Seorang pria tua berjalan dengan langkah perlahan meninggalkan kamarnya. Rambutnya yang dulu berwarna coklat tua, kini tlah berubah menjadi putih. Wajah putih besihnya pun kini tidak sekenjang masa mudanya dulu. Banyak keriput memenuhi wajahnya. Sebelum keluar, ia melihat ke arah seorang wanita yang duduk di samping kasur. Ia dapat membayangkan di balik punggung yang bergetar itu, wajah wanita yang hampir setua dirinya tengah menangis. Membayangkan hal itu, tentu memberikan rasa pedih tersendiri pada dirinya. Namun apa yang bisa ia lakukan?
"Thank you, Marie," akhirnya ia hanya bisa berucap itu pada wanita yang masih duduk tak bergerak di sana. Ia tau, jika wanita tua itu tidak akan bisa mendengarnya, namun ia tetap mengucapkan dua kata itu.
Ia lalu berjalan kembali meninggalkan ruangan, dimana sesosok berjubah hitam yang menutupi kepala hingga ujung kaki menunggunya di balik pintu. Laki-laki tua itu sejenak terkaget dengan sosok itu. Ia membayangkan sosok rupawan berjubah putih dengan sayap dipunggungnyalah yang akan datang menghampirinya. Ia melihat, jubah hitam pekat itu seolah bergerak terkena angin di bagian bawahnya yang seolah tidak memikiki kaki. Lalu, ia memandang ke atas, mencoba mengintip wajah sosok itu, dibalik kerudung jubahnya. Sama halnya seperti jubah nya yang berwarna hitam pekat, wajah di balik kerudung itu tak dapat ia lihat.
Berbeda dengan pria tua itu, sosok glap di hadapannya dapat dengan jelas melihat setiap inci wajahnya. Bagaimana rambut putih tipis yang menutupi kepalanya, keriput di dahinya yang lebar. Melihat keriput di sekitar mulutnya, ia dapat membayangkan seperti apa pria di harapannya itu. Sosok ramah yang murah senyum.
Sebelum pria tua itu dapat melihat seperti apa wajah yang ia sembunyikan dibalik jubahnya, sosok itu menggerakan jubahnya ke arah rubuh pria itu. Sedetik kemudian, asap hitam menutupi tubuh pria itu. Membawanya meninggalkan rumahnya yang sudah lebih dari setengah abad ia tempati.
Setelah pria itu benar-benar menghilang, ia mengamati wanita yang duduk di depan kasur, dimana tubuh seorang pria terbaring kaku di atasnya. Dari balik punggung wanita itu, ia dapat melihat sosok pria yang baru saja pergi ke alam lain barusan. Ia nampak damai di sana, seolah ia hanya sedang tidur siang saja.
Ia tidak mengerti, mengapa wanita tua itu masih menangisi kepergian pria itu, Terlebih lagi, ketika ia mengucapkan salam perpisahan dengan mengucapkan, "Thank you Martin," kata wanita tua itu, setelah merelakan kepergian orang yang ia cintai. "We'll meet soon there," imbuh eanita itu, seolah mereka akan betemu kembali di dunia lain setelah ia meninggal.
Tidak, itu tidak benar. Mereka hanya akan saling mengenal di dunia ini. Jika mereka telah pergi dari dunia ini, mereka sudah tidak akan saling mengenal meski mereka bertemu kembali di alam sana.
Entah mendengar hal semacam itu dari mana. Akan tetapi, hal seperti itu hanyalah cerita karangan manusia untuk menghibur ketidakberdayaan mereka terhadap kematian.
Lihatlah, sama seperti pria tadi, setelah rohnya terlepas dari tubuh fananya, ia yang selama di dunia ini berlaku seolah tidak akan pernah meninggalkan wanita itu bersedih seorang diri. Saat ia menghadapi kematian, ia tidak bisa menghindarinya. Terlebih, ia hanya bisa mengucapkan terima kasih, lalu dengan mudahnya berjalan menghampiri sang kematian itu sendiri. Menganggap bahwa kematian adalah malaikat berwajah rupawan yang akan membawanya ke taman firdaus.
Kematian lalu melayang mendekati wanita tua yang masih larut dalam kesedihan itu seorang diri. Ia melihat, umur wanita itu juga sudah tidak lama lagi. Ia berpikir, apakah ia harus mempertemukan mereka di dunia bawah sana? Itu akan menjadi hiburan untuk dirinya, ketika meteka saling bertemu dan tidak saling mengenali.
Di luar rumah, terlihat sebuah mobil baru saja berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah itu. Dari arah dalam mobil, keluar seorang wanita muda yang berjalan cepat memasuki rumah. Dua orang pria yang hampir seumurannya juga keluar dari dalam mobil, lalu berjalan mengikutinya di belakang. Kematian melihat ketiga anak pasangan tua itu memikiki ekspresi wajah yang sama dengan wanita tua tadi. Penuh kepedihan atas kehilangan seseorang yang mereka kasihi. Di ruangan sempit itu, mereka akhirnya dapat bertemu, saling memeluk, saling menumpahkan kepedihan hati mereka.
Kematian masih mengamati orang-orang di ruangan itu. Ia melayang-layang disekitar mereka untuk beberapa waktu. Terkadang, ia mengamati ekspresi wajah manusia yang ada di sekitar orang yang baru saja meninggal seperti itu, sebelum pergi. Sementara bagi orang-orang yang ia amati, mereka tidak akan menyadari, jika kematian sedang memperhatikan di depan mereka. Hal itu karrna tidak ada satu orang pun manusia yang hidup dapat melihatnya.
Tidak berapa lama, kematian melayang, membawa tubuhnya yang tak terlihat oleh mata manusia pergi meninggalkan rumah itu, menuju ke dunia bawah, kemana ia pergi membawa roh manusia yang telah mati.