbeda dengan rumah Daris yang hanya 1 lantai dan tidak semewah rumah Luna. Rumah Luna ini dulunya rumah yang ia dan teman-teman SD nya perebutkan dan pura-pura mengaku bahwa rumah ini milik mereka. Ternyata rumah impiannya ini adalah rumah Luna.
Namun, dari kecil sampai ia memasuki SMA, ia tak pernah tahu bahwa rumah ini dihuni anak-anak seusianya. Dari kecil, ia hanya pernah melihat mobil keluar masuk di sana dan yang tampak hanya sepasang suami istri tanpa ada anak kecil. Lalu ... dimana Luna selama ini?
Daris memilih pulang dari pada harus kepergok sedang mengikuti Luna.
Luna meletakkan belanjaannya di dapur. Ia mengambil satu botol minuman rasa jeruk dan meneguknya hingga habis. Cewek itu kemudian membongkar isi belanjaannya dan meletakkan di tempatnya masing-masing. Luna itu tipe-tipe cewek rajin. Jadi, ia tidak bisa membiarkan belanjaannya di dalam kresek lama-lama.
Luna hanya menyisakan satu bungkus mie instan dengan rasa ayam spicy dan sosis sapi. Perutnya terasa lapar dan ia sudah lama tidak mengonsumsi makanan instan ini.
Sejenak Luna terdiam, lalu duduk. Ia resapi rasa sepi ini lamat-lamat. Pemandangan ini sudah tidak asing lagi baginya. Hanya ada dirinya, pembantu, dan security di rumah dengan lantai 3 ini. Orang tuanya? FYI, orang tuanya adalah jenis manusia yang gila kerja dan Luna tidak mempunyai kedudukan penting dibanding bisnis dan uang mereka.
Saat Luna masih kecil, mereka masih sering pulang ke rumah. Sekarang? Rasanya sudah setahun mereka tidak menginjakkan kaki di rumah ini dan setiap hari Luna di rumah hanya ditemani pembantu dan security. Tanpa kehadiran kedua orang tuanya. Hingga Luna lupa rasanya memiliki orang tua.
Luna mengembuskan napas. Memikirkan kedua orang tuanya membuatnya pening. Ia mengambil mie instannya dan mulai memasak.
***
Daris masih kepikiran tentang keberadaan Luna selama ini. Cowok itu bahkan menceritakan semuanya kepada ibunya. Ibunya sendiri tidak tahu menahu tentang itu dan rumah mereka juga tidak terlalu dekat, berjarak dua perempatan dan satu pertigaan. Apalagi Luna adalah orang kaya yang sudah dipastikan keluarganya jarang atau tidak pernah bersosial kepada tetangga.
"Jangan nangis lagi Arsa ganteng."
Daris mengulurkan s**u kotak rasa coklat kepada Arsa, adiknya. Arsa yang baru berumur 2 tahun itu melompat senang karena kakaknya tahu apa yang ia mau.
"Maatih Alis."
Arsa duduk tenang di samping Daris dan mulai meminum susunya. Daris merasa bahagia ia bisa menjadi kakak yang baik untuk Arsa. Ia juga berharap seterusnya akan seperti ini. Hubungannya dan keluarganya tetap harmonis. Ia juga tidak pernah menginginkan hal buruk terjadi seperti ... perpisahan kedua orang tuanya. Akhir-akhir ini orang tua Daris sering bertengkar entah karena apa. Kalau mereka bertengkar, ia akan membawa Arsa ke rumah tetangganya. Kasian adiknya yang masih kecil itu kalau harus melihat orang tuanya bertengkar.
Sejenak ia berpikir, bagaimana kalau suatu saat hal itu terjadi? Karena tidak bisa menutup kemungkinan, keluarga yag harmonis atau tidak pasti ada kemungkinan untuk berpisah. Hanya saja Daris tidak siap untuk itu semua. Bagiamana ia nanti akan menjelaskan pada adiknya yang masih berusia 2 tahun itu?
Daris terus berdo'a semoga kemungkinan itu tidak akan terjadi pada keluarganya.